DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 145 : Saling Diam


__ADS_3

Membaca chat tersebut, membuat Darren terperanjat. Pasalnya, Karen sama sekali tak bercerita kalau dirinya baru saja dari poli kandungan. Malahan, perempuan itu mengatakan ia hanya kelelahan seolah tak ada masalah dengan semuanya. Lalu, apa yang membuat istrinya itu mendatangi poli kandungan tanpa sepengetahuannya?


Ini lucu, Karen menolak diajak ke dokter pagi tadi, tapi ternyata sudah pergi dengan Chalvin tanpa sepengetahuannya. Padahal, ia sudah meminta istrinya itu untuk tak pergi dengan lelaki lain selain dirinya.


Setelah mami Valen pulang, Karen pun kembali ke kamar sambil membawa pemberian ibunya yang dikhususkan untuk dirinya. Begitu masuk, matanya langsung tertuju pada suaminya. Pria itu duduk diam di sisi ranjang dengan kedua tangan yang menangkup di bawah dagu.


"Mami udah pulang?" tanya Darren.


Karen mengangguk. "Dia ada ngasih titipan, nih, buat kamu!"


Karen berjalan pelan menuju meja nakas untuk meletakkan barang-barang pemberian ibunya.


"Hp aku mana, ya?" tanya Karen dengan mata yang menelisik ke segala tempat. Terlihat ponsel miliknya tergeletak di atas ranjang di samping tempat yang Darren duduki.


"Kamu kemarin ke Obgyn?"


Karen mendadak terhenyak saat Darren mempertanyakan itu. "Iya , aku ... pergi bareng Chalvin," jawab Karen dengan intonasi yang lambat dan canggung.


"Kenapa kamu ke sana? Apa kamu ngerasain sakit lagi di bagian rahim?" tanya Darren dengan nada khawatir.


Karen menggeleng cepat. "Aku cuma datang check up aja kok. Hasilnya baik-baik aja."


Kening Darren tampak turun sebelah. "Cuma itu? Yakin gak ada yang kamu sembunyiin dari aku? Kenapa kamu gak kasih tahu aku biar aku yang temani?"


Karen tergugu. Ia tampak menahan napas sejenak, lalu mengangguk saru. Mana mungkin mengatakan kalau sebenarnya dia tengah mengecek kehamilan yang ternyata tidak terjadi. Itu sangat menyedihkan untuk dikatakan!


"Karen, siapa sebenarnya yang jadi suamimu?" Suara Darren mendadak berubah menjadi dingin.


"Maksud kamu apa? Enggak ngerti, ih!" Karen malah bersikap biasa saja saat Darren berusaha menahan luapan amarahnya.


"Bukannya aku dah bilang sama kamu, jangan sembunyiin apa pun, jangan pendam masalah, dan jangan berusaha keras supaya terlihat kuat dan baik-baik aja! Oh, iya, bukannya aku juga dah bilang gak usah pergi bareng laki-laki lain selain aku? Tapi, lihat ... kamu malah lebih milih ke tempat dokter sama pria lain dibanding suami kamu sendiri." Darren berucap miris dengan mata yang memancarkan kekecewaan.


"Kamu kok ngomong gitu? Apa kamu gak percaya sama aku? Aku cuma pergi sama Chalvin, sepupu kamu sendiri!" Karen mulai membela diri.


"Aku percaya sama kamu! Aku percaya! Tapi ... aku gak bisa terlalu percaya sama laki-laki yang dekat sama kamu. Meskipun itu saudara aku sendiri!"


"Kok kamu malah kek orang cemburu gini! Kamu aneh tahu, enggak! Udah jadi berlebihan!" ketus Karen.


"Iya, aku aneh, emang! Tadinya aku bahkan masih berpikir positif, mungkin kamu gak ngasih tahu karena mau ngasih sebuah kejutan ke aku. Tapi, dilihat dari hasil pemeriksaan dan reaksimu sekarang, kayaknya kamu gak ada niat ngasih tahu aku kalo aku gak nanya, kan?"


