DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 217 : Kekasih Tak Dianggap?


__ADS_3

Entah kenapa, foto kebersamaan Chalvin dan Silvia terus membayang di benaknya selama ini. Apakah karena dirinya cemburu? Ia ingin mendapat penjelasan dari foto tersebut tapi tanpa perlu bertanya.


"kamu kenapa?" tanya Chalvin yang melihat Nadya tertegun cukup lama.


"Gimana pesta semalam, telat gak?" tanya Nadya dengan suara yang masih lemah.


"Enggak kok."


"Syukur deh!" Nadya menunduk.


"Aku ke kantor dulu, ya? Jaga kesehatan," ucap Chalvin sambil berdiri.


Tangan Nadya spontan memegang ujung kameja Chalvin saat pria itu hendak beranjak. Lantas, Chalvin pun segera menoleh ke arahnya.


"Kenapa?"


Nadya menghening selama beberapa saat, kemudian menggeleng. Tangannya yang mencengkram ujung kameja, kini lepas secara perlahan. Jujur, ia juga tak tahu kenapa tangannya refleks menahan pria itu. Apa mungkin karena tak ingin Chalvin pergi?


Chalvin sedikit membungkuk sembari mengusap poni Nadya ke belakang. "Kalo ada yang kamu butuhkan, ngomong aja! Enggak usah sungkan! Toh aku pacar kamu."


Nadya memegang pergelangan tangan Chalvin seraya berkata dengan lambat-lambat, "Kamu ... bakal balik ke sini lagi, kan? Kamu ... masih mau ketemu aku, kan?"


Mendengar permintaan Nadya, Chalvin lantas menyunggingkan senyum. Ini pertama kalinya sejak mereka pacaran, Nadya mengungkap permintaan sederhana. Sebagai lelaki, tentu sangat senang ketika pasangan terlihat bergantung dan membutuhkan dirinya. Ia lantas berlutut di tepi ranjang sambil menangkup wajah Nadya.


"Iya, pulang kantor aku pasti mampir ke sini!" ucapnya seraya menempelkan dahi mereka.


Nadya mengawal kepergian Chalvin dengan tatapan sendu. Jangan menjadi rumah untuk seseorang yang berjiwa melancong. Mungkin itu kata-kata yang cocok untuk direnungi Nadya saat ini. Bagaimana tidak, kekasihnya adalah mantan seorang playboy. Hubungan mereka tak mendapat restu bahkan pria itu akan dijodohkan dengan wanita lain yang bukan dirinya. Melepaskannya hanya tinggal menunggu waktu. Lucunya, meski sudah tahu akan seperti itu, ia tetap berusaha mempertahankan hubungan mereka. Sebab, ia hanya ingin dicintai Chalvin sebagaimana porsinya dalam mencintai pria itu


****


Kampus masih berjalan seperti biasa. Di saat para mahasiswa lainnya sibuk dengan kegiatan mereka, para Mahdi justru bersantai di bawah tangga sembari menunggu jadwal mata kuliah mereka. Bukan hal baru lagi melihat mereka seperti itu sambil saling mengadu nasib.


"Padahal gua bukan tombol, tapi kok gua tertekan mulu, ya!" keluh gimbal pada kawan-kawannya.


"Gua beda lagi. Tiap hari hati gua kacau padahal gak ada balon yang meletus," sambung Jamet dengan wajah nelangsa.


"Itu tandanya kita butuh pacar. Biar kehidupan kita lebih berwarna. Contohi Feril noh yang akhir-akhir ini ceria banget," balas kawannya.


"Pacaran itu dosa, Cuy! Makanya mending kita hancurin hubungan orang aja biar dapat pahala!" cetus Jamet dengan bangga.


"Hadeh, kalimat pertama udah bener, kalimat kedua malah sesatt!"


"Kalo kata gua lebih ke riba, sih. Soalnya pas kita jatuh cinta hati kita berbunga-bunga," kata gimbal.

__ADS_1


"Kagak gitu konsepnya, Cung! Tapi emang ada baiknya kalian berdua jomblo, sih! Biar anak gadis orang terselamatkan," imbuh kawannya.


Di tengah obrolan santai mereka, Feril yang baru saja tiba di kampus langsung menghampiri kawan-kawannya. Berbeda dengan mereka yang tampak galau, Feril justru terlihat bersemangat tanpa beban.


"Ril, lu sejak dekat ma Bu Marsha muka lu jadi kek cahaya matahari pagi. Berseri-seri gitu," celetuk temannya.


Feril hanya menyengir halus. Teman-temannya hanya tak tahu kisah di balik kedekatan mereka. Bagaimana tak berseri-seri, jika setiap hari dia tak perlu memikirkan tugas harian yang menumpuk seperti cucian.


"Ril, udah sejauh mana nih hubungan elo sama Bu Marsha?"


"Udah sampe ditahap bawa martabak ke rumahnya, belom?" tanya mereka penasaran.


"Lu kira Bu Marsha seumuran kita yang ortunya masih perlu disogok? Tipe kek Bu Marsha itu pasti independen woman bukan nempel di ketiak emaknya kek kita-kita," sambar Jamet.


"Ngomong apaan, sih, kalian? Kagak usah bahas itu, mending lu dengar gosip terbaru yang gua bawa!" Feril mengalihkan pembicaraan teman-temannya dengan membahas hal-hal yang sedang santer di kalangan mahasiswa.


Seorang dosen berkepala tandus yang baru saja keluar dari ruangannya, mendadak berdeham keras di belakang mereka. Pasalnya, para Mahdi itu menghalangi jalannya.


