
Kehadiran Chalvin di tengah-tengah mereka sontak membuat Nadya sedikit risi. Apalagi Chalvin seakan tak membuat jarak dengannya. Terbukti, lengan mereka saling bersinggungan. Sayang sekali Nadya tak bisa menggeser tubuhnya ke samping karena posisinya pun sudah paling pojok.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Chalvin dengan santai.
Nadya tak menjawab, malah melengos. Seharusnya Chalvin sudah bisa menebak hanya dengan melihat barang bawaannya, kan?
Chalvin menatap barang bawaan Nadya. "Buka stand di atas, ya?"
"Iya, Kak," jawab Nadya berusaha menatap ke arah yang berlawanan.
"Yakin? Bukannya stand kalian ada di luar? Di atas tuh khusus toko baju."
Nadya lantas terperanjat dengan mata membulat. Ya, dia terlalu terburu-buru datang ke tempat ini hingga lupa menanyakan letak stand mereka. Selain itu, ia dan karyawannya baru pertama kali mengunjungi tempat ini. Melihat ekspresi Nadya, mulut Chalvin mengembung karena menahan tawa. Ia langsung menekan tombol lift ke lantai dasar.
Karena malu, Nadya buru-buru keluar begitu lift terbuka. Gelas-gelas tersusun tinggi yang dibawanya kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh kalau saja tangan Chalvin tak cepat menangkap. Pria itu pun mengambil alih seluruh barang bawaan Nadya.
"Biar aku aja, Kak. Gak usah repot-repot!" Nadya menolak saat Chalvin mengambil gelas-gelas itu dari tangannya.
"Aku tahu stand kamu!" ujar Chalvin sambil melangkah lebih dulu dengan membawa seluruh gelas-gelas.
Nadya dan barista lelaki yang menemaninya lantas hanya bisa mengekor chalvin dari belakang. Ternyata stand minuman mereka berdekatan dengan stand makeup Belleria. Setidaknya, dari tempatnya yang kecil itu ia bisa melihat stand Belleria yang begitu besar dengan desain unik dan juga feminin.
"Taruh di situ aja, Kak. Makasih, ya!" kata Nadya seraya sibuk mengatur tataan stand-nya agar menarik pengunjung.
"Aku masih di sini, kalo kamu butuh bantuan aku langsung telepon aja!" ucap Chalvin.
Nadya terdiam sambil terus menyibukkan diri. Chalvin memutuskan kembali ke stand-nya untuk mengawasi karyawan dan sales yang ditugaskan di sana. Namun, baru beberapa langkah dari stand kopi, pria itu kembali berbalik seraya memandang lambat ke arah Nadya yang masih sibuk seolah tak peduli dengan kepergiaannya.
Jujur saja, kini gantian ia yang merasa kesal karena diabaikan seorang gadis yang pernah mengaku menyukainya. Sebagai pria yang selalu menjadi pusat perhatian para wanita, mana boleh ada yang mengabaikannya seperti ini.
***
Masih berada di ruang dosen, Karen tampak malu saat seluruh dosen memusatkan pandangan ke arahnya. Ia tak bisa membayangkan apa yang ada di pikiran para dosen saat ini.
Pak Budi Luhur yang juga baru mengetahui status Karen sebagai istri Darren lantas berkata, "Pinter juga, ya, pak Darren milih istri yang masih muda dan bening."
"Iya, ya, Pak, cocok mereka! Serasi banget!" imbuh wakil dekan.
"Gercep juga pak Darren milih mahasiswi kita yang cantik!" sambung dosen lainnya.
Di luar dugaan, para dosen itu justru kompak mengatakan jika Karen sangat cocok mendampingi Darren. Marsha memerhatikan Karen yang tampak tersipu. Meski ekspresi wanita lulusan S2 luar negeri itu tampak biasa saja, tapi tatapannya tak bisa berbohong kalau ia menyimpan kekesalan yang dalam. Mungkin hanya dirinya saja yang menganggap Karen tak selevel dengan mantan kekasihnya itu.
