DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 189 : Kencan Tipis-tipis


__ADS_3

Seperti biasa, keluarga Bratajaya yang kini hanya dihuni oleh sepasang suami istri bersama cucu dan cucu mantu mereka, kini tengah makan malam bersama. Hanya saja, kali ini Darren tidak hadir di antara mereka. Oma Belle memerhatikan Karen yang tampak tak bersemangat menyantap hidangan.


"Kenapa, Ren? Kamu gak suka makanannya? Kamu mau apa? Bilang aja, entar dibikinin sama bibi. Atau mungkin ada makanan di luar sana yang kamu pengen beli, kasih tahu aja entar tak suruh supir cariin," kata Oma dengan lemah lembut. Semenjak Karen hamil, Oma Belle memang memberi perhatian lebih padanya.


"Enggak, Oma. Karen enggak nafsu makan."


"Loh ... Darren belom pulang, ya?" tanya Oma Belle.


"Belum, Oma. Mas Darren jam ngajarnya sore sampai malam."


Sejujurnya, kegalauan Karen saat ini karena seharian tak bertemu suaminya. Semalaman suaminya tak pulang ke rumah. Bahkan hingga kini tak menjawab panggilan videonya. Ya, ia paham pria itu pasti sedang sibuk sekarang. Namun, bawaan kehamilan membuatnya sangat ingin selalu berdekatan dan bersentuhan fisik dengan suaminya.


Pada waktu yang sama, terdengar suara seseorang yang datang dan masuk ke rumah itu. Berpikir itu Darren, kenyataannya sosok yang datang itu adalah ayah Barack—mertuanya sendiri.


"Ayah, Ibu, ini ada oleh-oleh saya bawain," sapa pria itu dengan penuh hormat pada kedua orangtuanya.


"Kamu kapan sampainya?" tanya kakek Aswono.


"Baru semalam, Yah." Ayah Barack lalu menoleh ke arah Karen yang langsung menyaliminya. "Karen, Darren mana? Ayah ada perlu dikit sama dia."


"Loh, bukannya Darren semalam menginap di rumah kamu, ya?" imbuh Oma Belle.


Ayah Barack mengernyit bingung. Ekspresi itu membuat Karen menyadari ada yang janggal. Ia pun balik ke kamar sambil kembali menghubungi Darren. Menjengkelkan! Pria itu belum juga menjawab panggilannya. Namun, beberapa detik setelah panggilannya terputus tanpa sempat dijawab, Darren justru balik meneleponnya.


"Maaf, Sayang, aku baru selesai ngajar," kata pria itu begitu telepon terhubung, "udah makan?" tanyanya.


"Kamu ada di mana semalam? Kamu bohong, kan, bilang ada di rumah ayah kamu!" serang Karen dengan intonasi dingin.


Darren bergeming seketika. Dari pantulan jendela ruang dosen, ia melihat bayangan wajahnya dengan kepala yang dililit perban. Mengatakan yang sebenarnya saat ini mungkin akan membuat Karen panik dan cemas. Apalagi jika tahu pemukulan yang dialaminya karena efek dari pernikahan mereka yang terungkap.


"Aku nginep di apartemen Chalvin. Tadinya aku mau nginep di rumah ayah tapi Chalvin nawarin nginap di tempatnya aja. Malam ini aku juga bakal nginap di sana keknya. Gak usah khawatir, ya?"


Jawaban Darren kurang memuaskan bagi Karen. Justru menambah seribu pertanyaan dalam benaknya. Di saat ia hendak bertanya, terdengar suara lain dari dalam saluran telepon.


"Pak, ini kumpulan tugas-tugas kita."


"Ya, taruh aja di meja."


"GWS, ya, Pak.


Perkataan yang terdengar dari mahasiswanya itu, tentu membuat Karen terkejut.


"Kamu kenapa?" tanya Karen cepat. Di saat yang sama, telepon mereka terputus secara tiba-tiba.

