
Sama seperti Darren yang terkejut karena Feril duluan menyerobot, Karen pun terhentak ketika tiba-tiba saja pria berambut landak itu ada di sebelahnya.
"Hai, Karen lagi ngapain? Oh, lagi belajar, ya!" Feril mulai menjalankan aksi ada udang di balik jadi ngadu.
"Lagi ngerjain soal latihan, Kak." Bicara secukupnya, selalu menjadi senjata Karen untuk menghadapi Feril yang sering muncul tiba-tiba.
Karen lanjut belajar tanpa memedulikan kehadiran Feril. Ia menggeser posisi duduknya untuk menjaga jarak dengan pria itu. Namun, Feril malah ikut bergeser ke samping sehingga lengan mereka saling bersenggolan. Darren yang memantau mereka dari belakang lantas membeliakkan mata.
"Wah lagi belajar statistika, ya? Kebetulan banget ini keahlian gua!" kata Feril setelah melihat buku yang dipegang Karen.
"Beneran, Kak?" tanya Karen sembari kembali menggeser posisi duduknya.
"Iya. Pokoknya kalau tentang statistika gua ahlinya. Jangan sungkan tanya-tanya ke gua!" Feril mengangkat alisnya lalu mengangkat bokongnya untuk duduk lebih dekat dengan Karen.
Teman-temannya yang ternyata sedang mengintip di jendela samping meja mereka, lantas berceletuk, "Sok jago lu, Fer! Lu kira lu ayam jago. Ngaku ahli statistika padahal ngulang!"
"Eh, semester ini dia juga bermasalah di statistika, kan? Barusan tadi ngeluh tugas-tugasnya kagak diterima!" timpal teman lainnya.
"Kali ini Feril bakalan berhasil taklukin tuh cewek gak, ya?" tanya si Jamet.
Sementara, melihat kelakuan genit Feril pada Karen membuat Darren geram. Ia menghampiri keduanya dan berdiri tepat di belakang.
"Ehem ...." Darren berdeham keras sehingga membuat Feril dan Karen sontak menoleh ke arahnya.
"Eh, ada profesor. By the way, gimana dengan nilai saya, Prof? Aman, kan? Aku tahu kok, dosen baik hati kayak Profesor pasti sedekahnya lewat nilai," ucap Feril menyengir.
"Kamu bakal tahu kalau dah selesai ujian dan pengumuman nilai!" ketus Darren lalu mengalihkan pandangan ke arah Karen yang juga menatapnya, "Karen, kebetulan kamu ada di sini. Saya tunggu di ruang penelitian. Tolong bantu saya beres-beres ruangan."
Setelah berkata, Darren berbalik sambil menahan senyum. Ia masuk ke ruang penelitian sambil menunggu Karen. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan beriringan dengan pintu yang terbuka. Darren terkesiap ketika Feril ikut masuk bersama Karen.
"Kamu ngapain ke sini? Saya cuma manggil Karen!" ketus Darren.
"Maka dari itu, Prof, saya juga mesti ikut. Gak takut kena gosip lagi, Prof? Lagian kata pak ustadz kalau laki-kaki sama perempuan berduaan, orang ketiganya itu setan, Prof!"
"Pas banget kalau gitu, kamu datang jadi setannya," tandas Darren dengan wajah kusut.
Feril menoleh sekeliling ruangan yang rapi dan teratur. "Lah, katanya mau beres-beres, Pak! Yang mana mau diberesin?"
__ADS_1
Darren terhenyak sendiri, tetapi matanya bergerak cepat melihat keadaan sekitar meja kerjanya. Dengan segera, jarinya sengaja menyenggol tumpukan buku-buku yang ada di belakang kursinya sehingga menjadi berantakan seketika.
Darren lalu berkata pada Feril. "Kamu! Bantu saya atur rapi buku-buku ini sesuai pengelompokannya."
"Ini mah gampang! Yuk, Karen kita beresin bareng!" ajak Feril.
"Kamu aja!" cegat Darren lalu memandang Karen. "Kamu boleh keluar!"
Karen dan Feril sama-sama terkejut. Sebenarnya, dia hanya ingin membuat Feril menjauhi istrinya. Begitu Karen keluar, Darren dan Feril saling berpandangan sinis.
"Saya mau keluar dulu. Kalau sudah selesai jangan lupa pintunya dikunci." Darren menyerahkan kunci ruangan pada Feril lalu pergi.
"Sialan nih dosen!" gerutu Feril seraya berkacak sebelah pinggang.