Karen keluar dari ruang dosen setelah mengetahui Darren tak ada di sana dan mengambil jam mengajar sore hingga malam. Saat mengecek ponsel, ternyata ada satu chat dari Darren yang belum dibacanya. Pria itu hanya memintanya menunggu di pintu gerbang karena akan ada kurir yang mengantar makan siang untuknya.
Karen lantas melakukan panggilan video pada Darren. Sayangnya, panggilan itu tak digubris sama sekali. Ini tentu sedikit aneh. Suaminya tak pulang semalam dan menukar jam mengajar.
Tak terasa, waktu mendekati jam empat sore. Feril mondar-mandir di depan ruang dosen dengan mata yang sibuk mengawasi pintu masuk gedung fakultas. Itu telah dia lakukan sejak pagi tadi. Ternyata dia tengah menanti kehadiran Darren. Dia khawatir karena pria itu tak kunjung muncul. Takutnya, pukulan yang dilayangkan dua kawannya malah berakibat fatal. Namun, kekhawatirannya itu bukan untuk kondisi Darren, tapi karena tak ingin dua kawannya terkena kasus pemukulan. Sialnya, pria itu tak kunjung muncul hingga menjelang sore. Padahal, menurut beberapa dosen yang ia tanyakan, Darren tidak absen untuk hari ini dan hanya menukar jam kuliah.
Selang lima menit kemudian, Darren datang dari arah pintu. Feril terkejut melihat perban yang melilit di kepala pria itu.
__ADS_1
"Gawat, nih, kalo sampe dosen pada nanya kepalanya!"
Feril pun menghampiri Darren yang berjalan menuju ruang dosen.
"Prof, saya mau konsultasi lagi!"
"Oke, di ruang dosen aja."
"Enggak, Prof, kalo bisa ke perpustakaan!" Feril malah menghadang Darren yang hendak menuju ruang dosen.
"Jauh amat?"
"Kan biasanya profesor suka minta mahasiswa konsul di sana!"
"Saya udah mau masuk kelas. Gimana kalo kamu nunggu aja setelah selesai."
"Gak bisa, Prof ini urgent!"
"Kalo urgent, ya, ngomongnya di sini aja!"
"Sebaiknya di perpus aja, Prof!"
Darren menghela napas, lalu menatap Feril dengan tajam. "Stop basa-basi. Kamu ada perlu apa sama saya!"
Feril terkelu sesaat.
"Kenapa? Apa kamu gak penasaran kenapa kepala saya dililit? Padahal setiap orang yang ketemu saya, pasti bakal nanyain!" singgung Darren sambil tersenyum miring.
Bukan Feril kalau tak pandai ngeles, tapi bukan Darren juga kalo tak bisa berikan serangan balik.
"Ya, teman kamu, kan, yang celakai saya? Seharusnya yang kamu suruh hati-hati itu mereka karena bentar lagi saya akan laporin ini ke rektor!" tandas Darren.
Feril terbungkam seketika. Raut wajahnya pun menggelap.
"Saya rasa teman kamu cuma punya satu jaket, sampai saya bisa hafal. Dia itu anak bimbingan saya juga. Hal apa yang melatarbelakangi dia mukulin dosen PA-nya?"
"Teman saya cuma khilaf, Prof!" bela Feril.
"Kamu jubirnya, ya?"
Feril diam dan hanya bengong.
"Suruh mereka menghadap saya langsung dan pertanggung jawabkan perbuatannya."
"Enggak, Prof. Saya yang salah. Saya yang provokasi mereka buat ngelakuin itu sama Profesor," balas Feril cepat. Meski otak dan perilaku pria itu minus, tapi ia selalu pasang badan untuk kawan-kawannya.
"Kalo gitu kamu harus menghadap rektor sekarang!"
Feril terbelalak seketika. Menghadap rektor? Tentu itu mimpi buruk bagi para mahasiswa.
__ADS_1
Melihat reaksi Feril, Darren lantas berkata, "Kenapa? Mau ditemani menghadap rektor?"
"Prof, janganlah, Prof! Kita ngaku salah dan gak bakal ngulang lagi. Janji, deh! Kalo Profesor lapor rektor, kita semua auto di-DO." Feril mulai memelas.
