DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 192 : Pernyataan Cinta


__ADS_3

Berbeda dengan Darren dan Karen yang memutuskan menuntaskan hasrat mereka sepulang dari apartemen, Chalvin justru kembali untuk kembali ke tempat pameran untuk menemukan Nadya. Saat bertemu Nadya di depan komidi putar dan hendak membawanya pergi, gadis itu malah menarik diri dan melepaskan tangannya dari genggaman Chalvin. Hal itu tentu membuat Chalvin tersentak serta menoleh ke arahnya.


"Kak Chalvin, Jangan datang cuma buat bolak-balikin perasaan aku!" Hati kecil Nadya menjerit tanpa bisa diutarakan secara langsung.


"Kenapa?" tanya Chalvin melihat penolakan Nadya.


"Kenapa Kak Chalvin datang ke sini lagi?"


"Ya, buat nemuin kamu!"


"Aku mau pulang! Ini udah malam banget!"


Sempat terdiam beberapa detik, Chalvin pun kembali mengambil tangan Nadya sambil berkata, "Kalo gitu aku anterin pulang!"


Nadya justru menepis tangan Chalvin. "Aku bisa pulang sendiri! Lagian, aku enggak enak nempel terus sama Kak Chalvin. Beberapa karyawan Kakak tadi ngira kita punya hubungan. Mereka nanya langsung ke aku," ucapnya sungkan. Sebagai perempuan biasa yang hanya berstatus mahasiswa, disandingkan dengan pria sekelas Chalvin tentu membuatnya rendah diri.


Chalvin mendengus seraya berkacak pinggang. "Oh, iya, istilah apa yang cocok untuk namain hubungan kita, ya?" pikir Chalvin sesaat, "Gimana kalo pacaran?" lanjut Chalvin.


Nadya hanya membalas tatapannya dengan ekspresi bingung.


"Sepertinya itu cocok untuk kita berdua!"


sambungnya lagi dengan santai. "Fix, mulai sekarang kita pacaran!"


Nadya semakin dibuat kebingungan olehnya. Berbanding terbalik dengan beberapa pria, cara Chalvin mengajaknya berpacaran cukup anti mainstream, sangat blak-blakan dan tanpa perlu meminta persetujuan dari gadis itu terlebih dahulu. Tak hanya itu, Chalvin kembali menggenggam tangannya lebih erat dari sebelumnya.


"Karena kamu sekarang udah jadi pacar aku, jadi aku wajib anterin kamu pulang!" ucapnya sambil mengelus rambut Nadya.


"Aku gak suka kayak gini!" Nadya menggeleng-geleng kepala sembari menancapkan pandangan pada pria itu. Bukannya dia menginginkan pernyataan cinta yang romantis, tapi tingkah Chalvin seperti ini justru terkesan menyepelekan perasaannya.


Kini gantian Chalvin yang mengernyit bingung atas ekspresi Nadya yang menunjukkan ketidaksenangan.


"Aku capek karena salah mengartikan sikap Kakak yang selalu memperlakukan aku secara istimewa. Aku capek memiliki rasa cemburu pada orang yang bukan siapa-siapa. Aku capek bertahan dengan rasa sakit yang tanpa alasan. Aku capek berjuang sendiri. Aku capek! Jadi, stop mainin perasaan aku karena hati aku gak bisa tegas untuk menolak semua perlakuan yang Kak Chalvin berikan!" Suara Nadya mendadak terdengar serak. Ia mengusap kasar rambutnya ke belakang. Ia melengos, seraya menggigit punggung jari telunjuknya untuk menahan produksi air matanya.


"Mainin perasaan kamu?" Kening Chalvin turun sebelah. "Apa kamu gak bisa baca kalau perasaanku ke kamu akhir-akhir ini dah jelas banget?"


"Maksud Kakak?" Nadya menatap Chalvin dengan sorot mata yang tak berdaya.


"Mungkin aku telat menyadari kalo kamu tempat ternyaman aku selama ini. Dan sebelum aku lebih telat, aku ingin kamu tahu kalau perasaan kita sama. Gak ada yang bertepuk. Aku suka sama kamu. Aku sayang sama kamu. Aku pun punya perasaan cemburu saat kamu didekati pria lain."


