DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 112 : Turn Off!


__ADS_3

...WARNING!...


...ADEGAN 🍍🍍🍍...


...YANG BOCIL, JONES DAN GAK SUKA SILAKAN SKIP!...


...----------------...


Getaran-getaran berbeda mulai menggerogoti keduanya hanya karena sisi jari kelingking mereka saling bersinggungan. Meremangkan keduanya. Seperti kembali merasakan malam pertama, keduanya pun sama-sama canggung dan hanya menatap langit-langit ruangan sambil mendengar nyanyian hujan yang semakin deras.


Suasana yang mendatangkan rasa dingin itu membawa bibir mereka untuk saling bertemu dan menjamah satu sama lain. Dengan mata terpejam, Karen mulai merasakan pergerakan bibir Darren di atas bibirnya. Mencicipi setiap sisi bibirnya yang berwarna merah alami, menyesapnya dengan penuh kehangatan. Manis. Lembut. Menenangkan.


Pria itu mengangkat kepala dan setengah badannya tanpa melepaskan pertautan bibir mereka. Di bawah sinar lampu yang terang, Karen bisa melihat wajah suaminya dari dekat dengan mata yang terpejam. Betapa pria ini begitu tampan dengan bulu mata dan alis yang legam. Tulang pipinya semakin menonjol indah seiring bibirnya terus melakukan gerakan-gerakan sensual. Terlalu seksi!


Darren melepas pertautan bibir mereka lalu tersenyum sejenak sambil mengusap bibir candu Karen dengan sapuan lembut ibu jarinya. Melihat istrinya yang terlentang pasrah, membuat ia tak tahan memberi godaan dengan menggigit lembut hidung minimalisnya yang menggemaskan. Siapa sangka, perempuan itu balas mengecup dagunya yang bebas dari janggut halus dan terbelah indah.


Mereka sama-sama tersenyum dengan mata yang memancarkan binar kebahagiaan. Darren menarik lembut tangan Karen dan menuntun untuk bangun dan duduk di pangkuannya dalam posisi saling berhadapan. Ia menangkup wajah perempuan itu, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga kemudian membawa bibir mereka kembali bersatu.


Ini terlalu indah untuk dihentikan. Sehingga menjadikan ciuman terpanjang yang pernah mereka lakukan. Suara decakan peraduan bibir mereka pun memenuhi kamar itu, beradu dengan suara hujan yang juga bercumbu dengan bumi. Ciuman ini seolah menjadi pelepasan untuk hal-hal yang tak bisa diutarakan, setelah berhasil menghadapi ujian rumah tangga yang baru saja menghantam mereka.


Gairah Karen meningkat pesat. Terlebih, saat bibir Darren mendahuluinya masuk jauh lebih dalam. Daging lembut tak bertulang itu mulai memagut dengan lebih liar dan menuntut. Lidah pria itu masuk mendesak ke dalam mulutnya. Karen membuka diri, menyambut dan membiarkan lidah mereka lincah menari bersama. Saling membelit dan bertukar rasa.


Seolah tak mau kalah dari Darren yang terus memimpin cumbuan itu, Karen tiba-tiba mendorongnya lalu naik ke atas tubuhnya. Keduanya kembali larut dalam ciuman yang lama dan penuh hasrat. Saling menunjukkan keahlian melahap satu sama lain.


Tak mau Karen berlama-lama mengambil alih darinya, Darren memutar posisi dengan menempatkan perempuan itu di bawahnya. Darren menggunakan salah satu siku untuk menopang tubuhnya, sementara tangan satunya membuka resleting jaket Karen dengan perlahan lalu meloloskan dari tubuhnya. Kaus putih ketat yang menjadi dalaman perempuan itu pun ikut terhempas ke lantai.


Mata Karen terpejam kuat saat napas hangat pria itu menerjang kulitnya. Ia dapat merasakan gigitan dan hisapan-hisapan kecil di sana. Tampaknya, lehernya yang jenjang menjadi tempat favorit kedua untuk melabuhkan ciuman.


