DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 205 : Ini Oma atau Cobaan?


__ADS_3

Setelah kepergian Marsha yang membuat gerombolan Mahdi terpinga-pinga, kawan-kawan Feril itu lantas menghampirinya. Bak wartawan yang meminta klarifikasi sang artis, mereka pun mempertanyakan hubungan antara dirinya dan Marsha.


"Ril, ada hubungan apa elu sama tuh dosen? Kok bisa barengan ada di sini. Sembunyi dari kita-kita lagi!" sergah kawan-kawannya.


Feril tak menjawab. Dia malah tersenyum sembari mengangkat dagunya dengan sombong. Sebab, kawan-kawannya tampak kebakaran jenggot melihat kebersamaanya dengan dosen idola mereka itu. Senyum itu malah salah diartikan oleh mereka. Ini membuat mereka menyangka jika Feril dan Marsha diam-diam memiliki hubungan.


"Toge lu gak bilang-bilang sama kita!" Salah satu dari mereka mendorong bahunya.


"Pantes aja akhir-akhir ini lu agak laen. Sering ngilang dari kita-kita," tandas lainnya.


"Ril, lu sama tuh ibu tadi lagi eheman, kan? Ngaku lo!" tanya Jamet sambil mempertemukan telunjuk kiri dan kanannya dengan mulut yang monyong ke depan.


"Bacotan lo dah kek gerbong neraka tahu!" Feril memelintir mulut Jamet yang maju ke depan. "Sebenarnya gua pengen ngejelasin ke kalian. Cuma masalahnya otak lu lu pada tuh masih kek windows 98, takutnya sulit buat kalian mencerna penjelasan gua."


Ia lantas mengemas barang-barangnya lalu pergi dengan meninggalkan setumpuk pertanyaan di kepala teman-temannya.


"Udah ... percuma kita tanyain ke dia langsung soal hubungan mereka,"kata Gimbal setelah kepergian Feril.


"Keren juga si Feril. Gak dapat adik tingkat, malah dapat spek dosen. Bu Marsha lagi!"


"Tapi kok rada-rada di luar nurul, ya? Soalnya Feril kan kagak suka sama cewek yang lebih tua. Bu Marsha juga kagak mungkin naksir anak badung kek Feril," pikir Jamet seraya mengelus dagunya yang ditumbuhi tiga helai janggut.


Di ruang dosen, karena sudah waktunya untuk makan siang, Darren membuka kotak bekal dari Silvia. Darren mengambil ponsel bermaksud menghubungi Karen untuk menanyakan apakah dia sudah makan siang. Tiba-tiba Pak Budi Luhur datang menghampiri meja kerjanya.


"Wuh, Pak Darren tumben bawa bekal dari rumah. Biasanya kan pesan catering harian."


"Eh, Bapak, mari makan, Pak!" Darren menawarkan.


"Silakan ... silakan!" Pak Budi Luhur meminta untuk tak sungkan padanya. Ia lalu menyerahkan sebuah surat resmi pada Darren. "Ini ada undangan table manner dari prodi hubungan internasional besok malam. Datang, ya, jangan lupa bawa istrimu," pinta pria yang menjabat sebagai dekan ekonomi.

__ADS_1


Darren hanya tersenyum kecil saat pak Budi Luhur memintanya untuk membawa Karen.


"Gini, loh, bagi seorang istri, ada yg lebih penting dari sekadar finansial, saya rasa semua wanita ingin diakui keberadaannya. Sudah saatnya kamu memperkenalkan istri kamu pada sesama rekan dosen."


"Iya, Pak."


Saran dari pak Budi Luhur rupanya diterima baik oleh Darren. Ia pikir Sudah saatnya rekan-rekan dosen di universitas ini mengetahui kalau Karen adalah istrinya. Juga untuk menangkal desas-desus yang beredar selama ini tentang istrinya.


"Oh, iya ...." Pak budi Luhur yang hendak menuju meja kerjanya kembali berbalik ke arah Darren. "Ini tentang Feril. Dengar-dengar, dia udah mulai berubah begitu dalam perwalianmu. Tingkatkan, usahakan anak itu tidak kumat lagi buat bikin kegaduhan."


Darren tampak tersentak. Benarkah Feril sudah berubah? Meski begitu, ia berharap Feril sungguh-sungguh niat berubah untuk dirinya sendiri, bukan karena takut pada ancamannya.


Sementara itu, yang baru saja pulang dari Cafe Nadya, datang mencari Darren di ruang dosen. Suasana hatinya mendadak berubah melihat suaminya tengah menyantap bekal Silvia dengan begitu lahap. Sejenak, ia melarikan ingatan pada pembicaraan Vera di kafe tadi tentang orang ketiga yang pandai membaca kekurangan pasangan dari lelaki yang akan menjadi targetnya. Dalam hal ini, Karen mengakui Silvia telah berhasil memenangkan hati oma Belle lewat masakan. Akankah Darren juga seperti itu?


