
Tersadar dengan ucapannya sendiri, Silvia pun memalingkan tatapan. Sementara Darren hanya tertawa kecil. Tampaknya ia menganggap kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Silvia itu hanya bersifat candaan santai. Tersadar jika Karen tengah menunggunya di kamar, ia pun segera berdiri.
"Aku masuk duluan, ya!"
Silvia menatap penuh pengharapan pada punggung Darren yang semakin menjauh dari pandangannya. Awalnya, ia begitu senang saat orangtua mengatakan dia akan dijodohkan dengan cucu keluarga Bratajaya. Dia pikir, sosok yang akan dijodohkan dengannya adalah Darren yang kerap menolongnya dari rundungan Chalvin. Kenyataannya pria itu malah telah beristri.
Darren kembali ke kamar dan melihat Karen telah terlelap dalam posisi menyamping. Ia naik ke atas ranjang, membenarkan selimut yang menutupi hampir seluruh wajah Karen. Kecupan lembut mendarat pelan di kening Karen.
Keesokan harinya, Karen dan Darren memutuskan tak ikut sarapan karena keduanya memiliki mata kuliah pagi. Tak mau terlambat karena terhadang macet, mereka pun memutuskan berangkat lebih awal. Sepasang suami istri itu lalu berpamitan pada Oma Belle. Di waktu yang sama, Silvia menghampiri mereka sambil membawa bag paper.
"Darren, ini aku ada buatin bekal makan siang untuk kamu. Kata Karen kemarin kamu lebih suka makan siang di kampus daripada pulang atau sekedar ke tempat makan. Ya, kan, Karen?" Silvia menoleh ke arah Karen, "Oh, iya, itu bekalnya cukup banyak bisa dimakan kalian berdua," kata Silvia sambil menyodorkan bag paper yang berisi sekotak bekal.
Melihat wanita lain begitu perhatian pada suaminya, tentu membuat hati Karen terbakar. Namun, ia masih berusaha menyembunyikan kekesalannya.
"Normal gak sih perhatian yang Silvia kasih buat Darren? Atau aku aja yang terlalu over thinking?" gumam Karen dalam hati.
"Loh, kok?" Oma mengernyit heran melihat Silvia yang menyiapkan bekal untuk Darren.
Silvia buru-buru berkata, "Tenang Oma, buat Chalvin juga ada kok! Tinggal diantar aja."
"Bagus! Kamu aja yang langsung antar! Samperin dia ke kantornya. Tunggu, aku panggilin supir buat anterin kamu ke kantornya." Oma Belle pergi memanggil supir dengan tergesa-gesa.
"Tuh, kan, Oma maksa aku buat terus-terusan dekatin Chalvin!" ringis Silvia.
Darren terkekeh. ""Makasih, atas bekalnya, ya!" ucap Darren sedikit sungkan.
Karen menarik lengan Darren supaya mereka segera pergi. Darren pun pamit pada Silvia.
"Kami pergi dulu, ya!"
"Oh, iya, Darren, makasih ya, dah dengar curhatan aku semalam," kata Silvia.
Pupil mata Karen membesar seketika. Curhat? Semalam? Kapan itu terjadi? Bukankah semalaman penuh Darren terus bersamanya di dalam kamar? Apakah itu terjadi saat ia tertidur?
Di dalam mobil, Karen terus menerka-nerka. Ia merasa Silvia memiliki perasaan pada suaminya. Ia lantas menoleh ke arah Darren yang bersikap biasa-biasa saja. Entah kenapa ia mendadak kesal pada suaminya. Kekesalannya semakin bertambah karena Darren tak menjelaskan apa pun tentang semalam. Begitu tiba di halaman parkiran dosen, Karen pun bergegas keluar dari mobil dan membanting pintu dengan sangat kuat.
Darren terkesiap mendengar suara bantingan pintu. Meski begitu ia hanya menggeleng-geleng kepala karena berpikir Karen sedang tergesa-gesa karena takut terlambat masuk.
Di kampus, para Mahdi tengah duduk seraya membicarakan hal yang random.
"Kalian dah tahu belom kebijakan terbaru menteri pendidikan? Katanya skripsi ditiadakan!" kata salah satu di antara mereka.
