DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 93 : Overthinking


__ADS_3

"Oma jodohin Chalvin lagi?" tanya Darren sambil menyuguhkan segelas air hangat.


"Iya, udah waktunya dia buat nikah, kan?"


"Kalau soal perempuan, kayaknya Chalvin bisa milih sendiri, deh, Oma!"


"Percayain Chalvin milih jodohnya sendiri? Apa kamu gak ingat, terakhir dia ngenalin perempuan ke Oma yang ada tatonya di paha," ketus Oma Belle.


"Itu kan lima tahun yang lalu. Kali aja sekarang tipenya dah berubah."


Telepon Oma Belle mendadak berdering. Rupanya, perempuan yang direkomendasikannya itu, melaporkan jika Chalvin belum juga datang menemuinya hingga kini.


"Masa, sih? Padahal dia dah nunggu kamu di stasiun dari tadi," kata Oma Belle kaget.


"Enggak ada, Oma. Tadi cuma ketemu sama saudara kembarnya aja. Tapi sekarang dia juga gak ada," balas perempuan bernama Tasya itu.


"Hah, saudara kembar?"


Oma Belle terkejut, tetapi langsung menipiskan bibir sambil menahan geram. Dia yakin ini hanya akal-akalan Chalvin saja. Setelah menutup telepon, Oma Belle buru-buru menelepon Chalvin.


"Halo, Chalvin, kamu di mana? Tuh Tasya dari tadi nungguin kamu. Jangan bilang kamu ninggalin dia."


"Oma dapat modelan kek gitu dari mana, sih? Udah muka kek ondel-ondel, selera fashionnya juga kek orang dari tahun tujuh puluhan yang ber-time travel ke era sekarang! Gak sesuai dengan yang Oma bilang! Jangan-jangan foto dari google yang dikasih sama Oma!"


"Gak sesuai gimana maksud kamu? Jangan banyak alasan kamu. Coba kamu datang ke rumah Darren dulu, kita ngomong di sini!"


"Gak, ah, kalo cuma bahas soal perjodohan mending aku kerja," tolak Chalvin yang langsung menutup telepon.


"Halo? Chalvin! Chalvin!" Oma Belle menatap layar dan baru menyadari jika telepon mereka telah berakhir.


"Oma pasti salah pilih cewek buat Chalvin!" gumam Darren menggeleng-geleng kepala. Ini cukup membuatnya teringat awal hendak dijodohkan dengan Karen.


Masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Chalvin, Oma Belle pun menelepon Tasya.

__ADS_1


"Nak Tasya, ini foto yang kamu kirimin ke Oma benar gak foto kamu sendiri?" tanya Oma Belle.


"Iya, Oma. Itu beneran foto saya kok. Tapi itu foto tujuh tahun yang lalu, Oma. Pas masih SMA dan kurusan. Sekarang dah agak melar, tapi gak gendut kok Oma cuma kelebihan lemak aja," ucapnya dengan aksen logat daerah yang kental.


"Apa? Foto tujuh tahun yang lalu?" Oma Belle terlongong-longong.


Darren yang mendengar, lantas menyembulkan tawa tertahan. Begitu Oma Belle menutup telepon, ia langsung berkata, "Tuh, kan, Oma takut Chalvin salah pilih pendamping, padahal Oma lebih salah. Udah dua kali lagi!"


Tak mau kalah, Oma Belle malah berkilah. "Ini semua gak akan terjadi kalau kalian dengar apa kata orangtua."


"Bukan gak mau, Oma. Aku sama Karen cuma belum siap secara waktu dan emosional. Begitu juga Chalvin, pasti ada alasan tersendiri kenapa dia belum mau nikah. Mungkin dia belum bisa berkomitmen. Pernikahan kan bukan percobaan. Ini tuh kehidupan kami, kami sendiri yang jalani dan tahu mana yang terbaik untuk kami."


"Halah ... kata-katamu itu udah mirip sama kakek. Janjian, ya, kalian buat nyerang Oma? Bentar lagi mungkin si Chalvin juga mungkin ngomong kayak gitu. Nyesel saya sekolahin kalian ke luar negeri. Jadi paham kalian sudah terkontaminasi gaya hidup orang barat. Kamu gak mau punya anak, si Chalvin gak mau punya pasangan yang sah."


Oma Belle satu dari banyaknya orangtua yang menerapkan helicopter parenting¹. Ia selalu menganggap dirinya benar dan tidak mau mendengarkan saran dan nasihat dari anak cucunya karena merasa lebih tahu. Ia selalu menyetir kehidupan anak cucunya dengan dalih apa yang dilakukannya semata-mata demi kebaikan mereka. Dia lupa, kalau orangtua pun bisa salah dalam mengambil keputusan. Tipe orangtua seperti ini selalu berlindung di balik kata-kata sakti "lebih dulu hidup dan telah mencicipi asam garam kehidupan".


