
Darren kembali ke ruang dosen dengan membawa wajah yang kusut. Ia duduk termenung seraya memikirkan kembali kata-kata yang diucapkan mahasiswa bimbingannya. Tak disangka, sikapnya yang selalu peduli dan kerap memberi semangat pada mahasiswa bimbingan, malah disalahartikan. Lebihnya lagi, kini menjadi bumerang bagi istrinya sendiri.
Marsha yang baru saja masuk di ruang dosen, tak sengaja menoleh ke arah Darren yang duduk termenung di meja kerja. Perempuan dengan tinggi ideal itu langsung menghampiri Darren, seraya menunjukkan sebuah tangkapan layar dari WhatsApp grup mahasiswanya.
"Ren, kamu dah tahu belum, istri kamu jadi bahan gosip mahasiswa beberapa hari ini?"
Darren membaca isi chat rundungan para mahasiswa yang ditujukan pada istrinya. Mereka menuduh Karen sebagai pelakor hanya berdasarkan isu simpanan dosen. Bahkan julukan sebagai "ayam kampus" juga tersemat padanya.
Dengan wajah menahan geram, Darren bergegas beranjak dari meja kerjanya. Namun, Marsha malah menahannya.
"Ren, kamu bakal ngapain?"
"Aku mau ngasih tahu kalau Karen itu istri aku."
"Hah?" Marsha membuang pandangan sambil tersenyum ringkih. "Apa Karen setuju kalian go public?"
Darren mengernyit tak paham.
"Denger, Ren! Kamu tuh diidolakan banyak mahasiswa, bahkan di luar fakultas ekonomi juga banyak mahasiswa yang nge-fans sama kamu. Terus, ngungkapin kalau Karen itu istri kamu, apa enggak bikin dia semakin dibully para pengagum kamu?"
Darren terdiam sembari berpikir. Ya, benar! Buktinya mahasiswa yang mengetahui hubungannya dengan Karen, sampai nekad berbuat apa saja untuk membuat istrinya tak tenang di kampus ini. Apalagi, jika seluruh mahasiswa mengetahui pernikahan diam-diam mereka. Kini, ia bisa mengerti mengapa Karen menahannya ketika ia hendak mengumumkan pernikahan mereka dan meminta menunggunya hingga bisa berada di level terbaik dirinya.
Darren terduduk kembali, menatap tak tentu arah sambil bergumam, "Ini semua salahku! Seharusnya aku gak sembunyiin status pernikahan aku."
Marsha terdiam seraya memandang Darren. Sejujurnya, saat melarang Darren mengungkap status pernikahannya, itu dia lakukan bukan untuk Karen melainkan untuk dirinya sendiri. Meski telah merelakan Darren, tetap saja ada beberapa hal yang terkadang masih sulit untuk ia terima. Termasuk pernikahan pria tersebut.
Langit yang mulai menggelap menjadi pertanda bahwa petang telah datang menjemput malam. Darren yang baru saja pulang, langsung disambut ceria oleh Karen. Bagai anak kecil, perempuan itu langsung memeluknya dengan erat hingga membuatnya tak bisa bergerak.
"Sayang, kalau gini kamu kayak ular piton yang lagi mangsa musuhnya sebelum dimakan," ucap Darren yang terhenyak menerima pelukan Karen.
"Aku emang pengen makan kamu!" Karen berjinjit untuk menggigit telinga Darren dengan gemas.
Darren memeluk pinggang istrinya kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi dan membawanya duduk di atas meja makan. Ia lalu meletakkan bagpaper dari toko roti ternama. Melihat itu, Karen segera membuka tas kertas tersebut. Matanya berbinar melihat beberapa aneka dessert dan cake yang dibeli Darren.
"Ini kan dessert enak yang paling kusuka!" seru Karen dengan senang.
"Ini semua buat kamu. Habisin, ya!"
Karen mengambil dessert box dengan toping ganache berlimpah. Jari telunjuknya malah tercelup ke dalam ganache tersebut sehingga membuat ujung jarinya berlumuran cokelat.
"Aduh tangan aku kena cokelat!"
__ADS_1
Baru saja Karen hendak mengambil tisu yang juga berada di atas meja, Darren malah menahan pergelangan tangannya kemudian menjilat cokelat ganache yang mengotori jari telunjuk perempuan itu.
Karen tersenyum simpul. Sambil menatap Darren, ia malah mencolek ganache cokelat itu lagi, kemudian sengaja melumuri cokelat itu di atas permukaan bibirnya dengan gerakan seksi.
"Yah, bibirku juga kena cokelat!" ucap Karen sambil memajukan dagunya.
Darren memajukan wajahnya secara perlahan, kemudian menyentil dahi Karen. "Dasar setan kecil! Doyan banget godain aku."
Karen meringis sembari memegang dahinya yang sakit. "Aku peri, tahu!
"Peri itu baik hati. Bukan tukang godain orang."
"Kalau gitu panggil aku peri penggoda yang cantik."
"Peri genit!"
"Peri penggoda!"
"Peri genit!"
"Kamu bapak-bapak tua!" balas Karen tak kalah sengit.
Mata Darren sontak terbelalak karena tak terima disebut bapak-bapak tua. "Enak aja manggil aku bapak-bapak tua. Masih keren gini!" ucapnya narsistik untuk pertama kali.
