
Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Karen masih bergelung dengan kegalauannya, sendiri meresapi sepi tanpa kehadiran Darren. Ia yang berbaring di atas ranjang, hanya berbalik kiri-kanan sambil menunggu suaminya. Ya, sudah semalam ini, lelaki itu masih juga belum masuk ke kamar. Apa mereka akan berpisah ranjang malam ini?
Karen memeriksa ponselnya dan melihat status WA. Sudah empat jam lalu ia menulis status WhatsApp story yang hanya bisa dilihat oleh suaminya. Alih-alih berharap status penuh singgungan itu dilihat Darren, pria itu malah tak mengaktifkan ponselnya seharian. Terbukti, tidak ada catatan online di profil pria berprofesi dosen itu.
Sambil menatap pintu kamar, ia bergumam kecil. "Aku hitung sampai lima. Kamu harus datang! Satu ... dua ... tiga ...." Karen mulai mengernyit dengan perasaan was-was. Ia mulai memperlambat jarak hitungan seraya menutup mata "Em–pat ... empat seperempat ... empat setengah ...." Ia menarik napas dalam-dalam sambil mencoba kembali mengintip pintu, "li–ma."
Pintu itu masih tertutup, bahkan hingga beberapa menit usai selesai menghitung.
"Ih, kok gak muncul! Terlalu cepat kali, ya, ngitungnya?" pikirnya sejenak. Karen kembali menghitung, kali ini sampai angka sepuluh. Hasilnya masih sama, di hitungan kesepuluh, pria itu tak kunjung datang.
Karen terduduk kesal sambil bersedekap. "Jadi, dia beneran gak tidur di sini malam ini?"
Hingga saat ini, Karen menganggap alasan Darren marah padanya terlalu berlebihan. Apalagi jika hanya persoalan dirinya yang pergi ke rumah sakit tanpa sepengetahuan pria itu. Haruskah mereka bertengkar seperti ini? Meski begitu, egonya juga memilih untuk tidak menghampiri suaminya terlebih dahulu.
Tak berselang lama kemudian, seseorang di luar sana mengetuk pintu kamarnya dengan cepat. Karen segera turun untuk membuka pintu. Ternyata itu adalah Oma Belle yang datang membawakan secangkir minuman beraroma jamu.
"Karen, Oma lihat Darren lembur di ruang baca. Oma kepikiran bikinin dia ramuan untuk jaga staminanya. Kasihan kan kalo dia juga ikut drop. Nih, kamu bawain sana minumannya ke ruang baca!" pinta Oma Belle sambil menyodorkan cangkir putih itu pada Karen.
"Karen yang bawa ke sana Oma?"
"Iya dong. Suami itu ibarat bayi gede. Suka diperhatiin dan dimanjain walaupun dari hal-hal kecil seperti ini," tutur Oma Belle dengan penuh antusias.
Karen mengambil cangkir berisi minuman tradisional itu dari tangan Oma dengan ragu.
Melihat Karen yang mematung tanpa pergerakan, Oma Belle lantas berseru, "Tunggu, apa lagi? Ayo, buruan ke sana!"
Dengan langkah berat, Karen pun menuju ke ruang baca tempat Darren kerja. Bukannya enggan membawa minuman ini ke sana, ia cuma takut melihat reaksi Darren jika benar pria itu masih marah padanya. Apalagi ini pertama kalinya Darren mendiamkannya selama hampir seharian. Bagaimana kalau kedatangannya malah tak diacuhkan?
Oma Belle menahan senyum melihat Karen yang mulai menuju ke ruang baca. "Di rumah ini gak boleh ada yang marahan, pamali!" gumamnya.
Di sisi lain, Darren masih disibukkan dengan penelitiannya di dalam ruangan baca yang juga menjadi tempat kerja favorit kakek. Perhatiannya teralihkan saat Karen masuk sambil membawakan minuman.
"A ... e ... anu ... Oma ... suruh aku bawa ini ke sini," ucap Karen penuh rasa gugup.