Karen memutuskan pergi sebelum Darren melihatnya. Baru beberapa langkah, ponselnya mendadak berdering. Ternyata Darren yang meneleponnya.


"Udah," jawab Karen seadanya.


"Masih ada mata kuliah, gak?"


"Udah enggak."


"Kalo gitu ... ngemall, yuk!"


"Hah?" Mata Karen terbuntang. Pasalnya, ini pertama kalinya Darren mengajaknya berbelanja.


"Iya. Kita cari gaun yang pas buat kamu untuk acara table manner kampus besok malam. Kamu kan lagi hamil sekarang, jadi harus cari busana yang menyesuaikan dan nyaman kalo dipakai."


"Darren ... kamu mau ajakin aku ke acara kampus?" tanya karen pelan dengan nada tak percaya.

__ADS_1


"Iya ...."


"Gimana kalo mereka ...."


"Ssttt ...," potong Darren, "Apanya yang gimana? Sudah saatnya memperkenalkan kamu sebagai Nyoya Darren William Bratajaya," ucapnya tanpa keraguan.


Semburat merah samar lantas terpancar di pipi perempuan yang sedang hamil itu. Ini mejadi hal yang paling dinantikan sekaligus mendebarkan.


Di sis lain, Chalvin yang baru saja keluar dari ruang rapat, dihampiri oleh sekretarisnya yang mengatakan jika oma Belle tengah menunggunya di lantai bawah. Sekretarisnya juga memberi tahu jika oma Belle datang bersama seorang wanita yang dideklarasikan sebagai calon istri pria itu pada para karyawan. Mengetahui hal tersebut, Chalvin pun mendengkus sembari mengomel.


"Ini oma atau cobaan, sih! Punya Oma kok semena-mena gini!" gerutu Chalvin sambil menyibak rambut depannya ke atas, "bilang aja aku udah pergi!" perintahnya pada sang sekretaris.


"Yah, telat, udah terlanjur bilang kamu masih rapat. Bu Belleria nungguin kamu, tuh! Mau kabur pun gak guna karena dia ada di lantai bawah."


Chalvin mengacak-acak rambutnya karena geram. Di waktu yang sama, pandangannya terarah pada seorang office boy yang sedang membersihkan lantai. Ia tersenyum licik begitu mendapatkan sebuah ide konyol.


Ternyata memang benar yang dikatakan sekretaris Chalvin. Di lantai dasar perusahaan, oma Belle telah memperkenalkan Silvia sebagai calon istri Chalvin pada kepala-kepala staf. Diperkenalkan sebagai calon istri dari salah satu pewaris perusahaan kosmetik terbesar, siapa yang mau menolak. Wajar jika Silvia tetap mau dijodohkan meski sudah mendapatkan penolakan dari Chalvin. Tak hanya pandai mengambil hati oma Belle, ia juga mampu membuat para staf terkesima padanya.


Kepala staf bidang humas yang juga merupakan mata-mata oma Belle di perusahaan itu lantas berkata, "Syukurlah! Pak Chalvin gak jadi sama yang waktu itu. Soalnya saya juga kurang setuju, Madam. Selain karena masih kelihatan bocil dan gak setara dengan Pak Chalvin, saya pernah dengar dia ngobrol sama salah satu pegawai magang di sini.Ternyata dia pernah pacaran sama tuh anak magang. Dan dari obrolan mereka yang saya dengar, kayaknya tuh cewek gak beres, Madam. Si anak magang itu sampai-sampai ungkit-ungkit soal skidipapap di kos-kosan!" celoteh mata-mata oma Belle dengan gaya ngerumpi ala emak-emak kompleks yang julid.


"Ski ...ski ... apa itu?" Oma Belle kesulitan mengulang kata yang diucapkan mata-matanya.


"Aduh Madam ... itu bahasa gaul! Maksudnya itu ... nina-ninuuu," balasnya.


"Nina-ninuu itu siapa? Nama orang, ya?" Oma Belle semakin tak mengerti dengan istilah-istilah aneh yang baru didengarnya.


"Sini saya bisikin aja!" Pria berperawakan wanita itu lantas berbisik di telinga oma Belle.


Oma Belle tercengang seketika. Tentu saja yang dimaksud pria bermulut lemes itu adalah Nadya. Pasalnya, ia memang pernah tak sengaja mendengar obrolan Farel dan Nadya. Apalagi waktu itu Farel mengungkit soal gaya berpacaran mereka yang terbilang bebas.

__ADS_1


__ADS_2