
Chalvin terkejut melihat Darren berdiri di depan pintu kamarnya. Bahkan tangan pria itu memegang ponsel miliknya.
"Ini ponsel kamu, kan?" tanya Darren sambil menyerahkan ponsel itu.
Chalvin mengangguk. "Ah, iya, tadi aku sempat titipin ke Karen tapi lupa aku ambil," jelas Chalvin yang terdengar sungkan dari nada bicaranya.
Darren menyerahkan ponsel itu, sembari berkata, "Mau ngopi bareng, enggak?"
"Boleh juga. Dah lama kita gak ngobrol, kan?" Chalvin langsung menerima ajakan Darren.
Di sisi lain Karen menemui Oma Belle. Tak disangka hal yang akan dibahas Oma adalah tentang pernikahan Chalvin dan Nadya.
"Gini loh Oma itu pengen Chalvin sama Nadya itu cepat-cepat nikah. Kamu apa gak bisa bantu ngomong sama Nadya? Kalian temenan, kan? Kalo Chalvin kayaknya masih mau main-main, sementara Oma udah sreg sama Nadya."
"Oma aja tahu kak Chalvin kayak masih mau main-main, kenapa Oma malah maksa dia nikah? Gimana kalo kak Chalvin gak bisa bertanggung jawab nantinya," balas Karen.
"Kok kamu ngomong gitu? Jangan-jangan kamu gak suka ya Chalvin nikah!" cetus Oma Belle yang tiba-tiba tampak berang.
Karen terkesiap atas tuduhan Oma Belle. Padahal ia hanya khawatir kalau Chalvin tidak tulus atau hanya mempermainkan Nadya.
"Bu–bukan gitu Oma!"
Saat Karen mencoba menjelaskan, Oma Belle malah beranjak dari duduknya lalu bergerak cepat membuka pintu ruangan. Sheila yang bersandar sambil menempelkan telinganya di daun pintu, langsung terjatuh tepat di hadapan Oma Belle. Ternyata gadis itu tengah menguping obrolan mereka.
"Ngapain kamu nguping, hah? Mau jadi agen rahasia?" Oma Belle menjewer telinga Sheila. Selain kerap menjadi CCTV hidup, orang tua ini memang mempunyai jiwa waspada yang tinggi mengalahkan tentara tempur. Itulah sebabnya ia bisa memproteksi adanya Sheila.
"Ih, Oma, orang cuma kebetulan lewat juga," sangkal Sheila sambil melepaskan diri dari jeweran Oma Belle.
"Karen, kita lanjutin besok aja ngobrolnya. Oma jadi gak mood," ketus Oma Belle sambil keluar ruangan.
Karena Oma telah pergi, Karen pun hendak keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Dasar sasimu! Sana sini mau!" cela Sheila saat Karen berlalu di hadapannya.
Karen berhenti melangkah, lalu menoleh ke arah Sheila. "Siapa yang kamu bilang sana-sini mau?"
"Ya, siapa lagi yang udah punya suami, tapi masih naksir sama sepupunya!" Sheila mendelikkan mata ke atas.
Karen melebarkan mata. "Kalo ngomong hati-hati, ya! Tuh mulut jangan kek tong sampah!"
"Oh, iya, aku lupa! Pacar palsu kak Chalvin itu kan teman lo! Pasti dia minta tolong ke elo buat cari orang yang bisa kerja sama bohongi oma."
Karen semakin tak paham dengan apa yang dikatakan Sheila. Ia balik ke kamar dengan membawa rasa penasarannya. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Nadya. Atas desakannya, akhirnya Nadya mengaku kalau hubungan mereka memang palsu belaka. Chalvin hanya meminta tolong padanya untuk menghindari perjodohan dari Oma Belle.
"Aku sama kak Chalvin emang cuma pacaran bohongan, tapi perasaanku ke dia itu nyata. Enggak pura-pura." Nadya berkata dengan nada lirih.
"Kalo gitu bagus, dong! Artinya hubungan kalian berpeluang jadi beneran."
"Enggak mungkin, Kar. Aku bertepuk sebelah tangan. Kak Chalvin itu ... suka sama seseorang."
