
Di kediaman besar Bratajaya, Oma Belle tengah memandu para asisten rumah tangga untuk mempersiapkan jamuan untuk malam nanti. Ya, seperti pembahasan dengan Chalvin sebelumnya, wanita tua yang selalu tampil elegan itu akan mengadakan makan malam bersama kerabat lama mereka.
Karen yang baru tiba dari kampus, lantas singgah ke dapur melihat aktivitas mereka yang tampak sibuk.
"Oma, lagi ngapain!"
"Kebetulan kamu sudah datang. Sini ... sini ... ada yang Oma mau nunjukin ke kamu." Oma Belle menarik Karen ke ruang keluarga sembari menunjukkan secarik kertas yang berisi daftar nama-nama.
"Apa ini Oma?" tanya Karen mulai membaca.
"Ini rekomendasi nama-nama yang membawa keberuntungan untuk calon bayi kamu," jelas Oma Belle dengan menggebu-gebu.
Karen menghela napas sejenak. Seperti biasa, Oma Belle masih saja mengatur anak cucu mereka. Bahkan untuk urusan pemberian nama calon bayi. Apalagi, daftar nama anak yang direkomendasikannya, sangat tidak sesuai selera Karen.
"Oma, aku sama mas Darren belum kepikiran buat nama bayi kita."
"Justru itu ... karena kalian belum kepikiran ke situ, makanya Oma bantuin mikir. Kalo kita salah pilih nama anak entar bakal sakit-sakitan loh!"
Tidak mau berdebat panjang lebar dengan Oma Belle, Karen pun berkata sambil melipat kertas tersebut. "Ya, udah, Oma, entar aku kasih lihat mas Darren dulu."
Baru saja Karen hendak beranjak, oma Belle malah kembali berkata, "Oh, iya, entar malam kita bakal kedatangan tamu spesial. Jangan lupa suruh Darren cepat pulang! Ada kerabat lama keluarga kita yang bakal berkunjung, kebetulan anaknya mau Oma jodohin sama Chalvin."
"Tar malam, Oma?" Karen sedikit kaget. "Aduh, tapi aku sama mas Darren tar malam mau ke rumah nenek. Udah janji pula.
"Lah ... jadi kalian gak bisa makan malem bareng kita? Padahal Oma mau ngenalin kamu sama mereka. Mereka penasaran loh pengen tahu istrinya Darren."
"Maaf, Oma, tapi nenekku juga dah mau balik ke Bali.
Ketidakhadiran Darren dan Karen malam ini tampaknya tak jadi masalah bagi Oma Belle. Sebab, fokus utamanya malam ini adalah menyusun perjodohan Chalvin.
"Kok Chalvin belom datang juga, ya. Padahal tak suruh datang cepat sebelum keduluan keluarganya Silvia." Oma Belle sibuk mondar-mandir sejak tiga puluh menit yang lalu.
"Jangan bilang kamu mau jodohin dia lagi!" tebak kakek Aswono.
"Jelas! Kalo gak dijodohin, mana mau dia nikah. Kepikiran aja mungkin enggak!"
Kakek Aswono berdecak. "Kamu kok gak ada nyerah-nyerahnya jodohin dia!"
"Dia yang seharusnya nyerah dijodohin. Apalagi umur segitu seharusnya udah berkeluarga, ngasih kita cicit kayak Darren. Orang-orang aja pada nanya loh, si Chalvin udah nikah apa belom? Kan saya malu jawabnya, jangan sampai mereka duga Chalvin macam-macam!"
"Ini nih yang bakal jadi masalah! Ketika dia menjalani hidup hanya berdasarkan ekspektasi, tuntutan dan paksaan masyarakat, akhirnya hanya akan merugikan orang yang terseret dalam kehidupannya, contohnya pasangan yang dipilihkan untuknya nanti."
"Makanya cari pasangan itu harus pas. Soalnya kalo gak pas, akhirnya cuma jadi angan doang."
"Pas menurut kita kan belum tentu pas menurut dia!"
"Belain terooss!" cerocos Oma Belle dengan nada kesal.
Sama seperti Oma belle, Nadya yang masih menjaga stand pun tengah menunggu Chalvin sedari tadi. Meski sempat menolak ajakan pria itu, tapi tetap saja dia berharap Chalvin memenuhi janjinya untuk berkencan. Apalagi ini akan menjadi kencan pertama mereka. Sayangnya, hingga kini pria itu belum menampakkan dirinya. Ia merasa seperti dihadapkan dengan ketidakpastian hubungan.
