
Hendak kabur tanpa ketahuan Oma Belle dan para anak buahnya, Chalvin sampai rela menyamar. Memakai seragam office boy serta menggunakan topi dan juga masker, kini dia turun ke lantai bawah sambil menenteng alat pel. Ketika lift terbuka, terlihat Oma Belle yang duduk di sofa bersama Silvia dan kepala staf bagian humas. Karena posisi duduk Oma Belle yang menghadap ke arahnya, ia spontan berbalik dan berpura-pura mengepel lantai. Pria itu terus berjalan mundur sambil menggerakkan gagang pel.
Sementara itu, Oma Belle tentu bereaksi setelah mendengar laporan dari si mata-mata tentang Nadya.
"Memang, ya, anak muda jaman sekarang itu pergaulannya ngeri-ngeri banget!" cetus Oma sambil menggeleng-geleng kepala dengan gerakan seirama.
"Betul tuh Madam!" imbuh si mata-mata.
"Pacaran kok sebebas itu. Pantas saja aborsi ilegal dan pembuangan anak yang baru lahir semakin merajalela. Mau jadi apa negara kita ke depan kalo generasi mudanya rusak kayak gitu!"
"Benar, Madam! Belum lagi kalo ada jejak digitalnya, Madam! Bisa bikin malu keluarga." Si mata-mata terus mengompori Oma Belle.
Di sisi lain, Chalvin berusaha mempercepat gerakan dan langkahnya ketika melewati Oma Belle yang sibuk bergosip. Tanpa mengetahui apa yang dibicarakan mereka. Baginya, yang terpenting saat ini ia harus cepat-cepat keluar dari tempat ini.
"Bagus, untung aja ada nih laki presto yang ngajak Oma ghibahan!" gumam Chalvin dalam hati.
"Omong-omong, kalian tahu, kan, sudah berapa lama saya dan calon cucu mantu saya duduk di sini. Kenapa gak ada yang sajikan kami minuman!" protes Oma Belle.
"Aduh, sorry Madam. Sampai lupa karena asyik ngobrol sama Madam. Madam mau minum apa?" tanyanya.
"Teh tanpa gula," jawab oma yang kemudian menoleh ke arah Silvia, "Kamu mau minum apa, Silvia?"
"Gak usah deh, Oma!" tolak Silvia secara halus. Sedari tadi ia malah sibuk menggulir instagramnya. Rupanya, ia sudah menemukan akun Chalvin yang kemudian difollow-nya, tapi belum juga menemukan akun Darren. Tanpa ia tahu suami Karen itu memang tak memakai sosial media.
Pria berperawakan wanita itu lantas menoleh ke arah Chalvin yang sudah hampir mendekati pintu keluar.
"Mas yang lagi ngepel tolong ke sini dong!" panggilnya dengan suara lembut.
Langkah Chalvin terhenti seketika. Meski begitu, ia berlagak tak dengar dan semakin mempercepat langkahnya menuju pintu keluar.
"Woi, kamu yang lagi ngepel, sini dulu!" Kali ini ia berteriak hingga suara maskulinnya keluar.
Chalvin berbalik pelan, menoleh ke arah mereka tapi tak berani memandang langsung.
"Tolong buatin madam kita teh hangat gak pake gula dan gak pake lama!" perintah pria itu.
__ADS_1
Chalvin menganggukkan kepala. Namun, hatinya sudah mengeluarkan umpatan kesal. Bagaimana tidak, ia harus kembali masuk di saat hampir berhasil kabur.
Chalvin bergegas beranjak sebelum ada yang mengenalinya. Ia masuk ke lift, kemudian menelepon Brella—sekretarisnya—meminta tolong menyiapkan teh tanpa gula untuk omanya. Baru saja hendak keluar dari lift, tiba-tiba Oma Belle dan Silvia menyeruduk masuk. Untung saja ia dengan sigap memasang maskernya.
Oma Belle menatapnya dengan kening yang mengernyit. Hal itu membuat Chalvin sedikit kelabakan. Ia sampai menurunkan topinya sedikit ke bawah.
"Kamu yang tadi, kan?" tanya Oma Belle, "Gak usah bikinin saya minuman. Saya mau langsung ke ruangan cucu saya," jelas Oma Belle.
Chalvin mengangguk tanpa suara. Hatinya bersorak ria. Itu tandanya ia bisa melenggang keluar dengan bebas. Baru selangkah beranjak dari lift ini, Oma Belle malah kembali bersuara.
"Tolong, bantu tekan lantai enam!"
Diperintahkan seperti itu membuat Chalvin harus kembali menahan geram. Ia terpaksa harus mengantar keduanya hingga ke lantai tujuan sekaligus ruangannya. Selama dalam lift, Oma Belle dan Silvia saling berbincang.
"Oma, apa gak papa ngenalin aku sebagai calon istri Chalvin kepada para staf? Kalo Chalvin-nya marah gimana?" tanya Silvia.
"Jelaslah gua murka! Pake nanya lagi!" Chalvin membatin kesal.
"Gak papa. Emang perlu diumumkan. Biar para karyawati enggak ada yang berani ngerayu dia. Karyawan jaman sekarang banyak yang agresif, atasan yang punya istri aja digodain, apalagi yang masih bujang kayak Chalvin!" kata Oma Belle.
