
Karen yang tersandar di dinding lift, hanya bisa tergugu selama beberapa saat sambil menatap bola mata Chalvin yang menyorotnya begitu dalam.
Langkah kaki Chalvin terhenti ketika ujung sepatu mereka saling bertabrakan. Ia menyandarkan sebelah tangannya ke dinding, tepat di samping kepala Karen sambil mencondongkan wajahnya ke depan.
"Kenapa diam? Kalo di posisi gue, apa lo bakal suka balik orang yang suka sama lo? Apa lo bisa langsung balas perasaan itu?" Chalvin terus memburunya dengan pertanyaan.
"Kenapa enggak!" jawab Karen sambil meneguk ludahnya dengan kasar, "jika aku jadi kamu, ada orang yang beneran sayang sama aku, tulus sama aku dan selalu ada untuk aku, pasti aku gak bakal lepasin dia begitu aja. Sekalipun aku gak yakin dengan perasaanku sendiri tapi aku bakal mencoba belajar untuk mencintainya," ucapnya pelan dengan sorot mata tanpa keraguan.
Chalvin tersenyum miring sambil membuang muka. "Jangan jadikan standarmu sebagai patokan supaya diikuti semua orang!" ucapnya dengan suara setengah berbisik.
"Aku cuma menyatakan pendapatku. Kamu boleh setuju atau enggak. Itu kebebasanmu. Yang jelas, sebagai teman dan juga sesama perempuan, aku memahami perasaan Nadya saat ini," balas Karen pelan.
Chalvin tertegun tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Karen. Denting lift berbunyi bertepatan saat pintunya terbuka.
"Boleh enggak singkirin tangan kamu? Kita baru aja diterpa gosip yang gak enak, jangan sampai ada lagi yang lihat kita berduaan kayak gini!" pinta Karen.
Chalvin yang sempat terpaku diam, kini menurunkan tangannya yang menghalangi jalan keluar Karen. Baru saja perempuan itu hendak beranjak, Chalvin malah menahan pergelangan tangannya dan kembali memaksanya bersandar di dinding lift.
Apa yang dilakukan Chalvin tentu membuat Karen terhenyak. Apalagi pria itu mencengkram tangannya dengan erat, kemudian menekan sembarang tombol lantai agar lift itu menutup kembali.
"Chalvin, apa-apaan, sih, kamu!"
"Kalo kamu gak nikah sama Darren, artinya ucapan kamu itu berlaku juga untuk aku, 'kan?"
Perkataan yang terlontar di mulut pria itu spontan membuat Karen mengernyit.
"Maksud kamu apa?" tanyanya sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Chalvin yang begitu erat di pergelangannya.
"Aku sempat mikir, kenapa Oma gak jodohin kita aja dulu? Kenapa Darren yang dijodohin sama kamu? Kenapa bukan sama aku aja?!"
__ADS_1
"Kok kamu jadi sinting gini? Segitunya gak mau nikah sampai ngomong kek gitu. Aku tahu kok kamu dan Nadya itu cuma ...."
"Aku gak lagi bicarain Nadya di sini! Aku lagi bicarain tentang kita berdua!" Chalvin meninggikan nada suaranya.
"Chalvin?" Mata Karen membulat tak percaya disertai dahi yang berkerut dan sepasang alis yang nyaris bersatu. Ia tak mengerti dengan apa yang Chalvin katakan. Ia juga tak mengerti dengan sikapnya saat ini. Yang jelas, ini pertama kalinya sikap Chalvin terlihat berbeda di matanya. Tak sesantai biasanya.
Tersadar dari apa yang baru saja ia ungkapkan, Chalvin pun tak kalah tersentak. Ia buru-buru melepaskan genggamannya dari tangan Karen dan mundur dua langkah dengan wajah yang kaku seperti tertangkap basah. Bola matanya bergerak liar menatap sembarang arah diikuti dengan sebelah tangan yang memijat pelipis. Sepertinya semua kata-kata yang baru saja meloncat dari mulutnya itu di luar kendalinya.
Keheningan mengisi keduanya tanpa ada yang bersuara. Mereka seolah terperangkap dalam kebisuan. Lift kembali berdenting. Dalam kebingungan, Chalvin mengarahkan tangannya ke pintu lift yang terbuka. Seakan memintanya untuk segera keluar.
Rupanya, mata-mata Oma Belle di kantor itu tengah berdiri di samping lift eksklusif. Ia yang tengah menunggu terbukanya pintu lift, sontak terkesiap saat melihat Karen keluar dari lift sebelah dengan sedikit terburu-buru. Ia pun memiringkan badannya, sambil mencoba mengintip ke dalam lift yang masih terbuka itu. Mulutnya ternganga lebar saat melihat Chalvin mematung diam sambil tertunduk di dalam sana.
"Ada apa dengan mereka berdua? Kok kayak baru habis bertengkar? Baru kali ini Eike lihat pak Chalvin lemah, Letih, lesu, sampai kek petugas upacara yang lagi mengheningkan cipta gitcu," pikir pria berperawakan wanita itu dengan mata melotot tak percaya, "terus, mana dong yang harus Eike laporkan ke madam, tentang kebenaran perselingkuhan pak Chalvin atau tentang calon istrinya yang gak beres. Ya, amstrong ... jadi pusying kan eike! Mana eike cuma jadi mata-mata sukarelawan lagi, alias suka dan rela karena takut melawan."
