
Ada yang mengatakan, di dunia kerja, orang yang pintar dan giat akan mudah dikalahkan dengan orang yang suka menjilat dan mencari muka dengan atasan. Namun, orang yang suka menjilat dan cari muka pun akan terkalahkan dengan kekuatan 'orang dalam'. Seperti Silvia yang mendadak menjadi sekretaris Chalvin lewat kuasa Oma Belle.
Mengetahui Silvia menggantikan posisi Brella sebagai sekretarisnya, tentu membuat Chalvin berang. Pasalnya, tindakan Oma Belle sudah terlalu seenaknya. Hal ini rupanya juga tengah disoroti kakek Aswono. Pria itu tak setuju dengan keputusan istrinya yang memasukkan Silvia ke perusahaan tanpa perlu melewati seleksi seperti calon pekerja lainnya.
"Kamu kenapa jadiin Silvia sekretarisnya Chalvin?"
"Biar Chalvin tahu kalo Silvia itu perempuan serba bisa. Jadi istri yang ideal, bisa. Jadi teman kerja yang profesional juga bisa. Perempuan serba bisa layak dijadiin pendamping!"
"Ya, kalo nikah cari yang banyak bisanya, nikah sama ular cobra aja," gerutu kakek.
"Diam aja kamu, Mas! Gak usah protes!"
"Gimana saya gak protes, kamu masukin orang seenaknya aja! Malah tiba-tiba langsung dijadiin sekretarisnya Chalvin. Apa kata karyawan lain nanti?"
Berbeda dengan kakek Aswono yang kembali berdebat dengan Oma Bella, sebaliknya Chalvin terlihat lebih menerima kehadiran Silvia meski sempat kesal. Kepada Silvia, pria itu menerangkan apa saja tugas yang akan dilaksanakannya.
"Pertama. Rapat apa pun kamu harus duluan hadir untuk mempersiapkan ruangan. Lalu, catat semua yang dibahas dalam rapat dan serahkan pada saya setelahnya."
"Kalo itu sih aku juga tahu. Gak perlu diingatin."
"Ingat, catat dibuku bukan diketik! Semua isi rapat ditulis dengan lengkap dari awal hingga akhir."
Silvia terbelalak seketika. "Hah? Hari gini masih nulis di buku catatan?"
"Tiap hari saya berhadapan dengan layar komputer dan hp. Kamu jangan nambah-nambahin radiasi yang masuk ke mata saya dengan laporan kamu!" ketus Chalvin.
Silvia menyeringai kesal tapi tak berani komplain.
"Kedua." Chalvin kembali menjelaskan apa saja tugas Silvia sebagai sekretarisnya. "Karena saya gak suka orang lain sembarang masuk ke ruangan saya, maka tugas kamu adalah ngebersihin ruangan saya. Termasuk nyapu, ngepel, sama ngelap kaca."
Kali ini giliran mulut perempuan itu yang mendadak terbuka lebar membentuk sebuah terowongan. "Tapi itu kan tugas OB!"
"Sekretaris saya sebelumnya juga ngerjain ini dan dia gak komplain."
Silvia langsung terdiam, tetapi giginya menggertak.
__ADS_1
"Ketiga." Chalvin memutar kursinya sehingga posisi duduknya kini membelakangi Silvia. "Saya gak suka ada gosip miring tentang saya dan sekretaris. Jadi, sebisa mungkin jangan bicara sama saya kalo gak perlu. Jika ada kunjungan atau pertemuan di tempat lain, jangan ikut masuk ke dalam mobil yang ditumpangi saya."
"Loh, terus, gimana aku bisa dampingi kamu kalo gitu?"
"Usahakan cari mobil atau kendaraan lain. Yang pasti kamu harus duluan sampai dari saya di tempat itu!" tandas Chalvin. Ia kembali memutar kursinya dan menatap Silvia yang berdiri bodoh dengan wajah memberengut. "Sekali aja kamu ngelakuin kesalahan, maka opsinya hanya satu. Bikin surat pengunduran diri!" tegas Chalvin.
Silvia keluar dari ruangan Chalvin dengan bersungut-sungut. Tak habis pikir! Lelaki itu sengaja membuatnya tak betah berada di sisinya. Jika bukan karena desakan orangtuanya, ia benar-benar ingin menyerah dengan perjodohan ini.
Setelah Silvia keluar dari ruangannya, Chalvin kembali memusatkan pandangannya pada layar laptop di mana halaman terakhir yang dibukanya adalah website resmi salah satu toko perhiasan ternama.
***
Selepas kepergian Darren dan Marsha, para Mahdi langsung mengelilingi Feril. Tentu mereka mempertanyakan sikap tak acuh Marsha ketika bertemu Feril.
"Ril, lu sama Bu Marsha lagi marahan, ya? Kok doi cuekin elo?" tanya kawannya.
"Jangan bilang lu bikin kesalahan. Bisa gawat kalo gitu! Soalnya perempuan itu, biar dikata pemaaf, tapi kalo Lo bikin satu kesalahan aja, bakalan diungkit terus sampai Dajjal turun," ketus Jamet.
"Pasti omongan lu kurang difilter, nih. Makanya doi ngambek. Kalo ngomong sama perempuan itu kudu hati-hati, Bray. Jangan terlalu blak-blakan.
"Kalo yang gua terawang, keknya bu Marsha malu sama pak Darren kalo sampai ketahuan elu dan dia punya hubungan," terka Gimbal kembali.