"Emangnya kejutan apa yang kamu harapkan dari aku? Kamu berharap aku hamil terus ngasih kejutan testpack dan hasil USG gitu?"


"Ya, itu cuma prasangka baik aku sebelumnya. Kamu milih pergi bareng Chalvin dibanding aku dan pulang gak ngomong apa-apa. Aku bahkan masih berbaik sangka mungkin aja kamu cuma mau ngasih kejutan kayak gitu."


"Sorry, tapi aku gak bisa menuhin ekspektasi kamu!" cetus Karen dengan mata yang memerah. Ia langsung berbaring di ranjang, menyelimuti seluruh tubuhnya lalu membelakangi suaminya. Ia menggigit bibirnya dengan air mata yang mulai menggenang di matanya.

__ADS_1


Darren tentu tak tahu alasan Karen tak ingin mengajaknya, karena dia tidak ingin membuat pria itu berekspektasi seperti tadi. Hatinya seakan melepuh saat Darren mengira dirinya ingin memberi kejutan tentang kehamilan.


Tampaknya perdebatan mereka malah menimbulkan perspektif yang berbeda. Darren yang kecewa dengan ketidakjujuran Karen dan merasa menjadi pria yang tak bisa diandalkan. Meski begitu, tadinya ia masih berusaha untuk berpikir positif. Namun, pernyataan dari pikiran positifnya justru membuat Karen menjadi sensitif. Apalagi, ia sempat terpuruk setelah melakukan pemeriksaan USG dan ternyata dirinya belum hamil. Selain itu, ia merasa sikap protektif Darren padanya mulai berlebihan.


"Karen, aku masih bicara sama kamu!"


"Aku gak mau bicara!"


"Kamu ... tiap kali aku marah, kenapa kamu malah balik marah? Jangan selalu minta dingertiin perasaan kamu. Sesekali ngertiin perasaan aku juga."


Tak ada respon apa pun dari Karen, Darren menghela napas seraya menengadahkan kepala. "Oke, kalo gak mau bicara sama aku. Kamu istirahat aja! Aku gak akan ganggu!"


Darren keluar dari kamar dengan membawa setumpuk pertanyaan di hatinya. Ia bersandar di dinding pintu seraya menetralkan emosinya. Apakah dia terlalu berlebihan seperti yang dikatakan Karen?


Sementara itu, Karen langsung terduduk begitu tahu Darren memilih keluar. Ia sempat tertegun saat otaknya mengulang sederet kalimat yang dituturkan suaminya. Tampaknya, ia tersadar kalau suaminya benar-benar sedang marah.


Di tempat lain, Nadya memasuki kafe yang pernah didatanginya bersama Chalvin. Ia langsung menghampiri Chalvin yang tengah memberi makan kelinci si pemilik kafe. Sebelum ke sini, pria itu telah bercerita tentang gosip yang menerpa antara dirinya dan Karen di kantor.


"Aku pengen minta tolong lagi sama kamu," pinta Chalvin begitu melihat Nadya.


"Bilang aja. Aku bantu sebisanya."


"Besok kamu datang ke kantor di jam makan siang. Bilang aja kamu calon tunangan aku biar mereka langsung anterin kamu ke ruangan aku. Tapi sebelumnya, kamu tanyain Karen dan temui dia. Perlihatkan ke orang-orang kalau kalian itu teman dekat."


Nadya berpikir sejenak, lalu bertanya, "Cuma itu?"


Nadya mengangguk setuju. "Apa kak Chalvin baik-baik aja?"


Chalvin menoleh sambil memasang wajah heran atas pertanyaan Nadya.


"Dari tadi Kak Chalvin cuma khawatirin Karen doang, kan? Kak Chalvin juga perlu mikirin diri sendiri. Bukannya Kakak jadi ditugasin ngurus pabrik gara-gara gosip itu?"


Chalvin tertawa kecil. "Aku ditugasin di mana pun juga tetap fine, kok. Cuma mungkin yang bikin aku kepikiran, aku jadi gak bisa jaga dia lagi di perusahaan. Makanya, sebelum aku sibuk ngurus pabrik, aku harus bisa redam gosip ini. Biar dia gak jadi sasaran gosip dan biar kakek gak perlu turun tangan ngatasinnya."


