DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 181 : Tak diacuhkan


__ADS_3

Melihat Chalvin yang turun dari mobil sambil membawa sebuah bag paper, tak membuat Nadya senang seperti biasa. Gadis itu justru tampak tak acuh dan terus menulis stok persediaan bahan-bahan minuman yang mulai menipis. Di saat yang sama, pintu kafe berderit tanda seseorang tengah membukanya.


"Maaf, kafenya udah tutup!" seru Nadya saat Chalvin mencoba masuk.


Langkah Chalvin terhenti tepat di depan pintu yang setengah terbuka. "Oh, ya? Tapi di depan masih ada tulisan buka, tuh!" balas pria itu sambil menunjuk papan open yang tertempel di pintu kaca.


Nadya lantas menghampiri Chalvin yang masih berdiri di pinggir pintu, tapi bukan menemuinya melainkan untuk membalikkan papan tulisan "open" ke tulisan "close" tersebut. Namun, tangannya justru dicegat oleh Chalvin.


"Begini cara kamu ngusir pelanggan?" sindir Chalvin tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Gak ngusir, kok. Aku cuma mau balikin papan aja karena sebelumnya lupa dibalik," balas Nadya dengan nada datar.


"Kalo gitu aku masih bisa mesan kopi, dong!"


"Maaf, tapi jam operasional kami dah selesai, silakan datang lagi besok!"


"Tapi kafenya masih buka saat aku ke sini! Siapa yang salah?"


"Tapi baristanya udah gak ada."


"Aku mau dibuatin kopi sama manajernya langsung seperti biasa."


Nadya menghela napas sesaat. "Tapi ...."


Kalimat Nadya mengambang ketika Chalvin mendorongnya masuk ke dalam kafe dengan sedikit memaksa. Sontak, langkah kaki Nadya pun terundur ke belakang saat pria itu terus berjalan maju sambil memegang pergelangan tangannya.


"Aku tahu kamu marah sama aku!" ucap Chalvin sambil mengunci tatapan Nadya.


Nadya terdiam seketika dengan mata yang terpaku memandang manik legam di hadapannya. Chalvin terus berjalan maju sambil masih menatap lamat ke arah gadis itu. Langkah keduanya terhenti saat pundak Nadya menabrak meja bartender. Saat ia hendak bergeser ke samping, kedua tangan Chalvin lebih dulu memegang meja seolah hendak memblokir pergerakannya.


"Aku pengen minta maaf sama kamu. Aku tahu tindakan dan ucapan aku tempo hari sangat keterlaluan dan di luar batas," ucap pria itu.


Tak menjawab apa pun, Nadya malah membuang pandangan ke samping seolah menolak bertatapan langsung dengan pria itu.


"Hei, look at me!"

__ADS_1


(Look at me\= lihat aku)


"Aku udah maafin kok. Enggak perlu dibahas karena aku juga udah lupa. Jadi, sekarang Kak Chalvin boleh pergi karena aku juga mau pulang," tegas Nadya sambil meminggirkan tangan Chalvin yang menghalangi jalannya.


"Kok kamu jadi ketus gini ma aku?"


"Gak usah heran! Kamu yang ngajarin!"


Chalvin menunduk seraya tersenyum miring. Namun, entah kenapa ia justru merasa senang dengan jawaban gadis itu.


"Apa Kak Chalvin masih pengen di situ terus?"


Suara hambar Nadya mengejutkan Chalvin. Lelaki jangkung itu berbalik dan mendapati Nadya sudah berada di luar kafe dengan tangan yang berpegang di gagang pintu. Chalvin lantas keluar dari kafe tersebut, tak langsung pergi dan malah menunggu Nadya yang tengah menutup kafenya. Saat gadis itu berbalik, ia langsung menyerahkan bag paper yang dibawanya.


"Ini oleh-oleh dari Bandung. Kebetulan dua hari ini aku stay di sana."


"Makasih." Nadya mengambil bag paper yang bertuliskan toko roti premium tersebut. Setelah itu, ia langsung menaiki motornya sambil memasang helm.


Sempat termangu beberapa detik, Chalvin lantas bergumam dengan suara kecil. "Cuma ngomong gitu doang?"


"Sialan! Dia benar-benar gak acuhin gua!" omel Chalvin sedikit kesal. Namun, detik berikutnya ia malah melihat jam tangannya. Ternyata waktu hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Seingatnya, jalanan menuju kos-kosan gadis itu tampak tidak aman karena sempat ada kasus pembegalan. Ia bergegas masuk ke mobil, kemudian mengekor Nadya yang lebih dulu melaju bermaksud untuk mengawalnya dari belakang. Ia sengaja Mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah agar tak mendahuluinya.


