
Seharusnya bulan ini aku sudah datang bulan. Apa jangan-jangan ....
Karen tertegun dengan mata yang mengarah ke bibir Darren. Rupanya, pandangan itu membuat Darren salah paham. Dengan bibir yang tersungging tipis, ia mendekatkan wajahnya secara perlahan.
Karen tersadar dari lamunannya, ketika embusan napas Darren menerpa wajahnya.
"Ren, nenekku dah balik ke Indonesia. Dia pengen kita datang ke rumah besok. Gimana?" tanya Karen mencoba mengalihkan suasana intim yang tercipta.
Darren sontak meluruskan kepalanya. "Oke. Besok libur juga, kan?"
Darren kembali memajukan wajahnya secara perlahan, tapi Karen justru menahannya dengan meletakkan ujung jari-jari di bibir pria itu. Darren menepis jari-jari lentik Karen yang menutup bibirnya. Pria itu kembali memajukan wajahnya dengan mulut setengah terbuka, siap untuk menerkam bibir seksi istrinya. Ketika bibir mereka nyaris bersatu, Karen malah bertindak iseng dengan sengaja melibat bibirnya ke dalam.
Sudut bibir Darren tertarik kecil. Di luar dugaan, ia malah menggigit gemas ujung hidung Karen sehingga membuatnya mengerang kecil. Perempuan itu kembali terhenyak ketika Darren mengangkatnya lalu membawanya ke kamar.
...****************...
Akhir pekan yang dinanti banyak orang telah datang menyapa. Pagi-pagi sekali, sepasang pasutri itu bertolak ke kediaman besar keluarga Karen untuk berkunjung. Saat tiba, mereka langsung disambut oleh mami Vallen dengan penuh suka cita. Sebab, ini pertama kalinya mereka datang berkunjung setelah menikah.
"Mami, nenek mana?" tanya Karen dengan kepala yang menoleh ke kiri dan kanan.
"Tuh ... lagi di sana!" Mami Vallen mengedikkan dagu ke arah pekarangan samping rumah yang terdapat teras lebar dan juga kolam renang.
Terlihat seorang perempuan berusia senja tengah melakukan salah satu gerakan yoga di atas matras. Ia memakai tanktop yang dipadu dengan legging ketat. Tidak salah lagi, dia adalah nenek Puspa, ibu dari mami Vallen.
Berbeda dengan Oma Belle yang selalu tampil bersahaja dan elegan, gaya nenek Puspa lebih terlihat trendi dan fashionable seperti anak gaul. Bahkan rambutnya yang bermodel Pixie, dicat warna kemerahan untuk menutupi uban. Jika Oma Belle penuh dengan aturan dan tata krama, maka nenek Puspa justru berjiwa muda dan bebas.
"Nenek!" teriak Karen sambil menghampiri neneknya.
Nenek Puspa hampir kehilangan keseimbangan karena terkejut mendengar suara teriakan cucunya. Begitu berbalik, ia tersentak mendapat serbuan pelukan erat dari Karen.
"Duh, kangen banget sama Nenek!"
Nenek Puspa melepas paksa pelukan Karen. "Karen, mulai sekarang kamu gak boleh panggil nenek lagi!" larang wanita seumuran Oma Belle itu sambil mengacungkan jari telunjuknya, "karena Nenek baru saja lakukan perawatan untuk mengencangkan kulit di Korea Selatan. Apa kamu gak lihat sekarang kulit Nenek seperti usia dua puluhan."
Karen mendekati neneknya dan memerhatikan kulit wajahnya. "Ah, iya! Nenek semakin kinclong! Kerutan Nenek juga dah enggak ada! Terus, rambut Nenek juga lebih tebal dan bervolume," pujinya takjub.
Nenek Puspa tersenyum bangga. "Iya donk. Kan sekalian transplantasi rambut. Makanya jangan panggil nenek lagi!"