Pernah mendapat manipulasi dari Farel hingga membuat mentalnya jatuh, kini ia memiliki krisis kepercayaan dari seorang pria. Takutnya Chalvin hanya sekadar melakukan breadcrumbing¹ padanya.
"Kamu belum ganti baju? Jadi nge-date, gak?" tanya Andre sang barista yang berada di sampingnya.
Nadya menatap stand Belleria dari tempatnya, di mana tak ada tanda-tanda kemunculan Chalvin.
__ADS_1
"Gak jadi mungkin!" jawabnya dengan nada kecewa.
Di saat yang sama, tercium aroma tubuh yang khas dan cukup dikenalinya. Ternyata Chalvin baru saja datang dari arah yang berlawanan. Pria itu tampil dengan gaya kasual dengan hanya memakai kaus cokelat lengan pendek dari brand terkenal.
"Maaf, aku telat! Lagi kena macet di jalan tadi," kata Chalvin, "oh, iya, kita ke rumah Oma dulu, ya? Pasti Oma udah nungguin."
Nadya terkesiap mengetahui mereka akan mengunjungi rumah Oma Belle. Pasalnya, sudah cukup lama tak bertemu dengan wanita paling berkuasa di keluarga Bratajaya itu. Chalvin sendiri memang belum memberitahukan pada Oma Belle soal hubungan mereka yang kembali berlanjut. Saat Oma Belle memintanya untuk menghadiri makan malam dengan kerabat lama mereka, ia hanya menyetujuinya begitu saja.
Chalvin dan Nadya berjalan menuju parkiran mobil. Sepanjang jalan, Chalvin menggenggam tangan gadis itu dengan erat. Meski usia mereka terpaut cukup jauh, tapi mereka terlihat seperti sepantaran. Ini karena karakter wajah Chalvin yang oriental membuatnya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya, ditunjang dengan penampilannya yang pandai menyesuaikan fashion anak muda masa kini.
"Minggu depan kayaknya ada libur panjang. Tanggal merah berurutan hari kamis sama Jumat. Terus lanjut weekend Sabtu sama Minggu. Gimana kalo kita ke Bali?"
Nadya tersentak dengan ajakan Chalvin. Maklum, ini pertama kalinya ia menjalin hubungan dengan pria metropolitan dari kalangan atas yang terkenal senang memanjakan kekasih mereka dengan berliburan jauh, untuk melepas penat selama berada di ibukota.
"Kenapa? Kamu gak suka ke Bali?" tanya Chalvin begitu melihat mimik Nadya yang tampak menolak. "Atau ada rekomendasi tempat yang mau kamu kunjungi? Oh, iya, kamu punya paspor, gak?"
"Enggak, Kak. Tapi ... Minggu depan itu aku mau pulang ke rumah orangtua aku."
"Oh, di Bogor, ya?"
"Iya. Maaf ...."
"Hhhmmm ... aku anter, ya?
"Hah?" Nadya terperanjat.
"Sekalian pengen kenalan sama orangtua kamu. Gak papa, kan?"
Nadya tak menjawab. Ia memilih menunduk untuk menyembunyikan rasa senangnya. Namun, ajakan Chalvin untuk liburan, membuatnya bertanya-tanya apakah pria itu sebelumnya juga sering mengajak wanita lain berliburan? Entahlah! Untuk apa memikirkan sejauh itu jika Chalvin saja tak peduli dengan masa lalunya yang sempat terjerembab, kan?
Dari jarak yang sedekat ini, Nadya dapat melihat wajah tampan Chalvin dengan jelas. Jantung Nadya terpukul ketika mata mereka bertemu. Ia menjadi salah tingkah dan berupaya mengatur ekspresi wajahnya agar biasa saja di mata pria itu.
"Kok cemberut? Kamu gak suka, ya, aku ajak jalan-jalan?" tanya Chalvin dengan sebelah mata mengecil.
Nadya menggeleng cepat. Ia hanya menyembunyikan rasa gugup karena posisi mereka sangat dekat ditambah Chalvin malah mengunci tatapannya.
"Terus? Kamu kelihatan tertekan banget."
"Gak semua orang bisa menampilkan kesenangan di wajahnya, kan?" balas Nadya seraya memalingkan wajah. Mendapat tatapan seperti itu jelas membuatnya salah tingkah.
"Jadi saat ini kamu senang?" tanya Chalvin sambil mengangkat sebelah alisnya.
Nadya malah tertunduk. Chalvin tersenyum simpul sembari menarik lembut dagu Nadya, seolah meminta gadis itu untuk menatapnya.
"Kita sekarang udah benar-benar pasangan. Jadi, kalo ada sesuatu yang gak kamu suka dari aku, jangan sungkan!"
