DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 212 : Apa yang Terjadi pada Nadya?


__ADS_3

Dari celah jendela, Chalvin bisa melihat Nadya terkapar tak sadarkan diri di lantai dalam ruangan. Tak ayal, ia pun berusaha mendobrak pintu kos kekasihnya itu agar bisa masuk.


"Nadya! Nadya!" panggil Chalvin sembari membaringkan kepala gadis itu di lengannya.


Chalvin meraba dahi Nadya. Suhu badan perempuan itu sangat panas dan dia menunjukkan tanda-tanda dehidrasi. Tak kunjung sadarkan diri, Chalvin pun berinisiatif membawa Nadya ke rumah sakit. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi supir keluarga Bratajaya untuk mengantar mobilnya ke alamat kos-kosan Nadya. Ya, tadinya ia memang hanya menaiki grab dari apartemennya karena mobilnya tertinggal di perusahaan sejak kemarin.


"Maaf, Pak. Tapi ... mobil bapak ada di rumah. Kemarin Bu Belleria yang suruh saya bawa ke sana," ujar pak sopir ketika Chalvin memintanya membawakan mobil.


"Ya, udah, kalo gitu ambil aja di rumah terus cepetan ke sini!" ucapnya dengan nada memerintah.


"Anu, Pak, tapi ... Bu Belleria udah larang saya. Katanya biar Pak Chalvin sendiri yang ambil ke sana," jawab supir dengan nada sungkan.


"Kalo gitu kamu ke sini pakai mobil apa aja yang ada di rumah."


"Anu ... Pak!"


"Apa lagi?"


"Masalahnya saya sekarang lagi siap-siap nganterin Bu Belle sama calon istrinya pak Chalvin."


"Jangan sembarang ngomong soal calon istri. Siapa yang mau nikah sama dia!" sergah Chalvin geram.


Chalvin mematikan ponsel sembari memekik kesal. Ia bisa menebak ini merupakan taktik Oma Belle agar membuatnya datang ke rumah dan menemui mereka untuk membicarakan perjodohan. Sialnya, mobil sport koleksinya juga ia titipkan di garasi rumah kakek dan Oma. Ia terpaksa membuka aplikasi Drive online untuk memesan taxi. Namun, seketika perhatiannya teralihkan saat melihat mata Nadya terbuka secara perlahan.


"Kak Chalvin ... kenapa ... ada di sini?" tanya Nadya dengan suara lemah tak berdaya.


"Kita ke rumah sakit, ya?" bujuk Chalvin sembari membelai pipi Nadya.


"Aku ... gak papa kok. Kak Chalvin ... pulang ... aja," ucapnya terbata-bata.


"Kalo kamu gak mau ke rumah sakit, aku bawa kamu ke apartemenku aja. Aku gak bisa biarin kamu sendirian dalam keadaan seperti ini."


"Aku gak mau jadi penyebab kak Chalvin dan Oma bertengkar lagi," ucapnya lirih. Tak bisa dipungkiri ia terus teringat kata-kata yang Oma Belle tujukan padanya saat mendengar pertengkaran keduanya.


"Tentang Oma itu jadi urusan aku." Chalvin kembali menatap layar ponselnya, tapi tangan Nadya yang panas menyentuh lengannya dengan pelan sambil menggeleng.


Chalvin menghela napas berat. Nadya tersentak saat pria itu langsung mengangkat tubuhnya dan membaringkan ke atas kasur busa kecil. Ya, kos-kosan yang dihuninya itu tanpa sekat dan hanya ada kamar mandi di sisi pojok sehingga ranjang dan kabinet dapur bersatu.


"Karena kamu gak mau dibawa ke rumah sakit, gak mau juga ke apartemen aku, maka aku yang bakal tinggal di sini buat jaga kamu," ucap Chalvin.


Nadya menunjukkan wajah keberatan. "Tapi ...."


Chalvin merekatkan jari telunjuknya di bibir Nadya yang kering kerontang. "Jangan khawatir! Aku hargai personal boundaries¹ di hubungan kita."

