DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Ch. 140 : Teguran Kakek


__ADS_3

Menanggapi pertanyaan Karen tentang apa saja yang disukai Chalvin, Darren lantas berkata, "Kenapa dia gak tanya langsung aja sama Chalvin?"


"Ih, gak serulah kalau tanya langsung. Setiap orang pasti pengen terlihat paling tahu dan paling ngerti sama pasangannya!"


"Terus, hubungannya sama kamu apa? Yang jadi pasangannya Chalvin, kan Nadya. Bukan kamu," cetus Darren dengan nada sewot.


"Kan Nadya curhat ke aku. Dia pengen cari tahu apa aja yang disukai Chalvin selama ini. Kamu tahu sendiri kan mereka tuh baru jadian. Sementara Oma dah desak mereka supaya cepat nikah," jawab Karen beralasan.


"Ya, entar juga dia bakal tahu apa aja yang disukai Chalvin dengan seiring waktu berjalan," jawab Darren sambil tetap mengetik.


"Ih, tinggal bilang apa aja yang disuka Chalvin apa susahnya, sih! Kamu kan sepupunya, pernah tinggal bareng di London. Pasti tahulah!"


"Kenapa jadi kamu yang keliatan kek ngotot banget pingin tahu?" tanya Darren menatap Karen dengan ekspresi datar.


Karen malah cemberut dan memutuskan beranjak dari pangkuan suaminya. Namun, baru saja berdiri, Darren malah menahan pergelangannya.


"Aku tahu niat baik kamu buat mereka berdua, tapi ikut masuk dan terlalu mencampuri urusan mereka itu gak baik." Darren mencoba memperingati istrinya.


Makan malam pun telah siap, semua orang tampak menuju meja makan. Chalvin lalu menghampiri Nadya, menggenggam tangannya lalu berkata pada mereka semua.


"Sorry, semua. Aku sama Nadya gak bisa ikut makan bareng. Soalnya kami ada rencana nonton bareng malam ini. Ya, kan, Nad?" Chalvin menoleh ke arah Nadya seraya mengangkat sepasang alisnya.


Nadya melebarkan mata. Tentu saja ia terkejut karena tiba-tiba Chalvin mengatakan hal itu. Padahal baru beberapa menit lalu Chalvin menolak ajakan menonton bersama. Dengan senyum yang berseri-seri, gadis sebaya Karen itu mengangguk dan mengiyakan ucapan Chalvin.


"Loh, kenapa gak makan dulu baru pergi?" protes Oma Belle.


"Filmnya udah mau tayang. Kita di jalan aja udah habisin waktu empat puluh menitan," jawab Chalvin.


"Ya, udah, kalian pergi aja. Hati-hati di jalan!" Kebalikan dari Oma Belle yang masih hendak menahan mereka, kakek Aswono malah mengizinkan mereka pergi.


Begitu Chalvin dan Nadya pergi, Sheila lantas berkata, "Kok kelihatannya kak Chalvin dan pacarnya kayak menghindari, Oma? It's fishy. Kayaknya kak Chalvin takut deh Oma bahas soal pernikahan."


(It's fishy: mencurigakan)


"Gak usah bahas Chalvin. Sekarang Oma cuma bisa berpikir satu hal."


"Apa itu Oma?" tanya Sheila cepat.


"Yang Oma pikirkan saat ini adalah gimana cara jahit mulut kamu!" tandas Oma dengan wajah geram.


Karen spontan menutup mulut untuk membungkam tawa. Selain itu ia merasa senang karena trik untuk mendekatkan Chalvin dan Nadya tampak berhasil. Terbukti, Chalvin mau menerima ajakan Nadya.

__ADS_1


"Sheila, kamu tinggal di sini bukan untuk kepoin urusan orang!" tegur Darren.


"Iya, maaf!"


"Sheila, ayahmu udah pulang. Tadi dia minta ke kakek buat pulangin kamu ke rumah," ucap kakek Aswono.


"Jangan dong, Kek. Kan kita lagi bikin kesepakatan." Sheila menggeleng-geleng kepala dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Tapi mama kamu udah kangen banget sama kamu."


"Udah pulangin aja sana," sahut Oma Belle sambil melengos.


"Jangan dong, Kek! Kakek kan dah janji mau ngabulin keinginan Sheila kalo sheila berubah."


"Tapi kamu juga harus ingat, kalo semua itu bersyarat. Beberapa hari ini, kakek terima laporan kalau kamu suka nguping pembicaraan orang-orang di rumah ini. Kamu tahu enggak, itu bukan sikap terpuji dan enggak punya sopan santun!" tegas kakek serius.


"Aku gak bermaksud gitu, Kek. Aku nguping biar bisa tahu hal yang sebenarnya dan ngasih info yang sebenarnya ke kalian. Maksud aku baik kok." Sheila masih membela diri.