***


Sejak tadi hingga kini, Darren belum juga masuk ke kamar. Terbiasa dibujuk oleh pria itu membuat Karen enggan menemuinya lebih dulu. Dia masih bertahan di tempat tidur sambil menunggu suaminya datang untuk berbaikan seperti biasa.


Pintu kamarnya tiba-tiba terketuk. Dengan penuh semangat, Karen langsung turun membuka pintu. Mengira yang datang adalah Darren, nyatanya hanya ART yang menyampaikan pesan dari Oma Belle untuk turun makan makan malam bersama.


Karen turun dari lantai dua menuju ruang makan. Ternyata di sana sudah ada Darren yang duduk di meja makan. Ia pun ikut duduk di samping suaminya. Tak ada komunikasi antara keduanya. Seolah sibuk dengan sendok dan garpu masing-masing. Hingga selesai makan pun, keduanya enggan berbicara bahkan sekadar saling melirik.


"Chalvin kok belum pulang, ya, jam segini?" tanya Oma Belle.


"Ya, masih kerja. Akhir-akhir ini dia kan sering lembur," jawab kakek Aswono.

__ADS_1


"Aku duluan. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan!" ucap Darren mengakhiri makannya, lalu beranjak menuju ruang baca. Ya, saat Karen sakit, dia memang memilih menyelesaikan penelitiannya di rumah.


Tak lama kemudian, Karen menyusul pergi dari meja makan dengan alasan tak enak badan.


"Oma, Kak Darren sama istrinya kayaknya lagi marahan, deh!" bisik Sheila setelah pasutri itu pergi.


"Hah, kamu ini ngomong apa!" bantah Oma Belle.


"Ih, masa Oma gak perhatiin. Mereka dari tadi diam-diaman."


"Ya, itu karena Karen lagi sakit. Gak napsu ngomong!"


"Orang sakit bukannya gak napsu makan Oma?"


"Gak napsu ngomong juga!" tangkas Oma.


"Terus, gimana dengan kak Darren? Kok ikut diam-diam? Biasanya paling care gitu sama Kak Karen. Sampai tulang ikan aja dibantu keluarin dulu sebelum dimakan sama istrinya."


"Darren mungkin sariawan!"


"Gak nafsu ngomong juga, ya, Oma?"


"Bukan cuma gak nafsu ngomong, gak nafsu julid dan nyinyir kayak kamu!" geram Oma dengan nada kesal.


"Sheila, lama-lama Oma bisa kena gondok ngomong sama kamu. Cepet bantu Bi Surti bawa piring kotor ke dapur!" perintah kakek Aswono.


Sheila beranjak dari tempat duduk dan mulai mengumpulkan piring kotor bersama ART. Sepertinya, bukan hanya Sheila saja yang mencium aroma yang berbeda antara Darren dan Karen malam ini. Sejak tadi, Oma Belle telah memerhatikan gelagat pasangan suami istri itu.


Oma Belle segera menyusul kakek Aswono ke teras samping pekarangan rumah. "Mas, itu Darren sama Karen kayak marahan!"


"Oh, ya? Gak perhatiin aku," jawab kakek santai sambil duduk di kursi rotan.


"Ah, aku mau tanyain langsung sama mereka!" Oma Belle segera memutar tubuhnya.


"Dek!" panggil kakek Aswono.


Oma Belle kembali menghadap ke arah suaminya.


"Biarin mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita sebagai orangtua gak perlu ikut campur. Yang ada mereka jadi gak bisa dewasa hadapi masalah. Itu Rumah Tangga mereka, kita ini cuma pihak luar, gak usah ikut masuk. Apalagi kalo cuma memihak salah satunya."


"Aku cuma nanya aja, kok!"


"Gak usah! Marah-marahan dalam rumah tangga itu hal biasa. Entar juga kembali mesra-mesraan kayak kita berdua ini, loh," goda kakek seraya merangkul istrinya untuk duduk menemaninya bersantai.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2