DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 174 : Terima Diri Kita Apa Adanya


__ADS_3

Chalvin pulang ke kantor setelah berhasil menggagalkan rencana perjodohan Oma Belle terhadap dirinya. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya tampak menegur dengan ramah. Begitu bertemu sekretarisnya, ia kembali memerintahkan untuk memesan kopi dingin di tempat yang sama.


"40 cup lagi?"


"Iya, jangan lupa kasih tip untuk kurirnya, ya!"


Sekretarisnya itu hanya bisa memicing heran karena tak biasanya Chalvin memesan kopi sesering beberapa hari ini untuk karyawan.


Di sisi lain, Nadya terkejut ketika kembali menerima pesanan empat puluh cup es kopi. Ia senang sekaligus penasaran dengan sosok yang merekomendasikan minumannya itu hingga diborong seperti ini. Ketika memandang keluar jendela, matanya tertuju pada papan bunga pemberian Chalvin saat pembukaan coffee shop-nya.


Entah kenapa, mendadak terpikirkan olehnya mengantarkan kopi dan dessert spesial dari coffee shop-nya ke kantor perusahaan Chalvin. Ia pun mulai meracik kopi yang sesuai dengan selera pria yang pernah menjadi pacar bohongannya itu. Tak hanya itu, ia juga berinisiatif mengantarnya langsung ke sana sebagai ucapan terima kasih.


Dengan menaiki motor matic-nya, ia pun meluncur ke perusahaan Belleria kosmetik. Sesampainya di sana, ia terkesiap melihat kurir gofood yang baru saja melakukan orderan di tempatnya. Tak hanya itu, ia makin ternanap begitu mengetahui orderan empat puluh cup kopi itu ternyata berasal dari perusahaan ini. Ia bahkan sempat mendengar kurir tersebut menyebut nama Chalvin sebagai penerima pesanan kopi dari kedainya.


"Jadi Kak Chalvin yang borong kopi selama ini?" pikir Nadya dengan ekspresi nyaris tak percaya.


"Eh, ada Nadya!" Seorang pria menyapanya dari belakang.


Nadya berbalik spontan. Bukannya bertemu Chalvin, ia malah bertemu sang mantan. Ya, siapa lagi kalau bukan Farel yang datang dengan senyum menyebalkan.


"Ngapain ke sini? Bukannya dah putus sama Pak Manajer, ya? Soalnya gua lihat Pak Manajer akhir-akhir ini malah gandeng cewek lain, tuh!" ucap Farel.


Ucapan asal Farel membuat Nadya berpikir kalau Chalvin telah mendapatkan pasangan baru. Mengetahui hal tersebut, ia merasa senang tapi juga perih di waktu bersamaan. Sebaliknya, ekspresi Nadya saat ini membuat Farel semakin senang untuk memprovokasinya.


"Ya, susah emang, sih, nerima cewek yang dah rusak sebelumnya. Kecuali cuma buat kesenangan doang," cemooh Farel.


Tak mau berurusan dengan Farel, Nadya lantas memutuskan untuk segera pergi. Namun, lagi-lagi lelaki sialan itu malah menahannya hanya untuk mengeluarkan kalimat rundungan.


"Jangan bilang lo datang ke sini buat ngemis-ngemis minta balikan sama pak Chalvin. Mending lo balikan sama gua aja. Lagian cuma gua doang yang bisa terima elo, kan lo bolongnya sama gua." Farel mulai kembali memberi serangan mental pada mantan kekasihnya itu.


"Lepasin, gak?" tekan Nadya.


"Masih sombong juga, ya, lo!"


Bukannya melepaskan pergelangan Nadya, Farel malah semakin menggenggamnya dengan erat. Di saat yang sama, seseorang menyingkir paksa tangannya dari pergelangan tangan Nadya, seraya menarik paksa gadis itu ke belakang punggungnya. Baik Farel maupun Nadya sama-sama terperanjat melihat kehadiran Chalvin di tengah-tengah mereka.


"Kenapa kamu ganggu tamu spesial saya?" tanya Chalvin dengan sepasang alis tegas yang terangkat.

__ADS_1


"Maaf, Pak, saya gak tahu dia tamu spesial Anda. Soalnya sama sama dia kebetulan dulu pernah ...."


"Meskipun gak tahu, apa pantas gak sopan kayak gitu ke setiap orang yang datang di perusahaan ini?" potong Chalvin dengan tatapan menusuk, "Entah kamu kenal dia di luar sana, selama berada di perusahaan, kamu harus bisa menjaga profesionalisme dengan bersikap sopan terhadap tamu-tamu yang datang ke sini!'


Farel terbungkam sejenak. Ia menunduk sambil kembali meminta maaf. Chalvin menarik Nadya yang berdiri di belakangnya, lalu merangkulnya dengan mesra layaknya seorang kekasih.


"Maaf, udah nungguin aku lama. Yuk, kita makan siang!" Dia lalu membawa pergi Nadya sambil terus merangkulnya.


Begitu berada di halaman parkir, Nadya berusaha menepis tangan Chalvin dengan sopan.


"Maaf, udah repotin Kak Chalvin buat ngelakuin ini lagi," ucapnya dengan tatapan ke bawah.


