DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 56 : Dari Mata Turun ke Hati


__ADS_3

Setiap pagi menawarkan kesempatan baru bagi orang yang ingin berubah menjadi lebih baik. Seperti halnya Karen yang mulai membiasakan diri bangun lebih cepat. Ya, meskipun hanya cepat sepuluh menit dari biasanya.


Berjalan lunglai seperti zombie, Karen keluar kamar dan terkejut mendapati Darren yang tengah bersiap-siap ke kampus. Rupanya, pria itu memiliki jadwal mengajar pagi sehingga pergi lebih cepat.


"Aku pergi dulu, ya! Jangan lupa buatin jurnal pengeluaran bulanan yang aku suruh. Entar malam aku cek!" Darren menghampiri Karen yang masih berada dalam zona antara sadar dan tidak. Pria itu menarik lembut kepala istrinya lalu mendaratkan kecupan di kening.


Karen mengedipkan mata berulang ketika sadar bayang suaminya telah hilang dari ruangan itu. Ia menguap kembali sambil berjalan menuju kamar mandi. Hari ini ia memang tidak memiliki mata kuliah apa pun, karena tiga dosen yang seharusnya mengisi kelas justru berhalangan hadir. Namun, ia harus ke perusahaan untuk kembali melanjutkan syuting yang sempat tertunda.


Karen bergegas mempersiapkan dirinya ke studio perusahaan. Sebentar lagi Chalvin akan menjemputnya. Benar saja, setelah mandi, ia mendapat telepon dari Chalvin yang memberitahukan bahwa dirinya telah menunggu di depan apartemen.


"Tunggu, ya, aku dandan dulu," ucap Karen yang mulai duduk di meja rias.


"Lama enggak, kalau lama aku mau sarapan dulu. Ada rumah makan favorit aku yang gak jauh dari sini, cuma antriannya lumayan banyak."


"Gak lama kok. Tunggu aja, paling sekitar sepuluh menitan."


"Oke."


Sepuluh menit kemudian, Chalvin pun menelepon kembali.


"Tunggu, lagi bikin alis. Lima belas menit lagi."


Chalvin menatap jam tangannya. Waktu lima belas menit ia lakukan untuk membalas e-mail yang masuk. Ia juga sempat menjawab beberapa telepon yang masuk dan menelepon beberapa partner kerja.


Lima belas menit kemudian, ia kembali menelepon Karen.


"Tinggal catokan! Nih, dah mau kelar lima belas menitan. Tunggu, ya!"


Chalvin menatap masam layar ponselnya yang telah menggelap. "Katanya dah mau kelar, tapi disuruh nunggu lima belas menitan lagi?"


Chalvin mengernyit ketika Karen belum juga muncul padahal sudah lewat lebih dari lima belas menit. Bahkan, jika dihitung-hitung, total waktu menunggu Karen berdandan ternyata hampir sejam lamanya. Sudah bosan menelepon, ia pun memilih keluar dan hendak menyambangi langsung. Untung saja di saat yang bersamaan Karen keluar dari gedung itu dengan penampilan yang fashionable dari biasanya. Ya, itu karena ia ingin membangun kepercayaan dirinya yang sempat menyusut.


"Ternyata bener kata orang, ya, jangan nunggu cewek yang lagi dandan. Karena durasinya sama kayak kita nanam padi sampai panen," omel Chalvin sambil kembali masuk ke mobil, "lagian ngapain repot-repot dandan, sih. Di sana juga kamu bakal didandani la—" Kalimatnya tak berlanjut ketika matanya bertemu sapa dengan mata Karen.


Sial! Kenapa dia manis banget pagi ini ....


"Kenapa? Ada yang salah dengan mukaku? Apa jangan-jangan makeup-ku ketebalan?" tanya Karen heran karena Chalvin menatapnya tak berkedip.


Tersadar, Chalvin segera memalingkan muka. "Ah, tidak."


Kenapa jantung gua mendadak kek gini, ya? Kok gua jadi prik gini.

__ADS_1


(N: Prik slang word dari kata freak\=aneh)


Chalvin memegang dada kirinya. Ia tak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa bisa begitu gugup dan jantungnya mendadak terpompa cepat. Tanpa disadari, gelagat anehnya pun terlihat oleh Karen.


"Kamu kenapa? Kurang enak badan?" tanya Karen yang melihat ekspresi Chalvin.


Chalvin kembali menoleh. "Aku cuma—"


Lagi-lagi, kalimatnya terputus begitu saja saat mata mereka kembali bersirobok.


Gawat! Ini gawat! Gua benar-benar nervous sama nih cewek!


Masih saling berpandangan, Karen malah menanyakan kalimat menggantung yang dilontarkan Chalvin. "Cuma apa?"


Bola mata Chalvin bergerak ke samping, mencoba untuk mengalihkan tatapannya. "Aku ... cuma ... cuma ... lapar!" ucapnya tersendat-sendat.


"Oh, pantes aja. Kalau lagi lapar emang suka gemeteran, ya! Ya, udah kamu singgah sarapan aja dulu."


Chalvin mengangguk cepat lalu menghidupkan mesin mobilnya.


