DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 142 : Serba Salah


__ADS_3

Melihat kehadiran Sheila yang tanpa diundang, Chalvin pun buru-buru berkata, "Sorry, nih, gua dan Nadya duluan cabut, ya? Soalnya aku masih ada urusan di luar."


"Kami juga. Aku dan Karen mau langsung pulang. Aku masih harus lanjut nulis. Besok udah mau publikasi," ucap Darren sambil merangkul Karen.


"Lah, terus aku gimana? Baru datang kok langsung ditinggal," protes Sheila cemberut.


"Yah, siapa juga yang nyuruh ke sini. Kamu keliling aja sendiri," tandas Chalvin.


Sheila hanya bisa menghentak-hentakkan kaki ketika dirinya ditinggal oleh Darren dan Chalvin. Padahal ia sudah buru-buru datang ke sini saat melihat postingan insta-story Karen.


Saat ini Chalvin tengah dalam perjalanan mengantar Nadya pulang. Sejenak, ia melirik ke arah gadis itu. Sejak berada di studio, Nadya hanya diam tak seperti biasanya.


Sebaliknya, Nadya memundurkan ingatannya kembali. Selama kencan ganda tadi, Chalvin seolah menganggapnya seperti pajangan. Lelaki itu hanya terus berinteraksi dengan Karen.


Cemburu? Jelas! Namun, siapa dirinya? Bukan siapa-siapa Chalvin! Dia sangat sadar akan hal itu. Sejak awal, hubungan mereka bukan sungguhan. Ia pun telah sepakat dan bersedia membantu pria itu.


Di sisi lain, Karen langsung mencari Oma Belle setibanya di rumah. Dia hendak memberi kue serabi yang dibelinya. Sewaktu pulang dari bioskop, ia memang meminta Darren untuk singgah membeli kue serabi favorit Oma.


Sibuk berkeliling rumah mencari Oma Belle, ternyata wanita tua itu berada di ruang baca lantai atas bersama kakek Aswono. Baru saja hendak masuk, ia malah tak sengaja mendengar perbincangan antara Oma Belle dan Kakek Aswono.


"Kenapa, ya ... pengen punya cicit aja kayak susah banget! Padahal, waktu Darren nikah, aku tuh benar-benar berharap istrinya langsung hamil biar aku masih sempat nimang cicit. Eh, ternyata istrinya malah kena tumor. Pupus sudah harapanku buat berharap cicit dari Darren," keluh Oma dengan suara yang terdengar lirih.


"Loh, memangnya Karen udah gak bisa hamil lagi? Bukannya mereka pilih alternatif pengobatan di Kuala Lumpur biar rahimnya gak diangkat?"


"Gak tahu! Aku juga gak ngerti. Tapi, lihat aja ... sebelum kena sakit itu kan, mereka ngeyel gak mau punya anak! Apalagi sekarang, pasti makin gak mau karena takut kenapa-kenapa nanti sama rahimnya. Makanya aku dah gak maksa lagi, sekarang harapanku ya tinggal Chalvin!"


Curahan hati Oma Belle, membuat Karen membeku diam di tempat. Jujur, perasaan bersalah membumbung di hatinya. Mungkin benar apa yang dikatakan Oma Belle. Saat awal pernikahan, Darren menentang Oma yang memaksa mereka segera memiliki keturunan, karena hendak menuruti permintaannya. Dan sekarang, mungkin juga Darren tak akan mau merencanakan program kehamilan, mengingat dirinya baru saja sembuh.


Masih terpaku, tiba-tiba seseorang menutup rapat kupingnya hingga membuatnya terkesiap. Ketika berbalik, wajah tampan Darren menguasai pandangannya. Lelaki itu menggelengkan kepala dengan kedua tangan yang masih menyumbat telinga Karen.


"Jangan dengerin yang enggak perlu didengar!" ucapnya sambil menarik tangan istrinya agar segera beranjak dari sana.


Pukul dua belas malam Chalvin pulang ke kediaman kakeknya setelah bermain billiard. Sengaja pulang larut karena berharap semua orang telah tertidur, siapa sangka sosok Oma Belle hadir laksana hantu begitu dirinya memasuki ruang tamu.


"Huh, Oma ngagetin aja! Jam segini kenapa masih keluyuran, sih?"

__ADS_1


"Chalvin, jadi kamu bawa keluar anak gadis sampai malam kek gini?"


"Gak kok. Nadya dah aku pulangin ke kosnya habis nonton tadi. Kalo gak percaya tanya aja Darren sama Karen kita pulang barengan kok."


"Terus, kenapa kamu gak langsung pulang juga kayak Darren sama Karen? Cari mangsa baru, ya?" Entah kenapa Oma Belle mendadak bringas dan menuduhnya yang bukan-bukan.


"Oma, jangan kek anggota dewan, deh! Apa aja dibikin peraturan. Aku udah bukan bocah lagi, dah usia matang!"


