
Tak seperti dulu, Feril tak lagi mengambil tempat duduk yang berdekatan dengan Karen. Sedikit mengejutkan, ia malah duduk di barisan paling depan bersama gerombolan Mahdi. Mata kuliah yang diisi Darren kali ini berlangsung tertib dan aktif di mana geng Mahdi tak berani lagi untuk membuat kekacauan dalam kelas.
Darren membahas tentang perindustrian hiburan khususnya film yang memberi kontribusi pada ekonomi negara, dengan mengambil contoh negara Amerika, India, Cina, Jepang dan Korea Selatan di mana industri film di negara mereka terbilang sukses dan terkenal di seluruh dunia.
"Jadi film-film yang kalian nonton itu termasuk kategori industri kreatif karena memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Kalian sendiri suka jenis film genre apa?" tanya Darren mengajak mahasiswanya untuk aktif berinteraksi dalam kelas.
Para mahasiswa beramai-ramai menjawab dengan jawaban yang variatif. Ada yang menjawab genre romansa, komedi misteri, horor, bahkan silat.
"Film yang diperankan kakek Sugiono, Pak!" teriak gimbal.
Seketika seisi kelas pun tergelak.
"Maklum Prof, otaknya emang penuh dengan pelajaran biologi bab reproduksi," ejek salah Jamet.
"Dari pada elu, muka aja yang sangar, eh ...tontonannya malah cinta-cintaan. Doyan nonton drakor pula." Gimbal balik mengejek kawannya.
"Yaiyalah, gua kan pria romantis titisan Nikolas Saputra."
"Nikolas sapu ijuk yang ada!"
"Udah, Lo berdua diam dah!" tegur Feril.
"Kalian tahu, gak, negara Amerika banyak menghasilkan film bertema kepahlawanan karena angka kriminalitas di negara itu tinggi sehingga mereka berharap kesadaran masyarakat di sana untuk berbuat baik. Orang Jepang membuat film biru karena sejak tahun sembilan puluhan negara itu mengalami resesi sekss yang membuat mereka tak punya niat memiliki pasangan dan juga anak sehingga dengan adanya film tersebut dapat meningkatkan gairah masyarakat mereka. Kenapa Korea Selatan banyak menghasilkan film romansa? Karena angka pria misoginis dan antifeminis di sana tinggi yang membuat perempuan-perempuan di sana takut menikah dan menganggap pernikahan adalah mimpi buruk bagi mereka. Sehingga film-film romansa diharapkan mampu mengubah pandangan mereka," jelas Darren dengan mata yang berpendar ke seluruh kelas.
"Terus, apa alasan orang Indonesia suka bikin serial berbau azab dan juga dari masyarakat kita sendiri suka menontonnya, Prof?" tanya salah satu mahasiswa.
"Karena kita rata-rata gak takut sama Tuhan, Bro," jawab Feril sambil memangku dagu, "Ya, gak, Prof?"
"Karena cerita-cerita seperti itulah yang memenuhi harapan banyak masyarakat Indonesia. Kalian pasti pernah berharap bahkan berdoa agar orang yang berlaku curang, tidak adil, tukang fitnah, peselingkuh bakalan menerima sesuatu yang buruk dari Tuhan. Semacam ada kepuasan batin melihat orang-orang jahat mendapat balasan atas perbuatannya. Itu tandanya psikis masyarakat kita begitu mendambakan keadilan. Sesederhana kita memahami yang jahat pasti akan mendapat balasan," jawab Darren.
Selesai memasuki kelas Darren, para gerombolan Mahdi keluar dari kelas sambil mengeluhkan tugas mingguan yang telah menumpuk.
"Nih tugas terbengkalai mulu dah kek proyek pemerintah," keluh Gimbal.
"Kek lu pernah kerja tugas aja!" timpal kawannya.
"Meski gua modal copas sama palak jawaban orang aja, tetap aja buatin tuh tugas malasnya minta ampun!"
"Malas mulu, tapi tiap hari ngayal jadi orang sukses! Huuu ...." seru kawan-kawannya.
"Kek gak tahu moto dia aja. Gak papa gagal sukses, yang penting sukses jadi orang gagal," sambar Jamet menyindir Gimbal.
__ADS_1
"Lu sendiri gimana, Ril? Perasaan kemarin elu yang rempongin kita buat ngerjain tugas. Kok sekarang elu yang santuy." Salah satu kawannya menoleh ke arah Feril.
