DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 104 : Keputusan Karen


__ADS_3

Masih berkonsultasi dengan dokter, Karen mengutarakan keinginannya untuk mengambil pengobatan tanpa operasi, yaitu dengan menjalani teknik HIFU seperti yang direkomendasikan mami Vallen. Sebab, dari yang dibacanya, teknik pengobatan ini memiliki tingkat komplikasi 1000 kali lebih rendah jika dibandingkan dengan pembedahan.


"Oh, itu memang opsi terbaru dalam pengobatan tumor dan kanker. teknik itu menggunakan gelombang ultrasonik untuk membangkitkan panas yang akan menghancurkan sel tumor. Meski begitu, tidak semua jenis tumor rahim dapat diobati dengan HIFU, apalagi jenis tumor yang telah berkembang menjadi sel kanker."


"Bagaimana dengan tumor saya, dok?"


"Tentu bisa karena terapi ini memang disarankan untuk pasien yang tidak mau dioperasi dan juga ingin memiliki keturunan. Sayangnya, rumah sakit kami belum menyediakan layanan pengobatan dengan teknik ini. Tapi, jika Bapak dan Ibu memang memilih metode pengobatan HIFU, sebaiknya ke rumah sakit Mahkota Medical Center di Malaysia atau di Farrel Park Hospital Singapura yang telah memiliki fasilitas ini. Tentu saja biayanya jauh lebih mahal," jelas dokter sambil tersenyum.


"Tidak masalah, dok. Asalkan saya tidak kehilangan rahim saya," ucap Karen dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi, kelemahan dari teknik ini, memungkinkan tumor hidup kembali setelah lima sampai enam tahun akan datang. Maka dari itu, penting untuk pasien menjaga pola makan yang sehat dan pantang konsumsi makanan siap saji setelah sembuh. Umur memang di tangan Tuhan, tapi pilihan sehat ada di tangan kita," balas dokter kembali.


Karen menatap Darren yang masih bergeming di sisinya. Pria itu membiarkan istrinya memutuskan apa yang terbaik atas tubuhnya sendiri. Setelah dokter meninggalkan ruangan mereka, keduanya pun saling memandang.


"Kenapa kamu berubah pikiran?" tanya Darren.


"Karena aku ingin melahirkan suatu saat nanti ...."


"Apa kamu khawatir Oma masih mau maksa kamu punya anak? Atau kamu masih belum percaya kalo aku enggak akan ninggalin kamu?"


"Enggak ... ini pilihanku. Bukannya sebelum sakit, aku juga pernah bilang mau punya anak selesai kuliah?"


Ya, Karen memang sangat takut dengan prosedur pembedahan, tapi alasan yang membuatnya tiba-tiba berubah pikiran adalah dukungan cinta dan kekuatan dari Darren sendiri. Di tengah banyaknya kekurangan dalam dirinya, lelaki itu terus membanjirinya dengan kasih sayang. Semakin bersama, ia pun sadar ingin memiliki buah cinta mereka. Bukan karena sebuah tuntutan, tapi karena ia memang menginginkannya.


Darren meminggirkan sejumput anak rambut Karen ke belakang telinga. Telapak tangannya yang hangat menangkup wajah mungil istrinya seraya memandang lekat bola matanya.


"Apa pun yang jadi keputusanmu, selama itu baik untuk dirimu sendiri ... pasti akan aku dukung.


Tampaknya, teknik pengobatan HIFU menjadi opsi mereka, yang artinya Karen akan dirujuk di salah satu rumah sakit yang direkomendasi dokter tersebut. Untungnya, ini bertepatan dengan libur semester, sehingga setelah pengobatan ia bisa beristirahat panjang.

__ADS_1


Nadya dan Vera kembali mengunjungi Karen usai pulang dari kampus. Mereka memberikan transkip nilai Karen untuk semester ini. Melihat rata-rata nilai yang dicapainya, tampaknya Karen merasa belum puas. Pasalnya, tidak semua mata kuliahnya berhasil memperoleh nilai A sesuai yang ditargetkan.


"Ini udah lumayan banget, loh, Kar. Nilai kamu benar-benar ada peningkatan dari semester sebelumnya," kata Nadya menghiburnya.


"Betul, tuh! Gue aja cuma rata-rata B sama C," sambung Vera menunjukkan transkip nilainya sendiri.


"Tetap aja aku gak puas!"