Chalvin masuk ke ruangannya dan mengambil posisi duduk dengan cepat. Berkali-kali pria itu mengusap kasar wajahnya dan menjambak rambut seperti orang frustrasi. Tampaknya, ia menyesali tindakannya yang terlalu impulsif sehingga membuat situasi antara dirinya dan Karen menjadi tak nyaman satu sama lain. Padahal, ia cukup berhasil menyembunyikan perasaannya selama ini.
"Bego! Bego! Kok gua jadi gak bisa kontrol diri kek gini!" Chalvin memukul-mukul kecil kepalanya. Ia menengadahkan kepala sambil menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan perasaannya.
"Gimana? Udah berhasil dilacak gak ponsel aku?" tanya Chalvin sambil menelepon, "tolong urus cepat, ya!" Chalvin hanya khawatir kalau Nadya mungkin saja telah membalas pesan-pesannya yang dikirim semalam.
Terdiam beberapa saat, pikirannya kembali berkubang pada perkataan Karen di lift tadi. Pendapat Karen tentang Nadya mungkin ada benarnya. Namun, terlambat untuk ia lakukan karena Nadya telah memutuskan untuk mengakhiri segalanya, mungkin termasuk mengakhiri komunikasi mereka.
Selepas keluar dari lift, Karen berhenti di pojok ruangan sambil mencoba menelaah setiap kalimat yang baru saja Chalvin katakan padanya. Ia menggeleng pelan, berusaha menyangkal dugaannya kalau pria itu memiliki perasaan padanya. Ya, ia mengartikan segala sikap dan tindakan Chalvin padanya selama ini layaknya perhatian dari anggota keluarga, sehingga tidak pernah terpikirkan olehnya akan menjadi seperti ini.
"Enggak, aku pasti cuma salah paham. Dia tadi cuma sedang menganalogikan aja," gumam Karen menenangkan dirinya sendiri. Namun, lagi-lagi ia teringat dengan ucapan Nadya yang mengatakan kalau dirinya sangat beruntung karena dikhawatirkan pria lain meskipun telah bersuami.
Karen menggigit ujung kukunya. Pikirannya kusut bagaikan diterjang badai. "Apa Nadya sebenarnya dah tahu soal ini? Atau ... jangan-jangan dia mikir yang enggak-enggak soal aku dan chalvin!" gumamnya resah. Kini ia menyadari apa yang dikatakan Darren benar. Mungkin tak seharusnya ia tak mencampuri hubungan Chalvin dan Nadya.
Di waktu yang sama, ponselnya membunyikan nada panggilan. Karen terkesiap begitu mengetahui yang meneleponnya adalah Nadya. Ia pun segera menerima panggilan itu.
__ADS_1
"Halo, Nad," ucapnya dengan nada gugup.
"Kar, sorry ... aku enggak sempat balas chat kamu. Kemarin waktu pulang dari kantor Oma kamu, aku tuh ditelepon om aku. Ternyata dia lagi buka kedai kopi di dekat kampus kita. Dan dia minta aku bantu aku ngedekorin kafenya. Aku sibuk banget sampai malam tahu, enggak?"
Karen bernapas lega karena Nadya terlihat senang. "Asyik, dong, Nad. Kalo pulang ngampus bisa stay di situ."
"Iya .... Terus, om aku nawarin juga buat bantu kelola kedai ini. Katanya dia percayain kafe ini sama aku. Nanti kamu ikutan bantuin aku, ya?"
"Pasti dong!"
"Udah dulu, ya!"
"Eh, Nad ... gimana soal kamu dan Chalvin?" tanya Karen saat Nadya hendak mengakhiri teleponnya.
Terdengar suara helaan napas Nadya. "Kemarin aku dah ngomong sama kak Chalvin dan minta supaya hubungan bohongan ini berakhir."
"Ja-jadi kamu yang minta berakhir? Bukan Chalvin yang minta?" tanya Karen kaget karena awalnya dia mengira Chalvin-lah yang mengakhiri seenaknya saja.
"Iya. Aku gak mau lagi jadi pacar palsu. Rencananya aku juga mau balikan uang yang pernah kak Chalvin kasih."
"Serius? Bukannya kamu suka sama Chalvin?"
"Iya, sih. Tapi ... mau gimana lagi, aku cuma bertepuk sebelah tangan. Lagian, kak Chalvin juga pernah ngaku kalo dia suka sama seseorang yang gak mungkin dia miliki. Karena aku juga ngerasain yang dia alami, makanya aku gak mau nuntut dia buat balas perasaanku. Dan aku juga gak mau suatu saat nanti aku malah mikir kalau perempuan yang disukai kak Chalvin itu adalah saingan aku. So, aku mutusin berhenti berharap." Suara Nadya bergetar saat mengatakan itu.
Karen mengulum bibirnya seakan tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Kata-kata Nadya tentang Chalvin seolah menjadi hantaman baginya. Meski Nadya tak mengatakan sosok wanita yang diam-diam disukai Chalvin, tapi entah kenapa seolah mengarah pada dirinya.
Selepas berbicara dengan Nadya, ia pun segera menelepon Darren.
"Sayang, kita pulang ke rumah hari aja, ya? Gak usah tunggu Minggu depan," desak Karen begitu telepon tersambung.
__ADS_1
"Loh, kenapa mendadak mau balik ke rumah hari ini?"