DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 94 : Pembicaraan antara Karen dan Chalvin


__ADS_3

Perkataan Oma Belle membuatnya merasa menjadi orang yang egois. Memang, keputusan untuk tak ingin memiliki anak datang dari dirinya sendiri, bukan dari Darren. Selama ini Darren juga kerap membelanya dari tuntutan Oma yang memaksa. Namun, apakah ia akan terus mengandalkan pembelaan dari pria itu?


Masih duduk bersandar dengan pikiran yang berkecamuk, Karen lalu mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi mami Valen. Meski telah menikah, tetap saja ia membutuhkan sosok ibu sebagai tempat ternyaman untuk berkeluh kesah.


"Halo, Karen my sweetie pie ...." Mami Vallen tampak senang menerima telepon dari anaknya.


"Mami ...." Suara Karen bergetar menahan sedih.


"Kamu kenapa? Lagi sakit? Suara kamu kayak gak fit gitu." Meski mami Vallen terlihat santai, tapi ia tetaplah seorang ibu yang memiliki intuisi tajam terhadap anaknya. Firasatnya bisa menebak jika anak semata wayangnya itu tengah dirundung pilu.


"Mami udah balik ke Indonesia, belum?" tanyanya sambil menelan pahit.


"Udah. Baru kemarin. Nih, mami ada bawain oleh-oleh dari Paris buat kamu sama Darren. Rencananya mau datang ke rumah kalian pagi ini, cuma tiba-tiba ada meeting di kantor cabang. Kamu sehat-sehat, kan? Kok lemes banget."


Baru saja hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara seperti langkah kaki. Mengira Darren telah pulang, ia pun berdiri dan segera memutuskan telepon lalu berbalik ke arah pintu. Ternyata yang datang adalah Chalvin.


"Ren, Oma mana?" tanya Chalvin mencoba mengintip masuk ke dalam ruangan.


"Dah pulang. Tadi dianterin sama Darren."


"Yaelah, Oma! Maksa suruh ke sini, eh dianya malah pulang," gerutu Chalvin. Tak sengaja beradu pandang dengan karen, ia malah memerhatikan wajah lesu istri sepupunya itu. "Muka lu pucat. Sakit?" tanyanya.


"Iya nih. Makanya aku gak ke kampus. Padahal hari ini UAS." Karen menyengir bodoh seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Sakit apa?" tanya Chalvin dengan kaki yang melangkah masuk.


"Cuma demam doang."


"Demam? Demam itu bukan penyakit, tapi gejala penyakit." Chalvin duduk di sofa sambil menyilangkan satu kaki. "Darren tahu, enggak?"


"Tahu kok. Makanya dia enggak ke kampus juga hari ini."


"Aku enggak bicara tentang sakit kamu yang sekarang. Kamu konsultasi ke dokter kan beberapa minggu yang lalu? Yang aku maksud, Darren tahu enggak soal itu?"

__ADS_1


Karen terdiam dan bingung kenapa Chalvin mengungkit tentang itu. Apalagi tatapan Chalvin yang penuh tanda tanya membuatnya sedikit tak nyaman. Seperti berada di ruang interogasi.


"Kayaknya gak tahu." Chalvin dapat menemukan jawaban dari mata dan raut wajahnya.


"Aku cuma datang cek doang kok. Kemarin tuh aku kira lagi hamil, ternyata enggak."


"Terus ... kenapa kamu ngambil obat anti kanker waktu itu?"


Pupil mata Karen melebar seketika. Ia gugup dan hanya mampu menelan ludahnya. Wajah suramnya pun mulai terlihat.


"Salah lihat kali kamu. Aku cuma beli vitamin doang." Karen berusaha membuat nada suara terdengar biasa saja.


"Jangan denial¹, deh!"


"Beneran!" Karen mencoba meyakinkan.


"Kalau gitu kayaknya aku harus nanya langsung sama Darren!" Chalvin berdiri lalu merogoh saku jas untuk mengambil ponsel. Padahal ini hanyalah trik untuk membuat Karen mengaku.


Karen yang panik, langsung menghampiri Chalvin berusaha mencegatnya, "Ja–jangan! Aku ... belum ngasih tahu sama Darren."


Karen tertunduk tak berdaya. "Bukan aib," ulangnya tertawa ringkih, "tapi bagaimana kalo itu itu bakal jadi sumber masalah untuk kami berdua. Gimana kalau Darren gak bakal terima atau Oma yang gak terima cucunya ternyata menikahi perempuan yang—"


"Kok kamu jadi trust issue² gini?" potong Chalvin yang tak paham dengan kepanikan Karen saat ini.


