
Chalvin dan Nadya tentu terkejut dengan kehadiran Oma Belle yang bagaikan jaelani alias jelangkung. Apalagi wanita tua itu juga mengikutsertakan Silvia. Sebaliknya, oma Belle pun terperanjat melihat Nadya yang berada di sisi Chalvin.
Nadya justru berpikir Chalvin sengaja membuatnya datang ke sini untuk menghindari Oma Belle dan calon yang akan dijodohkan dengannya. Berkali-kali ia percaya dengan ucapan pria itu, tapi berkali-kali itu juga kepercayaannya seolah terampas.
Jadi ini alasannya suruh aku anterin dia pulang?
"Oma sama Silvia ngapain malam-malam gini ke sini?" tanya Chalvin heran.
"Dari mana aja kamu? Oma dan Silvia dah nunggu dari sejam lalu." Matanya beralih pada motor matik yang berada di belakang mereka. "Pantes aja kamu nelepon supir buat anterin mobil ke sini!"
Nadya tercengang mendengar ucapan Oma Belle. Pasalnya, Chalvin meminta tumpangan karena beralasan supir tak kunjung menjemputnya. Ini semakin memperkuat keyakinannya bahwa lagi-lagi pria itu hanya memperalat dirinya. Tak mau terlibat dengan urusan mereka bertiga, Nadya pun memutuskan untuk segera pergi.
"Oma, aku pulang dulu. Tadi aku cuma diminta tolong kak Chalvin buat anterin dia," ucap Nadya dengan suara sedikit gemetar bercampur takut. Saat hendak berbalik, Chalvin malah menahan lengannya dan menariknya tubuhnya ke sisi pria itu. Pria itu bahkan saling menautkan jemari mereka dan menggenggamnya dengan erat.
Oma Belle menahan geram dengan tindakan Chalvin yang seolah terlihat sengaja. "Nadya, Oma kan sudah ngomong sama kamu kemarin! Oma pikir kamu sudah paham!"
Silvia merangkul Oma Belle sambil menunjukkan wajah sungkan. "Oma, kita pulang aja, yuk!"
"Silvia," panggil Chalvin sesaat, "Oma ngotot mau jodohin kita berdua. Aku gak tahu, ya, kamu punya perasaan ma aku atau gak. Yang jelas, aku gak bisa sama kamu. Seperti yang kamu lihat ... aku udah punya pacar. Kita pernah serumah cukup lama, maka dari itu aku hanya bisa anggap kamu layaknya adik sendiri. Gak lebih!" tegas Chalvin dengan sorot mata penuh keseriusan.
Perkataan Chalvin tentu membuat Oma Belle semakin mendidih. Apalagi, hingga kini Oma Belle masih memercayai kalau hubungan antara Chalvin dan Nadya hanya semu belaka. Untung saja mobil jemputan Oma Belle telah datang, sehingga Silvia langsung mengajak masuk Oma ke dalam mobil.
"Chalvin, jangan kamu kira Oma enggak tahu taktik kamu. Kalo emang kamu beneran serius sama Nadya, lamar dia dalam waktu dekat ini!" tantang Oma Belle sebelum masuk ke mobil.
Begitu masuk ke dalam mobil, Oma Belle menenangkan Silvia. Ia mengatakan bahwa Chalvin tak akan berani menerima tantangannya.
"Tenang aja, mereka itu pura-pura pacaran! Pasti dia dah dapat bocoran dari supir kalo Oma ada di sini, makanya dia bawa cewek itu ke sini," kata Oma Belle dengan penuh keyakinan meskipun hanya berdasarkan asumsinya sendiri.
"Oma, walaupun Chalvin emang gak pacaran sama tuh cewek, tapi bukannya udah jelas dia nolak perjodohan ini," ucap Silvia.
"Darren dulunya juga gitu. Sok-sokan gak mau dijodohin sama istrinya yang sekarang. Tapi lihat, mereka mesra banget, kan? Malah segitunya dia bela istrinya tadi siang!" Oma Belle malah tak berhenti membujuk Silvia agar tak pantang menyerah mendapatkan hati Chalvin.
