DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 99 : Hanya kamu ....


__ADS_3

Menyadari Darren telah mengetahui segalanya, mami Valen pun merasa memang sudah tepat untuk tak menutupi apa pun dari suami anaknya itu. Padahal sesuai kesepakatan ibu dan anak itu, Karen berencana memberitahukan Darren tentang penyakit itu di hari ini. Siapa sangka, Darren malah lebih dulu mengetahui dari dokter.


Mami Valen mengangguk tak berdaya. "Sebenarnya, sebulan lalu Karen pernah kontrol ke dokter kandungan. Dari situ dia tahu kalo ada tumor di rahimnya."


"Kenapa dia enggak cerita sama aku? Apa dia enggak anggap aku suaminya?" tanya Darren sambil memijat pelipis, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Alasan ia keluar dari ruang dokter dengan wajah kaku tak bersemangat, karena ia tengah memikirkan cara memberitahu semua ini pada Karen tanpa membuatnya syok.


Mami Valen menggeleng cepat. "Dia enggak bermaksud merahasiakan ini dari kamu. Dia cuma bingung bercampur takut. Dia takut kamu dan keluargamu mungkin keberatan dan gak bisa menerima kondisinya. Karen cerita sama mami, dia banyak cari tahu informasi seputar penyakit ini di internet, dia juga baca pengalaman wanita-wanita yang dapat vonis serupa. Dia kepikiran penyakitnya mungkin separah itu dan pada akhirnya kamu bakal ninggalin dia seperti kisah orang-orang itu," jelasnya dengan suara pelan.


"Ya, gak mungkin aku kayak gitu. Kalo kayak gini, berarti dia belum percaya sepenuhnya sama aku," tampik Darren.


"Mami juga gak paham kenapa dia jadi punya trust issue kek gitu. Asal kamu tahu, selama sebulan ini Karen berusaha mengubah dirinya menjadi lebih baik. Dia belajar dengan giat, berlatih memasak, bahkan berusaha mengambil hati Oma kamu. Dia gak protes meskipun kamu jarang nelepon atau sekedar nanyain kabarnya duluan. Dia menelan kekesalannya sendiri tanpa meluapkannya sama kamu. Itu semua karena dia ingin terlihat pengertian di matamu. Dia ingin menjadi sosok istri yang ideal untuk kamu. Setidaknya, kalo vonis awal dokter benar-benar sungguhan, perasaan kamu ke dia enggak akan berubah. Dia hanya takut kehilangan kamu," ungkap mami Valen dengan nada suara bergelombang.


Darren tergemap. Matanya membeliak dengan mulut yang sedikit terbuka. Untuk beberapa saat pria itu hanya mematung. Mendengar apa yang baru saja diungkapkan mertuanya, hatinya seakan dihujam puluhan belati. Lidahnya pun mendadak kelu untuk bersuara. Kini, ia telah mendapat jawaban atas perubahan istrinya akhir-akhir ini.


"Terus gimana keadaan Karen sekarang? Apa kata dokter?" tanya mami Valen.


"Kata dokter ... efek perdarahan karena ukuran tumor yang semakin membesar, kalo dibiarin lebih lama lagi ... bakal berakibat fatal. Bukan gak mungkin satu-satunya adalah menjalani ... prosedur pengangkatan rahim," jawab Darren dengan kalimat yang terdengar putus-putus.


"Itu yang Karen takutkan sampai dia enggak mau pas mami ajak konsul ke dokter lain. Mami mohon, kamu harus yakinkan dia." Mami Valen memegang lengan Darren dengan mata yang berkabut.


Darren mengangguk, tak ingin banyak bicara.


"Ayo kita lihat Karen!" ajak mami Valen.

__ADS_1


Baru saja hendak masuk mengikuti mertuanya, langkah Darren tertahan saat Nadya dan Vera menghampirinya sambil menyerahkan tas Karen yang sedari tadi mereka bawa.


"Pak, ini tasnya Karen. Kami mau pamit dulu, Pak. Soalnya kata suster, pasien hanya boleh dibesuk dua orang aja untuk saat ini. Tapi entar sore kita balik lagi kok," ucap Nadya.


"Makasih, ya!"


Darren membuka tas Karen untuk sekadar melihat isinya. Yang pertama terpampang di penglihatannya adalah buku-buku yang pernah ia rekomendasikan padanya. Terdapat juga sebuah botol permen karet yang pernah dilihatnya di laci nakas. Ia buru-buru membuka botol tersebut yang Ternyata berisi tablet obat.


Ia juga mengambil ponsel yang ada di dalam tas. Terlihat wallpaper sama dengan yang terpasang di ponselnya. Saat kunci ponsel itu terbuka, langsung menampilkan pesan obrolan di aplikasi chat yang belum tertutup. Karen tampak mengetik sebuah pesan padanya, tapi belum sempat dikirim.


Karen: Sayang, ada yang pengen aku omongin sama kamu.


Saat memeriksa album galeri, ternyata ada banyak sekali foto-foto yang menangkap wajahnya secara diam-diam ketika mereka sedang bersama. Seperti saat ia sedang tidur, memasak, hingga mengajarinya. Bodohnya, ia sama sekali tak menyadarinya.


"Darren ...." Karen berusaha bangun dan duduk bersandar. "Maaf, aku dah bikin khawatir kamu. Aku baru menstruasi tadi pagi, gak tahu kenapa banjir banget sampai bikin kepalaku pusing." Karen menyengir bodoh, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih. Ia masih bersikap seolah tak ada yang terjadi pada dirinya.