"Kamu kejar nilai atau kejar ilmu?" cetus Darren sambil mengupas apel, "kalo belajar cuma buat kejar nilai, empat tahun yang kamu habiskan di universitas bakal sia-sia. Aku minta kamu giat belajar bukan biar bisa raih nilai tertinggi, tapi untuk mengasah kemampuan berpikir kamu. Kalo sering berlatih otak buat berpikir, maka mindset kita akan berkembang dan yang pasti bakal memengaruhi kepribadian kita. Bukannya akhir-akhir ini istriku semakin bijak dan dewasa dalam mengambil keputusan? Perubahan pola pikir kamu lebih hebat dari sekedar nilai kamu capai," ucapnya kembali seraya menyuap irisan apel.


"Kalo gitu aku juga bakal sering melatih otak aku berpikir. Tapi, gimana caranya, ya? Soalnya otak aku gampang blank, udah gitu suka lupa juga, Pak!" Vera malah meminta saran.


"Kalian bisa mulai dengan cara asyik. Seperti membaca buku, makin tinggi kualitas bacaanmu, makin baik pula efeknya untuk otak. Bisa juga dengan menulis, atau bermain game yang mendorong kita untuk berpikir," jawab Darren.


"Ah, kayaknya gue harus cari pasangan kek pak Darren, deh, biar gue bisa berubah sedikit demi sedikit kek Karen," bisik Vera pada Nadya.


***


"Loh, ke mana Chalvin?" tanya Oma Belle.


"Pak Chalvin lagi ke rumah sakit, Bu."


"Ke rumah sakit? Ngapain?" tanya Oma lagi dengan mimik mengernyit bingung,


Berpikir Oma Belle mungkin lupa, sekretarisnya pun mencoba mengingatkan, "kan ... istri dari sepupunya masuk rumah sakit."


"Maksud kamu ... Chalvin lagi jengukin cucu mantu saya?" tanya Oma yang tentu saja mendadak terkesiap.


Benar, Chalvin baru saja tiba di rumah sakit. Ia merasa tak enak dan khawatir kalau ucapan Marsha semalam mungkin akan memengaruhi Karen. Ketika hendak masuk, ia malah bertemu Nadya dan Vera yang baru saja keluar dari kamar Karen.

__ADS_1


"Eh ... kamu ...." Chalvin menunjuk ke arah Nadya. "Apa kabar? Udah pulih, belum?" tanyanya dengan mata yang mengarah ke perut Nadya.


Ditanya seperti itu saat sedang bersama Vera, membuat Nadya langsung pergi terburu-buru tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Nad, tunggu, Nad!" Vera segera menyusulnya. "Eh, eh, itu tadi sepupunya pak Darren, kan? Kok dia kek sok akrab sama lu? Terus, tadi maksudnya apa bilang lu pulih?" tanya Vera penasaran.


"Aku ... aku juga gak tahu apa maksudnya," ucap Nadya yang mendadak gugup. Ya, tentang kegugurannya waktu itu, memang hanya diketahui oleh Karen, Darren dan juga Chalvin. Ia merasa itu adalah aib dan sangat memalukan jika sampai Vera tahu ia pernah hamil.


Chalvin yang terbengong di pintu kamar rawat, lantas bergumam, "Kok dia langsung ngacir gitu? Apa gua salah ngomong?"


Chalvin mencebikkan bibirnya, lalu masuk ke kamar rawat. Lagi-lagi ia mendapati istri sepupunya itu sendiri.


"Darren mana?"


"Barusan pergi. Mau ngurus pendaftaran di rumah sakit Malaysia."


"Loh, jadi kamu mau berobat di sana?"


"Kebetulan di sana ada prosedur terapi non bedah."


"Apa pun itu ... semoga kamu cepat pulih."


Karen mengangguk dengan mata yang mengarah ke jendela. "Padahal baru dua hari, tapi udah bosan banget," keluhnya sesaat, "maaf, kok aku jadi ngeluh gini ...." Karen tersenyum ringkih.


"Mengeluh itu manusiawi kok. Gak perlu ditahan kalo cuma takut dibilang gak bersyukur. Tapi yang terpenting, jangan terlalu sering dan berlarut," ucap Chalvin sambil tersenyum. Hanya sebentar. Sebelum akhirnya ia berbalik cepat karena menyadari sesuatu.


Ada apa ini? Kenapa aku masih berdebar-debar pas lagi berhadapan ma dia?


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2