Silvia hanya bisa bergeming. Meski ia juga tak memiliki perasaan romantis pada Chalvin, tapi penolakan lelaki itu cukup mencederai harga dirinya. Alasan yang membuatnya bersedia dijodohkan adalah untuk memenuhi kehendak orangtuanya demi kelancaran kerja sama bisnis dengan keluarga Bratajaya.
Seperginya Oma Belle dan Silvia, Nadya langsung melepaskan tangannya dari genggaman Chalvin.
__ADS_1
"Kayaknya kita kena batunya, deh. Oma ngeraguin hubungan kita yang sekarang." Chalvin menggaruk-garuk kepala.
Tanpa berkata apa pun, Nadya bergegas membalikkan badannya. Di waktu yang sama, ia tersentak ketika Chalvin tiba-tiba mengangkat tubuhnya lalu mendudukkannya di atas jok motor. Pria itu berdiri tepat di hadapannya dengan kedua tangan yang bertumpu di samping sisi pahanya.
"Aku bakal yakinin Oma. Aku mohon, kamu jangan terpengaruh dengan ucapan Oma. Tolong percaya sama aku!"
Nadya memandang lekat netra Chalvin. Mencoba mencari setitik kebohongan di mata pria itu. Tidak, kali ini Chalvin tampak serius dengan ucapannya. Namun, tetap saja ia ragu untuk mengulang kembali hubungan ini.
"Aku mau pulang dulu," ucap Nadya.
Chalvin menahan Nadya saat hendak menghadap ke arah setir motor. "Kamu belum jawab permintaan aku!"
"Aku harus jawab apa?" tanya Nadya kembali, "jawabannya ada sama Kak Chalvin sendiri. Hanya Kak Chalvin yang tahu." Nadya langsung mengemudikan motornya.
"Besok aku jemput kamu buat makan siang, ya!" teriak Chalvin.
Sejujurnya, Nadya bukanlah tipe wanita idealnya. Ia selalu menerapkan standar yang tinggi untuk wanita yang akan dikencaninya. Namun, ada perasaan nyaman ketika bersama gadis itu yang tidak ditemukan pada wanita lain. Ini karena Nadya seorang pendengar yang baik. Kepada perempuan itu, ia nyaman menceritakan apa pun, termasuk perasaan terlarangnya pada Karen di masa itu. Benar jika ada yang mengatakan rasa nyaman lebih berbahaya daripada sekadar jatuh cinta. Sebab, banyak orang jatuh cinta tapi tidak menemukan kenyamanan pada orang yang mereka cintai.
Setelah kepulangan Oma, Silvia dan Nadya, Chalvin masuk ke apartemennya kemudian mengambil ponsel dan tampak menghubungi seseorang.
Kakek tertawa geli. "Sama. Oma kamu juga pasti udah muak banyak kali di-prank sama kamu. Kenalin cewek ke rumah, tapi gak ada satu pun yang dinikahin. Jadi kamu gak mau sama Silvia?"
"Enggaklah, Kakek tahu sendiri, kan, aku udah punya pacar!"
"Emang beneran kamu pacaran sama dia? Oma kamu gak percaya, tuh! Katanya itu cuma akal-akalan kamu."
"Kali ini aku beneran serius sama Nadya, Kek."
"Kenapa gak coba bilang langsung sama Oma kamu."
"Kakek kayak gak tahu Oma aja. Kenapa sih orangtua Indonesia kebanyakan itu gak bisa menghargai anak sebagai individu yang berbeda dengan mereka?"
"Bukan gak bisa menghargai. Tapi bagi orangtua kebanyakan, kebahagiaan mereka itu hanya sesederhana melihat anak cucu mereka duduk di pelaminan. Bagi kami yang sudah jadi Kakek nenek, kebahagiaan kami sebatas mendengar suara keributan cucu dan cicit. Tapi untuk Kakek sendiri, gak menekan kamu jika memang kamu belum bersedia menikah." Kakek mencoba menyikapi keluhan Chalvin dengan sudut pandang netral.
