
"Kenapa?" tanya Feril pada Marsha sambil mengangkat dagu.
Melihat wajah Feril, aura gugup sontak terpancar pada wanita yang pernah menjadi kekasih Darren itu. Takut pria itu menyinggung sisi buruknya, Marsha pun berpura-pura menatap gawainya.
"Oh, ternyata jam tangan saya terlalu cepat. Di hp saya jam delapan lewat sepuluh menit. Kalian cuma terlambat sepuluh menit, jadi masih boleh masuk," kata Marsha pada dua kawan Feril yang berdiri di depan pintu.
Seisi kelas pun kompak mengecek ponsel mereka masing-masing hanya untuk memastikan waktu yang seperti baru saja dikatakan Marsha. Mereka Mengernyit heran. Pasalnya, jam telah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit, yang mana Feril dan dua kawannya telah terlambat lebih dari lima belas menit. Namun, Marsha tiba-tiba memberi kebijakan kepada mereka bertiga untuk masuk kelas.
Feril langsung mengambil tempat duduk di barisan para Mahdi yang lebih dulu mengikuti kelas itu.
"Tumben, Ril, lu masuk kelas pas dah telat gini!" celetuk Jamet yang tengah sibuk mengumpulkan upil.
Jamet dan kawan-kawannya semakin terbelalak saat Feril mengambil buku dan pulpen. Hal yang sama sekali tak pernah dia lakukan saat masuk kelas.
Setengah jam kemudian, di saat Marsha masih sibuk memaparkan video pembelajaran dalam bentuk ilustrasi, sebagian mahasiswa malah sudah tak fokus dengan materi yang dibawakan. Ada yang hanya mengorek-ngorek kuping, ada yang menguap berkali-kali dengan kepala yang mulai terantuk, ada yang sibuk menggulir postingan sosial media, bahkan ada yang bermain gim. Mereka semua sudah pasti adalah para geng Mahdi yang tak pernah serius mengikuti mata kuliah apa pun.
"Bal, Lo lagi ngapain? Serius amat!" tanya Jamet yang sedari tadi melihat Gimbal sibuk dengan ponselnya.
"Biasa ... lagi shopping!" Gimbal menunjukkan deretan barang pilihannya yang dimasukkan dalam keranjang dari aplikasi belanja orange.
"Lagak lu shopping. Kek banyak duit aja. Palingan kagak di check out. Tuh keranjang Lo udah 99+!"
"Gua emang kagak niat checkout, Bray!"
"Yaelah, terus ngapain pilih-pilih barang! Kagak ada faedahnya kerjaan Lo!
"Jangan salah! Dari keranjang belanja online kita belajar bahwa, menyukai bukan berarti harus memiliki," balas Gimbal dengan gaya bijak.
Berbanding terbalik dengan mereka semua, Feril justru sibuk menulis apa saja yang dijelaskan oleh Marsha. Ini karena Darren juga memintanya untuk mencatat inti dari setiap materi mata kuliah yang diambilnya, kemudian membuatnya dalam bentuk laporan yang akan diperiksa dosen PA-nya itu. Sayangnya, tangannya yang lamban karena tak terlatih menulis, membuatnya banyak ketinggalan informasi yang disampaikan Marsha.
Marsha terus memaparkan slide per slide presentasi. Para Mahdi lantas berlagak fokus saat dosen muda itu berjalan-jalan mengitari bangku mahasiswa. Langkah Marsha sempat terhenti saat melihat Feril yang sibuk mencatat sambil menggaruk-garuk kepala. Ia pun buru-buru melangkah melewati bangku pria itu. Tampaknya, insiden kemarin membuatnya canggung untuk menatap pria itu. Tepat di belakang tempat duduk Feril, para mahasiswi tengah bergosip tanpa menyadari keberadaan Marsha di belakang mereka.
"Eh, ada gosip besar. Kalian tahu Karen anak semester empat, kan?" bisik salah satu dari mereka.
"Selebgram ibukota yang dinaksir Feril?" Satu orang mengarahkan pandangan pada punggung Feril.
