
Kehadiran chalvin seolah diiringi lagu We are the Champion sehingga berhasil menghadirkan lengkungan senyum di wajah oma Belle. Sementara, Darren dan kakek Aswono saling berpandangan sambil menghela napas. Sudah bisa ditebak kedatangan Chalvin bagian dari skenario oma Belle.
"Sorry baru gabung." Chalvin menyapa ketiga orang yang masih duduk di depan meja makan sambil menatapnya dengan berbagai ekspresi.
Dengan senyum semringah, oma Belle berkata pada kakek Aswono dan Darren. "Karena Chalvin mau tinggal di sini, maka Sheila gak bisa tempati kamar Chalvin. Kalo anak itu mau tetap mau tinggal di sini selama sebulan, ya ... apa boleh buat cuma tersisa satu kamar ART kita yang lagi pulang kampung. Kalo dia mau, dia bisa tempati kamar itu. Kalo gak mau, ya udah ... pulang aja!"
"Emangnya ada siapa, sih?" tanya chalvin yang tak paham perkataan oma Belle, "Kalo emang ada tamu biar aku yang pindah ke kamar ART."
"Oma, ini siasat oma, ya?" tebak Darren.
"Siasat gimana? Emang dari sebelumnya oma nyuruh Chalvin pindah ke sini. Kenapa? Kamu gak terima dia tidur di kamar ART yang cuma pakai kipas agin? Itu kan juga termasuk memberikan dia pelajaran hidup. Belajar jadi orang susah!" tandas oma.
Chalvin yang baru bergabung hanya bisa mengernyit masam. "Jujurly, aku gak ngerti apa yang lagi kalian bahas."
"Ya sudah, usul oma kamu juga tidak terlalu buruk. Yang penting oma masih mengizinkan adik kamu tinggal di sini." Kakek malah main mata dengan Darren.
"Aku gak bilang gitu, loh!" sambar oma Belle, "Chalvin, tentukan sekarang, kamu mau berada di pihak oma atau kakek!" tanya oma dengan nada meledak-ledak.
Sambil mengernyitkan kening, Chalvin malah bengong.
"Ayo, tentukan pilihan kamu! Si Darren pasti ada di pihak kakek kamu yang sok bijak itu," sindir oma sambil melirik kesal ke arah Darren.
"Aku jadi wasitnya aja, deh!" jawab Chalvin.
"Nah, Chalvin aja pilih jadi penengah. Kok kamu malah buat-buatin kubu segala." Kakek berdecak dengan kepala yang bergeleng-geleng pelan.
__ADS_1
***
Di sisi lain, Feril tengah menggerutu karena rekaman video Darren bersama seorang gadis tidak berhasil membuat nama dosen tampan itu tercoreng di mata mahasiswa. Malahan, semua hujatan beralih padanya karena dianggap mengganggu privasi dosen idola mereka. Sayangnya, dia tak tahu video yang ia sebarkan di grup-grup WA mahasiswa itu, sempat membuat polemik di rumah tangga sang dosen dan perempuan pujaannya.
"Niat gua mulia, Cuy, cuma pingin ngasih tahu belangnya tuh dosen. Eh malah gua yang dibully," keluh Feril pada kawan-kawannya.
"Lu sih kek gak tahu aja sila kelima kita, keadilan sosial bagi seluruh rakyat good looking. Selama lu ganteng, bakal aman biar lu ngelakuin kesalahan," cetus si gimbal.
"Lah, gua juga ganteng kok. Tapi gua dibully mulu gara-gara tuh dosen kampret," tampik Feril dengan nada kesal.
"Sadar diri, Bray. Cek isi dompet lo! Lo gak good rekening alias miskin!" celetuk kawan-kawannya dengan penekanan intonasi pada bagian kata yang terakhir.
"Gak usah pakai diperjelas gitu juga kali. Omongan lu lu pada kek hepatitis, tahu! Bikin hati gua sakit," ringis Feril saat teman-temannya mengatakan miskin, "lagian, biar miskin gua tetap bahagia!"
"Ya, udah kita doain lu miskin terus biar tetap bahagianya," ledek kawan-kawannya kembali.
"Yang lu bilang bener, Ngab. Uang tuh gak bisa membeli kebahagiaan, kalau duitnya cuma seribu tapi," imbuh Jamet diiringi sorakan tawa teman-temannya.