Pandangan Darren dan Oma Belle teralihkan pada saat Karen keluar dari kamar dengan langkah lunglai. Darren langsung berdiri dan memegangi bahu istrinya seraya menuntunnya duduk di kursi.


"Karen, gimana masih sakit? Apanya yang sakit? Mual-mual, gak? Pusing?" tanya Oma dengan penuh antusias.


"Barusan kok. Eh, eh, kayaknya kamu hamil, deh. Kamu telat datang bulan, gak?" tanya Oma lagi. Kali ini ia langsung berpindah posisi duduk di samping Karen.


"Karen enggak hamil, Oma. Aku dah cek kok beberapa hari yang lalu. Hasilnya negatif," balas Karen datar.


"Terus ... kamu senang gitu ... gak hamil-hamil! Gak ada usaha pengen hamil?" Wajah Oma seketika berubah menjadi tak senang.


Kata-kata Oma Belle seakan menyudutkan dirinya yang lemah. Ia ingin membentak, tapi bibirnya seolah tak mau kerjasama dengannya. Ia terpaksa menelan kembali apa yang hendak diungkapkan. Jika tak sedang sakit, mungkin kata-kata itu akan diabaikannya seperti biasa. Tak bisa dipungkiri, terkadang ucapan seenak jidat dari orang-orang terdekat, membuat kita sulit terbuka dan menjadi berprasangka negatif lebih dulu.


Saat menunduk, sebuah telapak tangan yang besar dan hangat tiba-tiba membungkus punggung tangannya yang dingin. Ya, itu adalah genggaman dari suaminya.


"Oma, Karen lagi sakit. Bisa gak tahan dulu pembahasan soal anak? Aku sama Karen pasti bakalan program anak. Cuma saat ini biarin aja Karen fokus sama kuliahnya." Darren mencoba memberi pengertian pada Omanya tanpa melepaskan genggaman tangannya di punggung tangan Karen.


Oma Belle pun kembali jinak. "Ya, sudah, kamu istirahat aja. Makanya jaga kondisi biar gak jatuh sakit. Kalau gitu Oma pulang aja."

__ADS_1


"Supir Oma dah pulang, tuh! Aku anterin aja, ya!" tawar Darren.


Ia tahu Karen menjadi tak nyaman dengan cecaran Oma Belle. Jadi, memulangkan Omanya sesegera mungkin adalah jurus terbaik untuk menciptakan ketentraman di rumahnya. Jika tidak, perempuan yang telah melebihi setengah abad itu pasti akan terus membahas hal yang berulang.


Hening mengisi rumah itu seiring Darren dan Oma Belle pergi. Karen bersandar seraya menatap kembali punggung tangannya. Baru beberapa menit yang lalu, Darren menggenggamnya seraya membelanya. Hal yang sudah terlalu sering pria itu lakukan ketika Oma Belle menyerangnya. Masihkah Darren melakukannya untuk ke depan?


Sejak dokter mendeteksi ada sebuah benjolan cukup besar berupa tumor ganas di rahimnya, ia seakan terjun bebas dengan pemikirannya sendiri. Ketakutan, kekhawatiran dan rasa panik bersemayam dalam dirinya. Ia bahkan enggan melakukan tes lanjutan seperti yang disarankan dokter, karena takut membayangkan jika hasil tes itu malah memvonis penyakitnya sudah semakin parah dan terpaksa harus melakukan prosedur histerektomi² seperti yang dijelaskan dalam artikel-artikel di internet.


Ia masih muda. Pernikahannya baru seumur jagung. Cinta di antara mereka pun baru bersemi. Di saat ingin membuktikan dirinya pantas bersanding dengan Darren, kenapa harus ada hal yang meruntuhkan itu? Apakah pria yang baru empat bulan bersamanya itu bersedia mengorbankan waktu dan tenaga untuk mendampinginya menghadapi penyakit ini atau malah meninggalkannya? Bagaimana ia akan menghadapi desakan Oma Belle yang menginginkan mereka segera memiliki keturunan?


.


.


.


Catatan kaki 🦶🦶




Helicopter parenting adalah istilah pola asuh orangtua yang sangat mengontrol dan terlalu ikut campur urusan anak. Diibaratkan helicopter karena tindakan ini seperti helicopter yang terus berputar di atas untuk memantau gerak gerik anak.




histerektomi adalah prosedur pembedahan untuk mengangkat rahim.



__ADS_1


Btw, pemikiran orang sakit dan sedang terpuruk beda dengan pemikiran orang sehat yang sedang tidak memiliki masalah apa pun. Dan terkadang perkara yang dianggap mudah oleh orang lain, malah sulit dilakukan oleh kita. contohnya seperti yang dialami Karen saat ini. Beberapa orang tak bisa respek dan berempati karena tidak mencoba menempatkan diri jika berada di posisi yang sama 😉


Beberapa hari ini alur DOSA terasa lambat karena frekuensi update yg gak stabil. Semoga ke depannya bisa lancar 🙏


__ADS_2