Karena gagal mendekati Karen, ia melampiaskan kekesalannya dengan menendang meja Darren. Sialnya, tendangan kesal itu membuat semua barang-barang yang ada di atas meja jatuh berhamburan ke bawah sehingga pekerjaannya untuk merapikan tempat itu semakin bertambah.
Darren menyusul Karen yang berjalan lambat di depannya, kemudian menarik perempuan itu ke sudut gedung yang sepi.
"Kamu ngapain berduaan sama dia terus?"
Karen mengernyit. "Siapa?"
"Kak Feril? Ih, siapa yang berduaan. Itu cuma kebetulan, kok."
"Dia suka sama kamu, kan?"
Karen terdiam, lalu mengangguk kecil.
"Terus kamu gimana? Suka juga sama dia?"
"Enggaklah, aku kan dah nikah!" balas Karen cepat.
"Jadi kalau belum nikah bakalan suka sama dia?" samber Darren dengan nada sewot.
Karen menutup mulutnya menahan tawa.
"Kenapa ketawa? Bener ya dugaanku?" Darren memberi seringai miring di bibirnya.
__ADS_1
Karen mengulurkan tangan ke depan, meraba sisi wajah Darren dengan lembut. "Apa ini suamiku? Soalnya ... aku baru pertama kali lihat kamu cemburu kayak gini. Ternyata lucu juga!"
Sentuhan hangat telapak tangan Karen di wajahnya, seakan meluruhkan api cemburu yang sedang memercik di hatinya. Ia menyunggingkan senyum tipis seraya memegang pergelangan tangan Karen lalu menariknya ke dalam pelukan.
"Darren ... jangan gini! Entar ada yang lihat lagi loh!" Suara panik Karen berembus di telinganya.
"Kalau aku lihat dia masih ada di sekeliling kamu lagi, aku gak sungkan-sungkan ngasih tahu kalau kamu istri aku!" Darren semakin mengencangkan pelukannya.
Karen masih berusaha melepaskan diri seraya menatap penuh kewaspadaan di sekeliling mereka. Ia terentak ketika Darren memberi kecupan singkat di keningnya, sebelum pergi meninggalkannya lebih dulu.
Karen menatap siluet tubuh suaminya yang berangsur-angsur hilang dari pandangannya.
Bisakah aku berharap sama kamu, untuk tetap mencintaiku seperti ini ....
...****************...
Seminggu menjelang UAS, Karen mulai berubah sedikit demi sedikit. Karen mulai mengubah kebiasaannya yang sering rebahan sambil bermain ponsel, dengan melakukan kegiatan yang lebih positif seperti membaca buku rekomendasi suaminya dan juga belajar memasak. Setiap hari, Karen menunjukkan kegigihannya dalam belajar meski tanpa ditemani Darren. Semua perubahan itu ia lakukan agar suaminya bisa bangga padanya.
Pernah suatu hari, Darren yang baru saja pulang kerja, mendapati Karen tengah menangis tersedu-sedu di depan televisi. Sayangnya, ia mengira tangisan istrinya itu karena terlalu terbawa alur film yang ditontonnya.
Karen juga sering mengunjungi Oma Belle untuk mengajaknya makan di luar, atau sekadar menemaninya melukis di rumah.
"Oma, kita belanja, yuk! Ada diskon besar-besaran loh!" ajak Karen yang baru saja tiba di kediaman besar suaminya.
"Eh, eh, ada apa ini? Akhir-akhir ini kok kamu sering ngajak Oma ke sana-kemari!" Oma Belle mulai mencium gelagat aneh cucu mantunya.
"Kan biar Oma gak kesepian di rumah."
"Kalau gak mau Oma kesepian, ya cepat punya anak! Biar Oma punya kegiatan mengasuh cicit!"
Karen terdiam dengan wajah menggelap. Tampaknya, sekuat apa pun usaha Karen untuk menyenangkan hati Oma Belle, pada akhirnya Oma Belle tetap menginginkan kehadiran cicit dari cucu kesayangannya.
Tak terasa, ujian akhir semester pun tiba. Semua mahasiswa diwajibkan datang tepat waktu sesuai jadwal. Darren yang baru saja membuat sarapan nasi goreng, membangunkan Karen yang masih bergelung dalam selimut. Baru saja menyentuh pundak istrinya, mata pria itu terbelalak kaget karena suhu tubuh Karen yang tak biasa.
"Karen, kamu kok panas banget? Kamu sakit? Kita ke rumah sakit sekarang, ya!" ujar Darren panik.
.
__ADS_1
.
.