DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 208 : Desakan Orangtua Silvia


__ADS_3

Di kediaman Bratajaya, kakek Aswono terheran saat melihat mobil Chalvin terparkir di depan teras rumah mereka. Rupanya, Oma Belle yang memerintahkan supir membawa mobil itu ke rumah mereka. Ini karena Oma Belle geram mengetahui Chalvin kabur dari kantor hanya karena kehadirannya yang datang bersama Silvia.


"Kenapa mobil Chalvin ada di sini?" tanya kakek Aswono yang baru masuk ke ruangan keluarga.


"Biarin aja! Mobilnya aku sandera. Biar tahu rasa dia! Habis ... ngeselin banget tuh anak!" gerutu Oma Belle sambil melukis.


"Ya ... paling juga dia entar datang ke sini buat ngambil mobilnya," balas kakek Aswono sambil duduk bersandar dengan tangan yang memegang tabloid.


"Bagus! Itu yang saya tunggu! Biar dia ke sini!"


Silvia datang membawakan segelas teh untuk Oma Belle. "Oma, aku bikinin teh tanpa gula untuk Oma."


"Waduh ... kamu kok tahu sekali kalo hujan-hujan kayak gini memang cocok minum yang hangat-hangat! Benar-benar calon cucu menantu idaman," puji Oma Belle.


Silvia tersenyum lalu menoleh ke arah kakek Aswono. "Kakek juga mau dibuatin minuman, gak?"


"Gak usah repot-repot," tolak kakek dengan halus.


Di saat yang sama, Darren dan Karen baru saja tiba. Tampaknya suami istri itu sempat kehujanan. Bisa terlihat dari rambut dan pakaian mereka yang basah.


"Kalian dari mana aja? Kok sampai basah-basahan malam-malam gini?" tanya Oma Belle dengan nada khawatir.


"Aku sama Darren tadi pergi ke butik buat beli gaun acara besok malam, terus pulangnya singgah beliin kue serabi buat Oma. Gak tahunya tiba-tiba ujan. Mana parkir mobilnya agak jauh," ucap Karen sembari memberikan sebungkus kue favorit Oma Belle.


"Duh, Karen, masih aja ingat beliin kue favorit Oma. Kamu lagi hamil, jangan hujan-hujanan!" kata Oma cemas.


"Darren, bawa istri kamu ke kamar. Mesti cepat-cepat ganti pakaian biar gak masuk angin. Jakarta lagi polusi berat akhir-akhir ini, hujan yang turun bisa bikin orang flu karena udah tercemar," perintah kakek Aswono.


"Iya, Kek!" Darren merangkul istrinya dan mengajak masuk ke kamar.


"Silvia, tolong buatin Karen teh hangat, ya?" pinta Oma Belle.


"Iya, Oma."


Wanita tua itu juga meminta ART mereka untuk segera membuatkan sup ayam kampung jahe untuk menghangatkan tubuh Karen. Perhatian yang diberikan Oma Belle dan kakek Aswono pada Karen, membuat Silvia tampak tak senang.


Di kamar, Karen duduk bersila di atas karpet bulu yang berada di samping ranjang mereka. Sementara Darren duduk di belakang, dengan posisi yang lebih tinggi darinya tepatnya di pinggir ranjang. Pria itu tengah sibuk mengeringkan rambut Karen yang basah dengan hairdryer.

__ADS_1


"Aku deg-degan banget, padahal acaranya besok malam," kata Karen dengan wajah gugup.


"Santai aja. Belum tentu semua yang hadir bakal fokus ke kita," ucap Darren menenangkan karena tahu istrinya sangat mudah kehilangan kepercayaan diri, "maaf, ya, baru bisa ngenalin kamu ke rekan-rekan kerja aku."


"Mulai sekarang ... aku boleh pakai cincin pernikahan, kan?" tanya Karen ragu-ragu.


"Bukannya dari dulu udah aku suruh pakai tapi kamu yang gak mau!" cetus Darren sambil menyisir rambut Karen yang telah selesai dikeringkan.


Karen menengadahkan kepalanya, menatap Darren dengan bibir yang terulas senyum. Darren menundukkan kepala seraya mendekatkan wajah mereka untuk menjamah bibir ranum istrinya. Di waktu yang bersamaan, Silvia mendadak muncul di depan pintu kamar mereka yang memang terbuka lebar. Perempuan itu berdeham keras sehingga membuat Darren dan Karen tersentak.


"Sorry kalo ganggu. Aku cuma bawain teh buat kalian," ucap Silvia yang sedang membawa nampan berisi dua cangkir.


Darren lantas beranjak menghampiri Silvia. "Makasih, ya. Seharusnya gak perlu repot buatin sampai ngantar gini."


"Gak papa kok. Ini buat bumil juga biar tubuhnya hangat."


