DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 62 : Ada Apa dengan Chalvin?


__ADS_3

Karen tentu terperanjat menerima siraman roh jahat yang tak dikenalnya itu. Belum lagi, kini rambutnya dijambak hingga kepalanya tertarik ke sana-kemari. Chalvin berusaha melindungi Karen dari amukan pacarnya. Bahunya yang lebar dengan sigap membentengi istri sepupunya itu. Naasnya, kini giliran punggungnya yang dijadikan samsak tinju perempuan itu.


Perkelahian mereka cukup mengundang mata orang-orang yang berlalu lalang. Mereka yang lewat, mendadak berjalan ala siput hanya untuk mencari tahu apa yang terjadi.


"Kamu ini apaan, sih? Ngapain kamu nyerang dia?" Chalvin menahan sepasang pergelangan tangan gadis itu untuk menghentikan aksinya.


"Gara-gara tuh cewek kan kamu mutusin aku!"


"Aku mutusin kamu gak ada sangkut pautnya ma dia! Kalau aku bilang putus, ya, putus! Dewasa dikit, jangan kayak anak kecil gini! Malu-maluin, tahu!"


"Enggak ada sangkut pautnya gimana? Kamu mutusin aku barusan, sedangkan kamu bilang udah pacaran sama dia! Berarti dia udah rebut kamu dari aku, kan?!" Cewek itu menunjuk Karen dengan mata melotot seakan hendak menelannya. "Dasar pelakor! Sini, lo gue habisin lo. Berani-beraninya lo ambil cowok gue! Lo rebut dia dari gua!" umpatnya seraya hendak kembali menyerang Karen.


Chalvin kembali menghadang pacarnya. Karen yang berada di belakang punggung Chalvin, langsung maju sambil memperbaiki rambutnya yang awut-awutan.


"Dengar, ya! Berhenti menempatkan laki-laki seperti barang yang bisa direbut! Mereka tuh makhluk yang punya otak, mereka punya kemampuan buat mutusin selingkuh atau enggak. So, perselingkuhan itu bukan cuma salah sepihak!" Setelah mengatakan itu, Karen langsung berbalik pergi.


Eh, tumben aku bisa ngomong keren gini!


Chalvin segera menyusul Karen dan meninggalkan mantan pacarnya yang masih geram. Ia melangkah lebih cepat mendahului Karen, kemudian menarik tangannya.


"Eh, mau ke mana?" tanya Karen kaget dan hanya bisa mengikuti langkah pria itu.


"Beli baju buat ganti baju kamu. Emangnya kamu gak malu pakai baju basah dan kotor kayak gitu," ucap Chalvin yang terus berjalan cepat tanpa menoleh.


Karen menunduk dan tersadar jika bra-nya tercetak jelas dari balik bajunya yang basah. Dengan wajah yang memerah padam, ia buru-buru menyilang sebelah tangannya ke dada.


Tiga puluh menit telah berlalu. Nadya dan Vera mulai merasa aneh karena Karen belum juga balik. Mereka pun memutuskan mengecek ke toilet yang berada di lantai tersebut. Sesampainya di sana, Vera masuk ke dalam untuk melihat keberadaan Karen. Sementara Nadya menunggu di luar sambil mencoba menghubungi sahabatnya itu.


Sejenak, perhatian Nadya teralihkan pada pria tampan berwajah oriental yang bersandar di dinding dengan tangan yang bersedekap dan sebelah kaki yang menekuk ke belakang dinding. Pria itu membuatnya terpana selama beberapa detik.


Huuaa ... cakep banget tuh cowok! Tipeku banget!


Bertepatan dengan itu, Karen keluar bersama Vera. Nadya dan pria tadi lantas bergegas menghampiri Karen.


"Bajunya cocok, kan?" tanya pria yang ternyata adalah Chalvin.


Nadya terperanjat mengetahui pria itu mengenal Karen. Namun, ia lebih kaget lagi melihat Karen telah berganti baju dengan poni yang basah dan tercium aroma kopi.


"Kamu kenapa, Kar?" tanya Nadya.


"Katanya ada cewek aneh yang nyerang dia tadi!" jawab Vera.


Chalvin memberikan tisu pada Karen. Hal itu lantas membuat Nadya dan Vera menoleh ke arahnya dengan ekspresi penuh tanda tanya.

__ADS_1


Melihat tatapan penuh kedua temannya pada Chalvin, Karen lalu memperkenalkannya, "Ah, iya, ini kak Chalvin, sepupu pak Darren."


"Sepupu pak Darren?" Mereka kompak terkejut.


Chalvin mengulurkan tangannya menunjukkan sifatnya yang supel terhadap semua orang. Nadya langsung menjabat tangan pria itu dengan mimik yang antusias.


"Namaku Nadya Maharani Ayu. Kalau di kampus dipanggil Nadya, kalau di rumah dipanggil Ayu. Umur sembilan belas tahun tapi dua bulan lagi genap dua puluh tahun. Aku mahasiswa ekonomi jurusan akuntansi di universitas swasta Jakarta. Tapi aku asli Bogor. Aku anak kelima dari enam bersaudara dan ...."


"Ah, iya. Cukup ... cukup," potong Chalvin seketika sambil melepas tangannya dari genggaman Nadya.


Oh, God! Cabe-cabean dari sekte mana lagi, nih! Ngenalin diri udah kayak interview kerja. Gak sekalian ngasih tahu nomor sepatu, apa!


Seperti yang pernah dikatakan sebelumnya, jika wajah Darren perpaduan Indonesia-Belanda, maka Chalvin memiliki wajah oriental khas Asia timur. Apalagi selera berpakaian Chalvin juga selalu update. Ini sangat cocok dengan selera Nadya yang memang mengidolakan boyband-boyband negeri ginseng.