"Taruh aja di atas meja," pinta Darren dengan mata yang kembali tertuju di layar laptop.
Karen lalu mendekat ke arah meja sambil memerhatikan ekspresi Darren. Karena tatapannya tertuju pada pria itu, ia sampai tak memerhatikan posisi cangkir yang bergeser dari piringnya.
"Aw!" Karen menjerit kecil saat isian cangkir yang masih panas itu sedikit tumbuh mengenai punggung tangannya.
"Kenapa?" tanya Darren cepat.
Karen menggeleng sambil menyembunyikan tangannya yang memerah. Karena merasa sikap Darren masih mendingin, ia pun berbalik cepat dan hendak beranjak dari tempat itu.
"Karen!" panggil Darren tiba-tiba.
__ADS_1
Karen berbalik pelan, lalu membalas dengan sebuah dehaman kecil "Hum ...."
"Kamu dah enakan?"
Karen mengangguk kecil.
"Bisa temani aku di sini, enggak?"
"Emangnya boleh?" Karen malah balik bertanya.
Karen berjalan mendekat. Darren memintanya untuk lebih dekat. Begitu Karen berdiri di sampingnya, ia langsung menarik perempuan itu hingga terduduk di pangkuannya. Karen hanya bisa diam di pangkuan Darren, sementara Darren kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak ada suara atau pun kata yang terucap dari bibir mereka.
"Ren, kayaknya kamu ada yang salah nulis, deh! Tipo gitu," ucap Karen memerhatikan laporan penelitian suaminya.
"Yang mana?"
"Coba scroll ke atas paragraf kedua kalo gak salah."
Darren menggerakkan kursor ke atas dengan cepat.
"Bukan itu!" Karen mengambil alih tetikus yang dipegang Darren, sehingga membuat tangannya berada di atas punggung tangan Darren.
(Tetikus terjemahan secara harfiah dari kata mouse)
Karen terkejut sejenak. Tangan yang sedari tadi ia sembunyikan, kini terlihat oleh suaminya.
"Tadi kena tumpahan minuman itu. Tapi gak papa, kok. Cuma merah doang gak sampai melepuh."
Darren langsung mengambil tangan Karen, lalu mendekatkan ke mulutnya. Ia meniup dengan perlahan bagian kulit yang memerah itu.
"Seharusnya ini dialirkan di air mengalir," ucapnya sambil mengelus-elus punggung tangan Karen dengan lembut.
"Aku lebih suka kayak gini," balas Karen sambil menatap wajah suaminya yang menghangat. Terlalu hangat, sampai-sampai ia merasa seperti lilin yang mulai meleleh.
"Soal kemarin ...." lanjut Karen seketika, "aku minta maaf, ya? Aku gak bermaksud nutupin dari kamu. Tadinya, pas mual-mual, aku pikir mungkin aja aku hamil. Aku inisiatif periksa sendiri ke dokter. Chalvin ngelarang aku dan mau hubungi kamu. Tapi aku gak mau dan tetap maksa mau cek sendiri. Aku cuma takut kamu jadi berharap kalo aku beneran hamil. Dan ternyata aku rahim aku emang masih kosong," jelas Karen dengan mata yang berkabut.
Mendengar penjelasan Karen, Darren menghela napas sejenak. "Tentang kehamilan, kamu gak perlu merasa terdesak atau buru-buru. Aku tahu, kamu sekarang udah berubah pikiran, tapi kamu masih ingat kata dokter, kan? Pemulihan kamu lebih penting."
"Aku cuma was-was, gimana kalo aku gak bisa hamil?"
"Mau ada anak atau gak di pernikahan kita, tidak akan mengubah apa pun. Kamu tetap istri aku, bagian dari keluarga Bratajaya. Kebahagiaan dalam Rumah Tangga enggak bisa ditentukan dengan adanya keturunan. Ada anak atau enggak, bukan penghalang kita untuk tetap jadi pasangan yang bahagia," tutur Darren sambil menyematkan jari-jari tangan mereka.
