DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 214 : Oma vs Karen


__ADS_3

"Oma kok ngomong gitu? Aku kenal Nadya jauh lebih lama dari Oma dan kak Chalvin." Karen menampik anggapan buruk Oma Belle tentang sahabatnya itu.


"Wanita baik-baik akan mundur jika tahu pria akan segera menikah! Padahal Oma udah kasih tahu baik-baik, tapi kok malah terus-terusan mepetin Chalvin," tandas Oma Belle.


"Emangnya dari Kak Chalvin sendiri benar-benar pengen nikah? Kalo emang iya, seharusnya Kak Chalvin sering jalan sama Kak Silvia dong bukan sama Nadya. Lagian, bukannya Nadya lebih dulu jadi pacarnya kak Chalvin sebelum Oma berencana mau jodohin dia?" ucap Karen sembari menatap Silvia dengan sedikit sungkan.


"Pacar apa? Gak ada pacar-pacaran di antara mereka! Perempuan gak beres kayak gitu masa mau jadi menantu Bratajaya. Mimpi!"


"Oma jangan judge Nadya hanya karena Oma gak suka. Bukannya kita gak boleh menghakimi kehidupan seseorang?"


"Kamu kok malah berani bantah Oma cuma karena mau belain teman kamu."


"Maafin aku, ya, Karen, kamu pasti anggap aku ngerebut pacar teman kamu," ucap Silvia sambil menunjukkan wajah bersalah.


"Gak usah bermuka dua deh, skincare mahal buat ngerawat dua muka sekaligus!" ketus Karen spontan. Entah mengapa, firasatnya mengatakan Silvia hanya berlagak mengambil simpati.


"Kok kamu malah ngatain Silvia kayak gitu? Di mana sopan santun kamu? Silvia itu lebih tua dari kamu," hardik Oma Belle, "Ckckckk ... ternyata Darren gagal didik kamu! Kamu persis mami kamu yang suka ngomong ceplas-ceplos! Buah emang jatuh gak jauh dari pohonnya! Kamu gak ingat apa, posisi kamu juga sama kayak Silvia. Kalo dulu Oma gak ngotot jodohin Darren sama kamu, mungkin Darren sampai sekarang masih mau balikan sama mantannya yang gak tahu diri itu!" Oma Belle mulai mengeluarkan kalimat-kalimat keramatnya.


"Udah Oma, udah .... Karen, kan, masih muda." Silvia mencoba menenangkan Oma Belle yang marah karena perkataan Karen yang terlalu spontan. "Kita pergi aja, yuk, Oma! Gak usah nungguin Chalvin," ajaknya.


Silvia tak hanya berhasil memenangkan hati Oma Belle, tapi juga pandai membuat Oma berpihak padanya dibanding Karen. Dia tahu betul Oma Belle sangat menyukai wanita yang lemah lembut dan menjunjung tinggi norma kesopanan.


Oma Belle yang terlanjur kesal dengan Karen, lantas segera meninggalkannya dengan mimik wajah tak menyenangkan.


Karen membeku di tempat. Ya, dia menyadari telah kelepasan berbicara seperti itu pada Silvia. Namun, bukan berarti Oma Belle harus semarah itu sampai membawa-bawa maminya, kan? Apalagi Oma juga menyinggung kembali tentang perjodohannya dengan Darren.


Berselang sepuluh menit dari kepergian Oma Belle dan Silvia, Darren pun pulang ke rumah. Begitu memasuki kamar, ia mendapati Karen tengah berbaring dengan posisi miring membelakanginya.


"Sayang, kok belum bersiap? Kan malam ini kita mau Konsul ke dokter?" tanya Darren seraya menghampiri istrinya.


"Gak jadi! Aku mau istirahat aja!" ucap Karen seraya menutup wajahnya dengan guling.


"Kenapa? Kamu sakit?" tanya Darren sambil meminggirkan guling yang menutupi wajah istrinya.


Karen menggeleng dalam kebisuan. Ia bahkan kembali menarik guling untuk menutupi wajahnya.


"Kamu kenapa? Cerita dong sama aku?" ucap Darren sambil mengusap kepala perempuan itu.

__ADS_1


"Kalo aku cerita, apa kamu percaya sama aku?" tanya Karen. Ya, tak bisa dipungkiri, kadang seseorang lebih memilih memendam daripada bercerita ke pasangannya karena takut akan lebih disalahkan.


"Gak mungkin aku gak percaya sama istri aku sendiri." Darren merekatkan jari-jemari mereka seraya duduk di sisi ranjang.


Karen menceritakan kejadian beberapa menit yang lalu, saat ia berusaha membela Nadya dari anggapan negatif Oma Belle.


"Apa aku salah belain teman aku sendiri?" tanya Karen setelah bercerita.