Nadya mengangguk seraya kembali menundukkan kepala. Namun, lagi-lagi jempol Chalvin kembali mengangkat dagunya hingga mata mereka kembali beradu. Detik berikutnya, wajah Chalvin mendekat secara bertahap dengan kepala yang sedikit dimiringkan.
Tangan Nadya memegang dada Chalvin, mencoba menahan pergerakan pria itu. Namun, Chalvin malah mengambil tangan mungil itu, kemudian menautkan jari-jemari mereka dengan wajah yang kian mendekat ke arahnya. Jarak bibir mereka semakin dekat dan napas keduanya mulai berbaur.
Mata Chalvin mulai meredup seiring bibirnya akan melakukan pendaratan di bibir Nadya. Namun, suara ketukan jendela mobil membuyarkan segalanya. Chalvin pun bergegas menurunkan jendela kaca.
"Om, beli tisu, Om! Murah!" Seorang remaja menawarkan dagangannya pada Chalvin.
Sambil menampakkan wajah masam, Chalvin mengeluarkan secarik uang kertas dari dompetnya.
__ADS_1
"Matsuya, Om!"
"Hah? Matsuya? Apaan, tuh?"
"Matur suwun, ya, Om!"
(Matur suwun: terima kasih)
Seperginya bocah tersebut, Chalvin langsung menaikkan kaca jendela mobil. Baru naik setengah, seorang pengamen remaja yang rambut depannya panjang menyamping berdiri di pintu mobilnya sambil memetik gitar.
Jrenggg!
"Langit bumi bersaksi ... derita kujalani ... langit bumi bersaksi ... derita kujalani ...." pengamen itu terus memainkan gitar sambil mendendangkan lagu dengan suaranya yang cempreng.
"Lagu apaan sih itu? Kok kek lagu kutukan!" cetus Chalvin dengan ekspresi menahan ngeri.
"Soundtrack sinetron kolosal di tivi ikan terbang, Bang!"
"Ganti ... ganti!" pinta Chalvin.
"Oke, Bang!" Pengamen itu kembali memetik gitarnya.
Jrenggg!
"Perdamaian ... perdamaian ... perdamaian ... perdamaian ... banyak yang cinta damai ..."
"Stop! Stop! Lo nyanyi lagu apa, sih!" ketus Chalvin sambil membuka dompetnya.
"Lagu perdamaian, Bang. Biar bumi gak panas."
"Ya, udah, nih, lanjutin nyanyinya di tempat lain!" Chalvin memberikan uang pada pengamen tersebut.
"Makasih, Bang."
Chalvin buru-buru menutup kaca mobilnya seraya mendengkus. Suara cekikikan kecil yang terdengar membuat ia memalingkan wajah ke arah Nadya. Nadya lantas menutup mulutnya dengan wajah menahan senyum. Ekspresi tawa Nadya membuat Chalvin turut tertawa lepas untuk beberapa detik. Ia kembali memegang tangan gadis itu seraya memiringkan tubuhnya. Sebelah tangan Chalvin memegang dagu Nadya agar tatapan mereka kembali bertemu.
Tindakan Chalvin membuat Nadya berpikir lelaki itu hendak melanjutkan yang sempat tertunda sebelumnya. Benar saja, wajah Chalvin mulai mendekat secara perlahan diikuti sebelah tangan yang memegang sisi wajahnya. Semakin dekat, hingga napas hangat pria itu mulai menerpanya.
Pada saat ini, Nadya tak bisa melakukan apa pun. Pesona Chalvin terlalu kuat hingga tubuhnya lebih dulu membeku. Hidung mereka pun telah bersinggungan seiring bibir lembut Chalvin hendak berlabuh.
Priiiitt!
Suara peluit yang tertiup nyaring, sukses membuat bahu keduanya terangkat. Di hadapan mereka saat ini ada tukang parkir yang berdiri dengan peluit yang menyumbat mulutnya. Tukang parkir itu mengintruksikan agar mobil segera keluar seiring akses jalan menuju pintu keluar telah lenggang.
"Assemm!" Sambil mengembuskan napas kasar, Chalvin pun mulai menjalankan mobilnya.
Catatan kaki 🦶🦶
Breadcrumbing artinya remahan roti. Tapi istilah ini telah digunakan untuk perilaku mengirim sinyal untuk mendekati atau pun menggoda lawan jenis tapi tanpa memiliki komitmen ke depan, atau istilah sederhananya cuma pengen menjalin hubungan main-main tanpa niat ke arah yang serius.
.
__ADS_1
.