DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 148 : Gosip di Kantor yang Menjadi-jadi


__ADS_3

Malam panjang yang melelahkan telah menutup. Seperti biasa, keluarga Bratajaya mengawali aktivitas pagi mereka dengan sarapan bersama. Namun, ada yang berbeda dengan sarapan pagi ini. Kursi makan hanya diisi oleh kakek Aswono, Oma Belle dan juga Sheila.


"Loh, Darren, Karen, sama Chalvin mana?" tanya kakek yang baru saja menarik kursi makan untuk diduduki.


"Gak tahu, Kek. Biasanya kak Darren sama kak Chalvin subuh-subuh udah olahraga di pekarangan samping. Tapi tadi malah gak kelihatan."


Oma Belle malah senyam-senyum tak jelas sambil melirik ke lantai atas, tepatnya kamar suami istri itu. "Bi, kamu bangunin mereka bertiga, gih!" suruhnya pada ART yang baru saja mengatur makanan.


"Kakek, Oma, Sheila berangkat sekolah dulu, ya! Dah telat, nih." Sheila berdiri lalu menyalimi kakek dan Oma.


Tak berapa lama dari kepergian Sheila yang terburu-buru menuju tempat parkir mobil, tiba-tiba terdengar suara teriakannya yang cukup membahana.


"Aaaaa, ada penyusup ...."


Suara teriakan Sheila dari arah ruang tamu sontak mengundang kaget orang-orang di rumah itu. Kakek dan Oma lantas langsung beranjak dari meja makan, para ART, supir dan satpam pun bergegas berkumpul di ruang tamu. Beberapa dari mereka ada yang membawa sutil besi, sapu, hingga pemukul kayu. Sesampainya di sana mereka terkejut melihat seorang pria yang hanya memakai celana pendek dan kaus singlet tengah tidur tiarap di antara sofa dan meja.


Karena ruangan itu menjadi berisik, seseorang yang tengah tidur itu lantas mengangkat kepalanya dengan mata setengah meredup. Rambutnya yang biasa tersisir rapi kini tampak awut-awutan.


"Ih, itu, kan, Kak Chalvin! Kirain gembel dari mana gitu datang numpang tidur di sini!" ucap Sheila dengan ekspresi terkejut.


"Loh, Chalvin, kok kamu tidur di sini?" tanya Oma keheranan.


"Di atas kepanasan, Oma! Gerah!"


"Hah? Emangnya AC kamar kamu rusak atau gimana?" tanya kakek bengong.


Chalvin mencebikkan bibirnya seraya bergumam dalam hati. "Bukan kepanasan karena AC rusak, tapi kepanasan dengar suara tetangga kamar yang rusuh."


Di waktu yang sama, terdengar bunyi yang cukup keras dari ruang tengah. Perhatian mereka semua pun teralihkan. Ternyata, itu adalah suara guci yang terguling karena tak sengaja ditabrak oleh Darren. Ya, pria itu baru saja keluar dari kamar, berjalan sempoyongan menuruni anak tangga dan tak sengaja menabrak guci besar yang dipajang di samping tangga.


"Darren, kamu kenapa? Pagi-pagi, lambat bangun pake nabrak guci kesayangan Oma. Udah gitu muka kusut kek orang kelilit pinjaman online!" cerocos oma Belle. Kepalanya menggeleng-geleng berirama melihat sikap tak biasa kedua cucunya pagi ini.


Darren menatap gamang ke arah Oma Belle dan Kakek Aswono. "Lemes banget, Oma. Kayak gak ada tenaga. Pusing juga."

__ADS_1


Darren berusaha berdiri dengan memegang terali tangga sebagai tumpuan. Baru berjalan selangkah, dia kembali sempoyongan seperti orang mabuk.


"Bi, tolong bikinin telur rebus setengah masak dua butir ya. Pake telur omega," pinta Darren yang masih terhuyung.


Kakek Aswono dan Oma Belle hanya bisa saling memandang heran melihat tingkah tak biasa kedua cucunya yang selalu tampil sempurna.


Duduk di meja makan sambil mengupas telur rebus, Darren malah didatangi Oma Belle yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


"Darren, gimana semalam? Mantep, gak?" tanya Oma Belle sambil menyengir.


"Maksud Oma apa?"


"Masa gak ngerti. Kamu sama Karen sampai telat bangun kek gini. Udah gitu tadi Karen jalannya udah kayak pengantin sunat. Pasti terjadi banyak gempa susulan semalam."


"Apanya yang gempa, Oma!" ketus Darren menampilkan wajah datar seperti papan setrikaan.


"Kok jadi di luar prediksi BMKG, ya! Padahal kata yang jual, obatnya bener-bener mujarab." Oma Belle malah berpikir keras.


Cengiran halus menyembul di bibir Oma Belle. "Hayo, kamu baru ngaku, kan? Gimana ramuan yang Oma kasih ke kamu? Mantep, to? Pasti Karen geleng-geleng kepala karena kamu mendadak perkasa!"


