DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 41 : Minder


__ADS_3

Melihat Karen yang tampil anggun dan dewasa malam ini, tentu saja membuat hati Darren berdesir. Ia malah merasa tak sepadan untuk berdiri di samping istrinya, karena masih memakai pakaian yang sama saat mengajar.


"Gimana penampilan istri lu malam ini? Cantik, kan?" tanya Chalvin setelah datang menghampirinya.


"Dia selalu cantik. Gak cuma malam ini doang," tekan Darren sambil menatap istrinya yang berdiri di atas panggung bersama Oma Belle selaku founder brand Belleria.


"Gak nyangka lu bisa move on dari Marsha. Dan gua lebih gak nyangka kalau istri lu tuh masih bocah kek gitu."


"Usianya udah dua puluh tahun, tahu! Emang aku pedofiil apa!"


"Ya, tetap aja jarak kalian lumayan jauh. Seorang profesor menikahi anak kuliahan yang ternyata mahasiswanya. Pernah terpikir gak sih, lu?"


"Biasa aja. Menikah gak perlu melihat perbedaan, kan?"


"Siapa bilang gak perlu? Justru saat menikah, yang jadi faktor pentingnya itu perbedaan. Beda jenis kelamin misalnya!" cerocos Chalvin sambil menyengir.


"Kalau itu sih emang penting!" Daren langsung menyeringai.


Keduanya lalu fokus menyaksikan produk lipstik terbaru yang baru saja resmi diluncurkan. Beberapa orang yang beruntung, mendapatkan lipstik dengan enam pilihan warna secara gratis. Kakek Aswono sebagai direktur utama perusahaan itu kini mengumumkan acara lainnya.


"Para tamu undangan yang saya hormati, sebagaimana sudah saya ungkapkan tadi, bahwa hari ini adalah hari spesial untuk kami. Selain produk terbaru telah resmi kami luncurkan, kami juga hendak merayakan ulang tahun cucu kami tercinta, Darren William Bratajaya," ucap kakek Aswono diiringi tepuk tangan dari tamu undangan.


Pada saat itu juga, sebuah cake ulang tahun cukup besar didatangkan ke ruangan tersebut. Tak disangka, mereka menggabungkan acara peresmian produk baru dengan acara ulang tahun Darren. Bisa dibilang, ini adalah sebuah kejutan untuk Darren sendiri.


Kakek Aswono dan Oma Belle mengumumkan hadiah ulang tahun yang akan mereka berikan Darren, yaitu sebuah rumah industrial yang lokasinya tak jauh dari kediaman mereka. Mereka berharap Darren dan Karen segera pindah dari apartemen ke rumah baru yang mereka hadiahkan. Ayah Darren yang juga hadir di acara tersebut sebagai wakil direktur memberi kejutan ulang tahun berupa mobil mewah keluaran terbaru. Tak mau kalah, Chalvin yang merupakan sepupu sekaligus teman masa kecil Darren turut menunjukkan hadiah ulang tahunnya, yaitu sebuah jam tangan berharga ratusan juta.

__ADS_1


Hadiah-hadiah mewah yang terus berdatangan dari teman-teman terdekat dan juga keluarga besar Darren, membuat Karen menjadi minder. Pasalnya, ia hanya bisa menghadiahkan suaminya sebuah bros yang harganya tak seberapa. Ia berdiri mematung di sudut panggung sambil menyaksikan bagaimana bahagianya Darren di tengah-tengah keluarga besarnya. Lucu, tadinya ia mengira akan menjadi satu-satunya orang yang akan memberikan kejutan ulang tahun istimewa pada suaminya. Tak tahunya, mereka semua telah mendahuluinya.


"Eh, Ren, lu dapat hadiah ulang tahun apa dari wifey lu?" tanya Chalvin mode kepo.


Darren tertegun sebentar. Ia juga baru menyadari kalau Karen sama sekali belum mengucapkan selamat padanya. Namun, ia memakluminya karena menganggap perempuan itu tak mengetahui jika ini adalah hari ulang tahunnya.


Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Acara telah bubar. Karen dan Darren pun tengah menuju apartemen mereka. Sambil menyetir, Darren melirik Karen yang terus memelihara keheningan dan tak secerewet biasanya.


"Kamu kenapa? Capek?" tanyanya sambil meminggirkan anak rambut istrinya ke belakang telinga.


"Enggak papa!" jawab Karen singkat.


