DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 196 : Cecaran Oma Belle


__ADS_3

Ternyata Chalvin dan Nadya masih belum tiba hingga tamu spesial Oma Belle datang. Oma dan kakek Aswono menyambut baik kedatangan kerabat lama keluarga mereka yang sekarang menetap di Surabaya. Oma Belle tentu memiliki agenda terselubung mengajak mereka makan malam. Bukan hanya untuk bertemu kangen, tapi untuk menjodohkan anak mereka dengan Chalvin.


"Eh, sudah lama rupanya kita gak ketemu, ya?"


"Iya nih, Bu. Udah lama kami gak ke Jakarta. Ini juga mau nemenin Silvia interview kerja di sini," kata mama Silvia.


Oma Belle menatap gadis dewasa cantik nan anggun bernama silvia. "Loh, kenapa gak kerja di perusahaan orangtuamu aja?" tanyanya heran.


"Aku mau nyari pengalaman di perusahaan orang, Oma. Kalo kerja di perusahaan orangtua sendiri enggak akan maju karena pasti bakal dispesialkan," kata Silvia.


"Bagus! Itu baru pemikiran yang hebat!" Oma Belle mengacungkan dua jempol sambil menunjukkan mimik kagum.


"Oh, iya, Oma Darren mana, ya? Dia tinggal bareng Oma, gak? Kangen banget sama dia!" tanya Silvia.


"Darren lagi di rumah mertuanya soalnya nenek istrinya mau berangkat. Dia udah tinggal sendiri sebenarnya, tapi karena istrinya lagi hamil jadi tak suruh tinggal di sini sampai melahirkan."


"Hah? Darren udah nikah?" Silvia dan orangtuanya tampak terkejut. Ya, karena memang pernikahan Darren dan Karen tidak terekspos sebelumnya bahkan belum dibuatkan resepsi hingga kini.


"Ah, iya, dia nikah sama anak yang punya brand kosmetik sebelah. Tapi gak diadain pesta pernikahan soalnya mereka gak mau," jelas Oma.


"Duh, kamu kalah cepat Silvia!" Mama Silvia mengejek putrinya yang ternyata menyukai Darren sejak lama.


"Tenang, masih ada Chalvin. Dia masih bujang sampai sekarang, loh! Kamu kan pernah tinggal di rumahnya."


"Oma kayak gak tahu aja, dari kecil aku sama Chalvin kan sering bertengkar. Soalnya dia judes banget, ngomongnya gak pake perasaan."


"Chalvin emang gitu. Nyebelin! Beda sama Darren. Tapi, kalo kamu lihat Chalvin yang sekarang tak jamin bakal jatuh cinta!" Oma mulai mempromosikan Chalvin.


Chalvin pun datang di waktu mereka membicarakannya. Pria itu langsung melenggang masuk dan menyapa semuanya. Semua orang lantas menoleh ke arahnya. Seperti yang dikatakan Oma Belle, tampaknya Silvia terkesima melihat Chalvin yang tampak tak menua.


Sebaliknya, Oma Belle terperanjat melihat cucunya datang bersama seorang gadis yang dikenalinya. Siapa lagi kalau bukan Nadya. Ya, ternyata yang membuat mereka datang terlambat karena Nadya harus mengganti pakaian kerjanya terlebih dahulu.


"Loh, cewek itu bukannya yang pernah pacaran sama Chalvin?" bisik kakek pada Oma.


Oma memandang Chalvin dan Nadya seperti tatapan banteng yang hendak menyeruduk. Dari ekspresi wanita tua itu, sangat jelas ia tak senang. Sebaliknya, Nadya tampak menciut saat tahu ada tamu lain selain mereka. Ia pun baru mengingat pembicaraan Oma Belle pagi tadi yang berancang-ancang menjodohkan Chalvin dengan seseorang.