"Serius, Bro?" Para Mahdi itu terkejut sekaligus senang.
"Baguslah! Biar gak ada lagi dosen yang semena-mena sama kita! Apalagi dosen yang minta dilayani kek Baginda raja!" seru Jamet.
__ADS_1
"Halah, skripsi ditiadakan paling juga cuma ganti istilah!" Gimbal malah skeptis.
"Kagak. Katanya diganti sama tugas akhir dalam bentuk proyek, prototipe atau lainnya tergantung kebijakan perguruan tinggi masing-masing," jelas kawannya.
"Kalo emang skripsi ditiadakan gua bakalan serius selesaikan kuliah. Emak gua tiap hari marahin gua mulu, apalagi kemarin habis dari syukuran anak tetangga yang baru habis wisuda."
"Ternyata orangtua kita ada di tim yang sama, Bro. Masuk di tim PORTUGAL," sahut Jamet.
"Hah, PORTUGAL?"
"Iya, persatuan orangtua galak. Hobinya mereog mulu!" celetuk Jamet.
"Masih mending, dari pada emak gua, PERTALITE," sambar lainnya.
"Apaan tuh? Persatuan orangtua elite, ya?" tebak kawannya.
"Bukan. Tapi ... persatuan orangtua pelit! Diminta duit jajan aja, kecepatan ngocehnya udah ngalahin pelari maraton."
"Itu sih gak seberapa ... yang sial itu gua!" tandas teman satunya yang berambut gondrong.
"Emang BoNyok Lo masuk di klan mana?" tanya mereka.
"Bonyok gua masuk di klan PERTAMAK. Persatuan orangtua tukang malak. Doyan malakin duit anaknya. Tiga hari gua narik buat bisa beli sepatu Jordan yang baru, eh
duitnya malah dipalakin sama emak. Katanya dia udah hidupin gua dari kecil, jadi sekarang giliran gua yang harus biayain dia!"
"Lu sendiri gimana, Bal?" tanya Jamet pada Gimbal.
"Emak gua sih gak seekstrem kalian. Kebetulan beliau cuma PERAKIT," balas Gimbal sambil menyengir.
"Perakit apaan?" tanya mereka.
"Maksud gua, persatuan orangtua pengungkit. Dikit-dikit ungkit apa yang udah dia kasih ke gua. Mulai dari gua lahir sampai kuliah. Padahal kan emang udah kewajiban orangtua ngurusin anaknya. Belum lagi ungkit kesalahan yang pernah gua lakuin," papar Gimbal.
"Kok kita ngenes gini, ya, jadi anak?" pikir Jamet sesaat, "Eh, Feril mana, ya? Kagak kelihatan dari tadi." Jamet baru menyadari jika tak ada Feril di antara mereka.
Para kawan lainnya pun bertanya-tanya keberadaan Feril yang akhir-akhir ini sering hilang dari peredaran. Tanpa mereka tahu kalau ternyata, ketua mereka itu tengah berada di atap gedung fakultas. Ya, dia datang ke tempat itu untuk mengambil tugas-tugas yang telah diselesaikan oleh Marsha.
"Ini tinggal kamu serahkan, tapi jangan lupa pelajari dulu untuk berjaga-jaga kalo kamu ditanya-tanya, yang ini kamu ketik ulang supaya lebih rapi, kalo ini harus kamu tulis ulang dengan tulisan tangan kamu sendiri dan kalo perlu tambahkan juga. Saya cuma ngerjain garis-garis besarnya aja, kamu harus tetap menyempurnakannya sendiri lewat pemikiran pribadi." Marsha menjelaskan satu per satu tugas Feril yang telah dia selesaikan.
"Khop Kun kha," ucap Feril dengan aksen Thailand yang khas.
(Khop Kun kha dalam bahasa Thailand: terimakasih digunakan pada lawan bicara perempuan)
"Ini rahasia kita. Jangan sampai ada yang tahu kalau saya bantuin kamu ngerjain tugas-tugas ini!" Marsha mencoba memperingati Feril. Tentu ia tak mau mempertaruhkan citra baiknya karena membantu mahasiswa yang terkenal urakan di fakultas.