"Eheemmm ...."


Para Mahdi bergegas membuka jalan untuk dosen mereka.


"Kalian ini masih pagi-pagi dah pada ghibah!"


"Anjayy! Feril setelah dekat sama Bu Marsha bahasanya akademis banget!" bisik Jamet.


Bapak itu malah menggeleng-geleng pelan. "Pandai banget ngelesnya! Hidup kalian kok gini-gini aja!"


"Gak papa, Pak. Gini-gini juga kita tetap hidup!" balas Feril.


"Kalian ini apa gak punya cita-cita?" decak dosen tersebut.


"Kebetulan, Pak, cita-cita jadi crazy rich udah tercapai setengahnya. Crazy udah diraih, tinggal rich-nya yang masih berupa angan-angan," jawab Feril sambil terkekeh.


"Mahasiswa kayak kalian gini, bagusnya ditangani sama dosen yang mengidap darah rendah, biar darahnya langsung naik!" ketus pak dosen tersebut.


"Kita-kita ini orang humoris, Pak. Makanya hidup kita bergelimang haha," celetuk Gimbal dengan santai.


"Ya, makanya nilai kalian juga nantinya haha juga alias hadeh ... hangus!" tandas dosen itu sambil berlalu.


Feril lanjut mengobrol dengan kawan-kawannya. Namun, salah satu di antara mereka tiba-tiba menepuk pundaknya dengan cepat.


"Ril, lihat, tuh! Bu Marsha cantik banget!"

__ADS_1


"Apaan, sih!" Feril berbalik kesal.


Hanya sedetik, raut wajahnya mendadak berubah ketika melihat Marsha yang berjalan dengan tampilan sempurna. Perempuan seumuran Darren dan Chalvin itu, tengah memakai kameja navy lengan panjang dipadu dengan rok ketat sebatas lutut yang menunjukkan keindahan pinggulnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai indah ditambah dengan sepatu hak tinggi yang menonjolkan keseksian bentuk betisnya. Siapapun pasti akan melongo melihatnya, termasuk Feril sendiri.


"Mantep, Ril. Pagi-pagi dah disenyumin ayang!"


Feril hanya terdiam. Sejujurnya ia antara percaya dan tak percaya dengan yang dilihatnya saat ini. Bagaimana tidak, seingatnya baru kemarin mereka berpapasan di sini, tapi Marsha bersikap seolah tak saling kenal. Namun, melihat perempuan itu memang tengah tersenyum padanya sambil berjalan menuju ke tempatnya saat ini, jantung Feril pun mendadak jumpalitan. Semakin dekat langkah kaki perempuan itu, semakin membuatnya kesulitan menahan degupan jantung yang kian bertalu-talu. Tentu reaksi aneh tubuhnya ini tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Minggir, yuk! Minggir!" cetus kawan-kawannya ketika Bu Marsha terlihat hendak menghampiri Feril.


Langkah Marsha semakin dekat, senyumnya pun lebih lebar dari sebelumnya. Feril yang juga ikut melempar senyum, berinisiatif untuk menegurnya lebih dulu. Baru saja melambaikan tangan ke arahnya, Marsha lebih dulu bersuara.


"Darren, tumben udah datang sepagi ini?" sapa Marsha dengan menampilkan senyum semringah.


Feril lantas berbalik ke belakang, rupanya di belakangnya saat ini, Darren sedang berjalan pelan menuruni anak tangga. Mengetahui senyum dan sapaan itu bukan untuknya, Feril yang sebelumnya berdiri di bawah tangga, lantas menepi agar tak menghalangi keduanya untuk saling menyapa.


"Iya, nih, baru ngisi mata kuliah pagi lagi," ucap Darren. Ketika menoleh ke samping, mata pria itu langsung bersitatap dengan Feril. "Eh, Feril, saya dengar kamu sekarang udah mulai berubah. Banyak dosen yang bilang kamu udah rajin ngumpulin tugas. Pertahankan, ya!" ucap pria itu sembari menepuk lengan Feril.


"Iya, Prof!"


Lirikan mata Feril tertuju pada Marsha yang melengos, seolah menghindari bertatapan dengannya. Sebaliknya, melihat Darren dan Marsha yang berhadap-hadapan seraya mengobrol di tepat di samping Feril, membuat gerombolan Mahdi kebingungan.


"Kok Feril dicuekin gitu, ya?" tanya Jamet heran.


"Hooh, jatuhnya kek kekasih gak dianggap."


Di sisi lain, Chalvin baru saja tiba di kantornya. Hari ini ada banyak aktivitas yang harus dilakukan karena sebentar lagi ia akan diangkat sebagai wakil direktur menggantikan posisi Barack yang naik sebagai direktur umum perusahaan seiring kakek Aswono memilih pensiun mengurusi perusahaan.


Begitu tiba di ruangannya, ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kursi sambil menekan tombol panggilan yang terhubung langsung ke meja kerja sekretarisnya.


"Brella, tolong cepat ke sini bantuin saya!" pinta pria itu.


Chalvin menghidupkan laptopnya, lalu membuka website resmi salah satu toko perhiasan ternama untuk mencari rekomendasi cincin terbaru. Selang lima menit kemudian pintu ruangannya pun terbuka. Namun, yang datang bukanlah Brella, melainkan Silvia. Ini tentu membuat pria itu terperanjat.


"Ngapain Lo datang ke sini?" ketus pria itu.


Sambil tersenyum, Silvia pun menjawab, "Aku sekretaris baru kamu. Oma yang nempatin aku di kantor ini buat gantiin posisi sekretaris kamu sebelumnya."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2