"Iya. Ternyata dia istrinya pak Darren!"
"Masa, sih?" kata mereka tak percaya.
"Iya, aku dengar dari teman sekelasnya. Katanya pak Darren sendiri yang mengakuinya."
__ADS_1
"Jadi benar dong pak Darren dah nikah? Kirain dia pacaran sama Bu Marsha, soalnya Bu marsha kan suka nempel-nempel gitu."
"Terus, Feril tahu gak cewek yang selama ini dikejar malah istri dosen sendiri?"
"Ngeneslah! Padahal dia udah gak pernah pacaran sama siapapun loh sejak ngejar Karen."
Penjelasan Marsha pada materi terhenti seketika. Ia tentu terkejut mengetahui Darren telah mengungkap status pernikahannya pada para mahasiswa. Sementara, kuping Feril terasa panas saat mahasiswi yang bergosip di belakangnya itu ikut membawa-bawa namanya.
Feril mendadak berdiri sambil berbalik ke teman-teman perempuan yang tengah bergosip. "Woi, bisa diam gak!"
Seisi kelas yang pun mendadak hening. Meski di depan kawan-kawannya ia berlagak tak apa-apa, tetap saja hatinya sempat remuk redam mengetahui fakta Karen telah menikah. Apalagi ia telah menghabiskan delapan bulan lamanya hanya untuk mengejar perempuan itu. Bukan waktu yang sebentar, kan?
Kawan-kawan sekelasnya kini melongo pada Feril yang melanjutkan catatannya dengan mata yang berpusat pada layar proyektor.
"Itu Feril abis kejedot apa? Kok tiba-tiba jadi rajin gitu?" tanya salah satu dari anggota Mahdi.
"Kesenggol jin iprit keknya!" timpal lainnya.
"Kagak tahu, dah! Sejak patah hati agak laen emang dia! Jadi aneh!" kata Jamet sambil ikut menatap Feril dengan skeptis, "Jangan-jangan ... dia mau nyaingin pak Darren lagi, makanya auto rajin belajar gini!" duganya dengan mata melotot.
"Gua sih juga mikir gini juga! Jangan-jangan dia masih ngarep sama Karen makanya sok berubah!" sambung yang lain.
"Kita petik hikmah dari perubahannya, Bro! Kalo gak bisa metik hikmah, ya, udah, kita petik aja mangga, rambutan, duren, mumpung lagi musim!" sambung gimbal sambil terus memilih barang belanjaan di aplikasi online.
"Bu! Bu!" panggilnya.
Marsha menoleh pelan. Di waktu yang sama, Feril membuatnya terbelalak bak melihat kehadiran rentenir. Sontak, ia berpura-pura mengabaikan panggilan pria itu seraya mempercepat jalannya. Namun, langkah mendadak terhenti ketika Feril telah berada di hadapannya.
"Bu, saya mau nanya! Inti dari materi yang ibu sampaikan tadi apa sih?" tanyanya sambil memegang buku dan pulpen seolah siap untuk menyalin.
Mendengar itu, Marsha pun terhenyak. "Kamu nanya itu ke saya? Terus selama dua jam di kelas kamu ngapain aja?"
Usai berkata, Marsha malah berlalu meninggalkan pria itu. Feril mendengkus lalu menarik sudut bibirnya.
"Ibu gak ingat yang kemarin sore di atap gedung?" teriak Feril.
Deg! Jantung Marsha terpukul. Wajahnya menggelap seketika.
"Ah, keknya cocok nih kalo saya manggilnya Bu Muna ke Anda. Soalnya ...."
Marsha berjalan cepat ke arah Feril sambil melihat keadaan sekeliling. "Kamu nanya apa tadi?" tanyanya berusaha meladeni pertanyaan Feril sebelumnya.
__ADS_1
***
Setelah menyelesaikan mata kuliah hari ini, Nadya menuju ke lokasi Jakarta fair (PRJ) untuk membantu baristanya yang membuka stand di sana. Karena letak standnya yang searah dan saling berdekatan, ia pun harus melewati stand makeup Belleria lebih dulu. Dari luar, ia bisa melihat Chalvin tengah asyik berfoto dengan selebgram menggunakan kamera ponsel. Bukan hal baru lagi baginya melihat Chalvin begitu dekat dengan para wanita.