Di depan pintu ruang baca, Oma Belle malah tengah membungkuk seraya sibuk mengintip melalui celah pintu. Ia penasaran, apakah idenya berhasil untuk membuat Darren dan Karen berbaikan. Sayangnya, ia tak bisa melihat dan mendengar apa pun di dalam sana. Padahal, sudah hampir setengah jam Karen berada di ruangan itu mengantar minuman herbal berstamina untuk Darren.
Saat matanya menyamping, secara bersamaan ia melihat Sheila berjalan menuju dapur. Ia pun memanggil Sheila yang sedang memakai masker topeng singa di wajah.
__ADS_1
"Sheila, Sheila, sini kamu!" panggilnya dengan suara berbisik.
Sheila pun mendekat. "Kenapa Oma?"
"Kamu kan jago nguping, coba kamu dengar apa yg diomongin Darren sama Karen di dalam!" perintah Oma.
"Ih, Oma kepo. Katanya gak boleh nguping, kok malah suruh Sheila! Gak mau, ah! Entar Sheila dimarahin lagi sama kakek!" tolak Sheila sambil hendak beranjak.
Oma Belle menahan lengan Sheila. "Ini perintah Oma! Kakek gak bakal marah karena ini nguping dengan tujuan baik!"
"Oke-oke. Kalo gitu Oma jangan berisik!" Sheila menempelkan telinganya di pintu. Tak lama kemudian, dia menoleh ke arah Oma Belle, "gak kedengaran, Oma!"
"Masa, sih! Coba kamu intipin, lagi ngapain mereka? Jangan-jangan pada baku hantam di dalam!" duga Oma dengan wajah panik.
Sheila pun mengintip lewat lubang kunci. Di waktu bersamaan, tiba-tiba pintu terbuka. Sheila dan Oma Belle kompak membungkuk, meniru gerakan orang yang sedang mengepel lantai.
"Oma, Sheila, ngapain malam-malam ngumpul di sini?" tanya Darren heran.
"Sheila, gimana anting-anting Oma yang jatuh udah kamu dapat belom?" Oma malah berpura-pura melempar pertanyaan pada Sheila, sambil sibuk meraba-raba lantai depan pintu ruang baca.
"Belom, Oma. Emang Oma yakin jatuh di sini?" tanya Sheila menyambung akting Oma Belle.
"Loh, Oma, bukan anting-anting Oma masih utuh dua-duanya!" tanya Karen dengan dahi mengerut sambil memandang Oma Belle.
Oma Belle spontan memegang dua anting yang terpasang di telinganya dengan raut wajah seperti orang yang tertangkap basah. "Astaga, ternyata cuma firasatku aja!" ucapnya dengan jurus ngeles.
Oma Belle dan Sheila segera berdiri begitu Darren dan Karen pergi.
Melihat Darren merangkul mesra istrinya, Sheila lantas berkata, "Ih, kok mereka cepat amat baikannya? Padahal lebih seru lihat mereka diam-diaman kayak tadi."
"Hush, kamu ini temannya setan pasti! Cuma setan yang doyan lihat suami istri berantem," hardik Oma sambil menyentil telinga Sheila.
Oma Belle buru-buru masuk ke dalam ruangan hanya untuk melihat minuman yang dibawakan untuk Darren. Tampaknya minuman itu telah disapu bersih tak meninggalkan sisa. Tiba-tiba tergelitik begitu teringat sesuatu. Sheila yang terus membuntuti Oma Belle, lantas keheranan melihatnya mendekih-dekih tak jelas.
"Oma kenapa cengengesan gitu? Kek teman aku yang lagi kasmaran aja!"
"Mau tahu aja kamu!"
Oma Belle masih senyum-senyum sambil menatap kepergian Darren dan Karen. Usut punya usut, ia teringat jika ramuan herbal yang diberikan pada Darren itu berfungsi untuk membangkitkan libido pria serta membuatnya tahan lama.
.
.
.
__ADS_1