
"Ini dosen baru yang pernah negur bercandaan kita, kan?" tanya teman-temannya.
"Iya, dosen belagu idola para betina di kampus," sahut lainnya.
"Gak mungkin Karen pacaran sama nih orang!" Feril menggeleng-geleng kepala menolak dugaan temannya.
"Benar, sih. Nih orang terlalu sempurna untuk level anak kampus. Secara ... dia gak cuma ganteng, tapi seorang profesor juga, Ngab!" timpal temannya yang berambut gimbal.
"Kakaknya Karen kali, atau omnya gitu!" duga teman satunya lagi.
"Masa, sih? Emangnya kalau di kampus mereka akrab gak, sih?" tanya Feril.
"Yo, nda tahu kok tanya saya!" balas temannya.
Feril menatap kawannya yang lain seolah hendak melempar tatapan serupa.
"Bukan urusan saya!" ketus teman satunya sambil bersedekap.
"Bikin kesel aja kalian semua!" cerocos Feril menyeringai.
"Lah, yang terobsesi sama Karen kan lu doang. Seharusnya lu lebih tahulah daripada kita-kita!" sambung kawannya.
"Daddy suggar-nya kali! Jangan lihat tampilan luarnya yang perfect! Justru model-model dosen kek gini, full pencitraan padahal busuk! Paling juga suka manfaatin mahasiswi yang klepek-klepek sama dia." Farel yang baru datang, tiba-tiba menyambung pembicaraan mereka sambil menyalakan pemantik api di rokoknya.
Temannya yang mendapat pukulan Chalvin kembali berkata, "Pokoknya yang kita tahu, dua pria ini kek bodyguard-nya doi, ngelindungin banget! Kita juga enggak mau berurusan lagi sama tuh keluarga."
Feril bergeming dengan pikirannya yang sibuk menduga-duga. Pikirnya, jika dosen mereka itu ada bersama Karen semalam, lantas ada hubungan apa di antaran keduanya? Mengingat, Karen sendiri adalah tipe cewek yang sulit didekati para cowok.
__ADS_1
...----------------...
Beberapa hari kemudian, Darren masuk mengajar di kelas semester lima. Seperti biasa, kehadiran dosen tampan itu menjadi ajang para mahasiswi untuk adu gaya dan kecantikan, berharap akan dilirik olehnya. Sepuluh menit setelah materi dimulai, Feril dan tujuh kawannya melenggang santai masuk ke ruangan itu. Beberapa dari mereka adalah kumpulan MAHDI yang selalu mengulang semester dan terancam dikeluarkan dari kampus.
"Kalian dah terlambat, tahu!" tegur salah satu mahasiswa.
Feril dan kawan-kawannya lantas berhenti, lalu menoleh ke arah Darren. "Tidak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu! Bukannya begitu, Prof?" ucap Feril diiringi sorakan kawan-kawannya.
Darren tak merespon dan memilih melanjutkan pemaparan materi. Kehadiran para mahasiswa kunang-kunang itu, membuat kelas yang tadinya tentram menjadi berisik seketika. Bukannya masuk untuk menerima materi, mereka malah membuat keributan seperti mengobrol, bermain gim di gawai, menonton Youtube hingga sesekali tertawa terbahak-bahak.
Feril duduk bersandar sambil menaikkan satu kakinya ke kursi kosong yang berada di depannya. Sedari tadi pria itu memantau Darren yang terus menerangkan, seolah tak terpengaruh akan sikap teman-temannya. Ia juga melihat para mahasiswi yang mengabaikan kehadiran mereka. Malahan, teman sekelasnya itu tampak antusias dengan materi yang disampaikan profesor muda itu.
"Woi, jangan berisik! Kalian mengganggu pak profesor yang lagi ngajar. Benar, kan, Pak?" teriak Feril tiba-tiba mencoba mengalihkan perhatian seisi kelas.
Suasana kelas yang tadinya ribut seperti pasar mendadak hening bagaikan kuburan.
Balasan Darren yang di luar dugaan membuat mata Feril terbelalak diikuti suara teriakan dukungan dari teman-temannya.
"Yang penting kehadiran, kan, Pak?" sahut kawan Feril sambil tertawa mengejek.
Darren menggeleng pelan. "Tidak masalah juga jika kalian tidak masuk kelasku selama satu semester penuh."