Nadya bergeming sesaat. Pasalnya, ia tahu betul perasaan tersembunyi yang Chalvin miliki untuk Karen. Namun, mana mungkin ia akan membocorkan itu.
"Jujur, Nad. Awalnya aku orang yang gak setuju pas tahu kamu pacaran sama kak Chalvin. Soalnya kak Chalvin itu sebelas-dua belas sama Farel soal playboy-nya. Tapi pas tahu Oma suka sama kamu, aku bakal dukung kamu buat bikin Chalvin jatuh hati sama kamu."
"Aku gak mau berharap, Kar. Bisa dekat ma dia aja udah bikin aku seneng, kok. Lagian, aku punya apa sampai pantas buat disuka balik. Kamu tahu sendiri kan, dia tahu kalau aku ini udah ...."
"Sssttt ... jangan pikirin soal itu. Aku yakin, Chalvin itu open minded. Aku cukup dekat sama dia. Pokoknya mulai sekarang kamu ikutin tips dari aku. Aku bakal jadi juru cinta untuk kalian berdua."
***
Darren dan Chalvin duduk di teras samping sambil menikmati suguhan kopi hitam yang kental. Untuk sejenak, mereka hanya duduk tanpa ada yang membuka obrolan terlebih dahulu. Sebatang rokok terselip di sela-sela jari Chalvin, yang kemudian diselipkan ke bibirnya. Tangan kanannya mengambil pemantik untuk menyalakan batang nikotin tersebut.
Tak ada yang tahu kalau kedua pria tampan ini baru saja dihajar kegelisahan masing-masing di dada mereka. Darren dengan kekhawatiran akan kedekatan istri dan sepupunya itu, sedangkan Chalvin cemas dengan perasaannya yang belum juga luntur.
__ADS_1
"Gimana Karen di kantor?" tanya Darren.
"Menurut gua, dia punya passion di bidang ini. Dia juga mengerti soal pemasaran. Keknya setelah selesai kuliah nanti boleh deh gua rekrut jadi staf gua."
"Aku gak nyangka tipe cewek kita sama." Darren membersit tiba-tiba.
"Maksud lu?" tanya Chalvin dengan wajah yang terlihat kaku.
"Udah jelas kan maksud aku apa? Kecuali kalo kamu punya penafsiran berbeda atas kalimatku barusan." Darren menatap Chalvin dengan serius. Sepertinya obrolan pembuka mereka hanya untuk menguji sepupunya. Tampaknya itu berhasil karena ia bisa melihat perubahan ekspresi Chalvin.
Sempat terdiam, Chalvin lantas berkata, "Lu pasti kaget kan gua pacaran sama temannya Karen."
"Bukan soal kamu pacaran sama teman Karen, tapi aku heran aja tipe kamu berubah."
"Tipe lu juga berubah, kan? Apa iya seorang Darren tiba-tiba nikah sama mahasiswanya kalau bukan dijodohin?" sindir Chalvin sambil mengepulkan asap rokok dengan santai.
"Terus, alasan kamu pacaran sama mahasiswa aku apa? Buat hindari perjodohan?" Darren menyerang balik.
Chalvin tersenyum tipis tanpa berkata-kata. Sepertinya dia tidak bisa mengelak tebakan Darren. Ini membuat Darren mulai meyakini apa yang dikatakan Sheila itu memang benar adanya.
"Vin, aku cuma ngasih tahu, kamu gak bisa dan gak boleh bohongi Oma. Selain itu, jangan mainin perasaan orang. Oke, mungkin ada kesepakatan antara kamu sama Nadya, tapi gimana kalo dia diam-diam suka sama kamu?"
"Diam-diam suka sama orang ... apa itu sebuah masalah? Apa kita gak boleh diam-diam suka seseorang?" balas Chalvin sambil menatap Darren. Arah obrolan kedua pria dewasa ini semakin pekat seperti kopi yang mereka minum.
"Gak masalah, sih. Tapi bakal jadi masalah kalau ngotot pingin memiliki," jawab Darren membalas tatapan Chalvin dengan datar.
Wajah Chalvin berubah seketika. Entah kenapa, kalimat yang dilontarkan Darren seakan memberi tamparan menohok baginya. Seakan pria itu tengah memperingatinya secara halus.
.
.
__ADS_1
.