
Duduk di tempat kerjanya, Farel tersenyum puas sambil mendengar beberapa karyawan yang bergosip tentang Chalvin dan Karen. Beberapa dari mereka menduga jika Chalvin telah menghamili model ambassador perusahaan itu. Tak heran jika mereka berpikir demikian, selain sikap Chalvin yang terkenal playboy, foto keduanya yang beredar di WhatsApp grup menunjukkan mereka tengah berada di poli kandungan.
Sangat tepat jika mengatakan ini ulah Farel. Bisa dibilang, ini adalah balasan Farel atas pemukulan yang pernah Chalvin lakukan terhadap kedua temannya.
Chalvin mendatangi ruangan kakek Aswono setelah mendapat panggilan mendadak. Begitu masuk, ia langsung berhadapan dengan pria yang sering memakai blangkon Jawa itu. Terlihat Kakek Aswono berdiri di samping kursi kebesarannya sambil menatap tajam ke cucunya itu.
"Apa kamu tahu yang bikin kakek panggil kamu ke sini?" tanya kakek dengan garis-garis tegas yang terpancar jelas di wajahnya.
Chalvin menunduk bergeming. Ya, tentu ia bisa menduga apa yang membuat kakek memanggilnya sepagi ini. Sebijak-bijaknya kakek Aswono, dia selalu mengambil langkah tegas jika anggota keluarganya melakukan tindakan yang mencemarkan nama baik perusahaan yang dibangun turun-temurun. Apalagi, gosip apa pun yang berembus di gedung ini pasti akan sampai ke telinga kakek Aswono yang memang sangat memedulikan citra perusahaan.
"Kamu tahu, di luar sana pegawai bergosip tentang kamu yang kedapatan bawa perempuan ke poli kandungan. Ngapain kamu di sana? Siapa yang udah kamu hamili? Perempuan yang sering kamu bawa ke rumah atau karyawan?" tanya Kakek dengan aksen Jawa yang kental seperti biasa.
"Itu ... Karen, Kek."
Kakek Aswono tersentak seketika. "Karen?"
"Iya, Kek. Aku temani Karen periksa ke dokter kandungan. Kemarin dia mendadak pusing dan mual-mual."
"Terus, gimana? Dia hamil, gak?" tanya kakek penasaran sambil menarik kursi untuk didudukinya.
Chalvin menggeleng kaku. Tubuh kakek yang sempat maju ke depan mendadak merosot. Wajahnya yang tadinya pun sempat bersemangat mendadak raib.
"Kenapa kamu yang nganterin Karen ke dokter kandungan? Pertama, kamu sendiri yang memancing timbulnya fitnah atas dirimu. Kedua, sadar enggak kamu, berita ini bisa bikin Darren salah paham ke istrinya."
"Maafin aku, Kek. Dia maunya cek langsung ke Rumah Sakit sendiri sementara keadaannya lemah banget. Aku gak bisa biarin dia pergi sendiri dalam keadaan lemah kek gitu. Aku pengen nelepon Darren buat suruh temani dia. Tapi dia gak mau. Dia takut kalian terlanjur berharap dia hamil, dan ternyata enggak. Barusan, Kakek kecewa juga, kan, pas tahu Karen belum hamil? Seperti itu mungkin yang ada di pikiran Karen kemarin." Chalvin berusaha menjelaskan pada kakek.
Kakek Aswono terdiam sejenak. "Kamu, kan, bisa nyuruh supir perusahaan yang anterin. Banyak karyawan yang belum tahu kalo Karen adalah bagian dari keluarga Bratajaya. Sekalipun mereka tahu, apa pantas kamu temani ipar kamu ke dokter kandungan? Semua beresiko mendatangkan pikiran negatif orang-orang. Kalo mereka berpikir kalian diam-diam selingkuh, gimana?"
"Maafin aku, Kek. Aku yang salah. Aku yang ngotot pengen temani dia."
"Ya, sudah. Masalah seperti ini masih bisa diluruskan dengan mengungkap identitas Karen sebagai menantu keluarga Bratajaya. Waktu nikah, mereka berdua nolak untuk mengadakan pesta resepsi, sehingga masih banyak yang gak tahu anaknya Barack udah nikah." Kakek mulai memikirkan untuk membuat pesta pernikahan Darren dan Karen.
"Tapi, Kek. Ada banyak karyawan yang sebelumnya mengira terpilihnya Karen menggantikan model sebelumnya atas sebuah seleksi. Jika kita ungkap status Karen, apa tidak membuat mereka mengira kita memakai model dari keluarga sendiri untuk menghemat anggaran? Ya, meskipun aslinya Karen juga kita bayar. Tapi seperti kata Kakek, kita gak bisa menekan pemikiran negatif mereka."
Kakek menatap Chalvin dengan saksama. "Chalvin, kamu mengkhawatirkan citra perusahaan atau mengkhawatirkan Karen?"
Chalvin terdiam sejenak, lalu berkata, "Dua-duanya."
__ADS_1
Kakek Aswono menghela napas sebelum berkata, "Mulai sekarang, kamu ngurusin bagian produksi. Kunjungi dan kontrol pabrik baru kita tiap hari! Yang lainnya biar pamanmu yang urus."
Perintah kakek Aswono tentu membuat Chalvin terkejut. Itu artinya dia akan jarang berada di kantor ini dan urusan yang berkaitan dengan promosi produk dan Brand Ambassador bukan tanggung jawabnya lagi. Meski begitu ia tak berani menolak apalagi menentang perintah kakeknya.