__ADS_1
Tak mau melihat wajah pria tengil itu, Marsha pun segera berbalik dan hendak pergi.
"Sampai jumpa di tugas berikutnya, Miss!" ucap Feril.
Marsha ternanap seketika. "Apa? Kamu masih suruh saya ngerjain tugas lainnya?"
"Iya, dong, Miss. Kerja sama kita ini bersifat unlimited. Kecuali ... kalo Miss mau ...." Kalimat yang dilontarkan Feril sengaja dibuat mengambang. Hanya menunjukkan ponselnya, sudah membuat Marsha kelabakan dan tak berdaya. Wanita itu pun hanya bisa menahan geram sembari bergegas meninggalkannya.
Feril tertawa sinis sambil memandangi ponselnya. Sebenarnya, tak ada apa pun di dalam ponselnya. Alias ia sama sekali tak merekam racauan Marsha yang tampak mengharapkan Darren dan penuh dengan cacian terhadap Karen. Lucunya, Marsha justru memercayai jika dia melakukannya. Marsha telah masuk dalam perangkap yang diciptakan oleh pemikirannya sendiri.
Bisa menjahili dosen muda yang dielu-elukan kawan-kawannya, tentu mendatangkan kesenangan sendiri bagi Feril. Seperti mendapat mainan dan hiburan baru di kala hatinya sedang hampa. Apalagi, kekecewaan sempat menghinggapinya sejak mengetahui Karen telah bersuamikan dosen PA-nya sendiri.
Dua jam kemudian, Marsha balik kembali ke atap gedung setelah menerima telepon beruntun dari Feril selama mengajar di kelas.
"Kenapa?" tanya Marsha dengan wajah tak senang.
"Gini Miss, ada tugas dadakan dari pak Budi Luhur. Disuruh kumpul hari ini juga batas jam lima." Feril menunjukkan lembaran catatan berisi pertanyaan yang harus dijawab.
Marsha mendengkus, tapi tak punya pilihan untuk menolak. Dia mengambil kasar kertas tersebut dari tangan Feril. Dengan sigap, Feril mengambil satu-satunya kursi yang ada di sana dan mempersilakan Marsha duduk.
"Kamu yang harus duduk di situ! Saya cuma akan tuntun kamu buat ngerjain tugas ini," tegas Marsha dengan nada ketus.
"Okey, not father ...." Tanpa ba-bi-bu Feril langsung mengikuti perintah Marsha. Dia duduk di kursi lipat dengan satu kaki yang ditekuk ke atas.
"Buka laptop kamu!"
"Oke, fine!"
Marsha mulai menjelaskan dan memberi contoh soal cara mengaudit laporan keuangan. Bukannya menyimak dengan baik, Feril malah sibuk bersiul sembari menggoyang-goyangkan kakinya. Posisi Marsha yang berdiri dengan sedikit membungkuk, membuat rambut panjangnya beberapa kali tampak menerpa wajah Feril. Hal ini malah membuat pria itu semakin tak fokus.
"Udah paham, kan?"
"Ulang lagi Miss, gak ngerti!" pinta Feril.
Meski kesal, Marsha berusaha menjelaskan kembali.
"Masih gak paham, Miss. Bisa ulang lagi, gak!"
"Ini udah yang kelima kalinya saya jelasin ke kamu. Masa gak ngerti juga!" Kesabaran Marsha ternyata sudah diambang batas menghadapi keisengan Feril.
"Beneran gak paham, Miss. Maklum, namanya juga mahasiswa penganut NASAKOM, alias nilai satu koma," cengir Feril sambil menggaruk-garuk kepala, "gini aja ... gimana kalo Miss aja yang langsung ngerjain tugas saya. Biar bisa lebih efesiensi waktu."
Di waktu yang sama, terdengar suara langkah kaki dari tangga menuju ke tempat ini. Marsha pun panik seketika karena tak ingin ada orang yang melihatnya tengah bersama Feril. Melihat kecemasan di wajah Marsha, Feril pun menarik tangan wanita itu dan membawanya bersembunyi di balik pilar tembok.
.
__ADS_1
.
.