"Kamu setuju gak kalau kita pindah ke rumah yang dihadiahi kakek sama Oma?"


"Mobil yang ayahku kasih, kamu mau pakai, enggak?"


"Enggak!"


"Kamu kenapa, sih?" Darren kembali bertanya setelah mendapatkan jawaban ketus dari Karen.


"Gak papa!"


"Menurut penelitian, kalau orang ditanya kenapa, terus jawabannya gak papa, itu sebenarnya dia sedang gak baik-baik aja."


Karen terdiam. Ia malah melengos sambil meremas gaunnya. Sebenarnya dia pun tak tahu dengan suasana hatinya malam ini. Dia kesal, sangat kesal! Tapi tak paham apa yang membuatnya kesal. Apakah karena keluarga Darren tak melibatkannya dalam mempersiapkan acara kejutan ulang tahun? Ataukah karena ia merasa kalah telak dengan kejutan dan hadiah seadanya yang ia siapkan jauh hari? Entahlah ....

__ADS_1


Tak terasa, mereka telah sampai ke apartemen. Ketika menoleh, Darren baru menyadari jika Karen tengah tertidur lelap. Ya, bukan hal aneh lagi melihat istrinya dapat tertidur di mana saja dengan begitu mudah. Ia pun menepuk-nepuk lembut pipi istrinya seraya memanggil namanya. Sayangnya, tindakan membangunkan perempuan itu hanya sia-sia. Pada akhirnya, ia membuka pintu mobil lalu menaikkan Karen ke atas punggungnya.


Darren masuk ke kediaman mereka sambil terus menggendong Karen yang tertidur. Ia menapaki lantai dengan penuh hati-hati, agar tak menimbulkan suara yang membuat istrinya terbangun. Saat membuka pintu kamar, pria itu terkejut mendapati kamar mereka yang tak biasa. Kamar yang hanya bercahayakan lampu temaram itu, didekor dengan sangat cantik dan romantis. Sejumlah balon berbentuk hati berkumpul di langit-langit kamar, tepatnya di atas ranjang mereka. Terdapat pula tulisan "happy birthday" di dinding atas kepala ranjang dan juga kelopak bunga mawar merah yang berserakan di atas seprei putih.


Masih terkesiap, Darren melangkah masuk sambil terus menggendong Karen. Matanya teralihkan pada sebuah birthday cake berukuran sedang yang diletakkan di atas meja kerjanya. Saat hendak menidurkan Karen di atas ranjang, secara tiba-tiba tas perempuan itu jatuh ke lantai sehingga membuat seluruh isinya terbongkar keluar. Darren membungkuk, mengambil sebuah kotak kecil berbungkus kado yang ikut terlempar keluar. Ia membuka kotak kecil tersebut dan melihat sebuah Bros cantik berinisial huruf D dengan warna silver yang mengkilap.


Bertepatan dengan itu, Karen terbangun sambil mengucek matanya yang masih berat. Saat pandangan mereka bertemu, Karen langsung merampas hadiah kecil yang telah berada di tangan Darren. Sayangnya, Darren langsung mengangkat tangannya ke atas.


"Ini untuk aku, kan?"


"Bukan, kok!" tampik Karen, "jelek gitu, mana mungkin kamu mau," ucapnya seraya mengalihkan pandangan.


"Nih!" Darren menyerahkan Bros itu pada Karen.


Karen terhenyak. Ia mencoba menatap suaminya.


"Pakaikan ke baju aku!" perintahnya sambil menunjuk dada kirinya.


Karen semakin terhenyak. Namun, kali ini bercampur rasa haru. Tadinya ia berpikir suaminya itu mungkin akan menertawakan hadiah kecil pemberiannya. Dengan tangan yang gemetar, ia mencoba memasang Bros itu ke kameja suaminya. Begitu Bros itu terpasang sempurna, Darren menahan tangan Karen yang dingin lalu menarik ke sisinya hingga dada mereka saling menempel.


"Makasih, ya?" ucapnya dengan lembut, kemudian mengarahkan bibirnya ke telinga perempuan itu sambil berbisik, "boleh aku minta hadiah lagi, enggak?"


"Hadiah apa?" tanya Karen sambil menahan geli karena napas Darren yang berembus di telinganya.


Masih berbisik seraya menautkan jari-jemari mereka, kali ini pria itu mengeluarkan suara seksi yang memesona, "Aku pengen making love malam ini. Boleh, ya?"

__ADS_1


__ADS_2