"Apa masih sakit?" tanyanya sambil mengelus dan menekan perut Karen. Ia ingin memastikan terlebih dahulu, sebelum memosisikan tubuhnya berada di atas tubuh istrinya.


Karen menggeleng tanpa bersuara. Dari perut, tangan pria itu bergerak ke bagian bawah pusar. Meraba-raba dan kembali menekannya dengan lembut.

__ADS_1


"Kalo yang ini?"


Karen kembali menggeleng sambil menahan geli yang bersensasi dalam dirinya.


Melihat ekspresi istrinya, tangan Darren malah bergerak nakal ke bawah. Paling bawah. Tepatnya, daerah rawan yang menjadi titik sensitif perempuan itu.


"Kalo yang ini?" godanya sambil menggelitik dan memijat lembut titik pusat kenikmatan istrinya yang masih berbalut penutup segitiga transparan.


Karen mengigit bibir bawahnya sambil memegang erat pergelangan tangan suaminya.


"Ja–jangan!" Karen berjengit seketika.


Sambil tersenyum miring, Darren pun menarik tangannya dari tempat lembab itu. Namun, Karen malah semakin mencengkram erat pergelangan tangannya.


"Ja–jangan ber–hen–ti!" ucap Karen terputus-putus dengan wajah semerah tomat. Ia bahkan tak bisa mengontrol dirinya untuk tak mengerang.


Tiba-tiba Darren menghentikan kegiatannya di jepitan paha Karen. "Apa udah boleh?" tanyanya dengan mata yang berkedip sayu.


Kegiatan intim ini tentu sudah lama mereka dambakan. Momen di mana napas dan keringat mereka berbaur, mengikuti tubuh yang bersatu.


"Emang udah boleh?" tanya Karen ragu-ragu.


"Makanya aku tanya tadi."


"Ya, enggak tahu, juga. Boleh gituan apa enggak."


Ya, dokter memang memperbolehkan dirinya makan minum dan bergerak sesuka hati pasca terapi. Namun, mereka tak tahu apakah berhubungan intim juga termasuk diperbolehkan ataukah harus menunggu beberapa waktu, mengingat dokter mengatakan rahimnya masih dalam tahap pemulihan. Sialnya, mereka malu bertanya akan hal itu.


"Jadi gimana dong?" tanya Karen sambil menggigit bibir bawahnya.


"Pake cara lain aja, gimana?"

__ADS_1


"Cara lain gimana maksudnya?"


Darren mencelupkan ujung jari telunjuknya ke dalam mulut Karen. "Kayak gini ...."


Karen langsung menepis kesal tangan Darren. "Kalo kayak gitu cuma kamu doang yang bisa nikmati."


"Ya, udah ... gas aja!" Darren bersiap menarik menanggalkan penutup segitiga.


Karen buru-buru menahan tangan pria itu. "Tapi ... kalo aku kenapa-kenapa gimana?" tanyanya bimbang.


Darren menghentikan segala pergerakannya. Ia langsung mengambil pakaian Karen yang sempat terlempar di lantai, lalu membantu memakaikan kembali.


"Udah, kita tidur aja malam ini. Biarkan kamu pulih total dulu. Kesembuhan kamu lebih penting."


"Loh, kok gitu? Nanggung banget!" Karen malah melayangkan protes.


"Ya, terus gimana? Aku bilang gas aja, kamu malah takut kenapa-kenapa."


"Gimana kalo kita cari tahu lewat google dulu." Karen mengambil ponselnya dengan penuh semangat.


"Masalahnya, udah turn off, nih!" Darren menatap masam pangkal pahanya. Terlihat, miliknya yang tadinya berdiri gagah kini tertunduk seperti padi yang siap panen.


"Tinggal dibikin turn on lagi apa susahnya, sih!"


Tak seperti yang sudah-sudah, kali ini giliran Karen yang digantung Darren begitu saja.


.


.


.

__ADS_1


SUDAH DIREVISI


__ADS_2