DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 216 : Haruskah Bertahan?


__ADS_3

Pada dasarnya, setiap manusia adalah ujian untuk manusia lainnya. Ada anak yang menjadi ujian bagi orangtuanya, ataupun orangtua yang menjadi ujian untuk si anak. Ada suami yang menjadi ujian buat sang istri, ada juga istri yang menjadi ujian untuk sang suami. Ada juga wanita maupun pria yang menjadi ujian di rumah tangga sepasang insan.


Pulang dari pesta, Oma Belle bersungut-sungut karena Chalvin lebih dulu pulang dan meninggalkan mereka. Sesampainya di rumah, ia malah mendapati mobil Chalvin sudah tak ada di halaman parkiran rumah mereka. Ia pun masuk terburu-buru sambil menanyakan pada ART apakah cucunya itu datang mengambil mobilnya. Sayangnya, tak seorang pun yang tahu-menahu hal tersebut.


"Masa kalian gak lihat Chalvin datang ke sini?" tanya Oma kesal. Ia menduga cucunya itu sengaja pulang cepat agar bisa datang ke sini untuk mengambil mobil.


"Saya yang suruh supir pulangin mobilnya ke apartemennya tadi," kata kakek Aswono yang baru saja keluar dari kamar sembari menggulung sarungnya.


"Hah? Kamu ini gimana, sih, Mas? Chalvin itu lagi kena hukuman dari saya!"


"Terus kamu mau dia ke sana-kemari naik onta? Chalvin itu udah bukan anak kecil lagi. Biarkan dia dengan keputusannya, gak usah terlalu ditekan."


"Maksud kamu biarin dia pacaran sama cewek gak baik itu?"


"Buruk baiknya manusia itu tergantung kamu dengarnya dari siapa. Lagian, dari sekian banyak cewek yang dia kenalkan ke kita, si Nadya itu masih lebih mending. Biarkan aja dulu mereka jalani. Siapa tahu aja kali ini Chalvin udah serius." Kakek tentu lebih tahu perasaan Chalvin, karena cucunya itu memang kerap kali meneleponnya hanya untuk mengeluhkan tindakan Oma Belle yang terlalu seenaknya.


"Tapi masih ada Silvia yang jauh lebih baik dari si Nadya itu!" kekeh Oma Belle.


Sudah bukan hal baru lagi jika suami istri itu selalu punya pendapat yang bersebrangan. Mereka bagaikan kubu pro pemerintah dan oposisi yang tak pernah akur. Di waktu yang sama, Karen dan Darren baru saja tiba setelah dari klinik dokter kandungan. Perhatian kakek dan Oma lantas teralihkan dengan kehadiran mereka berdua.


"Gimana hasil USG-nya?" tanya suami istri itu kompak.


Karen memandang suaminya seolah meminta Darren yang menjawabnya.


"Kata dokter janinnya berjenis kelamin perempuan."


"Perempuan?" ulang Oma Belle dengan intonasi nyaring.


"Wah, bagus itu. Bakalan ada Oma Belle versi kecil," sahut kakek dengan tawa menggelitik.

__ADS_1


"Ngejek kamu, Mas?"


"Lah ... Enggak! Justru aku senang bakalan ada yang ngewarisin kecantikan kamu. Kan kita belum ada anak maupun cucu perempuan selama ini. Sekarang puji syukur malah dikasih cicit perempuan. Pasti bakalan mirip kamu," ucap kakek.


Oma Belle tersipu menerima pujian dari suaminya. "Bisa aja kamu, Mas. Kan Karen juga cantik, bisa jadi lebih mirip Karen," ucap Oma malu-malu.


"Justru lebih baik sifatnya aja yang mirip Karen, soalnya kalo sifatnya mirip kamu, bakalan puyeng entar orang-orang hadapinya," cetus kakek Aswono.


Wajah Oma yang bersemu, kini menggelap seketika. "Maksud kamu apa ngomong gitu?" sambar Oma yang langsung kesal. Ia lantas menatap Karen sambil berkata, "Karen, habis ini jangan langsung masuk kamar, cuci muka dulu di kamar mandi biar gak diikutin roh halus. Sebelum tujuh bulan, perut ibu hamil itu rawan dimasuki roh-roh jahat. Apalagi kamu habis keluar malam. Ini yang terakhir kamu keluar malam. Besok-besok cari dokter yang praktek pagi aja."


"Iya, Oma."


Karen langsung mengikuti arahan Oma Belle untuk mencuci wajah terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar. Darren pun ikut mengawal istrinya.


"Kenapa, sih, orangtua jadul itu dikit-dikit pikirannya ke arah mistis?" keluh Karen setelah Oma melarangnya untuk keluar malam.


