
"Serius lo berdua habis nyerang pak Darren?" tanya Jamet kaget.
"Yoi, Bro." Dengan bangganya mereka mengaku.
"Nekat banget, Njiir! Enggak takut diusut pihak fakultas lu?" kata Gimbal sedikit bergidik dengan aksi teman-temannya.
"Enggaklah! Kan enggak ada pantauan cctv juga!" jawab kedua pelaku itu dengan santai.
Feril lantas berdiri seraya memukul kepala dua kawannya. "Bego jangan diivestasi, dong! Apa kalian gak mikir yang kalian pukulin itu dosen, Dudul!"
Dari respon keras yang dilayangkan Feril, terlihat jelas pria itu tak setuju dengan tindakan dua temannya yang menyerang Darren.
"Eh, Ril, kita itu balas rasa sakit hati elu ke dosen itu!"
"Siapa yang sakit hati, hah? Gua diam-diam kek gini karena lagi menyesali kegoblokan gua yang selama beberapa bulan getol ngejar istri orang! Mana satu fakultas tahu lagi usaha gua buat ngejar Karen. Mau taruh di mana muka gua sekarang?"
"Tenang, Cuy. Untuk sementara muka lu simpan sama orang yang cari muka dulu!" imbuh Gimbal.
"Elu mending mingkem atau muke lu yang gak enak dipandang dari sisi manapun gua ilangin sekalian!" sambar Feril pada Gimbal.
"Ini semua gara-gara lo juga. Seharian cuma duduk bengong mulu kek kena wasir. Kita kan jadi mikir yang enggak-enggak."
"Iya, Ril. Kita itu cuma nunjukin rasa solid kita ke elu!"
Kedua orang itu kini balik menyalahkan Feril.
"Udah-udah ... dah terlanjur kek gini juga enggak usah ribut! Yang gua takutin sekarang, kalo sampai pak Darren ngelaporin ada yang nyerang dia."
"Kita enggak anarkis gimana juga. Paling kepalanya cuma benjol doang. Cengeng banget kalo dia pake acara ngelapor!" Si pelaku membela diri.
"Kalian enggak mikir panjang juga, sih! Kalo pihak kampus sampai tahu, auto di-DO lu pada!"
Feril terdiam sejenak. Jika itu benar-benar terjadi, maka dia tak bisa diam saja melihat dua kawannya berkasus hanya karena membela dirinya.
***
Tak terasa pergantian waktu mengantarkan pagi untuk menyapa seluruh manusia. Baru saja mengerjapkan mata, Karen mengernyit melihat tempat yang ditiduri suaminya telah kosong. Berpikir Darren sudah bangun terlebih dahulu, ia pun beranjak ke kamar kecil. Sekeluarnya dari kamar kecil, ia menghidupkan ponsel yang sedang mengisi daya.
Satu pesan yang belum terbaca langsung terlihat di layar ponsel. Ternyata pesan tersebut dari Darren yang mengabarkan jika dirinya tak akan pulang dan akan bermalam di rumah ayah Barack. Walau sempat mengernyit, tampaknya Karen tak terlalu mempermasalahkan itu. Ia memilih bersiap-siap ke kampus untuk menghadiri mata kuliah pagi.
__ADS_1
Setelah bersiap pergi, Karen turun dari lantai atas menuju ruang makan di mana kakek Aswono dan Oma Belle lebih dulu berada di sana.
"Mana suamimu?" tanya Oma. Sebagai orang yang memiliki kepekaan luar biasa, Oma Belle malah menaruh curiga.
"Gak pulang, Oma. Katanya bermalam di rumah ayah Barack."
"Loh, tumben! Emangnya kenapa sampai bermalam di sana?"
"Ya, mungkin aja temani Sheila sama mamanya. Kan Barack lagi di luar negeri." Kakek Aswono ikut menimpali dengan pikiran positif.
"Kayak balita aja minta ditemani. Nih, istrinya hamil yang perlu ditemani!" tandas Oma dengan nada sewot. Maklum, karena ia tak pernah menyukai istri kedua ayah Darren.
Kecurigaan Oma Belle justru menular pada Karen. Tak biasanya memang Darren menginap di tempat lain sekalipun rumah orangtuanya. Ia segera menyelesaikan sarapannya agar bisa ke kampus dan menemui Darren di sana.
Di apartemen, Chalvin tengah sibuk mengancing kameja putih sebagai dalaman tuksedo yang akan dipakainya hari ini. Pria itu menoleh ke kamar kecil, melihat Darren yang baru saja keluar. Ya, semalam ia menawarkan sepupunya itu untuk menginap di apartemennya.
"Udah mau ke kantor?"
"Iya, kebetulan hari ini produk Belleria buka stand di PRJ. Jadi aku mesti datang kontrol dan bantu promo-in, biar brand kita gak kalah saing dengan brand dari Korea dan Jepang," jelas Chalvin sambil memasang dasi.
"Oh, gitu. Kamu ada bahan makanan yang bisa dimasak, enggak?" tanya Darren sambil menuju dapur.
"Iya. Aku boleh masak pake bahan yang ada di kulkas kamu, ya? Aku mau buatin makan siang buat Karen." Meski bersaudara, Darren meminta izin terlebih dahulu pada Chalvin sebagai pemilik rumah.
"Ambil aja yang lu butuhin. Eh, tapi ... bukannya kamu gak mau ketemu dia dulu sampai perban bisa kebuka?"
"Ya, aku kirim pakai gojeklah!"