"Nah, sadar juga kan kalo bukan bocah, udah matang alias tua. Kalo gitu kenapa belum mau nikah?"


Tak disangka kata-kata yang Chalvin lontarkan seakan menyerang balik dirinya.


"Oma! Nikah lagi, nikah lagi!"


"Kalo kamu gak mau cepat nikah, jangan panggil Oma lagi!" tekan Oma mengancam.


"Oke, kalo gitu panggil baginda ratu aja!"


Jawaban spontan Chalvin membuat Oma Belle geram.


Tak berkata apa pun lagi, Oma Belle hanya mendengus kesal lalu memilih pergi. Chalvin menahan senyum seraya mendongakkan kepala. Napas kasarnya berembus. Sejak tinggal di sini, untuk berjalan menuju kamarnya saja terasa horor baginya. Tentu saja penyebabnya karena harus melewati kamar Darren dan Karen terlebih dahulu.


***


Bagai air mengalir, begitulah waktu berputar dengan cepat. Tak terasa masa libur semester hanya tersisa dua minggu.


Kata anak zaman sekarang, manusia boleh berencana tapi saldo yang menentukan. Ya, seperti Feril dan kawan-kawan yang berencana memakai liburan semester mereka untuk refreshing dan jalan-jalan. Sayangnya, ekspektasi tak selalu beriringan dengan kenyataan. Alih-alih merefleksikan diri dari kepeningan kampus, mereka harus kembali berpikir untuk biaya semester baru nanti.


Salah satunya adalah Gimbal. Ia menggunakan waktu liburnya dengan bekerja sebagai kurir. Apesnya, motornya malah mogok di tengah jalan dan ia sama sekali tak membawa uang. Ya, hidup Gimbal memang yang paling menyedihkan di antara kawan-kawannya yang lain. Pakaiannya sehari-hari yang menggunakan kaus oblong hadiah kampanye parpol. Berkat kecintaannya pada sabun colek, ia berhasil mengumpulkan berlusin-lusin piring cantik yang menjadi harta berharganya.


Di siang yang begitu terik, ia mendorong motornya yang belum lunas cicilan.


"Apes banget sih gua hari ini! Nasib jadi orang terlanjur miskin," keluhnya seraya menyeka dahinya yang memiliki sebongkah jerawat besar yang semakin berkilau di bawah sengatan matahari.


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada bangunan tinggi pencakar langit yang berada di hadapannya. Ia lalu melihat nama gedung perusahaan yang berdiri megah itu.

__ADS_1


"Belleria Kosmetik." bacanya seraya mengingat-ingat sesuatu, "Ini bukannya perusahaan tempat Farel magang?"


Ia buru-buru mengambil ponsel lalu menghubungi Farel untuk meminta tolong. Selang beberapa menit kemudian, Farel keluar dari gedung untuk menemuinya yang menunggu di pos keamanan.


"Nih, cukup, kan, buat perbaiki motor lo?" Farel memberikan beberapa lembar uang padanya.


"Thanks, Rel. Wah, bersyukur banget gua dapat teman baik kaya lo!" puji Gimbal sambil menyengir senang, "entar gua ganti duit lu, yak!"


"Udah, gak usah. Ambil aja! Gua lebih suka ngasih duit orang cuma-cuma daripada ngasih ngutang. Soalnya yang gua tahu, orang suka kena amnesia kalo dah ngutang," ketus Farel.


"Kalo gitu cocok dong. Soalnya gua juga cuma basa-basi bilang mau ganti duit lo!" Gimbal kembali menyengir.


Mobil Chalvin melintas di hadapan mereka sehingga mengalihkan Farel. Begitu mobil itu berhenti di teras gedung, Chalvin dan Karen keluar secara bersamaan. Ya, mereka baru saja pulang dari hotel setelah sukses mengadakan workshop dengan para MUA.


"Loh, itu Karen, kan? Kok bisa di sini juga?" tanya si Gimbal.


"Iya, dia kan jadi model BA produk kosmetik perusahaan ini."


Di saat mereka masih memantau, tiba-tiba Karen terlihat lunglai hingga hampir terjatuh. Untungnya, Chalvin dengan sigap menahannya dari belakang.


"Lo kenapa?" tanya Chalvin.


"Gak tahu. Tiba-tiba pusing. Mungkin karena baru pertama kali jadi model makeup dan harus duduk tegap selama berjam-jam," duga Karen.


Ya, dalam beberapa hari ini, Karen masih disibukkan dalam perannya sebagai model utama produk Belleria. Apalagi, produk kolaborasi antara perusahaan keluarganya dan perusahaan kakek Aswono telah diluncurkan. Ia juga turut andil menyukseskan workshop MUA yang disponsori oleh produk mereka.


Baru saja hendak melangkah, tiba-tiba Karen merasa mual dan hendak muntah.


.


.


.


gays, ini edit buru-buru kalo ada tipo dan kalimat rancu spill aja.

__ADS_1


__ADS_2