***
Sementara itu, Nadya yang sedari pagi sibuk mengurus kafe, memilih pulang lebih awal saat karyawan shift lainnya telah datang. Ketika menaiki motornya, tiba-tiba Chalvin datang bersama ojek online yang membawanya. Pria itu bergegas turun dari motor dan menghampiri Nadya dengan terburu-buru.
"Kak Chalvin?" Nadya tak menyangka penumpang yang dibawa OJOL tersebut adalah Chalvin.
"Maaf, aku gak nepatin janji siang tadi karena ada rapat dadakan."
"Gak papa kok. Tapi ... kenapa Kak Chalvin pake ojek ke sini? Terus ...." Nadya kebingungan melihat penampilan Chalvin yang sangat berbeda. Pasalnya, pria itu masih mengenakan seragam office boy.
"Cuma lagi cosplay jadi office boy." Pria itu menyengir santai.
Chalvin lantas memegang stir motor Nadya, kemudian mengambil posisi sebagai pengemudi. Ini tentu memaksa Nadya untuk mundur ke belakang. Tanpa banyak bicara, pria itu langsung melaju kencang hingga tangan Nadya refleks berpegangan di pinggangnya. Chalvin membawa Nadya menyusuri jalanan sore ibukota yang mulai dipadati para pekerja yang akan pulang ke rumah masing-masing. Tak hanya berkeliling, mereka juga mencoba berbagai street food murah meriah.
"Minggu depan kamu jadi pulang ke Bogor, kan?" tanya Chalvin sambil menyantap mie ayam gerobak.
__ADS_1
"Iya ...."
"Aku anterin, ya? Boleh kan aku dikenalin di keluarga kamu. Aku juga perlu minta restu ke mereka untuk hubungan kita."
Nadya tak menjawab, malah menyelingar sesaat. Jujur, ia tak mengharapkan apa pun di hubungan mereka saat ini. Termasuk untuk jenjang mengarah pada keseriusan. Oleh karena itu, ia tak ingin Chalvin memberinya harapan yang terlalu jauh.
Langit sore yang berhiaskan awan kelabu membuat mereka tak bisa kencan terlalu lama. Apalagi kini gerimis mulai turun. Karena hanya menggunakan motor, terpaksa mereka harus pulang lebih awal. Jika biasanya dalam hubungan romantis sang pria akan lebih dulu mengantar wanitanya pulang, mereka justru terbalik. Nadya harus lebih dulu mengantar Chalvin pulang ke apartemennya.
Gerimis kecil mulai berubah jadi rintikan hujan. Tubuh mereka pun terguyur derasnya hujan saat motor tersebut menuju apartemen Chalvin. Ia menambah kecepatan agar bisa segera sampai ke apartemennya. Ia menarik kedua tangan Nadya yang hanya berpegangan di ujung bajunya agar melingkar penuh di pinggangnya.
Begitu sampai, Chalvin meminta Nadya untuk menunggu di apartemennya hingga hujan mereda. Karena tak punya pilihan lain, Nadya langsung menerima ajakan pria itu.
Begitu masuk ke kediamannya, Chalvin langsung membuka seragam yang basah kuyup, lalu masuk ke kamarnya yang hanya dibatasi oleh sekat kaca. Sebaliknya, Nadya hanya mematung bodoh di depan pintu, membiarkan air yang menetes dari pakaiannya jatuh ke keset kaki.
"Kenapa cuma berdiri di situ?" Chalvin keluar dari kamarnya dengan bertelanjang dada.
Pria itu memegang sebuah kaus yang kemudian melemparkan ke Nadya.
"Ganti pakaian kamu di kamar kecil," ucapnya sambil mengedikkan dagu ke arah toilet.
Nadya berjalan masuk ke toilet. Ia menanggalkan seluruh pakaiannya, lalu menggantinya dengan kaus yang diberikan Chalvin. Kaus putih itu cukup kebesaran di tubuhnya, tapi panjangnya hanya sekitar sepuluh Senti dari pangkal pahanya. Ini membuat paha mulusnya sungguh terekspos. Merasa malu keluar menemui Chalvin, ia pun memilih menetap di dalam toilet paling tidak sampai hujan mereda dan dia bisa pulang.
Chalvin sendiri tengah sibuk membuat dua gelas teh hangat. Ia menoleh ke arah toilet di mana Nadya belum juga keluar.
"Nad, kamu baik-baik aja?" Chalvin mengetuk-ngetuk pintu toilet dengan penuh kekhawatiran.
Nadya membuka sedikit pintu hanya untuk mengeluarkan kepalanya. "Udah reda, ya, hujannya?"
"Makin deras, tuh! Kamu kenapa gak keluar-keluar? Udah setengah jam tahu!" Chalvin menunjuk jam digital jumbo yang menempel di dinding searah dengan pintu toilet.
Nadya keluar dari kamar kecil itu dengan gaya canggung. Sejenak, tatapan Chalvin berpusat padanya. Ini membuatnya semakin grogi. Ia memilih segera beranjak dengan beringsut ke sofa, tetapi Chalvin tiba-tiba memegang pergelangan tangannya dan mendorongnya ke dinding.
.
.
__ADS_1
.