DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 85 : Hasil Testpack


__ADS_3

Karen membuka matanya secara perlahan. Iris hitam itu tak berkedip melihat garis merah yang terdapat di alat tes kehamilan. Ia membaca petunjuk yang terdapat dalam kemasan testpack, kemudian mencocokkan dengan hasilnya.


Mengetahui hasilnya, Karen malah tertegun selama beberapa detik. Ia bahkan membaca ulang keterangan kemasan lalu mencocokkannya kembali dengan hasil tesnya. Hasilnya masih sama. Ia tidak salah! Namun, entah kenapa itu membuatnya tak percaya.


"Karen!"


Suara lembut disertai ketukan pintu kamar mandi membuat perempuan itu terhenyak. Ia buru-buru menyembunyikan testpack beserta pembungkus kemasan ke dalam kantong celananya. Saat membuka pintu kamar mandi, Darren telah berdiri di hadapannya dengan raut penuh kekhawatiran.


"Kamu kenapa? Sakit perut?" tanya Darren.


Karen menggeleng tanpa suara.


"Kok lama banget di kamar mandi. Aku mau mandi dulu, ada dua kelas pagi ini." Darren masuk ke kamar mandi sambil menggandeng handuk.


Karen duduk di sisi ranjang sambil kembali mengambil hasil tes. Ia menghela napas karena hasilnya sesuai dengan harapannya. Ya, hanya ada satu garis merah yang menandakan jika dirinya tak hamil. Mungkin saja keterlambatan menstruasi yang ia alami karena beberapa masalah yang menerpanya akhir-akhir ini.


Mungkin memang belum waktunya untuk hamil. Jika dingat-ingat lagi, di awal-awal pernikahan, ia dan Darren melakukan hubungan ranjang tanpa pengaman. Tapi tetap aman-aman saja.


Untuk beberapa menit, Karen masih mematung. Hanya ada sepasang bola mata yang berkeliaran bingung. Ini aneh! Selama beberapa hari ini dia cukup gelisah karena tak kunjung datang bulan. Ketakutan bahkan menghantuinya semalaman saat membayangkan dirinya telah hamil. Namun, begitu melihat hasil tes terpampang negatif, entah kenapa perasaan kecewa seakan melingkupinya.


Seharusnya aku senang. Tapi kenapa aku kayak orang yang lagi kecewa?


Suasana hatinya yang membuncah, ternyata terbawa sampai ke kampus. Kepada Nadya dan Vera, ia menceritakan segala kegundahannya.


"Jadi lo udah telat dua bulan, tapi ternyata gak hamil?" tanya Vera setelah mendengar keluhan Karen.


Karen mengangguk. Pernikahannya telah berjalan empat bulan. Ia ingat, terakhir menstruasi dua bulan lalu, saat mengajak Darren menonton. Ketika itu, mereka masih belum saling mengungkapkan perasaan.

__ADS_1


"Tapi bukannya lebih baik kalian nunda dulu? Soalnya kamu kan masih kuliah. Terus, gak ada yang tahu kalau kamu dah nikah. Kan lucu kalau tiba-tiba teman-teman lihat perut kamu buncit," ucap Nadya.


"Tapi, Nad. Masalahnya belum tentu pak Darren mau nunda. Karena laki-laki biasanya emang pengen cepat punya keturunan," tampik Vera.


"Aku sama Darren emang sepakat nunda punya anak. Bahkan awalnya kita mutusin buat childfree. Tapi, gak tahu kenapa aku tiba-tiba jadi kayak drop gitu pas lihat hasilnya negatif. Padahal seharusnya aku senang banget! Soalnya aku belum siap buat punya anak."


Nadya meletakkan tangannya di punggung tangan Karen. "Bisa jadi karena tuntutan keluarga yang pengen kalian cepat-cepat punya anak. So, akhirnya kamu kepikiran gini. Atau ... mungkin aja hati kecil kamu yang mulai menanti kehadiran anak di pernikahan kalian."