"Kalo lu kaya, lu kentut pun gasnya bau aroma mahal," imbuh gimbal.
"Emang pada laknat lu pada. Ngeselin!" gerutu Feril sambil beranjak pergi meninggalkan teman-temannya.
Setelah makan malam, Darren dan kakek Aswono mengobrol berdua di teras samping pekarangan rumah mereka. Darren mengemukakan pendapat bahwa kemungkinan sulit untuk membuat Sheila berubah. Belum lagi, oma Belle masih membedakan status adiknya yang hanya anak tiri. Kakek Aswono malah menanggapi hal itu dengan santai.
"Mengubah karakter seseorang itu memang sulit. Hampir tidak bisa malah. Orang pemarah tidak akan bisa langsung jadi penyabar. Seperti oma kamu yang dari dulu punya watak keras dan mau menang sendiri. Tapi, sikap yang menyangkut perilaku seseorang masih bisa kita arahkan, misalnya yang tadinya urak-urakan bisa diajarin agar bisa lebih beretika. Begitulah mendidik anak, susah-susah gampang. Makanya menjadi orangtua bukan perkara mudah. Kamu kan seorang pendidik juga, pasti tahu!"
__ADS_1
Perkataan kakek Aswono sedikit mengingatkan Darren pada segerombolan mahasiswanya yang terkenal suka berbuat onar di kampus. Siapa lagi kalau bukan Feril dan kawan-kawan.
"Gimana dengan respon istri kamu sendiri tentang kehadiran Sheila di rumah ini?"
"Sama kayak oma, kurang suka juga dengan kehadiran Sheila. Mungkin masih terbawa kesal gara-gara di rumah tadi."
"Begitulah perempuan. Mereka suka cemburuan. Udah jadi ibu aja, kadang-kadang cemburu sama anak karena kita lebih perhatian ke anak. Eh, pas anaknya dah nikah, giliran menantunya yang dicemburuin. Itu sebenarnya karena mereka butuh banyak perhatian dan kasih sayang. Oma kamu aja masih suka ngambekkan, apalagi seusia istrimu yang masih sangat muda," ucap kakek Aswono sambil terkekeh.
"Ini salah aku juga, Kek. Aku gak pernah ngenalin Sheila. Aku cuma khawatir kalo mereka bakalan gak akur."
"Masalah yang sering dihadapi para pria ketika telah menikah ya ... seperti ini, ketika pasangan tidak akur dengan salah satu anggota keluarga kita. Meski begitu, pasanganmu harus lebih kamu prioritaskan karena dia adalah orang asing yang kamu bawa di keluarga kita. Makanya, jangan bikin dia merasa kamu lebih berpihak atau berat sebelah ke adik kamu! Biar dia enggak merasa tersisihkan," ucap kakek Aswono.
Baru saja membicarakan mereka, tiba-tiba terdengar keributan diikuti suara gelagar gelas pecah menghantam lantai. Sudah bisa ditebak sumber kegaduhan itu berasal dari dapur. Darren berjalan cepat untuk memeriksa keadaan. Rupanya, Karen dan Sheila kembali bertengkar dan tengah beradu mulut.
"Ada apa ini?" tanya Darren melerai keduanya.
Sheila lantas bersembunyi di balik punggung Darren sambil berkata, "Kak Darren, kakak ipar masih tetap gak suka sama aku. Dia manfaatin omongan kakek tadi buat main perintah aku seenaknya."
Ucapan Sheila mengejutkan Karen sendiri, tangannya mengepal kuat hingga berusaha menahan berang.
"Karen, kalian kenapa bisa sampai bertengkar? " tanya Darren sambil menatap istrinya.
Bukannya menjelaskan, Karen malah langsung pergi meninggalkan keduanya. Darren segera menyusul sambil menarik tangan istrinya.
"Kamu kenapa langsung pergi?"
__ADS_1
"Buat apa aku jelasin? Toh paling juga kamu bakal berpihak sama adik kamu itu," balas Karen sambil menepis tangan Darren dari pergelangan tangannya.
Saat berbalik dan hendak keluar dari dapur, Karen malah bertabrakan dengan Chalvin yang juga hendak memeriksa keributan di sana.