Feril tersenyum miring. "Tetap santai, walau otak terbantai. Tugas mah urusan kecil. Semangat buat kalian, gua cabut duluan!"
Feril berlalu meninggalkan kawan-kawannya. Kawan-kawannya semakin heran melihat tingkah Feril yang semakin berbeda dari waktu ke waktu.
Marsha berjalan pelan menuju atap gedung fakultas ekonomi. Sesuai kesepakatan, wanita itu akan menjadi guru privatnya yang akan membantu Feril dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Dia menghela napas sejenak, sebelum benar-benar memasuki puncak tertinggi gedung tersebut.
Bau asap rokok menjamah penciuman wanita lulusan magister itu. Ternyata, Feril sudah berada di sana lebih lebih dulu duduk bersandar di tiang besi yang menjulang sambil mengepulkan asap nikotin. Di sampingnya, terdapat tumpukan buku tugas dari berbagai mata kuliah.
"Cekgu, kamu telat lima belas menit," kata Feril dengan santai sambil membuang puntung rokoknya.
Marsha menatap malas wajah Feril yang mengesalkan. Feril menarik kursi lalu menepuk busa kursi tersebut.
"Udah saya siapin tempat duduk Cekgu," kata Feril sambil mengangkat sepasang keningnya.
"Jangan panggil saya cekgu!" tegur Marsha dengan intonasi tak senang.
"Baik, Sensei!" Feril malah mengganti julukan.
"Jangan panggil saya Sensei!" tekan Marsha kembali.
"Siap, Miss!" Feril kembali mengganti julukan dan kali ini tak mendapat protes dari Marsha.
Sambil menekuk lutut dengan gaya santai, Feril menekan tumpukan buku di sampingnya dengan telapak tangan. Sontak, mata Marsha pun terbelalak.
"Kamu suruh saya kerjakan semua tugas kamu?"
"Miss, kita berdua itu simbiosis mutualisme. Miss bantu saya kerjakan semua tugas, saya bantu Miss jaga aibnya Miss. Impas, kan?"
Marsha menahan geram. Tak pernah terbayangkan akan berhadapan dengan mahasiswa paling bermasalah. Selama ini, melihat Feril dan jawaban gengnya saja sudah membuatnya muak.
Di sisi lain, Chalvin berjalan buru-buru keluar dari gedung perusahaan bersiap menuju stand makeup mereka di mana ini merupakan hari terakhir pameran digelar. Seharian ini dia disibukkan dengan permasalahan yang terjadi di pabrik. Baru saja hendak membuka pintu mobil, tatapannya tertuju pada Karen yang baru saja keluar dari mobil.
"Karen, tumben ke sini!" sapa Chalvin. Ya, sejak tahu hamil, wanita itu memang memilih beristirahat dari bintang iklan perusahaan mereka.
"Aku mau bicara sama kamu. Ini tentang Nadya."
"Kenapa dengan Nadya?" tanya Chalvin cepat.
Karen mengajak Chalvin menepi sejenak. "Kamu kalo gak mau serius berhubungan, cari aja wanita lain jangan Nadya! Aku gak rela, ya, kalo kamu pacaran sama Nadya cuma buat kepentingan kamu semata!"
__ADS_1
"Tunggu, maksud kamu apa? Datang-datang nodong aku udah kayak aku habis nyakitin anak orang aja."
"Makanya jangan mainin perasaannya!"
"Yang mainin siapa? Oke, aku emang ngajak dia nge-date itu karena aku benar-benar suka sama dia, tertarik sama dia, ingin lebih dekat lagi sama dia bahkan mencoba serius sama dia."
"Ya, kalo emang benar kayak gitu, tunjukin dong! Jangan cuma omdo! Atau jangan-jangan kamu pengen Nadya kayak cewek-cewek yang dekat sama kamu selama ini. Yang datang secara sukarela sama kamu, nempelin kamu mulu, ngejar kamu! Gitu?"
"Mana ada kayak gitu! Aku cuma lagi ngasih space dia. Dia minta aku buat gak ganggu dia. Ya, udah, aku coba menghormati keputusan dia."
"Perempuan butuh pembuktian lewat ucapan dan tindakan. Aku kenal Nadya dari dia masih polos banget. Dulunya dia gak gini. Dia tuh cewek asyik dan ceria, tapi sejak salah kenal cowok dia jadi suka insecure dan tertutup banget. Kalo kamu emang beneran suka sama dia, tunjukin dong! Perlihatkan kesungguhan kamu! Cewek tuh butuh effort dari cowok!" tandas Karen.