__ADS_1


(Boundaries: batasan. Pengertian selengkapnya ada di jejak kaki)


Chalvin mengambil air dan menuntun Nadya meminumnya, kemudian mengompres dahi Nadya dengan kain kecil yang telah dibasahi air. Ia membuka lemari kecil, lalu mencari pakaian longgar yang tipis, sebab Nadya masih memakai kameja kemarin yang sempat basah terkena hujan.


Nadya terkesiap saat Chalvin hendak membuka kancing bajunya untuk menggantinya dengan pakaian yang baru diambil di lemari. Ia bergegas merampas baju itu sembari menutup kembali kamejanya.


"Biar aku sendiri!"


Chalvin segera berbalik dan memunggungi Nadya yang mulai berganti pakaian. Karena terlalu lemah, gerakan tubuhnya sangat pelan dan lambat. Mengira Nadya telah selesai berganti pakaian, Chalvin pun berbalik. Sialnya, itu bertepatan saat Nadya sudah membuka kamejanya secara utuh sehingga mengekspos punggungnya yang mulus. Sontak, Chalvin pun memutar tubuhnya dengan cepat. Untuk pria yang memiliki iman setipis kulit bawang, pemandangan ini tentu terlalu bahaya baginya.


Usai Nadya berganti pakaian, Chalvin duduk di sisi kasur busa. Nadya tak mengerti tindakan Chalvin yang tiba-tiba menuntun untuk duduk di pangkuannya dan bersandar di dadanya. Pria itu kemudian membuka aplikasi dokter untuk melakukan konsultasi secara online melaluinya video call. Dokter memberikan resep obat setelah Nadya menjabarkan keluhan dan rasa sakit.


Chalvin kembali membaringkan Nadya. "Kamu istirahat dulu, aku mau beli obat dan bahan makanan!" ucapnya sambil mengambil kunci motor Nadya.


***


Di kediaman Bratajaya, Oma Belle mengajak Karen untuk menemaninya ke pesta pernikahan salah satu temannya. Meski akhir-akhir ini sering ditemani Silvia, tetap saja untuk acara-acara penting wanita tua itu ingin didampingi Karen.


"Karen, kamu juga ikut Oma, ya? Orang-orang perlu tahu kalo kamu menantu Bratajaya," ajak Oma Belle.


"Duh, maaf Oma, tapi aku sama mas Darren udah ada janji dengan dokter sejam lagi. Kita mau cek USG fetomaternal²."


"Oh, iya, monggo ... ke dokter aja, itu lebih penting untuk cicit Oma," kata oma yang langsung senang, kemudian mengelus-elus perut Karen yang mulai membesar, "Ini calon pewaris Bratajaya. Tumbuh sehat, ya, Nak."


Pandangan Oma Belle lantas mengarah pada Silvia. "Chalvin pasti datang ke pesta itu karena dia juga diundang. Bentar lagi dia pasti bakal ke sini buat ambil mobilnya. Jadi kita bisa pergi barengan ma dia," ucap Oma dengan keyakinan yang penuh.


***


Setiap masalah pasti akan berlalu. Berlalu lalang maksudnya. Belajarlah berpikir minimalis dengan menyingkirkan pikiran-pikiran yang memperumit hidup. Seperti yang rutin dilakukan Feril dan kawan-kawannya. Di kampus, para gerombolan Mahdi berkumpul seperti biasa.


"Info kos-kosan murah dong! Gua mau pindah, nih!" pinta Gimbal pada kawan-kawannya.


"Di dekat rumah gua ada, Cuy! Tapi serem, kata orang ada penunggunya. Dari kuntilanak, pocong, genderuwo, tuyul semua ngumpul di sana. Udah gitu, tiap malam ada suara-suara horor," papar salah satu kawannya.


"Buset itu kos-kosan apa kuburan?"


"TPS kali alias tempat penampungan setan," timpal Jamet.


"Gak papa deh horor, gua hafal doa makan kok, entar juga pada kabur semua tuh setan kalo pas gua bacain. Lagian di kos gua sebelumnya juga gua dah terbiasa dengar suara horor," balas Gimbal.


"Suara apa emang?" tanya kawannya.