Chalvin menarik napas sejenak sambil mengantongi kedua tangannya. "Andaikan tadi bukan di perusahaan, udah gua gampar mulutnya."


"Yang dia omongin itu semuanya benar kok. Kak Chalvin udah dengar semua, kan? Kak Chalvin juga pasti ingat aku pernah hamil dan keguguran." Nadya tertunduk lesu. Ya, tak ada yang perlu disembunyikan karena kenyataannya Chalvin telah mengetahui masa lalunya yang sempat terjerambab jauh.


"Sebenarnya kita sama aja. Aku juga pendosa kok. Baru akhir-akhir ini aja mulai bisa lepas dari gaya hidup bebas," ucap Chalvin blak-blakan.


Nadya menganggap perkataan Chalvin hanya sekadar untuk menghibur dirinya.


"Tentu beda. Aku dan kak Chalvin gak sama. Kenyataannya, orang-orang lebih gampang ngecap buruk cewek yang udah gak perawan dibanding cowok yang dah gak perjaka, kan? Mungkin yang dikatakan Farel benar, gak ada yang mau terima aku. Sampai sekarang pun aku gak bisa maafin diri aku. Aku belum bisa berdamai dengan kesalahan aku di masa lalu."


Nadya memberanikan diri menatap Chalvin. Senyum lembut pria itu memasuki retina matanya. Hanya beberapa detik, ia langsung memalingkan pandangan. Ia hanya takut rasa kagumnya memunculkan kembali angannya untuk bersama pria itu. Ia takut, semua kebaikan pria itu membuat hatinya kembali berharap.


"Oh, iya, kamu ke sini ...." Chalvin memandang bawaan Nadya.


Nadya buru-buru menyembunyikan kopi bawaannya ke belakang. Setelah mengetahui yang memborong kopi tiap hari adalah Chalvin, entah kenapa ia merasa membawakan segelas kopi sebagai bentuk terima kasih sangat tak sesuai dengan yang dilakukan pria itu padanya.


"Aku cuma ...." Nadya berpikir sejenak, lalu berkata sambil menunjukkan kopi bawaannya, "aku cuma mau anterin pesanannya Karen."


"Karen? Dia kan udah istirahat. Emang dia gak bilang sama kamu?"


"Oh, iya, lupa! Dia kan lagi hamil, ya!" Nadya gagap seketika. "Kalo gitu aku mau anterin ini ke rumahnya dulu," ucapnya seraya berjalan mundur dari hadapan Chalvin.


Chalvin tersenyum miring lalu berkata, "kapan-kapan, aku boleh mampir ke tempat kamu, kan?"


"Boleh, kok. Boleh banget!"

__ADS_1


Nadya lalu menaiki motornya seraya memasang helm. Sayangnya, motor matic-nya itu mendadak susah dihidupkan sekalipun sudah memencet tombol starter berkali-kali. Melihat kesulitan yang dialami Nadya, Chalvin langsung menghampirinya untuk menawarkan bantuan. Pria itu berusaha menghidupkan dengan menggunakan kick starter motor. Namun ternyata masih belum hidup juga setelah menghabiskan waktu selama lima belas menit.


"Kayaknya akinya lemah. Gini aja, kamu aku antar, ini biar office boy aku yang urus. Kamu mau nganterin kopi ke Karen, kan? Mungkin dia udah pulang."


"A ... gak usah, Kak. Aku pesan gojek aja, gak papa," tolak Nadya, "kopinya buat Kakak aja!" Ia malah memberikan kopi yang sebenarnya memang untuk pria itu.


"Loh, terus Karen gimana?"


Menggigit sudut bibir sambil mengerutkan alis, Nadya berkata pelan, "Sebenarnya ... kopi itu emang kubuat khusus untuk Kak Chalvin, cuma aku ...."


"Kenapa gak bilang dari tadi. Udah haus gini!"


Dengan santai, Chalvin langsung menyeruput kopi itu di hadapan Nadya. Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di samping mereka. Chalvin langsung menyerahkan kunci motor Nadya pada pria itu sambil menyuruhnya membawa ke bengkel. Ia lalu memasuki mobilnya, lalu menurunkan kaca mobil seraya meminta Nadya untuk masuk.


"Ayo masuk! Aku antar ke kafe kamu!"


"Gak usah, Kak!"


"Ayo!" Kali ini Chalvin terkesan sedikit memaksa sehingga sulit bagi Nadya untuk menolak.


Nadya masuk dan duduk di samping Chalvin. Rasanya aneh ketika kembali dekat bersama pria itu setelah ia memutuskan hubungan palsu mereka.


"Gimana kabarnya Oma?" tanya Nadya sambil memasang sabuk pengaman.


"Baik-baik aja. Aku ... udah gak tinggal di rumah situ lagi," ungkap Chalvin tiba-tiba.


.


.


.


jejak kaki 🦶🦶



Stoicism¹: sebuah filosofi dari ilmu filsafat yang berkaitan dengan kebahagiaan hidup dan bagaimana menghindari hal-hal yang membuat kita stress dan jenuh. konsep stoicism biasanya digunakan para psikolog untuk menerapi pasiennya.

__ADS_1



__ADS_2