"Aku tetap jadi bapak-bapak keren, dong!" balas Darren.
"Terus gimana kalau entar setelah punya anak aku malah jadi emak-emak dasteran yang gak punya waktu rawat diri?"
Darren tersenyum simpul. "Mau gimanapun penampilan kamu nantinya, aku tetap suka kok."
"Beneran? Gimana kalau nanti badan aku tiba-tiba jadi gendut dan penuh stretch mark? Kamu bakal ninggalin aku, gak?" Karen menunjukkan sebagian kekhawatirannya jika suatu saat melahirkan dan memiliki anak.
Darren tersenyum simpul. "Aku juga pernah punya kekhawatiran yang sama kayak kamu. Saat Oma ngasih tahu kalau calon istri aku gadis yang usianya masih dua puluh tahun, aku langsung berpikir ... dengan jarak usia kita yang jauh, apa kamu masih terima kalau lebih dulu jadi tua, keriput, dan rambut ubanan? Tapi, tiba-tiba aku lihat sekeliling, ada banyak pasangan yang berubah fisik secara alami. Mereka yang dulunya kurus, sama-sama menggemuk setelah punya anak ataupun sebaliknya. Yang tadinya kencang, sama-sama mengeriput seiring banyaknya waktu yang mereka habiskan. Bukannya itu salah satu hal yang paling romantis dalam pernikahan? Menjadi saksi perubahan fisik pasangan kita, dan tetap bersama meskipun ada hal-hal yang telah berubah."
"Benar juga, ya! Aku jadi penasaran seperti apa nantinya kamu kalau dah ubanan." Karen terkikik.
"Aku mengartikan pernikahan itu seharusnya menjadi kisah cinta terpanjang yang hanya bisa berakhir ketika maut datang. Jadi, jangan takut kalau fisik kamu berubah suatu saat," sambung Darren seraya menatap lamat-lamat netra legam Karen.
Kedua tangannya menangkup wajah istrinya yang mungil, kemudian mendekatkan wajahnya secara perlahan. Bibirnya mulai bergerak lembut di atas permukaan bibir Karen yang berlumuran cokelat. Mata Karen menutup perlahan seraya membalas pagutan Darren. Bibir-bibir mereka menempel erat, saling mereguk rasa manis yang tercipta dari sisa-sisa cokelat.
Darren melepas pertautan bibir mereka sambil memandang wajah istrinya. Jari-jarinya menyisir rambut halus Karen dengan lembut seraya menyibakkan poni ke belakang.
__ADS_1
"Ya, kamu emang peri yang tiba-tiba datang di kehidupan aku."
Karen langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Darren. "Sebaliknya kamu dosa yang aku miliki."
"Hah? Dosa?" Alis Darren mengeriting tak terima dikatakan sebagai dosa."
"Ya, pak Dosa!" ulang Karen sekali lagi, "Dosa itu kepanjangan dari dosen sayang."
"Aneh banget! Gak ada nama panggilan lain apa?"
"Pak Dosa!" panggil Karen sambil mengedipkan mata.
"Ganti! ganti!" protes Darren.
"Gak mau! Pak Dosa!" sebut Karen kembali seraya menyenggol betis Darren dengan ujung jari kakinya.
"Ganti!" Mata Darren melotot tajam.
Karen memberengut seraya bersedekap. "Aku dah lama mikirin panggilan kesayangan buat kamu, tapi yang bikin orang di kampus gak curiga."
"Kamu udah sehat, kan? Besok kita ke kampus bareng, ya?"
Mimik wajah Karen berubah seketika. Ia langsung mengelus-elus tangannya sendiri dengan gelisah.
"A ... aku masih enggak enak badan. Masih butuh istirahat!"
"Kenapa kamu gak mau ke kampus? Kamu cuma pura-pura sakit, kan?"
Wajah Karen kaku seketika. Namun, tak lama kemudian ia malah menyengir bodoh. "Kok tahu, sih! Biasalah ... penyakit malasku lagi kumat. Kamu tahu sendiri kan, mood aku sering berubah-ubah."
"Kalau gitu gak ada alasan buat gak ke kampus besok!" tandas Darren yang langsung masuk ke kamar meninggalkan Karen yang duduk mematung di atas meja makan.
Waktu menyeberang dengan cepat ke hari berikutnya. Karena tak bisa mengelak lagi, Karen terpaksa masuk kampus meski sebenarnya ia masih khawatir akan mulut orang-orang yang terus menggosipkan dirinya.
Darren memarkirkan mobilnya di parkiran khusus dosen. Mata Karen memantau area itu penuh kewaspadaan. Merasa aman dan tak ada orang, ia bergegas turun dari mobil Darren dan berjalan mengendap-endap seperti biasa. Namun, jantungnya mendadak berdetak sengit, saat Darren langsung meraih tangannya kemudian memaksanya berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggenggam.
"Ren, kamu gila, ya! Kalau ada yang lihat kita gimana?" Karen berusaha melepaskan tautan tangan mereka.
"Gak papa. Banyak yang lihat lebih bagus. Udah waktunya orang-orang tahu kan kalau kita gak sekadar punya hubungan. Mereka perlu tahu kalau kita ini suami istri."
.
__ADS_1
.
.