DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 155 : Kegalauan Chalvin


__ADS_3

Kutipan yang sedang marak di media sosial mengatakan "Hidup jangan seperti lato-lato yang terus berduaan, tapi hanya untuk dipermainkan". Mungkin, ini yang sedang diterapkan Nadya sekarang. Tak ingin lagi mengerdilkan diri dengan membiarkan orang menganggapnya hanya sebagai mainan. Ia sadar jika terus pasrah menjadi permainan, pasti ada waktu di mana yang memainkannya akan bosan dan berhenti.


Berbanding terbalik dengan Chalvin, pria itu justru masih syok dengan pernyataan jujur yang Nadya lontarkan. Sudah semalam ini, Chalvin bukannya langsung pulang ke rumah, malah menuju ke arah kos-kosan Nadya. Entah kenapa, hatinya tak bisa tenang sejak siang tadi. Ada semacam perasaan bersalah yang mengintai karena membuat gadis itu menangis karenanya. Selama ini, ia memang menghindari hubungan yang serius dengan para wanita karena tak ingin berada di posisi tersakiti atau pun menyakiti.


Ia berjalan menyusuri area gang sempit yang menjadi akses masuk kos-kosan Nadya. Jujur, ia tak pernah masuk ke tempat ini. Ia pun tak mengerti dengan langkah kakinya yang telah membawanya ke tempat asing ini. Semalam ini pula. Selama berhubungan dengan gadis itu, pria itu mengantarnya hanya sebatas depan gang saja. Akibatnya, ia tak tahu pasti di mana tempat tinggal gadis itu. Ia sampai harus bertanya pada beberapa orang yang berlalu lalang di sana. Sayangnya, tak ada yang mengenal mahasiswi asal Bogor tersebut.


Mata Chalvin lalu tertuju pada rumah petak bernuansa orange. Berpikir mungkin tempat itu adalah kos-kosan yang ditinggali Nadya, Chalvin pun menuju ke sana. Ia kemudian bertanya pada salah satu penghuni kos-kosan yang tengah nongkrong di teras.


"Permisi, Mba kenal Nadya, gak?"


"Nadya ... yang masih mahasiswa itu?"


"Iya ... iya!" Chalvin mengangguk cepat, "kalo boleh tahu, dia nge-kos di mana, ya?"


"Tuh, di sebelah!" Orang itu menunjuk petakan samping tempatnya. "Tapi ... keknya dia belom pulang kerja."


"Makasih, Mba." Chalvin lalu beranjak ke tempat yang ditinggali Nadya. Dari pintu yang tergembok, jelas saja kalau gadis berlesung pipi itu belum pulang. Namun, bukankah ini sudah cukup larut?


Chalvin pun menyadari selama ini ia tak pernah berusaha bertanya dan mencari tahu apa pun tentang gadis itu. Seperti letak kos-kosannya dan jam pulang kerja Nadya sehingga ia tampak kesulitan seperti saat ini.


Chalvin mencoba menghubungi Nadya. Sayangnya, panggilan masih belum tersambung sejak tadi siang. Ia pun mencoba menunggu dengan berdiri diam di depan kos itu. Kurang lebih satu jam berada di sana dengan posisi yang mati gaya membuatnya tak betah. Ia pun berniat menyusul gadis itu ke tempat kerja yang sebenarnya tak jauh dari lokasi kos-kosan itu.


Berjalan terburu-buru menuju depan gang, ia kembali mengambil ponselnya bermaksud menghubungi Nadya lagi. Tiba-tiba sebuah motor menyambarnya dan mengambil paksa ponsel di tangannya tanpa bisa diantisipasi terlebih dahulu.


"Eh, ponsel gua lu curi! Balikin, woi! Kalo mau duit minta baik-baik, sini!" teriak Chalvin kalang kabut.


Chalvin berusaha mengejar kawanan begal yang mengambil ponselnya. Naas, Keadaan gang yang begitu gelap dan sempit membuat sebelah kakinya malah masuk ke dalam selokan. Seolah mendapatkan kesialan beruntun, sepatu pantofel yang begitu mahal kini penuh lumpur dan lumut. Tangannya spontan menutup hidung karena tak tahan dengan aroma tak sedap yang langsung menyeruak.


"Sial!" umpatnya dengan tampilan wajah masam. Untung saja ponsel yang dijambret itu bukan untuk urusan bisnis melainkan hanya sarana berkomunikasi dengan para FWB-nya.


Chalvin mendadak tertegun. Apakah ini tempat yang Nadya lewati sehari-hari? Bukankah daerah ini terlalu berbahaya untuk gadis sepertinya? Apalagi gadis itu selalu pulang kerja di malam yang selarut ini. Bahkan, beberapa kali ia juga mengantarnya pulang di jam rawan seperti ini setelah gadis itu selesai memerankan pasangan kekasih di hadapan Omanya.

__ADS_1


Akhirnya, Chalvin pun menyerah dan memutuskan pulang ke rumah. Ia sudah meminta salah satu karyawannya untuk membantu melacak ponselnya yang hilang. Sesampainya di rumah, ia menghela napas sesaat sambil melihat ke arah kamar Darren dan Karen yang harus lebih dulu dilewatinya sebelum masuk ke kamarnya sendiri.