"Makasih, ya," ucap Karen.


Silvia masih bertahan di depan pintu kamar meski nampan itu telah berpindah tangan pada Darren. Saat pria itu berbalik membelakanginya, ia buru-buru berkata, "Oh, ya, Ren, nama IG kamu apa? Aku cariin kok gak nemu, malah duluan nemuin punya Chalvin."


"Aku gak pake IG atau sosmed apa pun. Cuma punya website, itu pun buat publis karya tulis yang bisa diakses mahasiswa," jelas Darren.


"Gak kok. Aku emang gak pake sosmed sebelum nikah. Itu salah satu kunci hidup tenang dalam diri aku," balas Darren.


"Kalo gitu boleh tukaran WA, kan? Siapa tahu aku butuh bantuan kamu pas lagi di luar," pinta Silvia terang-terangan di depan Karen.


"Gimana kalo nomor WA aku aja?" Karen malah menawarkan nomor WA-nya.


"Boleh juga. Tapi aku juga tetap pingin nomor WA-nya Darren soalnya ada banyak yang pengen aku tanyain menyangkut pekerjaan aku nanti."


Mereka pun saling berbagi nomor WA. Wajah Karen mendadak cemberut setelah Silvia pergi. Dia bahkan tak mau disodorkan minuman yang baru saja dibuatkan Silvia.


"Kamu aja yang minum. Aku ogah!"


"Kok gitu?"


"Kayaknya dia naksir kamu, deh! Dari kemarin-kemarin caper mulu sama kamu!"

__ADS_1


Darren tersenyum kecut. "Kamu ini ada-ada aja. Kan kamu tahu sendiri Silvia bakal dijodohin sama Chalvin."


"Ya, dijodohin sama Chalvin kan belum tentu suka sama Chalvin. Bisa jadi kamu sebenarnya yang ditargetin!"


"Jangan terlalu overthinking!"


"Kamu yang terlalu positif thinking sama orang!"


"Kamu kalo cemburuan gini gemesin tahu!" Darren mencubit gemas pipi Karen.


Karen malah menepis tangan Darren lalu naik ke atas ranjang dan berbaring dengan posisi memunggungi pria itu. Darren mengernyit bingung dengan suasana hati Karen yang mendadak berubah hanya karena Silvia. Sadar istrinya sedang kesal, ia pun mendekat dan ikut berbaring dengan tubuh yang menempel di punggung Karen.


"Jangan senggol-senggol! Lagi emosi tahu!" ketus Karen sambil menggeser tubuhnya ke depan.


"Jangan gampang emosian! Udah mau jadi ibu, loh! Kalo kamu gak belajar kelola emosi dari sekarang, gimana kamu mau didik anak nanti? Bisa-bisa kamu jadi orangtua yang suka pakai kekerasan ke anak. Anak salah dikit, dimarah, diteriaki, diomeli, atau bahkan dipukul."


Karen tercenung sejenak. Ia pun berbalik perlahan menghadap ke arah Darren dan menaikkan kepalanya di lengan pria itu.


Sementara itu, Silvia yang sekarang menempati sebelah kamar mereka, saat ini sedang menerima telepon dari orangtuanya. Ternyata ibunya ingin mengetahui perkembangan hubungan antara dirinya dan Chalvin.


"Kenapa mereka belum juga membicarakan tentang pernikahan?" tanya ibu Silvia lewat sambungan telepon.


"Mau bicara gimana kalo Chalvin terang-terangan nolak aku!" gerutu Silvia kesal.


"Masa sih dia gak suka sama kamu? Emangnya anak mama kurang apa?"


"Masalahnya mama tahu sendiri kan Chalvin udah punya pacar. Walau Oma bilang itu bukan pacar beneran, tapi kelihatannya Chalvin serius banget sama tuh cewek. Lagian Chalvin sampai sekarang menghindar terus dari aku dan Oma," keluh Silvia.


"Kamu kan pernah tinggal bareng dia. Seharusnya kamu bisa ngambil hatinya. Usaha dong! Jaman sekarang kan gak sulit bikin pria klepek-klepek! Buat apa kamu lama-lama di sana kalo perjodohannya gak jadi!"


"Tapi aku kan awalnya sukanya sama Darren, bukan Chalvin si mulut tajam itu!"


"Kamu ini gimana, sih! Darren kan dah nikah. Lagian yang bakal mewarisi perusahaan itu Chalvin, bukan Darren. Kalo kalian nikah, bisnis ayah kamu bakal terbantu oleh keluarga Bratajaya."


Orangtua Silvia terus mendesak anaknya agar bisa memengaruhi Oma Belle untuk mempercepat pernikahannya dengan Chalvin. Silvia pun mulai memikirkan cara menaklukkan Chalvin.


.

__ADS_1


.


__ADS_2