"Ini Chalvin?" Keluarga Silvia terpukau melihat Chalvin yang tumbuh menjadi pria matang yang berkharisma.


"Halo, Tante, Om." Chalvin menyapa ramah tamu mereka.

__ADS_1


Ketika berhadapan dengan Silvia, keduanya sama-sama saling terkesima dengan wujud dewasa masing-masing.


"Ini Silvia yang cengeng dulu, ya?"


"Dasar, masih jadi tukang bully!" Silvia mencubit gemas lengan Chalvin. Keduanya berjabat tangan sambil melakukan melakukan cipika-cipika.


Sementara Nadya yang berada di samping Chalvin, langsung menyalimi Oma Belle dan kakek Aswono.


"Ini siapa, ya? Adiknya Chalvin?" tanya orangtua Silvia melihat Nadya.


"Oh, iya, kenalin ini Nadya. Pacar aku!" Chalvin menarik tangan Nadya dengan lembut.


Silvia dan keluarganya terkejut. Pasalnya, baru saja Oma Belle mengatakan kalau Chalvin bujang.


"Loh bukannya kalian udah putus?" Oma Belle tiba-tiba menyela.


"Kayak enggak tahu anak muda aja, putus sambung kan biasa bagi mereka," timpal kakek Aswono.


"Kakek tahu aja." Chalvin merangkul Nadya dan tak sungkan menunjukkan kemesraan di depan semuanya.


"Wah, kayaknya Silvia dah telat, nih. Darren udah nikah, Chalvin juga dah punya calon," celetuk ayah Silvia.


"Loh tanpa menikahi cucu saya, Silvia kan sudah kita anggap seperti cucu sendiri juga," balas kakek Aswono dengan santai.


"Emang Silvia jomblo, ya, Om?" sindir Chalvin sambil melirik Silvia dengan senyum mengejek.


"Tuh, kan, ngejek!" Silvia kembali memukul-mukul Chalvin dengan gemas, tak peduli dengan Nadya yang berada di sisi pria itu.


"Eh, eh, sopan dong sama yang lebih tua." Chalvin berusaha menangkis pukulan Silvia sambil tergelak.


"Sadar juga, kan, kalo dah tua!" ketus Silvia cemberut.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan di meja makan sambil bernostalgia masa-masa yang telah lewat. Sementara Chalvin dan Silvia masih terus saling melempar cibiran sambil membongkar aib masa kecil. Berada di tengah-tengah mereka semua, membuat Nadya merasa tak nyaman dan terasa asing. Dia bahkan tak nafsu menikmati hidangan.


"Sayang banget, ya, Darren gak ada. Padahal pengen kenalan sama istrinya juga," kata Silvia.


"Gak usah sok minta kenalan. Entar yang ada elu minder ketemu dia," cela Chalvin sambil terkikik.


"Oh, Oma! Lihat tuh Chalvin, gak berubah, kan, dia!" Silvia mengeluh pada Oma Belle.

__ADS_1


"Kalian berdua ini sebenarnya cocok loh!" kata Oma Belle sambil memandang Silvia dan Chalvin.


Ucapan Oma Belle membuat Nadya semakin mengerdil di tengah-tengah mereka semua.


"Pacarnya Chalvin kelihatan masih muda banget, ya? Kalo boleh tahu kerja di mana?" tanya ibunya Silvia.


"Dia masih kuliah, Tan. Tapi ... sambil mengelola coffee shop pamannya," jawab Chalvin sambil merambatkan tangan ke tangan Nadya, kemudian menautkan jari-jemari mereka di kolong meja.


Genggaman hangat Chalvin membuat Nadya yang tadinya tak nyaman menjadi sedikit tenang.


"Oh, iya, istrinya Darren tadi katanya anak pemilik perusahaan kosmetik sebelah, kan? Kalo Nadya sendiri orangtuanya perusahaan apa?" tanyanya lagi.