"Gak kok. Kamu emang benar. Gak pantas menghakimi kehidupan orang yang gak sesuai ideal kita. Tapi kita gak perlu juga maksa orang buat seragam dengan pemikiran kita. Oma dengan pemikirannya yang sempit akan tetap keras dan merasa dirinya benar, sampai dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalo orang yang dia maksud tidak seperti itu. Jadi, kamu gak usah buang energi untuk ngejelasin," tutur Darren menanggapi curahan Karen sambil menempatkan telapak tangannya di sisi pipi Karen.


"Tapi ini gak adil dong untuk Nadya. Kalo Chalvin memang mau dijodohin sama Silvia, ya, udah lepasin aja Nadya. Jangan kasih harapan gitu!"


"Sstt ... Biar ini jadi urusan Chalvin, apakah dia mau pilih Silvia atau Nadya. Kita gak usah ikut campur ke dalam masalah mereka."


Karen mengangguk kecil. "Aku juga ngaku kelepasan pas ngatain Silvia sampai bikin Oma marah. It's my fault!"


(It's my fault: ini salahku)


"Itulah kenapa waktu itu aku bilang kamu harus bisa mengontrol emosi. Jangan gampang tersulut! Udah, berhenti mikirin masalah orang lain, kita fokus aja ke calon baby yang ada di perut. Masa gara-gara ini kamu gak mau nengokin bayi kamu?" Darren kembali menyinggung Karen yang enggan ke dokter untuk memeriksa kandungannya.


Karen bergegas bangun dan duduk di pinggir ranjang. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas sembari mengayun-ayunkwn kakinya. Seolah mengerti apa yang di minta istrinya, Darren pun berlutut tepat di depannya lalu mengangkat daster satin yang dikenakan istrinya hingga terlolos dari badannya.


Darren membuka lemari besar yang berada di depan mereka lalu mengambil satu dari banyaknya koleksi pakaian Karen.


"Ih, jangan yang itu! Ada karetnya di bagian pinggang bikin gatal perut!" protes Karen.


Darren menggantung kembali pakaian tersebut, lalu menggantinya dengan yang lain.


"Jangan yang itu! Kainnya panas, gak betah entar." Karen kembali protes dengan pilihan suaminya.


Darren mulai menghela napas ringan seraya memilih pakaian lainnya. Ia kembali menunjukkan busana yang menurutnya cocok untuk dipakai Karen ke dokter.


"Kalo yang itu agak sempit, entar susah gerak!" Lagi-lagi istrinya melayangkan protes.


"Tadi suruh aku yang milih, begitu dipilihin banyak protes!" Darren menggeleng-geleng kecil. Untung saja ia memiliki kesabaran setebal dompet di awal bulan.


Jika Karen dan Darren tengah bersiap-siap ke dokter kandungan, berbeda dengan Chalvin yang masih berada di kos Nadya. Usai menyuap Nadya, Pria itu membuka pembungkus obat lalu menyelipkan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Nadya meneguk air dalam botol mineral yang dipegang Chalvin. Pria itu seolah tak mengizinkannya melakukan apa pun dengan tangannya sendiri. Ia lalu memandang ponsel Chalvin yang telah berhenti berdering.


"Kak Chalvin ...."


"Ya, kenapa? Apa yang sakit?" tanya Chalvin cepat sembari meletakkan tangannya di belakang kepala Nadya.


Nadya menggeleng pelan. "Kenapa Kak Chalvin gak jawab telepon? Aku tahu itu dari Oma."


"Gak papa. Gak usah dipikirin."


Nadya menatap Chalvin dengan lekat. "Kalo Kak Chalvin kayak gini, Oma bakal makin benci aku. Oma mungkin bakal mikir aku yang udah perdaya Kakak.


Chalvin bergeming sesaat.


"Please, telepon balik Oma! Mungkin aja, ada sesuatu mendesak yang perlu diomongin," pinta Nadya dengan tatapan nanar.


Akhirnya Chalvin pun luluh, ia mengambil ponselnya kemudian keluar dari ruangan itu untuk menghubungi Oma Belle. Hanya sekitar tiga menit, pria itu kembali masuk.


"Aku lupa ada undangan wedding party dari teman aku, keluarganya juga termasuk mitra bisnis kami," ucap Chalvin bimbang.


"Ya, udah, ke sana aja! Aku udah gak papa kok."


"Yakin, kamu bisa aku tinggal? Atau aku panggilin orang untuk jaga kamu." Chalvin mengambil kembali teleponnya.


"Kak ....," panggil Nadya pelan, "Aku juga pengen istirahat. Lagian, aku dah terbiasa sendiri kok. Jadi, Kak Chalvin gak usah khawatir. Bawa aja motorku."


Chalvin mengangguk sambil mengambil kunci motor. "Aku bakal ke sini lagi besok."


Chalvin menunduk sembari mendekatkan bibirnya ke wajah Nadya. Namun, perempuan itu refleks memalingkan wajah dengan tangan yang menutupi sebelah pipinya.


"Sorry," ucap Chalvin yang kemudian berbalik.


"Makasih untuk hari ini, ya, Kak," ucap Nadya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2