Kali ini, giliran temannya itu yang melongo kaget karena Darren sama sekali tidak peduli dengan tingkah mereka yang sengaja membuatnya kesal. Andaikan itu dosen lain, pasti mereka telah diusir dari kelas.
"Mengajari orang yang tidak tahu tujuan belajar, hanya akan sia-sia!" ucap Darren sambil melepas kacamatanya, "ada dua jenis manusia di dunia ini. Mereka yang bisa memberikan contoh baik dan mereka yang malah memberi contoh buruk. Sekarang, tergantung kalian, mau berada di posisi mana?" lanjutnya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh mahasiswa.
"Wah, wah, ini maksudnya apa, nih!" Salah satu dari mereka mulai bereaksi.
__ADS_1
"Kalian bukan lagi siswa yang harus ditegur atau dihukum. Kalian adalah mahasiswa. Disebut maha karena status kalian melebihi siswa biasa. Kalian adalah calon intelektual dan calon cendekiawan yang diharapkan mampu meningkatkan SDM negara ini. Jangan sampai status mahasiswa itu beralih menjadi mahasisa yang hanya sekedar membuat penuh universitas dan keluar sebagai sampah masyarakat!" Saat mengatakan kalimat terakhir, sorot mata Darren berubah menjadi tajam disertai ekspresi serius.
Salah satu dari kelompok Feril berdiri dengan wajah geram. "Ini maksudnya lagi nyindir kita-kita?"
Darren tersenyum miring. "Kalau kamu tersindir, bagus! Itu artinya hati kamu masih berfungsi. Kadang-kadang manusia perlu ditampar dengan kata-kata pedas agar segara sadar!"
"Lihat aja, ya, sepuluh tahun ke depan aku bakal jadi menteri pendidikan. Hal pertama yang bakal aku lakuin meniadakan skripsi!" sahut teman Feril yang berambut gimbal diiringi tepuk tangan riuh dari kawan-kawannya.
"Para pengkhayal mengubah dunia sesuai dengan keinginannya, sebaliknya para perenung mengubah dirinya agar bisa menjadi lebih baik," tandas Darren menohok.
"Wah, ngeremehin banget, nih, orang!" gumam Feril yang sejak tadi tak senang dengan perkataan Darren.
"Bukannya kalian yang duluan? Menonton dan bermain game dengan volume yang nyaring, terus tertawa terbahak-bahak saat sedang berada di dalam kelas. Kalian telah meremehkan teman kalian yang bersungguh-sungguh kuliah," tangkis Darren yang masih memasang mata tajam, "saya harap setelah mata kuliah ini selesai, kalian minta maaf pada teman-teman sekelas karena lima menit waktu berharga mereka yang saya gunakan untuk berbicara dengan kalian!" ucapnya lagi sambil melihat ke arah jam tangannya.
Feril berdiri seketika, menatap Darren dengan mata yang berapi dan tangan yang mengepal. Maksud hati hendak mencari gara-gara dengan dosen tersebut, yang ada malah dia dan kawan-kawan yang tersulut emosi.
"Cabut aja kita!" perintahnya pada gerombolan kawannya.
Mereka lalu nangkring di tempat biasa sambil mencari tahu profil Darren di internet. Untungnya, tidak banyak informasi yang bisa diberikan mesin maha tahu itu selain informasi seputar pendidikan, prestasi dan penelitian yang telah dibuat Darren. Ini karena ia adalah sosok low profile, sehingga tak banyak yang tahu latar belakang keluarganya sebagai old money.
"Kalau tuh dosen benar-benar keluarganya Karen, habis lu! Gak bakal direstuin!" kata temannya.
Salah satu temannya lalu menyiku lengannya sambil berkata, "Lihat, tuh, dosen dah keluar!"
Mereka kompak menoleh. Tak jauh dari tempat mereka, Darren terlihat berjalan cepat keluar dari gedung fakultas. Ya, selesai mengisi kelas, ia telah janjian bertemu dengan Karen di perpustakaan untuk membimbingnya seperti biasa.
"Eh, mau ke mana, tuh?" tanya Feril curiga, "ikutin ... ikutin ... buruan," ajaknya pada teman-temannya sambil berdiri.
__ADS_1