"Orangtuanya punya perusahaan furniture." Oma Belle menyambar pertanyaan yang seharusnya akan dijawab Chalvin dan Nadya. Sialnya, jawaban yang diberikan Oma Belle tidak sesuai karena yang sebenarnya ayah Nadya hanya seorang pengusaha mebel kecil-kecilan. Ini semua karena Chalvin mengarang soal status keluarga Nadya.


"Oh, perusahaan apa, ya? Kebetulan bisnis furniture sekarang lagi berkembang pesat."


"Kenapa? Tante juga tertarik melebarkan sayap ke bisnis furniture?" Chalvin balik bertanya sebagai pengalihan.


"Bisnis satu macam saja udah bikin mereka pusing, mau buat bisnis baru lagi!" sambung ayah Silvia diiringi gelak tawa semuanya.


Setelah makan malam berakhir, Oma Belle meminta Chalvin untuk mengecek barang-barangnya yang tertinggal di kamar sewaktu pria itu masih tinggal di rumah tersebut. Chalvin pun menuju ke lantai atas dan meninggalkan Nadya di ruang bawah yang masih ikut duduk di ruang keluarga. Kesempatan itu digunakan Oma Belle untuk memanggil Nadya.


"Nadya, boleh ikut Oma bentar, gak? Ada yang Oma pengen tunjukin ke kamu."


"Oh, iya, Oma." Nadya mengekor Oma Belle ke pekarangan samping rumah, tepatnya di rumah kaca yang menjadi tempat favorit Oma Belle.


Sesampainya di sana, Oma Belle menatap Nadya dengan wajah yang mendingin.


"Kamu disuruh Chalvin lagi, ya?" kata Oma tiba-tiba sambil menunjukkan raut judes seperti pemeran antagonis sinetron.


Nadya mengernyit. Kurang mengerti maksud Oma Belle.


"Gak usah akting! Ini bukan pertama kali Chalvin ngelak dan gunain segala macam cara untuk menolak dijodohkan. Pinter banget dia, ya, sok-sok ngasih alasan balikan sama kamu. Dia pikir saya gak bisa baca taktik dia." Berbeda dengan yang dulu, kali ini Oma Belle justru tak memercayai hubungan mereka.


"Maksud Oma apa, ya?" Nadya yang masih tak mengerti, mencoba bertanya dengan nada sungkan.


"Kamu kira saya enggak tahu hubungan kalian dulu cuma pura-pura? Dari awal saya dah nebak, mana mungkin Chalvin bisa kebetulan gitu pacaran sama temannya Karen. Lingkungan pergaulannya aja bukan anak-anak kuliahan. Apalagi bukan tipe Chalvin pacaran sama cewek polos kek kamu. Oma tahu, kok, kamu dulunya pasti diminta tolong sama Chalvin dan sekarang juga gitu. Dulu Oma diamin dan pura-pura gak tahu karena saya pikir gak papa, siapa tahu hubungan kalian bisa lanjut terus dan dia mau nikahin kamu kayak di film-film gitu. Tapi melihat Chalvin yang emang gak niat nikah, saya harus turun tangan cariin jodohnya. Jadi, kamu gak usah tolongin dia! Jangan mau berklompotan buat ngibulin orang tua! Gak baik itu!" cerocos Oma Belle dengan nada sengit.


Lontaran pedas yang keluar dari mulut Oma Belle membuat Nadya terpukul. Ia tak menyangka kalau ternyata kebohongan mereka saat itu diketahui Oma Belle. Sekarang, perempuan tua itu bahkan tak memercayai kalau Chalvin benar-benar menjalin hubungan dengannya. Malahan, secara tak langsung Oma Belle seakan membuatnya berpikir, kalau Chalvin mengajaknya ke sini hanya untuk menggagalkan rencana perjodohan. Dengan kata lain, Chalvin hanya memanfaatkannya lewat hubungan yang semu.

__ADS_1


__ADS_2