"Terus ... kalau gak mau dipanggil nenek, dipanggil apa dong?" tanyanya bingung.
"Kamu harus panggil dengan sebutan Nena!"
"Hah? Nena?" Karen masih merasa asing dengan panggilan itu.
"Nenek kamu itu menolak tua. Walaupun muka udah terlihat muda, ya ... tetap aja kalau bicara yang terdengar suara nenek-nenek!" sahut mami Vallen sambil menahan tawa.
__ADS_1
Nenek Puspa menatap sinis ke arah mami Vallen. "Iri ya karena mamamu ini sudah secakep Yuni Shara?"
"Kayak Yuni Sarap kali." Mami Vallen mendelikkan matanya. "Kalau Mami sih, tanpa operasi-operasi, suntik botox, tanam benang, atau apalah namanya ... sudah mirip Priyanka Chopra," ucap mami Vallen membanggakan diri.
"Priyanka Kobra kali!" balas nenek Puspa sambil mendengus. Ia mengalihkan pandangan pada Darren yang berdiri di belakang Karen.
"Eh, cucu mantuku juga ada!"
Darren langsung membungkuk untuk mengambil tangan nenek Puspa. "Apa kabar, Nek?"
Nenek Puspa segera menepis tangannya. "Eittss ... Nena! Bukan nenek!"
"Nena ...." Darren meralat ucapannya sambil memasang wajah kaku. Ia kembali menunduk seraya mengambil tangan nenek Puspa. Namun, perempuan seusia Oma Belle itu malah kembali mencegatnya. Alih-alih menerima sungkeman dari cucu mantu, ia lebih memilih melakukan tos tangan layaknya teman sebaya.
"Nena dengar kalian udah pindah rumah, ya?" tanya nenek Puspa sambil membawa mereka ke ruang keluarga.
"Sudah, Nek. Eh, Nena," jawab Darren.
"Gimana kabar Oma kamu?"
"Sehat, Nena."
"Dulu Nena sama Oma kamu itu teman sekelas waktu kuliah. Oma kamu masih muda cantik banget, kayak noni-noni Belanda. Kami berdua sering direbutin cowok-cowok sekelas!" Nenek Puspa mulai mengenang masa lalu.
"Nena juga jadi rebutan cowok-cowok karena cantik, ya?" tebak Karen dengan mata berbinar.
Bahu Karen merosot seketika mendengar cerita neneknya. "Gimana bisa sekelas perempuannya cuma dua orang."
"Jaman dulu kan orang-orang masih berprinsip kalau perempuan itu gak usah sekolah tinggi-tinggi, nanti juga balik ke dapur. Jadi, masih jarang perempuan yang melanjutkan perguruan tinggi apalagi di jurusan yang kami ambil," jelas Nenek Puspa.
Mereka terus melanjutkan obrolan ringan hingga tak terasa memakan waktu sejam lamanya.
Ketika Darren ke toilet, nenek Puspa cepat-cepat bertanya pada Karen. "Apa Darren perlakukan kamu dengan baik? Dia sayang kamu, enggak? Dia perhatian sama kamu juga, enggak?"
Karen mengangguk malu-malu. Rona bahagia yang terpancar jelas dari wajahnya sudah menjadi bukti bahwa ia bahagia bersama lelaki pilihan neneknya itu.
"Nah, gak salah kan Nena nikahin kamu sama Darren!"
"Emang gak salah. Cuma ... Darren itu pelit kayak Omanya. Masa gak nyediain ART di rumah mereka. Karen pun sampai ikut-ikutan gak mau terima ART yang Mami kirimin buat dia" lapor mami Vallen dengan suara berbisik.
"Bagus itu! Biar Karen bisa belajar mandiri. Selama ini kamu terlalu manjain dia sampai dia gak tahu apa-apa," tandas nenek Puspa, "terus gimana Karen, kamu udah isi belum?" Pandangan nenek Puspa mengarah pada perut Karen.
