DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 44 : Mendadak Jadi Pacar


__ADS_3

Tak terasa, orang-orang kembali dipertemukan dengan hari Senin yang hanya ada sekali dalam seminggu. Di mana hari itu akan banyak orang yang menjadi motivator dadakan dengan mengeluarkan kata-kata bijaknya di media sosial.


Karen keluar dari kelas bersama kawan-kawannya. Kebetulan, mata kuliahnya pagi ini diisi oleh dosen yang difavoritkan banyak mahasiswa karena masih menerapkan sistem kurikulum KTSP (Kasih Tugas Suruh Pulang).


(N: KTSP yang sebenarnya singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)


Saat sedang jalan bersama temannya, tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Ia kaget melihat nama Chalvin tertulis di layar ponsel. Ya, hari ini memang jadwal syuting iklan untuk produk mereka. Ia pun segera menepi untuk menjawab telepon dari sepupu yang juga manajer perusahaan kakek suaminya.


"Karen, lagi di mana?" tanya Chalvin.


"Lagi di kampus."


"Udah selesai, belum?"


"Udah, nih, baru keluar. Aku juga baru mau ke sana. Mau pesan grab dulu," jawab Karen. Hari ini ia memang tidak membawa mobilnya sendiri.


"Aku jemput aja, ya. Kamu anak Fekon, kan?" tawar Chalvin tiba-tiba.


"Eh, gak usah. Aku pesan grab aja." Karen mendadak tak enak hati.


"Gak papa. Kebetulan aku juga lagi di jalan searah kampus kamu. Sepuluh menitan juga sampai." Chalvin langsung menutup ponselnya.


Di ruang dosen, kepala prodi jurusan Ekonomi Kewirausahaan berkonsultasi pada pak Budi Luhur perihal salah satu mahasiswi yang sudah tak pernah masuk kampus lagi. Padahal mahasiswi itu adalah seorang selebgram dan juga bintang iklan salah satu produk terkenal.


"Kenapa bisa dia enggak masuk-masuk lagi?"


"Katanya trauma karena komentar-komentar netizen, Pak. Jadi enggak mau keluar rumah," jawab kaprodi.


"Lah, cuma karena komentar kok bisa trauma."


"Jaman sekarang itu ibu jari netizen lebih kejam daripada ibu kota dan ibu tiri, Pak," timpal dosen lainnya.


Mendengar perbincangan antara pak Budi Luhur dengan para dosen tentang salah satu mahasiswi, membuat Darren teringat istrinya yang baru saja menjadi Brand Ambassador produk keluarganya. Ia khawatir, ini akan membuat istrinya mendapat perhatian lebih dari orang-orang.


"Ren, tumben pagi-pagi udah ngayal?" tegur Marsha yang tengah bersiap mengisi materi di kelas.


Tersadar, Darren buru-buru berdiri sambil mempersiapkan bahan ajarnya. "Ah, lagi mikir penelitian lanjutan. Kamu mau masuk kelas, ya?"


Marsha terdiam sejenak. Tadinya ia berpikir mungkin saja pria itu tengah bertengkar dengan istrinya. "Iya, di semester tiga jurusan manajemen. Kamu juga?" tanyanya balik.

__ADS_1


"Hum ...." Darren mengangguk.


"Aku duluan, ya!" ucap perempuan itu sambil berjalan menuju pintu.


Marsha lalu keluar dari ruang dosen menuju kelas tempatnya mengajar. Ia berjalan melewati beberapa mahasiswa yang selalu nangkring di sekitar tangga. Seperti biasa juga, gayanya yang cantik dan modis mengundang godaan dari mahasiswa-mahasiswa yang ternyata adalah teman-teman Feril.


"Pagi, Bu," sapa mahasiswa-mahasiswa itu diiringi siulan-siulan yang nakal.


"Kalian gak punya hobi apa, tiap hari nongkrong terus kayak gini!" ketus Marsha sambil menunjukkan wajah jutek.


"Hobi kami menciptakan sesuatu, Bu!" sahut salah satu mahasiswa berambut gimbal.


"Emangnya lu dah ciptain apa, Ngab?" tanya temannya yang duduk di samping.


"Ciptain masalah, Bro!"


(Ngab: bahasa gaul dari kata bang yang pengucapannya dibalik)


Marsha terus berjalan tanpa memedulikan mereka. Sebab, Selain menjadi mahasiswa kunang-kunang, mereka juga kumpulan para MAHDI alias mahasiswa abadi yang tidak lulus-lulus. Melihat Marsha yang telah berlalu, mereka malah berteriak sambil melempar gombalan receh.