"Bisa berhenti pura-pura terlihat kuat, enggak?" Suara tegas yang disertai wajah datar pria itu membuat senyum yang bertahan di bibirnya berangsur-angsur lenyap.


Saat pria itu mendekat dan duduk di sisi ranjangnya, ia malah menunduk, tanpa berani menatapnya. Mami Valen langsung keluar dari ruangan untuk membiarkan pasangan suami istri itu berbicara.


Pria yang telah menikahinya itu mengambil tangannya lalu ditempelkan di sisi sebelah wajahnya. "Maaf aku enggak menyadari apa pun. Maaf, kalau kesibukan membuatku kurang memikirkan atau memperhatikan hal-hal sepele yang sebenarnya berarti. Dan maaf lagi, masih banyak hal-hal yang belum aku pahami tentang kamu."


Karen menggeleng. "Enggak, kamu enggak perlu minta maaf sama aku. Aku yang gak mampu jujur sama kamu. Kamu enggak salah apa pun," ucap perempuan itu. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan butiran air yang hendak mengalir dari sudut matanya.

__ADS_1


Darren mendekapnya dengan erat. "Jangan menyembunyikan apa pun dariku! Jangan memendam masalah! Jangan berusaha terlalu keras untuk terlihat baik-baik saja! Jangan menderita sendiri, berbagilah denganku ... sama seperti ketika kita berbagi kesenangan."


Tangis Karen pecah seketika. "Aku gak seharusnya jadi istri kamu. Dokter bilang ada kemungkinan rahimku diangkat. Padahal rahim keistimewaan yang dimiliki seorang perempuan. Bagaimana bisa aku disebut wanita kalo enggak memiliki rahim. Aku gak bakal merasakan menstruasi lagi. Bukannya itu berarti aku akan menopause dini? Aku juga gak akan bisa memenuhi harapan Oma buat ngasih kamu keturunan. Dan mungkin, aktivitas ranjang kita tak akan sama seperti biasa," ucapnya diiringi cairan bening yang mengalir deras dari mata bak air terjun. Punggungnya berguncang hebat. Dia terus memuntahkan bulir-bulir kesedihan. Mengeluarkan sesak yang telah lama tertahan dan bersarang di hatinya.


"Lihat aku!" pinta Darren sambil menangkup wajah Karen, "Semua pasti akan baik-baik saja. Kita hadapi ini bersama-sama. Kalau perlu kita cari second opinion dari dokter lain. Meskipun operasi nantinya akan jadi jalan satu-satunya yang harus kita tempuh, tidak akan ada yang berubah. Kamu tetap menjadi seorang wanita yang aku cintai. Kamu tetap istriku."


"Sejak mendengar penjelasan dokter, setiap kali tertidur menjadi momok menakutkan bagiku. Aku terlalu takut menutup mata dan ketika terbangun harus menghadapi kenyataan kamu mungkin lelah dan bosan lalu memutuskan tinggalin aku."


Bagi Karen, setiap tetesan cinta yang diberikan Darren untuknya terlalu mahal, karena harus dibayar dengan rasa takut akan kehilangan pria itu. Rasa takut itu seolah mengendalikan dirinya, sehingga sibuk membayangkan hal-hal buruk yang terjadi dalam hubungan mereka. Termasuk kemungkinan ditinggalkan.


Tangan Darren kembali menyentuh kepala Karen, menarik ke sisinya dengan lembut, hingga dahi keduanya saling bersinggungan. Sementara tangan sebelahnya lagi, menyisip masuk di sela-sela jemari Karen. Membentuk sebuah genggaman yang erat dan hangat.


"Bersatunya kita dalam ikatan pernikahan adalah bagian dari rencana besar Tuhan. Maka dari itu, kita harus kuatkan telapak kaki untuk melintasi duri-duri yang Tuhan tebarkan sebagai ujian rumah tangga. Lebih baik kita berjuang bersama. Genggam tanganku dengan erat. Selama kita saling percaya, semua pasti akan baik-baik saja. Aku masih ingin ditemani untuk menghabiskan secangkir teh di teras rumah kita. Aku masih ingin ditemani mencicipi makanan jalanan dan berebutan tempat duduk dengan pembeli lainnya. Aku masih ingin terus melewati setiap malam bersama tanpa diketahui siapapun. Aku masih ingin kamu. Hanya kamu. Entah itu sekarang, esok, lusa, dan selamanya. Jadi tolong, jangan pernah berpikir aku akan melepasmu apalagi meninggalkanmu. Aku sudah terlalu sering ditinggalkan, mana mungkin aku akan melakukan hal yang sama pada orang yang kucintai," ucap Darren sambil memandang lekat manik istrinya.


.


.


.


Catatan author ✍️✍️


Seperti biasa, aku punya lagu yang mewakili cerita di setiap novelku. Dan untuk novel ini, aku pikir lagu yang tepat menggambarkan kisah Karen dan Darren nih lagunya lauv yang judulnya Paris in the rain. Soalnya, ada salah satu liriknya yang aku rasa tepat banget menggambarkan situasi perasaan mereka, "Cause anything with you feels right. Anywhere with you feels like Paris in the rain." Romantis enggak, sih? Oke, yang mau dengar langsung aja tengok di bang Yusup, lauv-paris in the rain.

__ADS_1


__ADS_2