
Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan sangat detail. Dia menghadirkan penyakit, tapi juga memberi jalan manusia untuk mencari solusi dari pengobatan penyakit tersebut. Tuhan pun memiliki kuasa untuk menyembuhkan penyakit itu.
Proses terapi yang dilakukan Karen selama beberapa jam, telah selesai dengan sukses. Bulu matanya yang lentik harus basah karena tangisan rasa haru sekaligus sebagai tanda kelegaan. Akhirnya, ia bisa terlepas dari ketakutan yang membelenggunya selama ini. Dokter mengatakan kalau tumor yang berkembang di rahim Karen hampir menguasai rahimnya. Untungnya, penyakit ini tak dibiarkan lama untuk ditangani.
Karen kini telah diantar ke kamar rawat untuk beristirahat sekaligus menjalankan proses pemulihan. Seperti yang dikatakan dokter, pasien boleh melakukan apa saja setelah menjalankan terapi HIFU. Ia merentangkan tangannya ke atas seolah baru saja memenangkan sebuah pertandingan.
"Pokoknya begitu balik ke Jakarta, aku mau makan bakso, makan ayam cabe ijo, makan burger, makan apa lagi, ya ...."
Darren menggeleng-geleng kepala sambil berdecak. "Gak boleh! Ga ada jajan-jajan di luar!"
"Ih, ini nazar aku tahu! Sebelum terbang ke sini, aku tuh bernazar kalo terapi ini sukses aku mau makan bakso, ayam cabe ijo, burger, pizza, pokoknya semua yang enak-enak."
"Mana ada nazar kayak gitu! Gak ingat kata dokter, apa? Meski rahim kamu sekarang udah bersih, tapi kamu tetap harus menjaga pola makan dan mengubah gaya hidup. Tumor masih ada kemungkinan balik lagi lima enam tahun ke depan."
"Ih, kok kamu malah nakut-nakutin!"
"Gak nakut-nakutin. Cuma ingetin doang! Makanya kamu harus hindari makanan junk food, gorengan, dan makanan bermicin. Boleh makan, tapi sekali-kali. Setahun sekali misalnya."
"Hah?" Mulut Karen ternganga bagaikan sebuah gua.
Darren menghampirinya, sengaja membungkuk untuk mendekatkan wajahnya dengan kedua tangan yang bertumpu di sisi ranjang. "Bukannya kita masih punya satu planning lagi?"
Pada saat ini, tatapan Darren melembut. Karen menipiskan bibir sambil mengangguk. Ia sontak mengingat himbauan dokter untuk tak memprogram kehamilan dalam waktu dekat. Sebab, ia harus memulihkan rahimnya terlebih dahulu.
Kesuksesan pengobatan Karen langsung berembus di telinga keluarga mereka. Oma Belle yang baru saja mendapatkan kabar dari Darren, langsung memanjatkan rasa syukurnya. Begitupun dengan mami dan papi Karen yang langsung melakukan video call dengan anak semata wayang mereka.
"Untung saja Karen enggak alami hal yang sama seperti aku." Mami Valen menatap perutnya yang rata.
Suaminya langsung merangkulnya dengan mesra. "Sudah, sudah! Gak usah diingat-ingat lagi."
Ternyata, mami Valen telah menjalani prosedur pengangkatan rahim akibat tumor jinak yang bersarang di rahimnya sejak mengandung Karen. Itulah yang membuatnya tak memiliki anak lagi. Meski begitu, ia lebih beruntung dibanding mendiang ibunya Darren yang tak bisa diselamatkan karena tumornya telah berubah menjadi kanker.
__ADS_1
Dengan kata lain, penyakit yang dialami Karen merupakan faktor genetik yang diturunkan oleh ibunya. Tak heran saat mengetahui anaknya menderita penyakit serupa, ia berupa mencari tahu segala teknik pengobatan agar anaknya tak harus menjalankan prosedur pengangkatan rahim seperti dirinya.
Sama halnya dengan mami Valen, Oma Belle masih tak bisa menahan rasa bahagianya setelah mengetahui pengobatan Karen berjalan lancar. Dia mendatangani perusahaan dan buru-buru menghampiri suaminya.
"Kita harus adain syukuran, Mas. Pokoknya undang semua karyawan yang ada di sini!" ucap Oma Belle dengan penuh semangat.
"Terserah kamu aja, sekalian nyumbang ke yayasan juga lebih baik. Tapi sebaiknya tunggu sampai mereka balik ke sini," balas kakek Aswono.