***


Tak terasa satu hari terlewati begitu saja. Seperti biasa, keluarga Bratajaya diharuskan bangun pagi buta untuk memulai aktifitas mereka. Oma Belle tengah memantau Sheila yang bertugas bersih-bersih di area sekitar teras dan pekarangan samping.


"Nyapu yang bener, jangan asal-asal!" tegur Oma belle. "Kalo nyapunya enggak bersih nanti dapat jodoh yang berewokan! Mau kamu?"


"Dapat jodoh berewokan kalo sekelas Zayn Malik, gak papa Oma. Lagian ngapain juga sih disuruh nyapu dan beres-beres tiap hari kalo ada ART!" omel Sheila.


"Ini namanya skill hidup. Salah satu bekal kalo kamu dah nikah nanti."


"Kalo dah nikah, ya, tinggal suruh ART-lah! Ribet banget, sih!"


"Ya, kalo kamu dapat suami orang kaya, kalo miskin, pengangguran dan cuma numpang hidup, gimana?"


"Makanya carinya sama yang kaya dong, Oma! Kayak Oma yang dapatin kakek, kak Karen yang dapatin kak Darren."


"Berarti berlaku juga untuk calon aku nanti dong, Oma. Kalo dia dah cinta aku, gak peduli kalo aku gak tahu nyapu atau masak, ya ... tetap cinta." Sheila kembali menampik perkataan Oma Belle.


"Cinta memang buta, tapi mertuamu enggak! Jadi, gak usah kebanyakan ngeles. Cepat kerja yang bener! Heran sama anak-anak jaman sekarang, kok males gerak. Tubuhnya kebanyakan diperam kayak mangga muda," celoteh Oma Belle sambil menggeleng-geleng kepala.


Di waktu yang sama, Chalvin dan Darren baru saja selesai jogging di pekarangan rumah mereka. Mereka lalu masuk ke rumah untuk bersiap-siap mandi. Berbeda dengan Darren yang langsung ke kamar, Chalvin malah ke ruangan kakek Aswono untuk melaporkan pekerjaan pabrik yang sekarang berada dalam pengawasannya.


Setelah mengobrol tentang kemajuan produksi produk mereka selama hampir satu jam, Chalvin pun pamit keluar untuk bersiap-siap ke kantor.


"Eh, Chalvin, jadi kamu beneran putus sama cewek yang sering kamu bawa ke rumah itu?" Kakek Aswono tiba-tiba melayangkan pertanyaan ketika Chalvin hendak keluar.


Chalvin terdiam sebentar, lalu menjawab, "Iya, kek."


"Chalvin!" panggil kakek lagi.

__ADS_1


"Ya, Kakek!" Chalvin berbalik cepat di saat ia hendak membuka pintu.


"Pilihlah yang kamu cintai dan cintailah yang kamu pilih! Semoga kamu paham."


Chalvin tersenyum kecut. "Ngomong sih gampang, kek."


"Bener, itu! Ngomong emang gampang. Makanya kakek ngomong sama kamu, gak nyanyi!" tandas kakek.


Sama halnya dengan orang-orang yang kembali beraktivitas, Chalvin pun sudah mendatangi kantor perusahaan. Melangkah penuh percaya diri, ia mendapat sapaan dari beberapa karyawan yang ditemuinya. Pria itu memasuki lift eksklusif lalu menekan tombol lantai menuju ruangannya. Begitu pintu lift hampir tertutup, secara tiba-tiba Karen menyeruduk masuk.


"Karen?" Chalvin terperanjat melihat sepupu iparnya itu. Pasalnya, beberapa hari ini ia sengaja menghindari pertemuan mereka di kantor untuk meredam gosip yang sempat merebak.


"Kamu beneran putus sama Nadya?"


Chalvin mengangguk kecil.


"Kamu kok jahat banget, sih!" Karen menolak bahu kiri Chalvin dengan kesal. Ia memang ingin berbicara dengan pria itu bahkan sejak sarapan bersama di rumah. Perempuan muda itu seolah mengabaikan nasihat suaminya yang memintanya untuk tak mencampuri masalah yang terjadi antara Chalvin dan Nadya.


"Aku jahat apa emang? Putus nyambung dalam hubungan itu biasa!" jawab Chalvin berusaha menyembunyikan apa yang terjadi di antara dirinya dan Nadya. Termasuk hubungan mereka yang hanya palsu semata.


"Nadya itu baik dan tulus. Tapi sayangnya dia harus ketemu orang yang belum bisa menghargai perasaannya kayak kamu!" ketus Karen dengan wajah penuh kecewa.


Chalvin menoleh pelan ke arah Karen. Pria itu lalu berjalan pelan ke arahnya sambil berkata lambat-lambat, "Perasaan itu gak bisa dipaksa! Kalo gua bilang gua suka sama lo, apakah lo bakal suka balik ke gua? Kalo gua bilang gua dah lama mendam perasaan ke lo, terus lo bakal balas perasaan gua?"


Karen terdiam seketika sambil menampakkan wajah yang masam. Ia bahkan hanya bisa tersudut seperti tikus saat Chalvin terus melangkah maju menghampirinya.


"Enggak, kan?" lanjut Chalvin sambil mengunci tatapannya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2