
Mami Vallen kembali menelepon Karen. Ternyata masih tak dijawab. Penasaran, ia pun menelepon Darren untuk bertanya apa yang terjadi. Di sisi lain, Darren dan Karen sedang dalam perjalanan pulang ke rumah mereka. Ponsel Darren tiba-tiba berderu, menampilkan kontak mami Vallen sebagai si pemanggil.
"Mami kamu nelepon aku, nih!" Darren menunjukkan layar ponselnya.
"Hah? Mami? Kok nelepon malam-malam gini!" Karen mengernyit bingung. Tampaknya, ia tak menyadari sedari tadi mami Vallen terus menghubunginya.
Darren memilih menerima panggilan telepon dari mertuanya. "Hallo, Mi."
"Darren, maaf ganggu kamu. A ... Karen ada di situ, enggak? Soalnya tadi dia nelepon Mami tapi Mami gak angkat."
"Iya, Mi. Nih lagi bareng ma aku di jalan. Kita tadi habis jalan-jalan. Mau bicara, Mi?" tanya Darren sambil menatap istrinya, "Kenapa kamu banyak kali nelepon Mami pagi tadi?" tanya Darren mengulang pertanyaan mami Vallen.
Karen mengernyit, sebelum akhirnya menyadari kalau ia menelepon maminya karena kepanikan atas hasil diagnosis dokter. Darren lalu menyerahkan ponsel pada Karen.
"Halo, Mi."
"Karen, my sweetie pie, kamu kenapa tadi nelepon Mami berkali-kali. Maaf, ya, Mami lagi di Paris."
Melirik sebentar pada Darren, ia lalu berkata, "Kayaknya cuma salah tekan deh, Mami."
Mami Vallen bernapas lega. "Huuhh ... Mami kira kamu kenapa-kenapa."
Saat malam kian tergelincir dan orang-orang telah tenggelam dalam tidurnya, Karen masih terjaga. Ia sibuk mengedit video rekaman yang diambilnya saat kencan tadi. Bibirnya terus menyunggingkan senyum mengingat kemesraan mereka. Sejenak, ia memandang wajah lelap suaminya. Entah kenapa, resah mendadak menyusup hebat di hatinya. Segala ketakutan, kekhawatiran, hingga kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi seakan menghantuinya.
Tangan Karen bergerak refleks membelai lembut wajah suaminya. Tak disangka, mata Darren terbuka tiba-tiba dan langsung bersirobok dengannya. "Kenapa kamu belum tidur?"
"Belum ngantuk," jawab Karen seadanya.
Darren langsung mendekap Karen ke sisinya, menjadikan lengannya itu sebagai bantalan istrinya. "Jaga kesehatan! Bentar lagi kamu ujian semester," ucapnya sambil mengecup kening Karen.
"Ya, benar. Ujian semester tinggal beberapa hari lagi, aku harus fokus biar bisa dapat nilai tinggi seperti janji aku ke Darren. Kayaknya mending aku check up setelah ujian biar gak ganggu pikiran aku," pikir Karen dalam hati.
Detik-detik demi detik jarum jam berputar hingga mengantarkan ke hari berikutnya. Sebelum ke kampus, Karen menyempatkan singgah ke rumah Oma Belle. Terlihat, Oma dari suaminya itu tengah duduk di pekarangan samping rumah.
"Oma, ini titipan oleh-oleh dari nenek. Baru sempat Karen antar." Karen menyerahkan tas kertas dari brand dunia ternama.
__ADS_1
"Wah, makasih banyak. Udah lama gak ngobrol sama nenek kamu." Oma Belle menerima pemberian nenek Puspa dengan senang hati. "Eh, eh, sini duduk di samping, Oma! Pas banget kamu ada di sini! Kita mau launching produk handbody terbaru, kerja sama dengan perusahaan keluargamu. Oma dah bilang sama Chalvin, kamu yang bakal jadi Brand Ambassador-nya."
"Karen lagi, Oma?"
"Iya! Kulit kamu kan kayak tofu. Bening, lembut dan kenyal cocok mewakili produk ini. Pokoknya handbody terbaru kita harus bisa ngalahin penjualan handbody Ngeseline!"
Karen tersenyum ringan. "Tapi, Oma. Untuk seminggu ini Karen mau fokus ujian semester dulu."
"Tenang, produknya juga masih dalam perencanaan. Oh, iya, bantu Oma pilihkan perempuan yang cocok untuk Chalvin," pinta Oma Belle sambil menyodorkan foto-foto wanita dari berbagai kalangan.
"Kalau soal itu Karen gak tahu selera kak Chalvin, Oma. Jadi gak bisa milih cewek yang cocok buat dia."