Di waktu yang sama, Chalvin datang ke ruangan kakek. Ia pun telah menerima kabar dari Darren tentang pengobatan HIFU Karen yang berjalan lancar.
"Ah, tepat banget kamu nongol!" sambut Oma Belle, "kamu temani oma makan siang, ya! Semenjak ada Karen, Oma terbiasa makan siang bareng dia. Sekarang dia lagi gak ada, jadi gantian kamu yang temani oma!" Kalimat dengan nada memerintah terjun bebas dari mulut Oma Belle.
"Kapan, Oma?" tanya Chalvin sambil menahan napas. Sebab, ia yakin Oma Belle sengaja mengajaknya untuk membahas masalah perjodohan jilid 3.
"Ya, sekarang! Namanya saja makan siang, kalo malam namanya makan malam," cerocos Oma Belle.
"Kirain besok atau kapan-kapan gitu." Mau tak mau, Chalvin harus menemani Oma makan siang. Padahal, dia telah memiliki janji makan siang bersama dengan pegawai bagian humas yang baru saja didekatinya.
Masih di kota Jakarta yang dibangun tanpa perencanaan matang. Chalvin dan Oma Belle meluncur untuk pergi ke restoran tradisional andalan keluarga mereka. Sayangnya, karena mendapat info kemacetan lewat google maps, Chalvin terpaksa memutuskan makan di restoran Jepang yang hanya berjarak beberapa meter dari perusahaan mereka.
"Oma mau makan apa?" tanya Chalvin setelah mereka memilih meja.
"Kamu pilihin Oma menu yang masih bisa diterima lidah Oma, deh. Yang penting bukan makanan yang mentah-mentah itu," sahut Oma. Tampaknya, ini pertama kalinya Oma Belle mencicipi masakan Jepang. Maklum, meski turunan Belanda, selera Oma Belle masih melokal.
"Oke, kayaknya aku tahu apa yang cocok di lidah Oma. Teriyaki aja kali, ya, rasanya beda tipis lah sama ayam kecap."
"Ya, sudah, itu aja. Oma gak bisa makan yang aneh-aneh."
Tak butuh waktu lama, pelayan langsung mengantarkan pesanan mereka.
"Oh, jadi ini menu makanan Jepang paling berisik," ucap Oma begitu menu tersaji di hadapannya.
__ADS_1
"Maksud Oma?"
"Iya, kan ayamnya diteriaki."
"Teriyaki, Oma. Te–ri–ya–ki," kata Chalvin membenarkan.
"Sama aja." Oma Belle mulai mencicipi rasanya. Tiba-tiba dia teringat tujuannya mengajak Chalvin makan siang bersama. "Heh, jangan lupa! Minggu depan kamu ikut ke acara teman Oma. Ada gadis yang bakal Oma kenalin ke kamu. Kali ini dia berlatar belakang pendidikan tinggi kayak kamu. Lulusan Oxford, loh."
Wajah Chalvin mendadak berubah menjadi masam. "Gini Oma, sebenarnya aku udah punya calon sendiri," cetusnya untuk menghindari perjodohan berikutnya.
"Apa? Kamu punya calon sendiri? Enggak, Oma gak restui calon kamu itu!" tolak Oma mentah-mentah.
"Ya, elah, Oma. Belum lihat juga udah main gak restui."
"Pokoknya Oma gak ijinin kamu pilih calon sendiri. Gimana Oma bisa restui, yang kamu kenalin ke Oma selalu perempuan gak beres. Bibit, bebet dan bobotnya juga gak jelas. Terakhir, yang kamu bawa ke rumah cewek tatoan di paha, anak DJ yang mulutnya bau rokok dan alkohol!" Oma Belle malah mengingatkan kembali pacar terakhir Chalvin yang dikenalkan padanya.
"Aduh ... Oma, kali ini pacar aku tuh benar-benar beda. Orangnya kalem, ayu, sopan santun, ramah tamah, seperti putri-putri keraton," tampik Chalvin.
"Kalo gitu bawa dia ke rumah entar malam, kenalin sama Oma."
Sempat menggaruk-garuk kepalanya, ia pun beralasan, "gak bisa sekarang, Oma. Soalnya dia lagi di luar kota."
"Kalo gitu, ajak juga dia ke acara teman Oma Minggu depan. Kita lihat, apa dia serius sama kamu dengan penuhi ajakan kamu," tandas Oma Belle.
"Mampus gua!" gumam Chalvin dalam hati.
.
.
.
__ADS_1