"Saat melakukan itu ke saya kenapa gak mikir akibatnya? Kalian bisa memukul dosen kalian, bukan gak mungkin ke depannya juga akan mudah ngelakuin itu ke orang lain."
Sebagai korban, ia ingin memberi pelajaran dan ganjaran bagi para pelaku pemukulan terhadapnya. Namun, sebagai seorang pendidik, tentu ini juga menjadi tanggung jawabnya. Sesungguhnya, ia hanya ingin Feril dan para Mahdi itu memiliki kesadaran diri untuk berubah menjadi lebih baik.
Kampus mulai sepi ketika langit telah memancarkan cahaya kekuningan sebagai pertanda peralihan menuju malam hari. Marsha yang menenteng tas dan minuman soda, tengah menaiki tangga menuju rooftop gedung fakultas. Ia melangkah dengan menghentak-hentakkan kakinya tanda luapan kekesalannya. Bagaimana tak geram, jika sepanjang hari para dosen sibuk membicarakan tentang hubungan Darren dan Karen yang baru saja mereka ketahui.
Begitu tiba di rooftop, wanita itu lantas duduk melantai sambil melepas sepatu hak tingginya.
"Hanya karena dia lebih muda lantas dibilang cocok dampingi Darren?" gerutu Marsha, "selera Darren bagus? Really? Bahkan seleranya menurun drastis!"
Ia terus mengomel, mencibir, menumpahkan kekesalannya dengan suara yang lantang. Rooftop memang menjadi tempat favoritnya untuk sekadar menumpahkan unek-uneknya. Setidaknya, di tempat ini ia bisa melepaskan citranya sebagai dosen muda yang selalu tampil sempurna.
"Woi, berisik!" teriak seseorang.
Marsha tersentak mendengar suara teriakan seorang pria. Matanya berpendar ke seluruh arah, mencari sosok yang baru saja menyahutinya. Ia semakin kelabakan saat melihat seorang mahasiswa duduk berjongkok di pembatas rooftop sambil mengepul asap.
Ternyata itu adalah Feril. Ya, beberapa hari ini pria itu memang kerap menyendiri di tempat ini. Apalagi, saat ini ia tengah mempertimbangkan syarat yang diajukan Darren.
"Ka ... Kamu kenapa di sini? Kamu ngikutin saya, ya?" tanya Marsha kaget. Ia bahkan buru-buru berdiri dan memasang sepatunya.
Feril berdiri dan menginjak rokok yang telah memendek, lalu menghampiri Marsha yang gugup. "Meski saya nganggur dan nolep, saya gak serajin itu buat ngikutin, Ibu. Masuk kelas Ibu saja saya males, ngapain buntutin Ibu ke sini!"
"Kamu dengar enggak apa yang saya bilang tadi?" tanya Marsha sedikit tegang bercampur malu.
"Ya, dengerlah! Kalo enggak denger, ngapain saya komplain berisik! Lagian, kalo ngomong di depan orangnya langsung dong, jangan main belakang," sindir Feril penuh cemoohan.
Wajah Marsha semakin memerah padam. Betapa ia ingin lenyap saat itu juga karena kedapatan bersikap kekanak-kanakan di depan mahasiswanya.
Marsha mundur ke belakang saat Feril datang mendekatinya. "Mau ngapain kamu?"
Feril menatap Marsha, lalu menoleh ke kaki wanita itu. "Sepatu Ibu terbalik, tuh!"
Marsha menunduk ke bawah. Saking gugupnya, ia sampai memasang sepatu yang sempat dilepasnya itu dalam posisi terbalik. Ia pun buru-buru membuka kembali sepatunya dan memakainya ke posisi yang benar.
Feril menyeringai lalu berjalan santai sambil mengantongi kedua tangannya.
"Hei, kamu!" panggil Marsha ketika Feril hendak turun.
Feril menoleh malas ke arah Marsha.
"Apa yang kamu denger, jangan kasih tahu siapa-siapa, ya?!" pinta Marsha.
Feril tersenyum miring sambil mengangkat sepasang alisnya. "Emang penting juga buat saya?"
.
__ADS_1
.
.