__ADS_1


Pikiran Karen semakin kacau saat mencoba kembali menghubungi Darren tapi tak tersambung. Apakah suaminya sedang sakit? Ataukah ada sesuatu yang terjadi padanya hingga pria itu enggan pulang?


Sebaliknya, Darren baru menyadari jika panggilan mereka telah putus. Sialnya, itu karena ponselnya mati total alias kehabisan daya.


Sementara itu, Chalvin sendiri masih berada di Jakarta fair atau biasa yang disebut Pekan Raya Jakarta. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Nadya sibuk mempromosikan kopinya di setiap orang yang lewat. Gadis itu memakai kameja merah lengan pendek dipadu dengan celana jeans hitam yang ditutupi apron berbahan denim. Rambutnya yang panjang dikuncir dan ditutupi topi kasual yang warnanya senada dengan kameja.


"Beli kopi dua cup, gratis satu cup!" Sama seperti penjual lainnya, Nadya tak lelah membagikan brosur dan membujuk pengunjung untuk singgah ke stand-nya.


Seorang karyawan Belleria datang menghampirinya untuk memesan kopi. Namun, ada yang aneh dengan permintaannya. Pria itu meminta kopi pesanannya untuk diantar langsung ke stand mereka. Bahkan memberi tip lebih untuk mereka. Karena baristanya masih sibuk meracik kopi untuk pembeli yang sedang menunggu, maka Nadya pun menyetujuinya.


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, Nadya mengantar pesanan itu langsung ke stand kosmetik Belleria. Ia tak sungkan menghampiri pria yang baru saja memesan kopi dingin.


"Kak, ini kopinya udah jadi. Maaf lama nunggunya."


Pria itu langsung berkata, "Anterin langsung sama bos saya, ya. Itu orangnya!" Pria itu menunjuk Chalvin yang tengah asyik mengobrol dengan wanita.


Nadya terhenyak mengetahui Chalvin masih berada di sini. Lebihnya lagi, kali ini pria itu seperti pemuda berusia dua puluhan, ditunjang setelan kaus putih tangan panjang yang lengannya digulung sebatas siku.


Nadya masih diam dan membeku sembari memegang kopi pesanan. Begitu wanita yang berbicara dengan Chalvin pergi, Nadya berjalan pelan menghampiri pria itu.


"Kak, ini kopi pesanannya."


Chalvin menoleh seraya menatap Nadya yang tampak tegang. "Thank you!"


"Jalan-jalan, yuk!" ajak pria itu dengan sebelah tangan yang memegang kopi.


Nadya yang tersentak, buru-buru melepaskan jari-jari Chalvin yang menyelusup masuk di antara jari-jarinya. Namun, pria itu malah semakin mencengkram erat tautan tangan mereka sambil menariknya berbelok ke tempat lain.


"Kak, aku masih mau jagain stand!"


"Kan ada karyawan kamu."


"Iya, tapi kasihan dia sendirian."


"Dia gak lagi repot juga, kan? Tip lebih yang aku kasih ke kamu, itu untuk jasa tambahan buat nemenin aku ngopi!"


Saat Nadya hendak berkata, jari telunjuk Chalvin lebih dulu menekan bibir gadis itu.


"Eitss, pembeli adalah raja!" ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata.


Nadya mendengus. "Kalo gitu hanya sampai batas kopinya habis, ya!"


Chalvin yang baru saja mengisap kopi itu hingga menyisakan setengah cup, lantas menjauhkan bibirnya dari sedotan kopi tersebut.

__ADS_1


Pameran yang digelar setahun sekali itu semakin ramai di malam hari. Layaknya pasangan kekasih, mereka berdua terus bergandengan tangan sembari menyusuri aneka spot jajanan kekinian. Warna-warni jajaran both semakin memanjakan mata dengan kelap kelip lampu yang menyala.


"Kamu mau coba ini, gak?" Chalvin menawarkan salah satu jajanan yang banyak peminatnya.


Nadya menggeleng. "Enggak."


"Kalo yang ini?"


"Enggak," tolaknya lagi.