Karen menggeleng dengan ekspresi datar.
"Kok belum? Apa kalian tidak rutin? Atau ..." Mata nenek Puspa melotot seketika. "jangan bilang kalian belum anu-anuan sampai sekarang!"
__ADS_1
"Aku sama Darren sepakat nunda anak sampai aku selesai kuliah dan punya karir yang bagus."
"Bagus, Karen! Mami setuju sama keputusan kalian. Perempuan jaman sekarang harus berdaya dan berduit! Pernikahan tidak menjamin kalian berjodoh sampai maut. Jadi, jangan hanya mengandalkan suami saja." Lagi-lagi mami Vallen ikut menyambar pembicaraan.
Nenek Puspa menghela napas. "Nena sih gak masalah kalian mau nunda punya anak. Itu kan urusan rumah tangga kalian, Nena gak mau ikut campur. Tapi, setahu Nena, salah satu alasan Oma dan kakek Darren mau nikahin Darren sama kamu itu karena mereka ingin segera memiliki cicit. Apalagi keluarga besar Bratajaya sedang krisis penerus!"
Bosan mendengar pembicaraan soal anak, Karen malah mengalihkan topik. "By the way, Nena lakuin operasi dan perawatan besar-besaran kek gini, pasti ngeluarin banyak uang!"
"Jelas!" Nenek Puspa membenarkan.
"Bukannya keluarga kita harus berhemat buat nutupin kerugian besar perusahaan?" tanya Karen.
"Kata siapa?" Nenek Puspa tiba-tiba berlagak pikun. Padahal Karen hanya menyalin ucapannya tempo hari, saat memaksakan perjodohan itu.
Karen melebarkan mata seketika. "Jangan-jangan ... tentang anak perusahaan Nenek yang bangkrut itu cuma hoaks belaka?"
Nenek mengangguk cepat dengan memamerkan senyum yang lebar. "Ya, meskipun papi kamu emang udah bikin rugi perusahaan dengan mengeluarkan produk kosmetik yang gagal total di pasaran, tapi itu tidak lantas membuat kita bangkrut."
"Ih, kalian semua jahat banget dah bohongi Karen!" Karen menggerutu kesal.
"Kalau gak gitu, mana mau kamu dijodohin, kan? Apalagi kamu terus-terusan mangkir kalau diajak ketemuan sama Darren." Nenek Puspa mencoba ingatkan kelakuan Karen yang kabur setiap keluarga Darren datang ke rumah.
"Mami juga awalnya ketipu sama nenek kamu," terang mami Vallen.
"Seharusnya kamu bersyukur! Berkat Nena, kamu dapetin suami kelas premium!"
Karen masih memasang wajah memberengut, tapi apa yang dikatakan neneknya ada benarnya. Jika bukan lewat jalur perjodohan, mana mungkin dia menjadi istri dari dosen yang begitu dipuja-puja para mahasiswa.
Akhirnya, Karen dan Darren berpamitan pulang ke rumah setelah makan malam. Sepanjang perjalanan, Karen terus bersandar di lengan suaminya.
"Keluarga kamu seru juga, ya!"
Karen mengangguk sambil tersenyum. Tiba-tiba, ia meminta Darren agar berhenti saat melewati apotek.
"Stop! Stop!"
Darren mengerem mobilnya secara mendadak. "Kenapa?"
"Aku mau ke apotek. Aku ... pingin beli vitamin kulit. Kamu tunggu di sini aja, cuma bentar doang kok," ucapnya beralasan. Padahal ia hendak membeli alat tes kehamilan.
Tak terasa, hari itu menutup dengan cepat. Matahari mulai berjalan pelan menyambut hari baru. Karen duduk di atas toilet dengan mata terpejam sambil memegang testpack yang baru saja digunakannya. Ia menarik napas perlahan, sebelum membuka mata untuk mengetahui hasilnya.
.
.
__ADS_1
.