"Bu, demi Ibu, aku rela jadi BeJo alias Bertahan Jomlo. Eaaaa ...."


Mereka kembali bersiul sambil melempar celotehan-celotehan unfaedah.


"Kalian tahu enggak, bersiul pada seorang perempuan itu merupakan tindakan pelecehan." Suara berat seorang pria datang dari arah belakang.


Mahasiswa kunang-kunang itu kompak menoleh ke belakang. Mereka terkejut karena melihat Darren tengah berdiri di sana.


"Kita cuma bercanda kok, Pak," sahut salah seorang mahasiswa.


"Berhenti berlindung di balik kata cuma bercanda. Kalimat yang berbau seksis dan catcalling¹ itu bukan candaan. Terlebih lagi, ibu Marsha itu dosen kalian," tangkas Darren.


Mahasiswa-mahasiswa itu hanya diam menunduk bagai gerombolan kambing yang kena air hujan. Namun, saat Darren telah pergi, satu per satu dari mereka menunjukkan ketidaksenangan, termasuk Feril yang juga tengah berada di sana.


"Gak asik! Ada pahlawan ultramilk dari Jepang datang!" cetus salah satu dari mereka sambil menatap punggung Darren yang telah menjauh.


"Bukan ultramilk, Ngab, tapi ultraviolet!" sahut yang lainnya.


"Belagu banget, sih, tuh, dosen! Sok kecakepan!" geram Feril yang ternyata ada di antara mereka.

__ADS_1


"Jujurly, emang dia cakep, Ngab! Good looking lagi, beda sama kita yang goodbye!" timpal temannya lagi.


Perkataan sobatnya itu tampaknya tak dipedulikan Feril. Ia malah lebih tertarik melihat Karen yang baru saja keluar dari gedung fakultas mereka. Pria itu lantas segera memperbaiki rambutnya yang terganjal headband.


Karen berjalan lurus seraya saling berbalas pesan dengan Chalvin yang ternyata telah berada di dalam universitas. Tanpa sengaja, ia mendengar obrolan cewek-cewek yang melintas.


"Eh, tadi aku dengar pak Darren marahin teman-teman Feril gara-gara mereka pada gombalin Bu Marsha. Ekspresinya itu kayak cowok yang lagi marah kalau ceweknya diganggu," ucap salah satu dari cewek-cewek itu.


"Yang bener? Jangan-jangan pak Darren sama bu Marsha pacaran!" Temannya merespon.


"Ya gak papa lah! Sama-sama masih single, ganteng dan cantik juga, udah gitu sama-sama lulusan luar negeri. Sepadanlah mereka! Yang gak cocok kalau pak Darren pilih mahasiswa kayak kita-kita gini," ucap cewek itu diiringi gelak tawa teman-temannya.


Obrolan cewek-cewek penggosip itu sedikit memprovokasi Karen. Bukan karena ia mendengar suaminya memarahi mahasiswa yang menggombal Marsha, tetapi pernyataan mereka yang mengatakan Darren tak cocok bersanding dengan perempuan yang masih berstatus mahasiswa. Apalagi yang tak berprestasi seperti dirinya.


Di saat suasana hati Karen mendadak berubah, Feril malah datang menghampirinya. Sontak saja, kehadiran pria itu semakin memperburuk mood-nya. Apalagi, ia langsung mengingat saudara Feril yang telah memanipulasi Nadya.


Hai, Kar! Mau ke mana?" tanya Feril sok akrab.


"Mau pulang, Kak," jawab Karen sedikit malas.


"Mau aku anterin, gak?" tawar Feril.


Di waktu yang sama, sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti tepat di hadapan mereka. Sesosok pria bertuxedo hitam, keluar dari mobil tersebut dengan gaya yang penuh karismatik.


Mengetahui itu adalah Chalvin, Karen langsung menghampirinya.


Berdiri di samping Chalvin, Karen lantas berkata pada Feril, "Maaf, Kak, pacar aku dah datang jemput!"


Perkataan Karen, tak hanya mengejutkan Feril, tapi juga Chalvin yang mendadak melebarkan matanya.


.


.


Jejak kaki 🦶🦶:



Catcalling: pelecehan di ruang publik. Melemparkan kalimat yang bernada menggoda di tempat umum, termasuk bersiul. Jadi kalau ada sekelompok cowok yang manggil-manggil, bersiul terus bilang "hai cantik ...." jangan senang dulu, itu bentuk pelecehan street harassment.

__ADS_1



__ADS_2