Kakek menghela napas. "Sheila, kadangkala, ada hal-hal yang tak sengaja kita dengar, tapi kita harus berpura-pura tuli. Ada perkataan yang cukup kita ucapkan dalam hati, tapi gak perlu diungkapkan ke orang. Itu semua demi menjaga keharmonisan sesama," ucap kakek Aswono.


Di waktu yang sama, Chalvin dan Nadya telah meluncur meninggalkan kediaman Bratajaya. Pria itu berkendara seraya menghela napas panjang. Sementara Nadya melihatnya sambil tersenyum.


"Katanya gak mau nonton film karena buang-buang waktu," singgung Nadya kembali.


Nadya tersentak seketika. Tampaknya ia terlalu percaya diri karena mengira Chalvin berubah pikiran dan mau menerima ajakannya.


"Untung aja kita punya alasan buat menghindar. Coba kalo kita masih di sana, pasti Oma bakal cecar lagi soal lamaran. Oh, iya, aku langsung antar pulang kamu, ya? Soalnya aku mau keluar bareng teman," ucap Chalvin dengan santai.


***


Di sisi lain, Farel memasuki kelab malam di kawasan Jakarta Selatan yang menjadi favoritnya untuk nongkrong dan bersenang-senang. Sejak magang di perusahaan Belleria, ini pertama kalinya ia bergabung lagi dengan teman-temannya. Ternyata di sana juga ada Feril dan kawan-kawannya.


"Woi, mari sambut CEO kita!" ucap Feril sambil mengangkat tinggi-tinggi gelas di tangannya begitu melihat kehadiran saudaranya.


"Wuih, Rel, dah bener-bener jadi orang kantoran, nih, lu. Dah jarang banget nongkrong sama kita-kita," ucap Jamet.


"Ya, iyalah, lu kira Farel kek Feril yang nolep," tandas teman-teman Farel sambil tertawa mengejek.


(Nolep: Slank dari kata no life yang artinya tidak punya kehidupan, gak punya masa depan)


"Jangan dibanding-bandingin gitu dong, Bro. Ngejar cewek aja dia gagal." Kawan Farel lainnya menimpal dengan nada menyindir.

__ADS_1


Tak terima Feril diejek, si gimbal pun pasang badan. "Gak boleh ngomong gitu, Ngab. Kalo kata orang kegagalan adalah keberhasilan yang gak jadi."


Sempat tersanjung saat gimbal terlihat membelanya, Feril malah menyeringai kesal, "lu kalo nyari kutipan yang bisa dipakai buat bela gua dong, Oon!"


"Salah ngomong, maksud gua kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda." Gimbal meralat kembali sambil menyengir.


"Tertunda seumur hidup maksud lo? Wakakakk. Maklumin aja, Bro, Feril dan kawan-kawannya mau jadi penunggu kampus." Ejekan teman-teman Farel makin menjadi-jadi hingga membuat tangan Feril mengepal keras.


"Rel, masih ada lowongan gak buat magang di sana? Gua juga pengen kerja, nih. Bosan hidup enak jadi pengangguran," tanya si Jamet.


"Sorry, Bro. SDM lu enggak memadai buat masuk di perusahaan tempat gua magang," jawab Farel remeh.


"Yaelah, kalo gua dilatih SDM gua juga bakal meningkat," balas Jamet.


"SDM yang gua maksud di sini Sumber Daya Muka, Bro. Muka lu memikat, kagak?" tangkis Farel sambil tersenyum ringkih.


"Itu cari karyawan atau cari model, sih!"


"Perusahaan tempat gua magang mengutamakan yang good looking karena mereka bergerak di bidang kosmetik dan skincare. Kalo yang kerja di situ kagak cakep kek elu-elu, gimana konsumen bisa percaya!" jelas Farel penuh kebanggaan.


"Jadiin si Jamet model oke juga keknya, Bro. Model iklan handbody pria gitu. Tapi sebelum pemakaian, pas setelah pemakaian produk langsung ganti model. Wakakakk ...."


Tampaknya kawan-kawan Farel masih tak berhenti mengejek.


Feril yang berang lantas mengajak teman-temannya untuk pergi. Namun, langsung ditahan Farel.


"Ayo, cabut!


"Slow, Bro! Lo kok jadi baperan gini! Kita-kita cuma bercanda lagi!" kata salah satu teman Farel.


"Berhenti ngatain orang dengan berlindung dibalik kata bercanda! Lo boleh remehin kita-kita, tapi gak usah bercandain fisik orang, gak lucu tahu!" sambar Feril kesal.


"Kek lu gak pernah bercanda soal fisik aja!" elak yang lain.


Farel lantas menepuk pundak Feril sambil berbisik. "Lo tahu gak, tadi gua lihat Karen di tempat kerja gua."


Mendengar nama Karen disebut, emosi Feril lantas sedikit mendingin. Ia baru teringat kalau Karen adalah model ambassador produk perusahaan tempat saudaranya bekerja.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2