Kali ini giliran Vera yang menyambar tangan pria itu. "Aku Vera Wati. Ah, senang banget bisa kenalan dengan sepupu pak Darren. Kayaknya patah hatiku bakalan cepat sembuh, deh! Ya, walaupun pak Darren tetap di hati." Vera langsung menutup mulutnya seraya menoleh ke arah karen. "Ups ... sorry Karen."


Chalvin mengangguk-angguk seraya memasang senyum paksa di wajahnya.


Gini amat mahasiswanya Darren!


"Eh, sorry, nih. Karen pulang sama aku aja, ya! Boleh, kan?" pinta Chalvin sambil menarik Karen ke sisinya.


Masih terpesona menatap Chalvin, Vera dan Nadya kompak mengangguk. "Boleh banget, dong!"


"Tuh cewek masih mending gua gak ghosting. Sebelum minta putus, malah gua ajakin shopping apa aja yang dia mau sampai barang bawaannya banyak kayak, gitu."


"Ya, pantas aja dia gak mau putus. Habis kamu nyenengin, eh malah diputusin tiba-tiba. Siapa yang enggak syok!"


"Soalnya aku benar-benar gak tahan lagi sama dia. Siapa coba yang betah kalau ...." Ucapan Chalvin terhenti begitu saja seiring pandangannya berpaling ke arah Karen yang juga menatapnya.


DEG


DEG


DEG


Kenapa gue kembali ngerasain ini pas lagi ma Karen, ya?


Dalam gemingnya, Chalvin mendadak merasakan detakan jantungnya yang berpacu cepat.


Ah, tidak! Tidak! Ini pasti karena beberapa hari ini gua jarang nge-gym dan hobi makan junk food. Makanya jantung gua jadi gak sehat!


Lagi-lagi, Chalvin mencoba mengelak atas reaksi alami dalam dirinya saat berhadapan dengan Karen, atau mungkin saja dia sulit mendefinisikan perasaannya.

__ADS_1


Chalvin menghentikan mobilnya tepat di depan kediaman Karen. "Oh, jadi ini rumah baru kalian. Mau aku anterin ke depan?"


"Enggak usah. Thanks, ya!" Karen melepas sabuk pengaman lalu keluar dari mobil Chalvin.


Sepasang manik Chalvin terus mengawal Karen hingga perempuan itu masuk ke rumah. Saat hendak menjalankan mobilnya, pandangannya langsung terarah pada bag paper berisi baju Karen yang basah.


Telah masuk ke rumah, Karen mendapati ruangan yang sepi dan remang di mana Darren tak terlihat. Namun, ia terhenyak ketika Darren tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Bukannya aku dah bilang jangan sampai malam?" ucap Darren sambil menyandarkan dagunya di bahu Karen.


"Sorry, tapi ini gak kemalaman juga, kan?" Karen menoleh ke belakang sambil mengusap pipi suaminya.


"Tetap aja kamu ngambil jatah quality time kita," ketus Darren.


Detik berikutnya, Darren malah menyerang Karen dengan kecupan ringan, singkat, dan menggoda. Sekali, dua kali, tiga kali. Lanjut sampai berkali-kali. Tak mau berhenti. Hingga suara decakan pertemuan bibir yang menggemaskan itu mengisi ruangan yang temaram.


"Gawat, aku ketagihan!" bisik Darren dengan suara memesona.


Ia kembali menenggelamkan bibirnya ke bibir istrinya. Memagut bibir perempuan itu dengan gerakan pelan, diselingi dengan gigitan-gigitan lembut yang membuat Karen mengerang kecil.


Karen menepuk-nepuk lembut dada suaminya, seraya berkata manja, "Darren, stop! Aku bau, mau mandi dulu!"


Darren menghentikan pertautan bibir mereka sejenak, lalu kembali berbisik dengan nada yang terdengar seksi. "Gawat, aku mau lebih dari ini!"


Darren langsung menggendong Karen dan membawanya masuk ke kamar. Tanpa mereka tahu, ada sepasang mata yang sedari tadi menatap mereka dari balik jendela kaca yang tak tertutup gorden.


Chalvin tersenyum tipis, lalu meletakkan bag paper yang ditinggalkan Karen di depan pintu sebelum beranjak pergi.


.


.


.


catatan author ✍️


Hallo, Ders. Rumah tangga Karen dan Darren bentar lagi bakal diterpa badai, nih. aku dah baca kerangka yang dikasih ke aku. dan aku merasa cocok sama konflik tersebut. So, bakal aku kembangin ke sini.


FYI, konflik-konflik yang ada di novel ini aku buat bukan untuk mendramatisir kisah mereka, bukan untuk bikin greget jalan cerita, atau untuk memperpanjang bab. poin utama yang pengen aku tunjukan adalah bagaimana cara mereka menghadapi konflik tersebut. karena sebenarnya konflik-konflik dalam rumah tangga itu hal yang klise untuk dikembangkan ke dalam cerita. tapi untungnya, badai yang akan pasangan double Ren hadapi ini cocok sama aku. kita lihat aja nanti.


Oh, iya, makasih banyak buat pembaca setia maupun pembaca baru yang dah mendukung karya ini. bulan lalu, karya ini masuk 3 besar rangking hadiah. walaupun sebenarnya dukungan itu untuk novel NN yang dialihkan ke sini. tapi, menurut kalian worth it gak nih karya sederhana ini masuk 3 besar?


tetap ikuti kisah ini, jangan lupa bantu rekomendasikan juga untuk membantu karya ini tetap eksis. dukungan like dan komen tetap ditunggu...

__ADS_1


__ADS_2