Nadya terperanjat seketika. Ia seakan tak percaya dengan apa yang Chalvin utarakan.


"Bukannya selama ini Kak Chalvin suka sama Karen?" ucapnya pelan dan ragu-ragu.


Chalvin tersenyum simpul. "Aku bukan termasuk pria yang gampang jatuh cinta atau gampang move on. Tapi ... sekali jatuh cinta ... bakal aku perjuangkan dan sekali move on ... bakal aku lupain."

__ADS_1


"Tapi ... aku ... berbeda dengan Karen. Aku gak seideal Karen." Nadya tertunduk. Jantungnya sudah tak aman sejak tadi.


Chalvin menangkup wajah Nadya, memaksa bola mata mereka beradu. "Mulai sekarang berhenti berpikir kalo semua manusia itu harus sama. Aku melihat kamu sebagai Nadya yang aku kenal selama ini, bukan sebagai duplikat atau bayang-bayang seseorang."


Keduanya saling berhadapan dengan mata yang bersirobok. Musik Disney yang mengalun indah di komidi putar seolah menjadi pengiring pernyataan cinta sang pangeran pada cinder lelah.


****


Hari baru penuh harapan telah hadir menggantikan kemarin yang telah menjadi kenangan. Suasana kampus sepagi ini telah ramai dengan aktivitas para mahasiswa. Feril memasuki koridor fakultas sambil membawa tumpukan hardisk berisi kumpulan tugas makalah yang dibuatnya dengan sistem kebut semalam. Pria yang selalu tampil layaknya berandalan kampus itu, kini lebih terlihat rapi dengan kameja hitam polos yang kerahnya sampai di leher. Sambil berjalan, ia kembali mengingat saat dirinya datang menemui Darren kemarin sore.


"Prof, Prof, sebaiknya kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan!" pintanya memelas saat Darren meminta ia dan dua kawannya itu menghadap rektorat untuk mengakui kesalahannya.


"Kekeluargaan? Memangnya saya siapa kalian? Ayah? Om? Atau saudara?"


"Benar, Prof, kita saudara sebangsa dan setanah air. Saya janji mau ngelakuin apa aja untuk Profesor asal Profesor gak memperkarakan dua teman saya."


Darren bergeming sembari menghela napas. "Beneran kamu mau ngelakuin apa aja?"


"Beneran!"


"Tapi ini bukan untuk saya, untuk kamu dan kawan-kawan kamu!"


"Hah?"


Ya, agar tak membawa kasus itu ke rektorat, Darren hanya memberi syarat pada pria tengil itu untuk menjadi mahasiswa yang sebenar-benarnya mahasiswa.


Feril melongo seketika. "Susah amat, Prof, syaratnya!"


"Perubahan memang sulit buat orang yang enggan berubah!" Enggan meladeninya bernego, Darren pun buru-buru masuk ke ruang dosen.


Feril yang merasa keberatan, segera menyusul Darren ke ruang dosen. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar para dosen mempertanyakan perban yang melilit di kepala Darren. Lucunya, jawaban Darren sedikit membuatnya terenyuh. Pasalnya, pria itu menjawab pertanyaan para dosen dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya terjadi. Ia hanya mengatakan luka di kepalanya hanya cedera biasa akibat kelalaian dirinya sendiri dan itu sama sekali tak menyinggung tentang tindakan yang dilakukan dua kawannya.


Feril menutup ingatannya, lalu segera membuka laptop untuk mengirim tugas-tugasnya ke email para dosen.


Di sisi lain, dua pelaku pemukulan Darren yang menjadi bagian dari geng Mahdi itu, tengah risau dan tak tenang. Sejak kemarin, bokong mereka cenat-cenut. Ini semua akibat dari tindakan impulsif yang mereka lakukan. Apa boleh buat, nasi sudah menjadi rengginang. Menyesal, tentu saja. Apalagi, sejak kemarin mereka tak melihat Darren. Kini, mereka hanya bisa berdoa semoga suami Karen itu baik-baik saja dan tentunya pemukulan tersebut tak diusut.


Feril yang baru saja selesai mengirim tugas mingguan ke email para dosen, langsung menghampiri kedua kawannya dan duduk menyelip di antara mereka.


"Eh, lu berdua kenapa? Tampang lu udah kek orang-orang Romusha, rombongan muka susah!" tanya Feril sambil merangkul kedua sobatnya.


