
Setelah Chalvin mendeklarasikan kepindahannya, Oma Belle tentu tak diam saja. Ia yang sempat tak mengurusi percintaan Chalvin karena kehamilan Karen, kini mulai berencana untuk kembali mencarikan jodoh cucunya itu. Berada di sebuah restoran elit kawasan Jakarta pusat, ia pun menelepon Chalvin agar datang menjemputnya sebagai modus untuk memperkenalkan dengan wanita baru yang menjadi pilihannya.
"Nak, Amel, tunggu, ya, sebentar lagi cucu Oma bakal datang. Kamu pasti suka dan langsung minta dinikahi begitu lihat dia nanti. Apalagi kalian sama-sama cocok! Sama-sama pengusaha muda lulusan luar negeri. Oma yakin, dia gak berkutik pas lihat kamu," ucap Oma Belle di depan gadis baru yang akan dijodohkan dengan Chalvin.
"Aku udah sering lihat Chalvin kok, Oma. Pernah baca wawancaranya di tabloid bisnis Singapura juga. Dia sesuai tipe aku banget. Makanya pas mama bilang aku mau dikenalin sama dia, aku langsung datang ke sini. Lagian, aku emang cari pria yang lama tinggal di luar negeri. Soalnya, pria-pria Indonesia asli masih banyak yang kolot dan patriarki. Kalo Chalvin, aku rasa dia punya pikiran terbuka dari pria indo kebanyakan," ucap gadis itu dengan menggebu-gebu.
"Itu sudah pasti!" kata Oma Belle dengan nada meyakinkan.
Tak lama kemudian, Chalvin pun tiba di restoran tersebut. Melihat Omanya yang duduk bersama dengan seorang gadis muda, ia pun bisa menebak maksud perempuan tua itu memintanya datang ke tempat ini. Ia hanya bisa mendengus dan memutuskan segera pergi untuk menghindar. Sialnya, Oma Belle lebih dulu memanggilnya ketika ia baru saja hendak berbalik.
"Chalvin!"
Chalvin menoleh kaku dengan wajah yang masam.
"Sini! Ayo ke sini dulu!" panggil Oma dengan suara yang terdengar keras sehingga pengunjung lainnya ikut menatap ke arahnya.
Tak bisa melarikan diri, apa boleh buat ia pun menghampiri Oma dan gadis muda itu.
"Oma, katanya mau dijemput pulang?"
"Kamu ini, duduk sini dulu dong. Kenalan sama cucu teman Oma yang baru pulang dari Jerman.
Chalvin dan perempuan itu saling bertatapan sambil berjabat tangan dan memperkenalkan diri masing-masing. Kali ini, tak ada yang salah dengan gadis pilihan Oma dibanding yang sebelum-sebelumnya. Penampilan gadis itu begitu modis mewakili wanita karir masa kini.
"Gimana menurut kamu? Cantik, gak?" tanya Oma Belle pada Chalvin.
"Cantik," jawab Chalvin singkat.
"Tuh, kamu dipuji cantik! Kan Oma gak salah bilang kalo Chalvin bakal terpesona sama kecantikan kamu." ucap Oma Belle pada gadis tersebut sehingga membuat gadis itu senyam-senyum tak jelas.
"Ya, semua cewek emang cantik, kan, gak ada yang ganteng!" gumam Chalvin dengan suara yang amat kecil, tapi terdengar oleh Oma Belle dan juga gadis itu.
"Chalvin cuma bercanda. Cucu Oma yang satu ini memang punya selera humor." Oma Belle melempar senyum ke arah gadis itu, tapi di waktu yang sama juga menyikut Chalvin yang berada di sampingnya.
"Gak papa kok, Oma. Lagian aku juga bukan cewek yang baperan," jawab gadis itu sambil kembali melempar tatapan ke arah Chalvin.
"Kalian berdua ini kalau Oma terawang, sangat cocok untuk jadi pasangan. Gimana kalo menurut kalian? Gak mau coba dekat dulu?" ucap Oma Belle yang mulai menjadi Nek Jomblang.
__ADS_1
"Aku sih terserah aja. Mau dijodohin pun gak keberatan," balas gadis itu.
"Aku juga!" jawab Chalvin.
Jawaban tak terduga Chalvin tentu membuat Oma Belle terkejut tak menyangka sekaligus merasa senang dan bahagia di waktu yang sama.
"Kamu juga bersedia nikah sama dia?" tanya Oma Belle memastikan kembali.
Chalvin mengangguk. "Kalo itu jadi keinginan Oma, aku ikut-ikut aja!" jawabnya santai.
Hati Oma Belle sontak bagai pekarangan bunga yang dipenuhi kupu-kupu. Ia benar-benar tak menyangka akan semudah ini membuat Chalvin tunduk seperti ini.
"Kalo gitu ... sepertinya kita butuh pertemuan dua keluarga besar. Kamu harus kasih tahu orangtua kamu kalo kami bakal datang berkunjung ke rumah," ucap Oma Belle penuh semangat pada gadis itu.
"Tenang aja, Oma. Habis ini aku bakal langsung kasih tahu papi sama mami aku. Mereka pasti surprised banget dengernya."