Mereka kembali berjalan tanpa ada obrolan yang menyelingi. Chalvin memerhatikan Nadya yang lebih banyak menunduk. Bagi gadis itu sendiri, tentu merasa tak percaya diri berjalan dengan Chalvin. Apalagi dengan masih memakai seragam barista. Ia semakin menurunkan topinya, saat beberapa pengunjung menatap ke arahnya. Sekuat apa pun usahanya untuk melepaskan tangannya dari genggaman pria itu hingga sengaja memelankan langkahnya, hanya berakhir sia-sia ketika Chalvin kembali menariknya lebih dekat agar mereka terus berjalan beriringan.


Mereka kini memasuki tempat konser musik yang ramai dengan para pasangan muda-mudi. Konser musik termasuk acara yang dinanti pengunjung karena mereka bisa menyaksikan penampilan para penyanyi dan band papan atas. Kebetulan, konser malam itu diisi oleh penyanyi baru Malahgini yang sedang naik daun.


Chalvin menangkap perubahan mimik wajah Nadya ketika mendengar suara merdu Malahgini yang sedang menyanyikan lagunya. Melihat gadis itu tampak antusias, ia pun membawanya untuk lebih mendekati tempat konser. Meski tak memesan tiket masuk, mereka masih bisa menikmati kemeriahan konser dari luar area yang dibatasi pagar. Sialnya mereka malah terjebak di kerumunan manusia yang semakin membludak.


"Kamu mau nonton lebih dekat gak?" tanya Chalvin.


"Apa?" teriak Nadya yang tak mendengar ucapan pria itu.


Chalvin membungkuk, mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu. "Kamu mau nonton lebih dekat, enggak? Kalo iya, aku beliin tiket!"


Terjadi dorong mendorong dari arah belakang Nadya hingga membuatnya hampir terjatuh. Chalvin mengambil gerak cepat dengan menarik Nadya ke sisinya. Jantung Nadya berdegup kuat saat sisi wajahnya menempel erat di dada Chalvin yang bidang. Dekapan pria itu semakin erat kala aksi dorong mendorong semakin terjadi. Nadya tak bisa menolak juga tak mau melepaskan diri. Dengan tubuh yang mungil, tentu ia akan mudah terdorong, terjatuh bahkan mungkin terinjak-injak. Diam seperti ini lebih aman sembari mendengar Chalvin yang menyeruput sisa-sisa kopi lewat sedotan.


Ponsel Chalvin yang tersimpan dalam saku celana mendadak bergetar. Tangannya yang tengah memeluk Nadya terlepas perlahan karena harus merogoh ponselnya. Masih saling berhadapan dengan nadya, Chalvin pun menjawab panggilan tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menelepon.


"Halo?" Mata Chalvin membulat begitu mendengar suara Karen. "Ya, Karen, kenapa?"


Sebaliknya, Nadya sedikit terkejut mengetahui yang menelepon Chalvin saat ini adalah Karen.


"Apa? Apa?" tanya Chalvin yang kurang mendengar suara Karen, "kamu mau ke apartemen aku sekarang?"


Chalvin kini berbalik membelakangi Nadya. "Gini, gini, kamu tunggu di situ aja. Biar aku yang datang jemput sekarang!"


Suara Karen yang tak begitu jelas membuat Chalvin perlu menjauhi kerumuman dan meninggalkan Nadya sendiri di sana.


Nadya masih diam dan terpaku. Sempat mendengar kalau pria itu akan menjemput Karen sekarang juga, Nadya pun hanya bisa tersenyum tipis. Ternyata, perasaan Chalvin ke Karen masih sama seperti dulu. Itu bisa dinilai dari respon Chalvin yang begitu cepat bahkan sampai meninggalkannya begitu saja. Menganggap pria itu telah pergi, Nadya pun beranjak meninggalkan tempat itu dari arah yang berlawanan.


Usai berbicara dengan Karen dan menceritakan apa yang terjadi pada Darren semalam, Chalvin pun kembali ke tempat sebelumnya. Sayangnya, Nadya sudah tak di sana lagi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2