"Gua nervous kayak gini pasti karena Oma, kakek sama Darren terlalu ngasih kepercayaan penuh buat jaga nih cewek! Ya, pasti, gua cuma merasa khawatir aja kalau dia kenapa-kenapa lagi. Tanggung jawab gua besar, kan?" gumam Chalvin meyakinkan dirinya sendiri.


Office boy itu terlihat bersemangat sambil menuturkan pantun. "Dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali. Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati."


Mendengar pantun itu, membuat Chalvin melebarkan matanya. "Dari mata turun ke hati?" Ia mengulang perkataan office boy.


Chalvin mendadak teringat keanehan yang terjadi dalam dirinya saat bertatapan langsung dengan Karen. Di waktu yang bersamaan, sekretarisnya datang menyapa. Chalvin langsung menarik masuk sekretarisnya itu ke dalam ruangan, lalu menyandarkan sekretarisnya di belakang pintu. Ia menatap lekat-lekat mata perempuan yang berada di hadapannya saat ini. Namun, alisnya langsung mengeriting ketika dirinya tak bereaksi apa pun.


Melempar senyum menggoda seraya menggulung dasi Chalvin, sekretaris itu pun berkata, "Tumben masih pagi dah bersemangat kayak gini!"


Chalvin langsung berbalik cepat, seraya bermonolog sendiri dalam hati. "Kenapa jantung gua gak berdetak kencang kayak pas lagi bertatapan ma Karen, ya? Jangan-jangan ...." Ia membulatkan mata seketika, sambil kembali bergumam dalam hati, "Enggak! Enggak! Gua pasti dah ketularan virusnya Darren. Selera gua sekarang malah cewek muda kayak Karen."


Rupanya keanehan Chalvin tak sampai di situ saja. Selama Karen syuting, pria itu mendadak memakai kacamata hitam di dalam ruangan. Bahkan ketika mengantar Karen pulang, ia terus memalingkan wajahnya, seakan takut untuk melihat mata perempuan itu. Ini karena ia terus teringat dengan pantun yang tak sengaja didengarnya, sehingga merasa bertatapan dengan Karen akan sangat berbahaya karena bisa mendatangkan cinta.


"Kamu kenapa, sih? Kok aneh banget hari ini?" tanya Karen yang berjalan beriringan dengan Chalvin.


"Aku ... lagi sakit mata," jawab Chalvin asal-asalan sambil terus membuang muka.


"Hah? Kok mendadak sakit mata?" Karen sedikit tak percaya.


"Iya, gak tahu juga nih kenapa tiba-tiba sakit." Chalvin menunduk sambil memegang tangkai kacamata.

__ADS_1


Terus berjalan sambil memalingkan muka, membuat Chalvin tak menyadari di hadapannya ada jendela kaca.


"Chalvin, awas!" teriak Karen.


Terlambat! Chalvin lebih dulu menabrak jendela kaca tersebut hingga membuat tubuhnya oleng ke belakang.


Karen menggeleng-geleng kepala sambil berdecak lidah. "Kali ini aku percaya kalau mata emang sakit! Periksa mata, sana!"


...----------------...


Pergerakan waktu begitu cepat, hingga tak terasa malam kembali menyapa. Darren membuka pintu apartemennya. Ia terkesiap ketika disambut hangat oleh Karen yang langsung berhambur ke dalam pelukannya. Darren menangkap tubuh istrinya, membiarkan Karen melilitkan kaki di pinggulnya.


"Udah pulang?" tanya Darren sambil menggendongnya menuju meja makan.


"Dari tadi malah!" jawab Karen seraya mengalungkan tangannya di leher suaminya.


"Kok cepat?"


"Iya, katanya kakek yang minta syutingnya jangan sampai malam."


"Pasti kakek takut kamu kenapa-kenapa lagi." Darren mendudukkan Karen di atas meja. Pandangannya lalu tertuju pada beberapa buku yang berhamburan di meja tersebut. Menandakan istrinya sedang belajar.


Karen menyerahkan jurnal pengelolaan gaji suaminya yang baru saja selesai dibuatnya. "Kita gak ada cicilan, kan?" tanya Karen memastikan.


Darren mengangguk, lalu memeriksa tabel pengeluaran bulanan rumah tangga mereka yang dibuat Karen. "Biaya pendidikan kamu dan keperluan bulanan kamu kayak pembalut, pakaian, skincare, pulsa jajan dan lain-lain kenapa gak dimasukin?"


"Itu pakai uangku aja. Gini-gini juga aku punya penghasilan dari hasil endorse."


Darren menyerahkan kembali jurnal tersebut. "Masukin semua itu di daftar pengeluaran gaji bulanan aku. Kebutuhan kamu tuh tanggung jawab aku, meskipun kamu punya penghasilan sendiri."


Pria itu lalu masuk kamar, kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang dalam posisi tengkurap. "Akh, capek banget seharian duduk!" keluhnya seraya memejamkan mata.


Karen menyusul ke kamar dan ikut berbaring di atas tubuhnya. Namun, tindakan manja ini justru membangunkan adik kecil Darren. Pasalnya, dada Karen terus bergesekan di punggungnya. Belum lagi, napas perempuan itu berembus tepat di belakang telinganya.


"Sayang, jangan mancing, deh," ucapnya dengan nada sengau.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2