"Ya, sudah, kamu boleh keluar."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Chalvin pun berbalik dan berjalan menuju pintu. Baru saja hendak ke luar, kakek malah kembali memanggilnya.
"Chalvin!"
Chalvin memutar badannya ke arah kakek. "Ya, Kakek."
"Kakek tahu, kamu pasti gak suka dengar ini! Pertimbangkan keinginan Oma yang ingin kamu segera menikah. Berhenti berpetualang dengan para wanita! Sudah saatnya kamu berkeluarga."
Chalvin tertegun sebentar, mengangguk bisu kemudian pergi.
...****************...
Ternyata hingga hari ini pun Karen masih kurang sehat. Sejak bangun, ia masih berguling di atas ranjang dan melewati sarapan pagi bersama. Hal ini membuat Oma Belle mempertanyakan cucu mantu kesayangannya itu pada Darren yang juga memilih untuk tidak ke kampus.
"Iya, Oma. Dari sejak pulang kepalanya sakit, udah gitu subuh tadi naik demam."
Mata Oma Belle melebar seketika. "Jangan-jangan ... dia ... keteguran!"
"Hah? Keteguran? Apaan, tuh?" timpal Sheila mengernyit.
"Itu kesambet. Ditegur setan!" jawab Oma Belle dengan ekspresi cemas.
"Lah, masih untung ditegur, kan, daripada dicuekin. Berarti setannya ramah, kan?" balas Sheila bengong.
"Hush, kamu ini! Kok malah ngomong gitu, pamali! Terus, kamu kenapa gak sekolah hari ini? Bikin sumpek aja!"
"Lagi ada kegiatan non belajar, Oma. Males ke sana ngabisin bedak aja. Mending di rumah main game."
Oma menoleh ke arah Darren, "coba panggilin Tarjo, kayaknya dia punya kenalan orang pintar."
"Oma ... kok malah percaya yang begituan."
__ADS_1
Di saat bersamaan, ART mereka memberitahukan kedatangan tamu. Ternyata itu adalah mami Vallen yang hendak menjenguk putrinya. Oma Belle dan mami Valen pun berpelukan, cipika-cipiki serta saling menanyakan kabar.
"Lama gak ketemu, ya?" kata Oma Belle sambil terkekeh.
"Iya, Oma. Sibuk banget, ini aja tadinya mau ke Singapura. Pas dengar Karen sakit, langsung saya cancel." Pandangan mami Valen lalu terarah pada Sheila yang masih berdiri di sana sambil menyimak perbincangan. "Eh, ini siapa? ART baru, ya?"
"Sialan gua disangka pembantu!" geram Sheila dalam hati sambil memasang wajah cemberut.
"Oh, ini adik tiri Darren. Dia tinggal di sini untuk sementara waktu," jelas Oma dengan tangan yang dikibas-kibaskan ke belakang punggung, memberi kode agar Sheila pergi dari sana.
"Wah, rumah Oma udah kayak kamp pengungsian aja, semuanya ditampung. Sampai Karen dan Darren yang dah punya rumah aja mengungsi ke sini," sentil mami Valen dengan tabiatnya yang suka berbicara blak-blakan tanpa disaring.
"Itu artinya cucu-cucu pada sayang sama kakek neneknya. Kalo Darren dan Karen ke rumah situ, kan, gak mungkin. Situ-nya aja jarang di rumah!" Oma Belle membalas sentilan mami Valen dengan tutur kata halus tapi tak kalah menusuk.
Sepintar-pintarnya Darren, ia tidak pernah bisa menengahi kedua orang itu. Takut Oma Belle dan mami Valen adu debat seperti biasa, ia lantas memotong, "Mami, Mami nengokin Karen, kan?"
"Iya. Sakit apa sih dia? Jangan-jangan kena serangan tekanan batin!" duga mami Valen sambil menutup mulutnya yang setengah terbuka.
"Dia itu keteguran! Kemarin kan dia jadi model MUA di hotel Indonesia. Mungkin dia gak sengaja lewat di kamar hotel yang terkenal angker itu tanpa ngomong permisi," ucap Oma Belle dengan menggebu-gebu.
Mami Valen meletakkan telapak tangannya ke pinggir dahi, sambil memasang wajah hampa. "Aduh Oma ... di saat para ilmuan menemukan beberapa virus baru yang bisa menyerang kekebalan tubuh, Oma masih percaya hal-hal yang berbau mistis. Kalo saya, sih, mikirnya Karen itu tertekan tinggal di sini."
Mami Valen dan Oma Belle terus berdebat dengan keyakinan mereka masing-masing. Sudah tak mengherankan lagi jika keduanya bagaikan matahari dan bulan yang berbeda lintasan. Sementara, Darren masuk ke kamar dan memberitahu pada Karen tentang kedatangan ibunya.
Darren meletakkan telapak tangannya di dahi Karen untuk memeriksa suhu tubuh istrinya. "Kamu bisa turun nemuin, gak? Atau mau panggil mami ke sini aja?" tanya Darren.
"Aku turun aja. Udah mendingan juga, kok."
Karen turun dari ranjang, lalu berjalan lemah keluar kamar. Di saat Darren hendak mengekornya, ponsel Karen tiba-tiba membunyikan pemberitahuan pesan masuk. Ia bergegas mengambil ponsel itu, bermaksud memberikan pada istrinya. Namun, pesan yang langsung muncul di layar tersebut, membuat pria itu tak sengaja membacanya.
Chalvin: Hari ini kamu gak usah datang ke perusahaan. Ada yang lihat kita pergi ke poli kandungan kemarin. Gara-gara itu banyak yang gosipin kita berdua di kantor.
.
.
.
__ADS_1