"Lu kek gak tahu masalah kita aja! Kita lagi harap-harap cemas, nih, tentang masalah pemukulan," jawab satu di antara mereka.


"Salah kalian sendiri ngatasin masalah dengan masalah baru. Puyeng, kan, lu pada? Mana puyengnya nular ke gua pula! Udah, mending lu berdua minta maaf gih sama tuh dosen!"


"Gila lu! Lu pengen kita bunuh diri?" bersit temannya.

__ADS_1


"Minta maaf berarti ngaku kalo kita pelakunya, Coy!" timpal kawan satunya lagi.


"Lah, iya, emang kalian pelakunya, kan?" cetus Feril, "Tuh profesor pasti tahu elu pelakunya!"


"Gak mungkinlah!" tampik dua kawannya.


"Lu kira tuh dosen bego? Kalo dia bego gak akan jadi dosen, paling juga jadi pengangguran kek kita! Bedewei, si Jamet sama Gimbal dan lainnya pada ke mana?" Feril baru menyadari lebih dari separuh kawan-kawannya hilang dari peredaran.


"Lagi masuk kelas," jawab salah satu dari kawannya.


"Hah? Masuk kelas sepagi ini?" Mulut Feril bengkok ke atas.


"Lu kayak gak tahu aja. Mereka semua kan fans terdepan Bu Marsha. Mereka mana pernah absen di mata kuliah Bu Marsha. Cuma lu doang keknya yang jarang masuk."


"Idih, ngefans sama tante-tante," celetuk Feril sambil mengangkat bibir atasnya.


"Cantik dan bohay gitu lu bilang tante-tante."


"Ya, emang. Biar kata kita fosil di sini, tapi tuaan dia, kan, daripada kita?" cetus Feril kembali.


"Paling juga umurnya baru 30 tahun. Kalo diperhatiin wajahnya mirip Rose loh!"


"Rose brand maksud Lo?" sambar Feril.


"Itu merk tepung, jirr. Maksud gua Rose black pink!"


"Pokoknya di fakultas kita itu, yang cewek-cewek pada ngidolain pak Darren, kalo cowok-cowoknya pada ngidolain Bu Marsha," papar kawan yang satunya lagi.


Mendengar nama Darren disebut, Feril pun teringat kesepakatan yang telah dibuatnya bersama dosen PA-nya itu. "Eh, tunggu, kalo mereka masuk kelas tuh dosen, berarti kita juga kudu masuk dong!"


"Ya, emang! Kan dari awal gua bilang cuma lu doang yang jarang masuk kelasnya tuh dosen. Kita-kita mah rajin!"


"Lah, terus ngapain lu berdua masih di sini?" tanya Feril.


"Hari ini kita gak selera masuk kelas manapun!"


"Gak boleh! Pokoknya kalian harus ikut gua masuk kelas sekarang!" Feril langsung berdiri dan menarik kedua kawannya.


Menjadi dosen muda yang berpenampilan menarik tentu sebuah kelebihan. Seperti halnya Marsha yang tengah menjelaskan materi di hadapan para mahasiswa semester enam. Predikat dosen cantik nan modis telah melekat pada dirinya, meski risiko yang ia hadapi sering mendapat gombalan dari para mahasiswa. Di saat mata kuliahnya telah berlangsung selama tiga puluh menit, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kelas sehingga penjelasannya pun terhenti.


"Apa kalian gak tahu aturan di kelas saya? Dilarang masuk jika terlambat lewat dari lima belas menit!" tegas Marsha sambil membuat gerakan tangan yang mengusir pada dua pria yang berada di depan pintu.


Di waktu yang sama, Feril masuk dengan santai sambil menenteng tasnya. Melihat seorang mahasiswa melenggang masuk tanpa etika, tentu membuat Marsha berang.


"Heh, kamu! Kenapa tetap masuk di kelas saya?!" berang perempuan itu.

__ADS_1


Langkah Feril terhenti. Ia menoleh malas tanpa berbalik sepenuhnya. Melihat wajah pria itu, membuat Marsha terhenyak. Tentu saja ia teringat dengan insiden memalukan saat dirinya mencaci maki Karen di atas gedung fakultas kemarin sore.


__ADS_2