Rupanya aksi membuntuti diam-diam ini mulai disadari oleh Nadya. Ia hanya bisa mengerutkan alis ketika melihat mobil pria itu ada di belakangnya melalui spion motor. Ini aneh, sebab tempat tinggal mereka tentu tak searah. Namun, ia mencoba tak peduli dan berusaha menambah laju kecepatan motornya.


Nadya kembali mengernyit ketika mobil Chalvin masih berada di belakangnya. Alisnya semakin mengeriting karena sudah sejauh ini mobil itu masih terlihat seakan tengah membuntutinya. Merasa kesal diikuti terus, ia pun masuk ke lorong kecil. Ini memang jalan alternatif menuju kos-kosannya di mana kendaraan roda empat tak bisa melewatinya.


Chalvin mengerem mobil tiba-tiba tepat saat motor Nadya berbelok ke gang kecil. Tentu hal ini membuat mobilnya tak bisa ikut berbelok. Namun, yang membuatnya bingung kenapa Nadya malah berbelok ke jalan yang berbeda. Apakah ada tempat yang akan disinggahi gadis itu? Ataukah sengaja menghindarinya?


Bagi Nadya, kejadian terakhir di apartemen membuatnya enggan berurusan lagi dengan Chalvin. Ia pun berpikir Chalvin mulai mendekatinya hanya sekadar mengisi kekosongan, seperti wanita-wanita lainnya yang sering dibawa ke apartemennya. Sebagaimana pria itu mengatakan tak ingin menjalin hubungan serius yang berlanjut ke pernikahan, tentu ia pun hanya akan dianggap seperti mainan. Apalagi ia tahu persis di hati pria itu hanya ada Karen, sahabatnya.


***


Keesokan harinya, Darren yang baru saja selesai mengisi kelas, tengah berjalan menuju ruang penelitian. Tiba-tiba Feril datang mengejarnya dari arah belakang.


"Prof, Prof, tolongin saya dong!"

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Darren sambil terus melangkah.


"Saya dikeluarin pak Rahmat dari kelas. Udah gitu gak dibolehin masuk kelasnya selama satu semester."


"Kenapa bisa gitu?"


"Gak tahu, Prof. Padahal saya cuma bolos sekali dan ketahuan titip absen lima kali."


"Cuma kamu bilang? itu artinya kamu belum pernah masuk! Mata kuliah yang dipegang pak Rahmat Itu salah satu mata kuliah wajib, loh. Kamu tahu gak, kamu juga terancam di-DO kalo gak tamat-tamat."


"Saya terlalu cinta sama kampus ini, Prof!" jawab Feril dengan keahlian ngeles-nya.


Darren berhenti melangkah tepat di depan pintu ruangannya. "Ya, sudah kalo gitu. Selesaikan sendiri masalah kamu."


"Loh, kok gitu? Bapak, kan, dosen PA saya!"


"Hidup jangan kayak matematika yang selalu minta diselesaikan masalahnya. Manusia gak bisa mengubah manusia lainnya. Tanyakan ke diri kamu sendiri, apa yang kamu inginkan selama ini? Apa motivasi kamu kuliah? Kalo udah ketemu motivasi dan siap berubah, temui saya kembali!" ujar Darren yang kemudian masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Feril yang masih terbengong.


Begitu membuka pintu, senyum lebar langsung mengembang di bibir pria itu saat melihat Karen tengah duduk di depan meja kerjanya.


"Kok itu gak dimakan?" tanya Darren dengan mata yang mengarah ke paket katering di atas meja yang belum tersentuh.


"Lagi gak selera. Pengen makan yang lain," balas Karen dengan nada manja.


Darren berdiri tepat di hadapan Karen yang duduk bersandar di kursi putar. Pria itu kemudian membungkuk dengan berpegangan di sisi tangan kursi sehingga membuat wajah mereka sangat berdekatan.


"Emangnya Bumilku mau makan apa?"


Di saat yang sama, terdengar suara ketukan pintu. Hanya sedetik dari suara ketukan yang terdengar, pintu itu mendadak terbuka. Rupanya itu adalah Feril yang sebenarnya masih ingin berbicara dengannya.


"Prof, saya juga mau—" Suara Feril mendadak tercekat diikuti mata yang terbelalak.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2