"Perkasa apanya, Oma? Yang ada aku kek diperkosa!" gumam Darren penuh kepahitan. Semalam adalah momen memalukan baginya. Di mana ia tampak tak berdaya di hadapan Karen bahkan lebih banyak duluan menyembur.


****


Karen dan Darren kembali beraktivitas seperti biasa meski keduanya sama-sama kelelahan atas pertempuran semalam. Karen yang telah pulih, memutuskan mendatangi kantor perusahaan untuk menyelesaikan syuting dan pemotretan iklan produk yang sempat tertunda. Begitu memasuki gedung megah milik keluarga suaminya itu, ia malah merasakan atmosfer yang berbeda dari biasanya.


Sepanjang berjalan hingga masuk ke dalam lift, banyak tatapan yang tertuju padanya. Bahkan beberapa ada yang terang-terangan memandang sinis. Untung saja Karen selalu mengambil sikap 'bodoh amat' untuk hal-hal yang terjadi di sekelilingnya.


Perlakuan sama masih ia rasakan begitu memasuki lantai 14 tempat studio khusus perusahaan. Para staf yang biasanya tampak ramah, kali ini terlihat tak mengacuhkannya. Karen menyapu pandangan ke segala tempat. Tak biasanya Chalvin belum muncul di studio itu. Padahal mereka star dari rumah secara bersamaan meski tak semobil.


Di waktu yang sama, Brella sang sekretaris Chalvin datang membawa berkas lalu memberikannya pada salah satu staf. "Ini titipan dari pak Chalvin buat dikasih ke pak Barack."


Saat sekretaris Chalvin itu hendak pergi, Karen langsung menahannya. "Chalvin mana? Kok belom ke sini?"

__ADS_1


Memandang Karen dengan tatapan remeh sambil tersenyum kecut, Brella pun menjawab, "Emang gak tahu, ya, kalo pak Chalvin udah gak ngurusin bagian promosi dan brand ambassador? Sekarang dia udah ditugasin ke bagian produksi! Dia bakal lebih sering berada di pabrik."


"Heran, deh! Padahal pak Chalvin itu udah sering terlihat cinlok atau TTM-an gitu dengan brand ambassador kita, tapi gak pernah tuh sampai pak Aswono mindahin dia kayak gini! Apalagi ditugasin ngurusin pabrik." Beberapa staf perempuan mulai berbisik-bisik di belakang Karen.


"Gimana gak dipindahin? Rumornya yang beredar aja pak Chalvin hamilin model ambassador. Ya, meskipun gak tahu benar atau gak, tapi ada bukti foto, kan, dia nemenin salah satu BA kita ke dokter kandungan."


"Selebgram sekarang emang pada gak tahu malu, ya? Demi terus dapat job endorsan dari perusahaan besar sampai rela ditiduri!" cela salah satu dari mereka sambil melirik Karen yang membisu.


Mendengar hal itu lantas membuat Karen terperanjat. Tentu saja model ambassador yang dibicarakan mereka itu adalah dirinya. Namun, yang membuatnya kaget, apa benar Chalvin sudah tak bertanggung jawab di bidang promosi produk? Apa benar pria itu ditugaskan mengurus pabrik karena gosip yang sebenarnya tidak benar? Jika memang seperti itu, tentunya ia merasa sangat bersalah pada pria itu. Sebab, andaikan Chalvin tak menemaninya ke Rumah Sakit, mana mungkin kesalahpahaman ini terjadi.


Karen bergegas keluar dari studio untuk menemui Chalvin. Sayangnya, ia malah bertemu dengan ayah mertuanya yang kini mengambil alih tanggung jawab terkait masalah promosi.


"A–ayah ...." Karen menyapa ayah Barack dengan sedikit canggung. Wajar saja, mereka jarang bertemu dan berinteraksi.


"Karen, ada yang ayah mau bicarain sama kamu," ucap ayah Barack.


Karen lalu mengikuti ayah Barack. Hanya berselang lima menit dari kepergiannya, Nadya tiba-tiba mendatangi studio itu. Ya, kehadirannya di sini untuk memenuhi permintaan Chalvin yang berharap dirinya bisa menepis gosip di kantor tersebut.


"Permisi, ada Karen, enggak?" tanya Nadya pada para gerombolan staf yang sibuk bergunjing.


"Barusan pergi dengan pak Barack," jawab salah satu staf dengan nada judes.


"Oh, iya, nanti kalo balik, tolong bilangin saya cari, ya. Bilang aja saya tunggu di ruangannya Chalvin. Saya pacarnya Chalvin," ucap Nadya.


Begitu pergi, para karyawan wanita itu kembali berkumpul. "Jadi, dia pacar pak Chalvin yang dijodohkan ibu Belleria. Wah, seru, nih, kayaknya pak Chalvin sama Karen beneran punya hubungan diam-diam. Tuh, ceweknya aja sampai datang ngelabrak ke sini!"


Kedatangan Nadya yang diharapkan akan meredam isu antara Chalvin dan Karen, ternyata malah mendatangkan asumsi baru para karyawan. Mereka semakin yakin kalau isu Chalvin yang menghamili Karen benar adanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2