
"Hei, Ren, lu kayak mau pindahan aja," cela Chalvin sambil melihat barang bawaan Darren.
"Soalnya Karen mungkin bakalan tinggal semingguan di sini sampai hasil biopsi keluar. Oh, iya, kalian udah lama di sini? Kok bisa barengan?" tanya Darren menghampiri keduanya.
Marsha langsung maju selangkah dari Chalvin. "Aku lagi dinner bareng dosen-dosen lainnya tadi. Terus, tiba-tiba pak Budi ngasih kabar kalo kamu gak bisa datang karena istri kamu sakit. Jadi aku inisiatif buat jengukin ke sini, gak tahunya malah ketemu Chalvin. Jadi, kita sekalian aja," jelas Marsha panjang lebar.
"Datang jenguk atau datang julid," gumam Chalvin dengan suara nyaris berbisik sambil mendelikkan mata. Tak pelak, lemparan tatapan sinis dari Marsha pun mengarah padanya.
"Kalo gitu, ayo masuk!" ajak Darren sambil membuka pintu kamar rawat Karen.
Marsha dengan senyum penuh percaya dirinya, lantas segera berjalan menyusul Darren. Sayangnya, langkahnya langsung tercegat oleh Chalvin yang lebih dulu menggandeng tangannya.
"Kita barusan habis jenguk Karen, kok. Udah sempat bincang-bincang juga. Biarin aja Karen istirahat. Aku sama Marsha mau pulang dulu. Kayaknya kita mau singgah makan sambil reunian mengenang masa SMA," ucap Chalvin seraya menyengir.
Perkataan Chalvin, tak ayal membuat Marsha menoleh cepat ke arahnya dengan mata yang terbelalak.
Sementara, Darren malah menanggapi santai. "Oh, gitu. Thanks, ya, Marsha udah repot-repot datang ke sini. Salam sama dosen lainnya, aku mungkin gak bakal masuk kampus sampai liburan semester."
Baru saja Marsha hendak berkata, Chalvin malah lebih dulu menimpal. "Ya, sudah. Lu masuk, gih, sana! Dari tadi Karen nyariin lu. Katanya lama bener! Orang sakit gampang ngambek, loh!"
Darren mengangguk, lalu membuka pintu kamar rawat Karen.
Senyum paksa terbingkai di bibir Marsha. Alih-alih hendak memberi semangat pada mantan kekasihnya itu, ia malah tak diberi kesempatan oleh Chalvin untuk bicara sepatah kata pun. Setelah Darren masuk ke ruangan, Chalvin pun menjadi sasaran kekesalannya.
"Apaan, sih, kamu?" serang Marsha.
"Kalo gak mampu berbuat kebaikan atau sekedar bersimpatik, mending tahan lisan lu biar gak nyakitin orang lain." Kalimat menohok meloncat keluar dari mulut Chalvin.
Pria berpenampilan kasual itu memutar tubuhnya dengan santai, meninggalkan Marsha yang tampak geram. Sebenarnya, ia masih ingin mengetahui keadaan Karen lebih jauh. Namun, jika ia tak segera pergi, maka Marsha akan tetap berada di sana untuk menyerang mental Karen.
"Apa bagusnya dia sampai bisa menangin hati Darren dan Oma Belle, udah gitu dibelain sama Chalvin juga!" gerutu Marsha kesal.
Tindakannya saat ini, hanyalah bentuk dari rasa cemburu dan ego dalam dirinya. Hal ini sering terjadi pada orang-orang yang belum beranjak dari masa lalunya. Gusar melihat kebahagiaan sang mantan kekasih dengan pasangannya, sebaliknya merasa senang ketika mantan kekasih diterpa masalah dengan pasangannya. Sebab, ia hanya ingin membuktikan tak ada yang terbaik selain dirinya.
Darren masuk ke ruangan sambil membawa tas dan menarik koper yang berisi kebutuhan istrinya. Kedatangannya tentu saja disambut Karen dengan ceria.
__ADS_1
"Chalvin sama Bu Marsha dah pulang, ya?"
"Iya, barusan pamit."
Karen tertegun. Kata-kata Marsha yang mengatakan jika Darren kerap tertimpa masalah sejak menikah dengannya, mendadak berkelebat dalam benaknya.
Dalam hidup, tak hanya berisi orang-orang yang menginginkan kita, tapi juga orang-orang yang tidak menginginkan kita. Maka dari itu, kenapa tak fokus saja pada orang-orang yang menginginkan kita? Seperti itulah yang ada di pikiran Karen saat ini ketika mulai menyadari kehadirannya di sisi Darren, tidak disenangi oleh Marsha. Namun, bukan berarti ia tak memikirkan seluruh perkataan mantan kekasih Darren itu.