"Dia itu cuma pengen perempuan yang bening dan memanjakan matanya."
"Kenapa gak langsung suruh kak Chalvin milih langsung mana cewek yang sesuai kriterianya."
"Bakalan gak mau dia." Oma teringat perjodohan pertama yang gagal hingga membuat Chalvin enggan dijodohkan lagi.
"Coba Oma tanya aja tipe ceweknya secara spesifik. Kali aja, ada yang sesuai dengan cewek-cewek di foto ini."
"Ya, Oma. Ada apa?" Suara Chalvin terdengar melalui sambungan telepon.
"Hei, Chalvin, nih Oma punya banyak rekomendasi calon istri untuk kamu."
"Hah? Calon istri lagi?"
"Iya, kalau mau datang lihat langsung foto-fotonya, atau ... mau Oma kirimin di WA?"
"Enggak ... enggak, Oma! Kan dah aku bilang aku gak mau ikut perjodohan lagi," tolak Chalvin terang-terangan.
"Gak bisa! Pokoknya Minggu ini kamu harus kenalan sama salah satu perempuan-perempuan ini."
Napas Chalvin terdengar berembus kasar. Ya, seperti yang sudah-sudah, tak ada yang bisa menolak titah Oma Belle.
"Sekarang, sebutin aja kamu suka cewek yang kayak gimana? Cantik yang kayak gimana? Biar gak bakal ada lagi kejadian kayak waktu itu," lanjut Oma Belle.
__ADS_1
"Kalau untuk penampilan, aku suka wanita yang modis tapi gak lebay. Kalau untuk sifatnya aku suka yang easy going. Nyantai gitu."
"Terus?"
"Aku suka perempuan yang matanya bulat, mukanya gak lebar biar gak boros bedak, bibirnya mungil biar gak cepat habisin lipstik, hidungnya gak pesek tapi gak mancung juga biar gak pegel leher pas lagi ciuman," ucapnya sambil menyengir.
Saat Chalvin menjelaskan ciri-ciri fisik wanita yang ia sukai, pandangan Oma Belle justru fokus ke Karen. Entah kenapa ia merasa semua kriteria fisik yang disukai cucunya itu mengarah pada Karen. Padahal apa yang diucapkan Chalvin hanya asal keluar dari mulutnya.
"Terus, rambutnya gimana? Kamu suka cewek rambut panjang, kan?" tanya Oma Belle.
"Enggak, aku gak suka cewek berambut panjang. Pasti lama banget kalo lagi nunggu dandan, belum lagi bakalan sering temani dia perawatan di salon. Aku mau cari yang rambut pendek aja. Sebahulah kira-kira!"
Oma Belle kembali melirik Karen dan fokus pada rambutnya yang sebahu. "Loh ... kok ... kenapa semuanya mengarah ke Karen? Gak nyangka perasaan Chalvin sudah stadium akut gini. Ini gak bisa dibiarin!" gumam Oma yang semakin negatif thinking pada Chalvin.
Kakek Aswono yang baru saja memberi makan burung kakatua miliknya, lantas melihat kegusaran yang tercetak jelas di wajah Oma Belle setelah menelepon Chalvin.
"Chalvin itu ganti cewek kayak ganti baju, orang kayak gitu mau dipaksa nikah. Yakin rumah tangganya nanti bisa bertahan?" tandas kakek Aswono.
"Kamu itu apa sih, Mas? Ikut campur aja!" gerutu Oma Belle kesal, "Kamu nyesel gak dijodohin sama Darren?" tanya Oma Belle dengan wajah mengarah pada Karen.
Karen menggeleng cepat sehingga membuatnya terlihat berada di pihak Oma Belle.
"Tuh, kan, gak ada salahnya maksa dia nikah! Karen aja gak nyesel dijodohin sama Darren."
"Lah, itu kan karena Darren karakternya berbeda jauh sama Chalvin," tandas kakek Aswono, "berhenti mendikte kehidupan anak dan cucu! Kita ini cuma orang yang dipercayakan Tuhan untuk jadi orangtua mereka. Tapi bukan berarti kita menjadi pemilik atas hidup mereka. Biarkan mereka memilih apa yang terbaik untuk mereka, termasuk pilihan masa depan dan pendamping."
"Jadi Mas mau biarin Chalvin sampai umur sekian masih terus-terusan main perempuan, udah kayak toko yang buka cabang di mana-mana, gitu? Darren sama Karen gak mau punya anak juga mau dibiarin, gitu?" Oma Belle malah nge-gas.
Oma dan kakek Aswono terus berdebat. Sementara, Kalimat terakhir Oma yang menyinggung soal anak, membuat wajah Karen menggelap seketika.
.
.
.
__ADS_1
like Komeng