"Aku memang mau nikah, Kek. Tapi tidak dengan cara didesak kayak gini. Tidak dengan cara dijodohin juga. Aku berhak nentuin sendiri siapa yang cocok jadi pendamping hidupku nanti."
__ADS_1
"Iya, entar kakek coba ngomong sama Oma kamu." Di penghujung telepon, kakek memberi nasihat pada cucunya yang terkenal playboy itu. "Chalvin, ujung tombak dari sebuah jalinan asmara adalah pernikahan. Kalo kamu serius sama pacar kamu yang sekarang, datangi orangtuanya baik-baik dan lamar dia."
Chalvin tertegun sesaat. Sebagai pria yang hidup bebas selama bertahun-tahun, tentu tak semudah itu untuk memutuskan menikah. Menjalin asmara dengan satu perempuan sudah merupakan kemajuan terbesar baginya setelah selama ini hanya menjalin hubungan tanpa status dengan beberapa wanita sekaligus.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Karen tengah mengatur tempat tidur, sementara Darren hendak ke dapur untuk mengambil air mineral yang akan diletakkan di pinggir tempat tidur Karen. Sejak hamil, istrinya itu sering terbangun karena haus.
Baru saja memasuki dapur, pandangan Darren langsung tertuju pada Silvia yang sedang duduk diam di depan meja makan. Ia lantas menegur perempuan itu.
"Udah pulang dari apartemen Chalvin?" tanyanya sambil mengambil air dari dispenser.
"Udah, tadi." Silvia tampak malas membicarakan itu.
"Oh ... aku masuk dulu, ya!" ucap Darren sambil mengangkat botol minum.
"Darren, bisa ngobrol sebentar, gak?"
Kaki Darren tertahan saat Silvia memanggilnya. Ia lantas mengangguk dan langsung menarik kursi di samping perempuan itu.
Ternyata Silvia menceritakan kejadian tak mengenakkan di apartemen Chalvin tadi. Rupanya, ia sedikit kesal dengan pernyataan Chalvin. Ia merasa pria itu seperti menolaknya mentah-mentah. Tampaknya kali ini Chalvin kembali berhasil membuat calon wanita yang akan dijodohkan dengannya, mundur secara sukarela seperti yang sudah-sudah.
Mendengar curhatan Silvia, Darren mencoba menanggapinya lewat sudut pandang Chalvin. "Oma kan dulu sayang banget ma kamu karena di keluarga kita gak ada anak perempuan. Terus, Oma nyuruh kamu tinggal di rumah ortu Chalvin, supaya bisa mancing kelahiran anak perempuan. Mungkin itu yang bikin Chalvin menolak dijodohin sama kamu. Dia merasa kalian berdua sudah seperti saudara."
"Aku tahu itu. Aku pun sebenarnya ragu pas Oma mau jodohin aku sama Chalvin. Tapi saat Chalvin nolak perjodohan ini, gak tahu kenapa aku kesal banget. Aku kesal bukan karena dia gak mau sama aku, tapi karena omongannya yang terlalu blak-blakan, mana ngomong langsung di depan Oma dan pacarnya. Kamu ngerti, kan, apa yang aku rasain?"
"Aku juga pernah ada di posisi kamu, kok. Waktu itu, aku sama Karen masih tahap perkenalan. Tapi setiap kami mau dipertemukan, ada aja alasan Karen untuk menolak datang. Bahkan saat kami datang ke rumahnya, dia malah kabur. Meskipun waktu itu aku juga nolak dijodohin, tetap aja aku kesal sama kelakuan dia yang kaya gitu." Darren tersenyum saat mengenang masa-masa perjodohannya dengan Karen.
"Kenapa waktu itu gak aku aja yang dijodohin sama kamu?" Ucapan itu keluar dari mulut Silvia tanpa sadar.
.
.
.
__ADS_1