"Ini nih susahnya kalo ehem-eheman sama dosen. Kita harus bisa imbangi kepintaran mereka. Contohnya Karen yang sudah jadi istri pak Darren, dulu kita sering lihat dia belajar di perpustakaan, kan? Itu karena dia sadar, harus bisa mengimbangi kecerdasan pak Darren biar gak malu-maluin. Jadi, minimal lu kayak Karen yang berusaha nunjukin kalo dia pantas buat pak Darren." Jamet sebagai pakar cinta mulai memberi saran pada kawannya.
Feril langsung teringat masa-masa ia semangat mengejar Karen. Cara termudah menemui perempuan itu adalah mendatangi perpustakaan karena di sana ia kerap mendapati Karen sedang belajar sungguh-sungguh.
"Betul. Kita tetap dukung lu sama Bu marsha, tapi minimal lu gak malu-maluin dan gak jadi beban buat dia. Soalnya cewek jaman sekarang anti cowok pembawa beban," imbuh kawannya.
"Tapi kan Feril udah berubah akhir-akhir ini. Rajin ngerjain tugas. Enggak dengar tuh pak Darren aja muji dia tadi!" bela Gimbal.
"Ah, udah-udah! Obrolan kalian isinya lemak semua, asli. Bikin gua hipertensi dan kolesterol dengarnya!" ketus Feril. Saat hendak beranjak, seorang mahasiswa dari jurusan lain mendadak menyapanya.
"Wuih, masih pada kuliah aja lu pada. Gua kira dah di-DO. Eh, Ril, gua dengar Karen udah nikah sama pak Darren. Jadi selama ini elo ngejar-ngejar bini orang dong! Ngenes amat, sih, elu!" ledeknya diiringi tawa kawan-kawannya. Pria itu adalah sosok yang pernah menantangnya dengan taruhan untuk menaklukkan Karen.
"Asal kalian tahu, ya, Feril dah move on dari Karen. Dia juga dah punya penggantinya. Bakalan kaget lu pada kalo tahu sapa yang jadi gebetan Feril sekarang," balas Gimbal membela Feril dari cemoohan mereka.
__ADS_1
"Kalian sendiri gimana, udah pada punya gebetan belom? Atau masih jomblo aja? Capres aja dah pada ngumumin pasangannya, masa kalian masih ngejomblo," ledek mereka.
"Sorry, Bro. Kami kagak cocok punya pacar, cocoknya punya saham di perusahaan," balas Jamet.
**
Senja telah menapaki langit Jakarta. Para mahasiswa masih berlalu lalang di kampus. Marsha berjalan cepat menapaki anak tangga menuju atap gedung dengan kepala yang menoleh ke sana kemari. Ya, tentu ia takut ada yang melihatnya. Pasalnya di sana ia akan bertemu Feril. Begitu tiba di puncak tertinggi gedung fakultas itu, ia terkejut mendapati Feril sudah lebih dulu ada di sana.
"Ada tugas apa lagi!" ketusnya dengan pandangan menyamping.
"Gak ada sih!" jawab Feril dengan santai.
"Terus ngapain kamu panggil saya ke sini!" gerutunya kesal.
Feril membuang wajah sejenak, lalu menatap dosennya itu sembari tersenyum. "Saya mau belajar sungguh-sungguh sama Miss."
Marsha menarik napas kasar seraya menengadahkan kepala. "Maaf gak ada waktu. Ke depannya kalo kamu mau dibantu kerjain tugas, kirim saja ke alamat email saya biar kita gak usah ketemuan kayak gini."
"Kita bikin kesepakatan baru aja!" ujar Feril dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana, "Saya gak akan minta Miss ngerjain tugas saya lagi, tapi sebagai gantinya Miss harus ajarin saya selama sebulan penuh."
"Sebelumnya juga kamu minta diajarin tapi ujung-ujungnya saya yang ngerjain tugas kamu sepenuhnya sementara kamu cuma asyik nge-game di sini!"
"Kali ini beda. Saya sungguh-sungguh. Ajarin saya selama sebulan penuh, setelah itu Miss bebas! Saya gak akan singgung unek-unek yang pernah Miss keluarin di tempat ini. Termasuk, rahasia yang gak diketahui banyak orang kalo Miss itu mantan pacar pak Darren yang belum move on."
"Kamu!" Marsha tersentak sekaligus menahan geram karena ternyata Feril mengetahui jika ia dan Darren pernah menjalin hubungan. "Siapa yang belum move on? Justru Darren tuh menikah karena patah hati sama saya!" elak Marsha dengan sikap angkuhnya. Namun, melihat pancaran mata Feril saat ini, membuatnya sedikit mempertimbangkan permintaan pria itu.
Berbeda dengan mahasiswa lainnya, hingga saat ini Nadya masih berdiam diri di kos-kosannya untuk memulihkan staminanya. Ia tengah sibuk berbalas pesan dengan Karen dan Vera di WhatsApp grup. Kedua sahabatnya sebenarnya ingin menjenguknya saat itu juga, tetapi mereka masih memiliki mata kuliah terakhir.
Suara ketukan pintu mendadak terdengar. Berpikir itu adalah Chalvin, Nadya pun bergegas turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu. Mata Nadya sontak melebar ketika membuka pintu. Pasalnya, yang datang ke kos-kosannya saat ini bukanlah Chalvin, melainkan orangtuanya yang datang dari Bogor.
.
.
.
__ADS_1
catatan author:
FYI, Novel ini sedang menuju ending. Bakalan gua selesaikan semua konfliknya dan nasib-nasib tiap tokoh. Buat kalian yang mungkin dah bosan dengan ceritanya atau merasa ini udah bertele-tele, jangan khawatir karena udah mau gua selesaikan semuanya. Tentunya, untuk mendapatkan ending yang bagus dan berkesan, gak bisa kebut tamat juga ya. Target gua sih, sebelum akhir tahun, ya, kalo gak ada kendala update.