Darren menoleh sesaat, melihat Karen yang mematung cukup lama dengan tangan yang tak lepas dari gawai.
"Stop main hp! Kamu harusnya digital detox selama beberapa hari ini." Darren mengambil gawai dari tangan Karen dengan lembut, lalu menyimpan ke dalam laci nakas.
"Oma dan kakek tahu belum, kalo aku kena tumor?" tanya Karen tiba-tiba.
Darren terdiam sejenak, lalu mengurai senyum tipis. "Belum.
"Kira-kira ... apa yang bakal kakek dan Oma bilang kalo mereka tahu?" pikir Karen penuh rasa khawatir. Sejujurnya, ia merasa lega karena Oma dan kakek belum mengetahui keadaannya. Di sisi lain, ia juga penasaran ingin mengetahui reaksi mereka. Apalagi jika tahu kemungkinan rahimnya akan diangkat.
"Jangan terlalu dipikirin! Semua enggak bakal seburuk dugaanmu," ucap Darren sembari memasukkan pakaian mereka ke lemari dan meletakkan sejumlah makanan dan buah-buahan ke dalam kulkas.
"Sudah aku bilang, jangan terlalu dipikirin," tandas Darren sambil menarik selimut hingga sebatas dada Karen, "tidur, ya? Besok kamu bakal jalani serangkaian tes. Aku mau tidur juga!"
Darren lalu meletakkan bantal di ujung sofa kemudian berbaring dengan perlahan. Baru saja hendak memejamkan mata, ia terhenyak ketika Karen memaksa turun dari ranjang, kemudian berjalan sambil membawa tiang infus.
"Kau mau ke mana?" tanya Darren.
Perempuan itu duduk di sofa yang ia tiduri, lalu ikut berbaring di sisinya dengan posisi membelakanginya. "Aku mau tidur bareng kamu."
"Kamu enggak bakal nyaman tidur di sini. Tempat ini sempit."
"Gak papa. Asal bisa tidur di pelukanmu," balas Karen sambil melingkarkan tangan Darren di pinggangnya. Ia meyakini pelukan dari orang tersayang adalah salah satu penyembuhan rasa sakit paling mujarab, karena mengandung penenang alami.
"Ya, sudah kalau gitu." Darren sengaja tak banyak bicara agar istrinya cepat terlelap.
"Ren ...." panggilnya pelan setelah lima menit kemudian.
__ADS_1
"Kenapa? Sakit?" tanya Darren cepat sambil mengangkat kepala mencoba mengintip wajah istrinya, kemudian memeriksa selang infus.
Karen menggeleng. "Aku bahkan enggak ngerasa sakit meskipun divonis lagi sakit."
"Terus?"
"Aku boleh nanya, gak?"
"Hum ...." Lelaki itu mengiyakan dengan sebuah dehaman.
"Kenapa kamu masih mau bertahan sama aku, meskipun dokter udah bilang seburuk-buruknya yang mungkin bakal aku alami?"
Karen memaksa berbalik agar bisa saling berhadapan. Dua pasang mata itu kini saling menatap, napas mereka pun saling berbaur.
"Maaf, seharusnya kamu menikmati tahun pertama pernikahan kita, tapi malah sibuk ngurusin orang sa—"
Kalimatnya tak berlanjut ketika Darren membungkam mulutnya dengan sebuah kecupan hangat. Tidak lama. Kecupan itu terlepas begitu saja. Namun, tatapannya masih melekat erat pada manik istrinya.
"Makasih, ya, udah mau jadi istri aku. Pasti sulit bagi kamu hidup dengan orang sebelumnya enggak kamu kenali," ucap Darren dengan suara berbisik sambil membelai lembut pipi istrinya.
Jempolnya menarik lembut dagu Karen, sengaja membuat bibir perempuan itu sedikit terbuka agar bisa menyelipkan bibir hangatnya di sana. Ciuman itu begitu dalam, lekat dan kuat. Dilakukan untuk meredam segala kegusaran, kekhawatiran, dan kata-kata beraroma self blame¹ yang akan dilontarkan oleh istrinya itu.
Di ruangan itu, keduanya pun tidur di atas sofa yang tak terlalu besar, membiarkan ranjang pasien kosong hingga kegelapan direnggut oleh sang fajar.
.
.
.
Jejak kaki 🦶🦶
Self blame : siksaan emosional yang dilakukan seseorang terhadap dirinya sendiri. Bahasa sederhananya sering menyalahkan diri sendiri.
Kalo digital detox ada yang masih ingat, gak? Pernah gua jelasin di novel sebelah.
__ADS_1