Ingatannya pun mundur pada saat pria itu mengutarakan perasaannya semalam. Apakah dengan begitu mereka telah resmi berpacaran? Apakah mereka telah menjadi pasangan kekasih saat ini? Entahlah, semuanya masih seperti semu baginya. Hingga kini, Chalvin pun tidak menghubunginya sekadar menyapa atau menanyakan kabar dirinya lewat ponsel layaknya yang sering dilakukan pasangan pada umumnya. Ia yang kadang berbagi kebahagiaannya pada Karen, kini enggan terburu-buru menceritakan hubungannya bersama Chalvin.
Percintaan dan sudut pandang hubungan asmara ABG yang baru beranjak dewasa dan pria dewasa yang berusia matang tentu berbeda. Anak ABG yang beranjak dewasa menjadikan cinta dan hubungan asmara sebagai hal utama bagi mereka. Sementara pada orang dewasa yang telah matang seperti Chalvin, hubungan asmara tidak lagi membuat mereka menggebu-gebu hingga terlalu berbasa-basi dalam menjalaninya. Apalagi, sebelumnya Chalvin memang terbiasa menjalani hubungan tanpa status.
Nadya memasang apron di badannya dan siap melayani pembeli. Tak lama kemudian, seorang pria datang memesan kopi dingin dan memintanya mengantarkan langsung ke stand Belleria.
"Antar sama bos kami yang kemarin, ya?" pinta pria itu.
Nadya terpegun sesaat. Apakah ini artinya Chalvin diam-diam memantaunya?
Setelah membuatkan racikan kopi, Nadya bergegas menuju ke stand Belleria. Masuk dari arah kanan, membuatnya langsung dapat melihat pria itu. Baru saja hendak menghampirinya, tiba-tiba Chalvin beranjak dari posisi sebelumnya.
"Oma, Oma ngapain ke sini?" Chalvin terkejut melihat kehadiran Oma Belle.
Nadya pun buru-buru bersembunyi di belakang etalase tinggi yang terisi aneka kosmetik.
"Kamu sendiri kenapa jadi rajin stay di sini? Oma gak bakal capek-capek ke sini kalo kamu jawab telepon Oma!"
Chalvin segera merogoh ponsel dan menyadari ada banyak panggilan tak terjawab dari Oma Belle.
"Sorry, Oma, di sini bising banget. Aku juga tadi lagi live bareng seleb tiktok. Ada apa sih Oma?" tanya Chalvin. Dia mulai mengendus bau-bau tak mengenakkan atas kehadiran omanya itu.
Oma Belle lalu merangkul lengan Chalvin sambil senyam-senyum tak jelas. "Gini loh, kamu masih ingat Silvia, gak?"
"Siapa, ya?"
"Itu loh ... anaknya teman karib papa kamu. Yang dulu pernah tinggal di rumah kalian. Sekarang udah gede ternyata! Tadi keluarganya hubungi Oma. Katanya baru tiba di Jakarta dan mau datang bersilaturahmi ke rumah. Jadi, sekalian Oma ajak mereka makan malam di rumah. Kamu juga harus datang ke rumah entar malam!"
Bibir Chalvin mulai mengeriting. Sesuai dugaannya, Oma Belle datang ke sini dengan membawa misi terselubung.
"Aduh, Oma, entar malam kayaknya aku gak bisa!"
"Gak ada tapi-tapian! Silvia pengen ketemu sama kamu. Tadi Oma sempet ketemu dia. Anaknya ayu, kalem, santun, berpendidikan dan pastinya memenuhi kriteria menantu keluarga Bratajaya. Oma yakin kali ini kamu bakal kaget dan terpesona sama dia!"
Obrolan mereka ternyata terdengar oleh Nadya. Gadis itu lantas meletakkan kopi dingin di atas meja etalase kemudian pergi.
.
__ADS_1
.
.