Karen tiba di kampus dan kembali modis seperti biasa. Memasuki tiga bulan masa kehamilan, ia masih aktif dengan berbagai kegiatan seperti biasa. Untungnya, ia tidak mengalami Emesis gravidarum¹ seperti ibu hamil pada umumnya. Ia juga tak terlalu pilih-pilih makanan.
Sehari setelah pernikahannya terkuak, Karen berusaha mengabaikan suara-suara sumbang yang tertuju padanya. Ya, memang ada berbagai macam reaksi dari teman sekelasnya. Sebagian perempuan yang memang kurang menyukainya hanya memandangnya dengan sinis tanpa berbicara apa pun. Sebagiannya lagi, malah mendekatinya dan memintanya untuk menceritakan hubungannya dengan Darren hingga bisa ke jenjang pernikahan. Sebaliknya, lelaki yang di kelas itu lebih santai. Kebanyakan dari mereka hanya memberinya julukan baru seperti ibu dosen, ibu profesor hingga nyonya Darren. Karen justru risi dengan julukan-julukan yang diberikan mereka. Meski begitu, ia merasa lega. Setidaknya, reaksi teman sekelasnya tidak seekstrem pikirannya selama ini.
Setelah jam mata kuliah pertama berakhir, Karen mendatangi ruang dosen hanya sekadar mengintip meja kerja suaminya yang searah dengan pintu ruangan. Melihat meja itu kosong, ia pun mencoba berdiri di tiang pintu seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ternyata, Darren memang tak ada di ruangan itu. Saat berpikir untuk mengecek ke tiap ruang kelas, suara Marsha yang memanggilnya seakan membuatnya tercegat.
"Karen, mau ngapain?"
"Ah, saya cuma nyari pak Darren, Bu," jawabnya sedikit kikuk karena beberapa dosen juga ikut menoleh ke arahnya.
"Loh, bukannya Darren masuk sore, ya? Dia kan semalam minta tukaran jam sama saya."
__ADS_1
Karen terhenyak seketika. Ekspresinya itu justru membuat Marsha kembali melayangkan pertanyaan dengan sudut bibir yang tampak mencibir.
"Memangnya dia gak kasih tahu kamu, ya?"
"Ah, semalam pak Darren memang bilang menginap di rumah orangtuanya. Saya juga gak suka kepo-in pekerjaan dia," balas Karen yang ingin segera beranjak. Namun, tiba-tiba pak Budi Luhur ikut menyahut.
"Oh, jadi yang ini toh istrinya pak Darren?" Suara pak Budi Luhur yang begitu menggelegar mengalihkan seisi ruangan, termasuk beberapa mahasiswa yang tengah berurusan dengan para dosen.
Karen menggigit bibirnya seraya menutup mata rapat-rapat. Tak ada alasan untuk berkelit atau pun menutupi. Tampaknya, pernikahannya dengan Darren akan segera terekspos ke seluruh fakultas atau mungkin seluruh kampus.
Sementara itu, Nadya baru saja mendatangi coffee shop-nya selepas mata kuliah pertama usai. Ia memberi tahu para karyawannya jika pamannya yang selalu owner dari kafe ini telah menyewa stand selama PRJ berlangsung.
"Andre, kamu ikut aku jagain stand di sana, ya?" pinta Nadya pada satu-satunya barista dan karyawan lelaki di kafenya.
Mereka lalu mempersiapkan peralatan yang akan dibawa ke stand pameran. Karena tak cukup untuk membawanya dengan motor, mereka terpaksa harus memesan grab. Sesampainya di sana, keduanya masuk sambil membawa peralatan dan mesin pembuat kopi. Tempat itu sangat ramai dengan para pengusaha yang juga ikut membuka stand di sana. Dari pengusaha kalangan menengah hingga kelas atas. Banyak juga YouTubers dan selebgram yang datang untuk membuat konten.
"Nad, itu bukannya pria yang datang di kafe semalam?" Barista bernama Andre mengedikkan dagu ke sebelah kanan.
Mata Nadya mengikuti gerakan dagu Andre. Benar, tak jauh dari mereka saat ini, ada Chalvin yang mengobrol dengan seorang gadis muda. Nadya sontak menaikkan tinggi-tinggi susunan gelas kopi yang dibawanya agar pria itu tak melihatnya.
"Itu cewek yang lagi bareng dia, kek seleb tiktok yang lagi hits, deh! Soalnya gua juga followers-nya!" celetuk Andre yang masih terus memerhatikan Chalvin.
"Eh, kita naik lift aja!" Langkah Nadya mendadak berbelok karena tak ingin berpapasan dengan Chalvin yang berdiri di dekat eskalator. Ini ia lakukan untuk menjaga hatinya sendiri.
Nadya memakai jurus kaki seribu menuju ke lift yang kosong. Begitu ia bernapas lega seraya bersandar. Ketika pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan menyerempet ke sela pintu sehingga kembali terbuka lebar. Nadya tercengang melihat Chalvin telah berada di hadapannya. Dengan santainya, pria itu langsung masuk di antara Nadya dan Andre, sengaja menggeser posisi barista yang sebelumnya berdiri di samping Nadya.
.
.
.
catatan kaki 🦶🦶🦶
Emesis gravidarum: gejala mual yang disertai muntah yang biasa terjadi pada ibu hamil trimester pertama
__ADS_1
Kak Yu mengucapkan selamat hari raya Idul Adha bagi yang menjalankan.