DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 96 : Support System


__ADS_3

"Mami ...." Karen menahan tangan mami Valen.


"Kenapa? Kamu mau nyembunyiin ini dari Darren? Atau dia selama ini gak peduli sama kamu? Kalau dia gak becus ngurus kamu, mending kamu tinggal sama mami. Kita terbang ke Singapura, periksa di Rumah Sakit sana!" tegas mami Valen.


"Aku mau ngasih tahu sama Darren, tapi ...." Kalimat Karen mengambang tak jelas.


"Tapi apa?" potong mami Vallen, "mau tunggu sampai kondisi kamu memburuk?" sambungnya dengan raut cemas.


"Andai aku bisa ngomong langsung sama Darren, aku gak perlu datang sama mami buat curhat." Karen mulai menunjukkan sikap khawatir berlebihan.


"Apa susahnya ngomong sama suami sendiri?"


"Masalahnya gak semudah itu, Mi. Beberapa orang mudah jujur tentang apa pun ke pasangan, karena mereka udah cukup lama bersama dan saling mengenal satu sama lain. Ini berbeda dengan kami, aku dan Darren dua orang asing yang disatukan lewat perjodohan. Kami baru saling mengenal dan mencintai. Aku gak bisa nebak seberapa besar perasaan Darren. Aku gak tahu, apakah setelah aku ceritain ini, Darren akan support aku atau malah pergi ninggalin aku. Aku jadi was-was gara-gara itu."


"Jadi ... kamu masih ragu sama Darren? Kamu gak percaya sama suami kamu sendiri?" Tatapan mami Valen semakin menancap padanya. "Asal kamu tahu, mau selama apa pun pernikahan, kita gak akan bisa menebak isi hati pasangan. Ibarat menerka kedalaman air laut. Tapi kita punya pilihan buat percaya atau enggak sama pasangan kita."


Karen menunduk sembari menggeleng pelan. "Kayaknya aku yang gak percaya diri. Aku selalu merasa insecure. Padahal ... akhir-akhir ini aku dah berusaha keras buat belajar lebih giat dan ubah kebiasaan buruk aku yang suka wasting time."


"Karen dengarkan mami, stop berusaha keras untuk menjadi lebih baik demi pasangan! Stop berusaha keras membuat pasangan mencintai dan tidak meninggalkan kita. Rawat diri kamu, belajar yang tekun, dan ubahlah kebiasaan burukmu secara sadar dan ingin. Jangan lakukan demi pasangan!" Mami Valen mulai berfatwa.

__ADS_1


"Terus, apa yang bisa Darren banggain dari aku, Mi? Aku bukan mahasiswa yang cerdas, aku gak pintar ngurus pekerjaan rumah, dan sekarang ...." Kalimat Karen terhenti, berganti dengan butiran air mata yang berhamburan keluar.


Mami Valen menggerakkan jari telunjuknya. "No! No! No! Siapa bilang nak mami gak bisa dibanggakan? Percayalah enggak ada rumah tangga yang benar-benar sempurna!" ucapnya sambil menggenggam erat tangan anaknya, "semua orang punya ujian rumah tangga masing-masing. Ada yang diuji dengan sifat dan kelakuan pasangan yang buruk, ada yang diuji dengan permasalahan ekonomi, ada yang diuji lewat ipar dan mertua, ada yang diuji lewat anak, dan ada yang diuji lewat kesehatan." Napas kasar mami Valen berembus. "Itulah kenapa mami gak setuju waktu nenek maksain kamu nikah, karena mami tahu kamu pasti belum siap hadapi permasalahan rumah tangga kayak gini."


"Yang bermasalah emang cuma aku, Mi. Bukan Darren."


"Enggak! Itu permasalahan kalian berdua! Makanya mami bilang Darren harus tahu!" tekan mami Valen kembali. "pasangan yang baik, pasti akan terima kita di segala situasi. Kalaupun dia gak sanggup bertahan, ya, sudah kamu masih ada mami, papi sama nenek yang selalu terima kamu."


Kalimat-kalimat penguat dari ibunya, menjadi kelegaan tersendiri bagi perempuan berusia dua puluh tahun itu. Padahal beberapa hari ini pikirannya seolah tenggelam begitu jauh di lembah keperpurukan.


"Aku bakalan cerita ini sama Darren. Tapi tunggu sampai selesai ujian. Aku tahu dia juga lagi sibuk periksa nilai dan input datanya."


"Gitu dong! Anak mami harus kuat." Mami Valen mengusap-usap punggung Karen dengan penuh kasih sayang.


Di waktu yang sama, Darren tiba-tiba menelepon Karen. Pria yang ternyata masih berada di kampus itu, hanya mengabarkan jika dia akan lembur.


"Aku juga lagi makan siang di rumah mami, nih," balas Karen.


"Wah, asyik dong! Sayang banget aku gak bisa gabung. Bakalan sibuk terus sampai selesai UAS."

__ADS_1


Karen terhenyak ketika mami Valen merebut ponsel dari tangannya lalu mengambil alih obrolan. "Darren, mami boleh minta izin gak? Mami pengen Karen bermalam di rumah sini. Lagian kamu mau lembur, kan? Kasihan dong kalo Karen sendiri di rumah."


"Oh, iya, Mami. Boleh, kok," ucap Darren dengan nada kaku.


"Makasih, ya, udah ngijinin Karen bermalam selama beberapa malam."


"Hah? Beberapa malam?" Darren terlonjak kaget.


"Iya, seenggaknya sampai selesai UAS-lah! Kamu pasti sibuk banget kan ngurusin nilai mahasiswa. Jadi, biarin aja Karen tinggal sama mami dulu. Soalnya mami kangen banget, semenjak dia nikah udah jarang ketemu. Gak papa, ya?"


"A ... aku sih terserah Karen. Kalo dia emang mau di situ dulu selama UAS, ya gak papa," balas Darren.


"Oh, tentu Karen senang bisa nginap di sini!" seru mami Valen sambil menatap Karen yang tampak melayangkan protes.


"Ya, udah kalo gitu, Mi," balas Darren tak berdaya. Ia tak mungkin melarang Karen menginap di rumah orangtuanya sendiri.


Begitu pembicaraan berakhir, Karen pun langsung menggerutu kesal. "Mamiii ... kok malah misahin aku dan Darren selama seminggu!"


"Kan tadi kamu bilang, kamu bakal cerita sama Darren setelah UAS. Jadi, biarin kamu di sini dulu supaya mami bisa mantau kesehatan kamu. Dan kalo Darren datang jemput kamu nanti, kamu bisa ngomong langsung ke dia. Kalo gak bisa ngomong, biar mami yang bantu ngasih tahu."

__ADS_1


Kegusaran juga dirasakan Darren. Jelas, ia keberatan harus berpisah ranjang selama seminggu dengan istrinya. Sayangnya, ia juga tak bisa menolak permintaan mertuanya itu. Masih memegang ponsel, tiba-tiba ia tersadar jika wallpaper ponselnya menggunakan foto yang menampilkan dirinya dan Karen. Dalam foto tersebut, istrinya itu tersenyum semringah ke depan, sementara dirinya menatap ke tempat lain. Tampaknya, Foto secara candid itu, diambil saat kencan malam mereka di kawasan street food.


Darren tersenyum kecil menatap foto tersebut, tanpa menyadari istrinya telah melakukan gelagat aneh akhir-akhir ini.


__ADS_2