"Yass ... gue setuju! Kebingungan atas apa yang lo rasakan saat ini karena sebenarnya lo enggak sadar kalau lo sedikit mengharapkan kehamilan itu." Vera menambahkan.


Karen termenung seketika. Apa benar seperti itu? Apa benar sebenarnya jauh di lubuk hatinya berharap hamil?


"Lo dah periksa baik-baik? Biasanya garis yang satunya cuma samar-samar gitu," timpal Vera.


"Aku udah lihat banyak kali. Udah sampai lebarin mata, kucak-kucak mata, tetap aja satu garis!"


"Coba tes lagi! Siapa tahu yang tadi itu gak terbaca. Soalnya pengalaman tante aku juga gitu, pas tes pertama cuma garis satu, pas tes kedua baru kelihatan. Atau kalau mau lebih akurat, langsung ke dokter kandungan aja, biar langsung di USG."


Di sisi lain, Chalvin baru saja tiba di Rumah Sakit yang sama dengan Karen datangi saat ini. Ia memaksa perempuan yang ikut bersamanya untuk turun dari mobil dan masuk ke gedung Rumah Sakit.


"Vin, kita ngapain ke sini?" tanya perempuan itu dengan raut wajah panik.


"Periksa kehamilan. Lu ngaku hamil anak gua, kan?"


"Lo gak percaya dengan bukti hasil testpack yang gue kasih tadi?"


"Enggaklah! Bukan kali ini aja lu ngaku hamil anak gua, tapi ternyata halu.

__ADS_1


"Tapi gue beneran hamil kali ini. Apa gak cukup empat testpack yang gue kasih tadi?"


"Ya udah, sekalian periksa ke dokter, kan? Gue perlu tahu berapa bulan usia kandungan lo. Ingat, ya, kita udah putus empat bulan yang lalu! Kalau usia kehamilan lu kurang dari itu, berarti bukan anak gua." Chalvin memegang pergelangan tangan perempuan itu, memintanya untuk ikut bersamanya.


Perempuan itu bersikeras bertahan dan enggan turun dari mobil. "Bilang aja kalau lo enggak mau akuin nih anak!"


Chalvin mendengus seraya berkacak pinggang. "Kalau lu benaran hamil anak gue seharusnya gak perlu takut buat periksa ke dokter. Gue juga bakal tanggung jawab!"


Akhirnya, setelah melewati perdebatan sengit, Chalvin dan mantan kekasihnya pun masuk ke gedung Rumah Sakit untuk melakukan pengecekan di polin Obgyn. Mereka ikut mengantre sama seperti beberapa ibu-ibu lainnya.


"Karen Aurelia Bratajaya."


Panggilan suster membuat Chalvin tersentak. Secara bersamaan, ia melihat Karen yang duduk di antrean depan berdiri, lalu masuk ke ruangan poli Obgyn.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Karen keluar dari ruangan dengan wajah kaku yang mengetat. Mendengar penuturan dokter di ruang konsultasi tadi, membuat matanya mendadak berkaca-kaca. Ia menggeleng-geleng kepala, seakan menolak percaya dengan apa yang dokter katakan. Kakinya melangkah lunglai seakan tak bertenaga. Bahkan hampir limbung kalau saja tak berpegangan di pilar tembok Rumah Sakit.


Masih terngiang suara desakan Oma Belle yang meminta keturunan dari mereka. Masih terbayang nyata wajah bahagia Darren saat ia mengungkapkan ingin melahirkan anak suatu saat nanti. Dan masih teringat jelas perkataan Oma Puspa bahwa keturunan Bratajaya tengah krisis penerus.


Setumpuk ingatan itu membuat matanya meredup seolah diliputi kalbu.


"Karen!"


Suara bariton seorang lelaki mengejutkan dirinya, hingga membuat bahunya refleks terangkat. Ia berbalik dan terkejut saat melihat Chalvin menghampirinya. Secara refleks, ia menyembunyikan hasil pemeriksaan dokter ke belakang punggungnya.


.


.

__ADS_1


.


like Komeng


__ADS_2