Chalvin menoleh ke arah gadis itu sambil berkata dengan kedua tangan yang bersedekap, "Sebelumnya, kamu harus tahu dulu tentang aku. Aku anak tunggal. Ayah ibuku memutuskan menetap di Thailand sekaligus membuka anak bisnis perusahaan kami. Di keluarga Bratajaya, aku cuma punya satu sepupu yang juga merupakan anak tunggal dari pamanku. Jadi, saat menikah nanti, aku ingin memiliki paling sedikit tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Semakin banyak anak, semakin baik. Bukan begitu, Oma?"
Mata gadis itu terbelalak seketika mendengar permintaan Chalvin secara blak-blakan perihal soal keturunan. Sementara Oma Belle buru-buru menjelaskan maksud cucunya itu.
"Chalvin memang suka sama anak-anak. Tapi, perihal keturunan masih bisa kalian bicarakan kalo nanti sudah menikah. Mau berapa pun, yang penting kalian sanggup," tutur Oma Belle dengan lemah lembut.
"Oh, iya. Aku tidak suka istri yang bekerja maupun berkarir setelah menikah. Jadi, aku harap kamu mau lepas karir kamu dan fokus jadi ibu rumah tangga."
"Apa? Jadi ibu rumah tangga?" Gadis itu terperanjat.
"Jangan khawatir, kamu bakal diratukan sama cucu Oma. Iya, kan?" Oma Belle menoleh ke arah Chalvin dengan mata melotot dan rahang yang mengetat.
"Ta–tapi Oma ... aku ini lulusan luar negeri, loh!" Gadis itu mulai menunjukkan sikap keberatan.
"Selain itu ...." Chalvin menyambung kembali ucapannya, "karena Oma didik aku dari kecil supaya jadi orang yang mandiri dan hemat, maka ketika nikah nanti aku gak mau pakai jasa Asisten Rumah Tangga karena hanya akan membuat banyak pengeluaran Rumah Tangga. Termasuk memakai jasa baby sitter ketika punya anak nanti. Aku mau kamu bisa jadi istri yang mandiri sekaligus ibu yang full time bagi anak kita."
Gadis itu malah semakin melebarkan mata mendengar pernyataan Chalvin.
"Oh, ada yang kelupaan! Sebelum menikah, kita harus bikin surat perjanjian pra nikah yang salah satunya harus menyepakati uang suami adalah milik suami dan uang istri adalah milik istri. Suami tidak bertanggung jawab membayar cicilan maupun kredit atas nama istri," sambung Chalvin yang tak henti-hentinya membuat gadis pilihan omanya termegap-megap.
"Chalvin, kamu ini apa-apaan, sih!" tegur Oma Belle yang menampakkan raut tak enak.
__ADS_1
"Oma, aku hanya ingin mempraktekkan sifat hemat dan waspada yang Oma ajarkan padaku sejak kecil!"
Oma Belle kembali menatap gadis itu sambil menyengir. "Semua itu masih bisa kalian bicarakan kembali. Oh, iya, omong-omong kapan kira-kira Oma sama Chalvin bisa datang ke rumah?"
Sambil menunjukkan raut malas, wanita itu mendadak berubah pikiran. "Duh, sorry, Oma. Kayaknya soal perjodohan ini mesti aku pikirkan lagi, deh! Menikah gak boleh terburu-buru, kan?"
"Loh, kok gitu. Bukannya tadi kamu bilang gak keberatan?" protes Oma Belle. Ia semakin terkejut ketika gadis itu berdiri dan menenteng tasnya seolah bersiap-siap pergi. "Eh, eh, mau kemana? Kita kan masih ngobrol."
"Maaf, Oma. Aku baru ingat, masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Maaf banget, nih. Aku tinggal duluan, ya?"
Dengan enteng, Chalvin menjawab, "Gak papa. Silakan!" Ia malah membuka sebelah tangan seolah mempersilakan gadis itu pergi.
Setelah gadis itu pergi, Chalvin harus menerima amukan dari Oma Belle yang langsung menghajarnya dengan tas jinjing.
"Kamu sengaja, kan, bikin tuh cewek ilfeel sama kamu," geram Oma yang terus menyerangnya.
"Oma, apaan sih?" Chalvin berusaha menepis kibasan tas jinjing milik Oma Belle. "Salah sendiri pake cara lama kek gini. Kan berapa kali coba aku bilang gak mau nikah!"
"Terus kamu mau melajang sampai tua, gitu?"
"Ya, enggak juga."
"Kalo gitu kenapa gak cari jodoh? Kamu pikir kamu masih usia dua puluhan?"
"Ya, sabar aja. Mungkin jodoh aku masih pacaran sama orang lain. Masih sibuk bucinin pria lain. Ya, positif thinking aja. Jodoh gak bakal ke mana-mana."
"Jodoh emang gak ke mana-mana, tapi saingan itu ada di mana-mana. Kaya balapan, kalo gak cepet ya bakalan ketikung. Makanya jodoh itu butuh dijemput juga!"
"Kali aja jodoh aku emang belom lahir. Kan sekarang lagi tren tuh nikah yang jarak usianya puluhan tahun," elak Chalvin.
"Ini salah kamu sendiri! Sudah nemu yang baik-baik kayak Nadya, eh malah putus!" gerutu Oma Belle.
Ucapan Oma Belle lantas membuat Chalvin terdiam. Ini membuatnya kembali teringat saat Nadya mengungkapkan isi hati di saat ia tak menyadari perasaan gadis itu padanya.
.
.
__ADS_1
.