"Karena mistis adalah jawaban termudah untuk hal-hal yang mereka tidak ketahui dan tidak pelajari. Apalagi untuk orang-orang yang punya rasionalitas rendah," jawab Darren sambil merangkul istrinya, "contohnya dulu ada banyak kasus dari ibu hamil yang langsung demam setelah keluar malam. Karena terbatasnya ilmu pengetahuan, orang-orang menganggap itu disebabkan teguran roh jahat, padahal sebenarnya bisa saja ibu hamil itu demam karena terkena gigitan nyamuk Aedes aegypti selain itu udara malam lebih banyak kandungan karbon dioksida dibanding oksigen sehingga bisa bikin ibu hamil terkena gangguan pernapasan."


"Emang susah menghilangkan mindset dan kepercayaan yang sudah mendarah daging dan turun temurun, apalagi terkait mitos dan mistis. Tapi selama ini ada kaitannya dengan fakta kesehatan, ikuti aja. Oma, kan, larang kamu sebagai bentuk perhatiannya. Terus, ternyata mereka gak mempermasalahkan jenis kelamin bayi kita, kan?" tutur Darren sembari mengelus kepala istrinya.


Karen mengangguk kecil sambil tersenyum. Ternyata memang tak seperti yang ia khawatirkan. Kakek Aswono dan Oma Belle merespon baik tentang jenis kelamin calon bayi yang dikandungnya. Justru pikirannya yang terlalu negatif sehingga memunculkan kecemasan tersendiri.


Karen keluar dari kamar mandi setelah mencuci wajah. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Darren dan Silvia tengah mengobrol di ruang makan. Bersamaan dengan itu, Darren pun menoleh ke arahnya.


"Sayang, kamu masuk ke kamar duluan aja, ya? Aku mau bantuin Silvia buatin CV perusahaan," kata Darren.


Karen terdiam beberapa saat sambil menatap suaminya yang lanjut mengobrol dengan Silvia. Perempuan itu bahkan bersemangat menunjukkan berkas dalam laptopnya pada Darren. Ketika Darren hendak menarik kursi untuk didudukinya, Karen lantas lebih dulu duduk di samping pria itu.


"Aku tunggu di sini aja, deh!" ucap Karen sembari memangku dagu.

__ADS_1


"Tadi di dalam mobil katanya pengen cepat-cepat istirahat!" singgung Darren.


"Ini permintaan baby tahu! Dia pengen dekat ma kamu terus," balas Karen dengan gaya manja. Bagi Karen sendiri, ia tak akan memberi celah pada wanita manapun yang ingin mendekati suaminya itu. Kehadiran Silvia di rumah itu memang tak membuatnya bersimpatik sejak awal.


"Ah, tunggu, aku mau ambil contoh data yang bisa kamu ikuti!" ucap Darren sambil berdiri, kemudian beranjak menuju kamarnya.


Kini hanya tersisa Silvia dan Karen di ruangan itu.


"Kayaknya kamu tipe istri yang suka ikut campur urusan suami, ya?" sindir Silvia sembari menggeleng-geleng kepala dengan pelan.


"Gak juga. Cuma kalo kata mami aku, kita harus pintar menangkap sinyal pengganggu dalam rumah tangga."


"Jadi kamu mau bilang aku pengganggu?" Silvia mulai tersulut menanggapi cercaan Karen.


"Balik ke diri kamu sendiri. Gak merasa atau tersinggung. Karena tersinggung itu diambil bukan dikasih," balas Karen santai.


***


Tak terasa malam telah menutup dan membuka hari baru. Kelopak mata Nadya mengerjap perlahan seiring sinar matahari menerobos masuk ke ruangannya. Suhu badannya mulai normal, tapi kepalanya masih sungguh sangat berat sehingga sejak kemarin ia hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur.


Nadya menoleh ke samping dengan mata yang masih menyesuaikan cahaya yang masuk. Namun, matanya membulat tajam ketika mendapati Chalvin tengah duduk di sisi tempat tidurnya. Lelaki itu bahkan memakai setelan jas seolah bersiap menuju kantor.


"Kak Chalvin, kok bisa ke sini sepagi ini?" tanya Nadya sambil menoleh ke arah pintu yang terbuka. Tampaknya, ia lupa mengunci pintu kamarnya semalaman.


"Kamu itu ceroboh! Tapi justru itu yang bikin aku suka karena aku jadi punya kerjaan buat lindungi kamu," ucap Chalvin sambil menepuk lembut kepala Nadya, "aku bawain sarapan buat kamu. Jangan lupa dimakan! Hari ini gak usah ke kampus, ya? Aku dah ijinin lewat Darren. Gak usah maksa kerja juga!"


Nadya hanya bisa menggigit ujung selimutnya. Namun, seketika ia mengingat foto mesra Chalvin dan Silvia semalam. Memikirkan hal tersebut, sinar matanya meredup seketika. Pasalnya, hingga kini ia tak bisa menebak isi hati Chalvin yang sebenarnya dan nasib hubungan mereka selanjutnya. Bahkan jikalau pria itu benar-benar serius padanya, hubungan mereka tentu terganjal pada restu. Apakah dia harus terus bertahan dengan pria ini?


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2