Perkataan Karen membuat Chalvin terdiam seketika. Ia pun buru-buru menaiki mobilnya dan meluncur ke tempat pameran. Begitu berada di sana, bukannya segera ke stand makeup miliknya, ia malah mendatangi stand kopi tempat Nadya. Ia terkesiap ketika tak ada Nadya di sana. Hanya ada dua barista yang sibuk melayani pembeli.
"Nadya mana?" tanyanya pada barista pria.
"Nadya jaga coffee shop tukaran sama dia!" Andre menunjuk kawannya di sebelah.
Chalvin lantas mencoba menghubungi Nadya untuk mengajaknya bertemu. Sayangnya, hanya terdengar pesan suara dari mesin operator. Ia lantas masuk ke aplikasi WA untuk mengirim pesan. Namun, tak ada foto di profil Nadya serta ia tak bisa melihat status terakhir gadis tersebut, membuatnya berpikir nomornya telah diblokir.
.
.
.
Jejak kaki 🦶🦶🦶:
Misoginis: istilah untuk orang yang memiliki kebencian atau rasa tidak suka terhadap wanita secara ekstrem. Biasanya pelakunya sebagian besar pria ya, tapi gak menutup kemungkinan juga wanita. Perilaku misoginis ini sudah ada sejak jaman dahulu, di mana perempuan selalu dipandang sebagai kasta terendah. Bahkan jaman dulu itu kalo anak yg terlahir berjenis kelamin perempuan bakalan langsung dibunuh.
Di era sekarang, perilaku misoginis masih marak ya. Terutama di negara2 yg melanggengkan budaya patriarki seperti negara kawasan Asia pada umumnya. Jadi kalo kalian nemu saudara/kerabat laki2 atau bahkan suami sendiri yg benci anak perempuan itu bisa jadi dia misoginis.
Di Indonesia, pelaku misoginis itu malah kebanyakan datang dari para wanita. Sesama wanita saling membenci, makanya sampai ada kampanye online "woman support woman". Kalian sering dengar Kalimat ini kan. Mana ada kalimat man support man. Ya, itu karena hanya sesama perempuan yang saling membenci. Bahkan pasti tak jarang kalian mendengar kalimat yg terlontar dari seorang perempuan itu sendiri bahwa dia lebih suka berkawan dengan laki2 dibanding perempuan. Hati2 itu juga termasuk perilaku misoginis.
Catatan author ✍️✍️
Gays, gua menjadi penulis yang telat tahu dengan kebijakan terbaru terkait tiap novel di lapak ini. Ternyata udah sekitar dua bulanan menjadi perbincangan hangat para author. Seperti yg sudah2 kebijakan baru ini membuat para author uring-uringan hingga berbondong2 pindah. Tapi, untuk kali ini aku gak terlalu nyalahin pihak aplikasi, aku justru no respek ke beberapa author yg udah mancing terbuatnya kebijakan baru. Ternyata selama setahun ini banyak author curang yg bikin novel ongoing lebih dari 1 dengan bab pendek2 dan langsung ditamatin setelah mendapat uang hasil kontrak. Dan itu bikin author lainnya marah besar karena merasa mereka kena imbasnya.
Aku juga ongoing novel jurnalis pas dosa belum tamat, tapi Jurnalis gak gua kontrak di sini, gays. Jurnalis adalah karya yg aku persembahkan khusus untuk pembaca setiaku yang menanti karya originalku dan aku gak dapat penghasilan untuk novel itu. bahkan sebelumnya novel itu numpang rumah di novel NN. Dan rencananya setelah tamat di sini, bakal langsung aku hapus. Kenapa enggak aku kontrak, ya karena cukup lima novel aja yang aku persembahkan untuk app ini.
Aku klarifikasi soal ini di sini, karena aku tau ada beberapa author baca karya aku. Kebetulan aku juga ongoing dua novel di sini, di mana novel sang jurnalis itu sebenarnya proyek lamaku bahkan sebelum adanya DOSA. Dan di DOSA pun gua nulis gak untuk mencapai target apa pun. Up-nya slow gak bisa tiap hari kek author lain karena emang aku enggak ngejar pendapatan, ya.
__ADS_1
Oh, iya, ini postingan terakhir aku karena aku harus mempersiapkan paskibraka di kotaku buat pengibaran. Insya Allah kembali lagi setelah selesai.
Saya Aotian Yu, mencintai kalian semua ❤️