Karen menatap penuh ke arah Chalvin. "Dokter bilang ada benjolan besar di rahim aku. Katanya itu tumor yang bisa berkembang menjadi kanker. Aku enggak ngerti bahasa kedokteran, tapi aku takut banget. Bahkan untuk ceritain ke Darren aku gak sanggup! Aku gak tahu gimana cara memulainya." Saat mengatakan kalimat ini, matanya menengadah ke atas untuk mencegah butiran air yang mulai menggenang di pelupuk matanya jatuh ke pipi.


Chalvin terkesiap, tapi mencoba berusaha menepis kegusaran Karen. "Itu kan masih vonis awal. Kali aja dokter salah."


Karen mengangguk saru. "Ya, dokter nyuruh aku lakuin tes lanjutan."


"Terus, udah?"


Karen menggeleng seraya menatap ke sembarang arah.

__ADS_1


"Loh ... kenapa gak lakuin aja? Kan diagnosa dokter bisa aja meleset."


"Aku takut! Takut hadapi segala kemungkinan yang terjadi ke depannya. Aku takut kalau hasil tesnya mungkin bakal lebih buruk dari diagnosa dokter. Aku gak bisa bayangin serangkaian pengobatan dan terapi yang harus aku jalani. Bukannya kamu pernah cerita kalau ayahnya Darren selingkuh dan ninggalin ibunya Darren saat sedang berjuang melawan kanker rahim? Gimana ... gimana kalau itu terulang juga di pernikahan kami. Gimana kalau ...." Kalimat itu terhenti ketika suara Karen serak dan hampir tak terdengar. Terasa sulit untuk menyusun kalimat di antara sesak yang terasa di hatinya.


Ya, keadaan yang ia alami saat ini membuatnya khawatir akan kembali mengulang kisah orangtua Darren. Dari kecil hingga remaja hidupnya terbilang bahagia, bergelimang kemewahan dan berlimpah kasih sayang dari orangtuanya. Ia hampir tak pernah memikirkan hal-hal rumit atau permasalahan hidup seperti yang dialami banyak orang. Hidupnya pun nyaris sempurna ketika menikah dengan dosen rupawan idola teman-temannya. Namun, siapa sangka, tidak ada hal yang sempurna di dunia ini kecuali judul lagu.


"Karen, dengerin aku! Kamu terlalu overthinking! Apa kamu lupa, kalau aku juga bilang sifat Darren ngikutin mendiang ibunya. Berarti Darren berbeda dengan ayahnya. Aku pikir, sakit yang kamu saat ini bukan karena gejala penyakit yang kamu alami. Tapi efek dari prasangka negatif yang kamu pendam."


"Ya, kamu benar! Belakangan ini aku sering berpikir ... aku sangat beruntung bisa memiliki suami kayak Darren, tapi ... kenapa Darren gak beruntung mendapat istri kayak aku?" Suara Karen bergetar hebat diiringi lelehan bening yang mengalir di sudut matanya. Ia berbalik membelakangi Chalvin, mencoba menguasai dirinya agar tetap terlihat kuat sambil menghapus air mata yang merontak keluar.


Chalvin mematung seraya menatap punggung Karen dengan wajah penuh empati. Tangannya refleks mengulur ke depan, seakan hendak menenangkannya. Ketika hampir menyentuh rambut perempuan itu, Chalvin malah menggenggam erat tangannya yang kosong kemudian dijatuhkan ke bawah.


"Chalvin?" Suara Darren yang datang dari arah pintu mengejutkan keduanya.


.


.


.




Denial adalah penyangkalan seseorang sebagai pertahanan diri agar tidak semakin tertekan atau stress. Orang-orang yang sering melakukan tindakan ini biasanya dihadapkan dengan masalah besar. Contohnya kek artis yang kena skandal, orang-orang yang terlibat masalah keuangan, atau menerima vonis penyakit berat seperti Karen ini.




Trust issue adalah situasi ketika seseorang mengalami rasa sulit percaya pada orang lain. Biasanya ini ada hubungannya dengan masa lalu atau kejadian di sekeliling mereka. Contohnya, orang yang udah pernah diselingkuhi pasangannya, tidak akan mudah percaya lagi sama pasangannya. Atau kayak Karen ini, dia sulit memercayai Darren, karena tahu ibu Darren pernah berada di situasi yang sama seperti saat ini, tapi malah ditinggalkan.


__ADS_1



Btw, ini ilmu psikologi loh. Apa ada yang pernah alami dua hal di atas?


__ADS_2