Dengan enteng ia menjawab, "Suara token listrik mau habis, Bray."

__ADS_1


"Gak usah bacain doa, lihat tampang lu aja mereka dah kabur soalnya sereman elu dari pada mereka. Tapi kenapa lagi dah lu pindah tempat kos?" tanya Jamet bengong.


"Gua dapat kerjaan baru lagi tapi jauh dari tempat kos-kosan gua.


"Pindah kerja lagi lu?"


"Gua sih pengen ongkang-ongkang kaki doang kek anak orang kaya, apa daya warisan dari emak yang pake atas nama gua cuma sendok sama garpu."


"Kita samaan njirr ... Mak gua juga doyan banget ngumpulin warisan piring, sendok, garpu atas nama gua.


Obrolan tentang kos-kosan terpotong begitu saja saat mereka melihat Feril berjalan cepat ke suatu tempat. Sontak mereka membuntuti Feril secara diam-diam. Seperti biasa, pria itu tampak menuju atap gedung fakultas. Terus berjalan mengendap-endap melewati tangga, mereka terkejut begitu melihat Marsha telah berada di sana lebih dulu dan tampak tengah menunggu Feril. Dari tempat mereka mengintip, kedua orang itu tampak sangat dekat satu sama lain.


"Amalan apa yang dikerjakan Feril sampe bisa dapatin Bu Marsha?" gumam Jamet keheranan.


.


.


.


Jejak kaki 🦶🦶



Boundaries: limit yang menandakan hal-hal mana yang dapat diterima dan tidak, apa yang bisa ditolerir atau tidak, baik itu berlaku baik bagi orang lain ataupun diri kita sendiri.



Personal boundaries: batasan yang diciptakan dalam bentuk fisik, s3ksual, emosional, material, waktu dan intelektual demi menciptakan kenyamanan diri.


So, kayak Nadya misalnya ya. chapter kemarin pas mereka ciuman itu, Chalvin kan mau bertindak lebih jauh dari sekedar ciuman. Tapi ternyata, Nadya menolak untuk melakukan itu. Berarti sentuhan fisik yang diberikan Nadya ke Chalvin itu hanya sampai berciuman, gak lebih. Dan Chalvin gak boleh melewati batas yang ditetapkan Nadya. Begitu juga sejak awal Chalvin telah memberi ultimatum kalo dia gak suka cewek yang need-an, dll. Itu juga batasan yang Chalvin berikan ke Nadya agar gak kepo urusan privasinya terkait pekerjaan. Nah, itu yang disebut boundaries.


Konsep boundaries di Indonesia ini, terutama dalam hal hubungan pacaran, suami istri, dan pertemanan masih banyak yang gak mengaplikasi ke kehidupan mereka. Gua rasa karena "rata-rata" orang Indonesia itu doyan ikut campur. Itulah kenapa banyak orang lebih memendam sendirian, ada juga yang malah over sharing ke orang lain.


Kita boleh banget menerapkan batasan, ruang atau jarak ke orang even itu pasangan kita, teman dekat kita bahkan keluarga sendiri atau keluarga pasangan. Bukan karena kita dah jadi pasangan, keluarga atau teman dekat, lantas kita berkuasa atas tubuhnya, kehidupannya, keuangannya bahkan sampai berani masuk ke area privasi yang seharusnya dimiliki orang tersebut. Biasakan untuk bertanya terlebih dahulu dulu, boleh gak?


Jika kalian search tentang boundaries, akan banyak artikel yang muncul dari web kesehatan. Ini menandakan boundaries ada kaitan erat dengan kesehatan mental kita



USG fetomaternal : USG yang berfokus mendeteksi adanya kelainan pada janin dan ibu sejak dini. seperti kelainan genetik, kromosom, kemungkinan terjadinya keguguran, kemungkinan kelahiran prematur.


__ADS_1


Sebenarnya chapter ini up semalam, tapi gua udah gak tahan ngantuk soalnya lagi di perjalanan ke MKS. Dan kalo up semalam juga, gak bakal ada catatan author sepanjang ini 😂🤣


__ADS_2