
Tak terasa, matahari telah naik ke atas langit dan mulai menampakkan dirinya. Awan putih bergerak halus menghiasi langit Jakarta. Ini adalah hari minggu di mana sepasang suami istri itu memilih untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga di supermarket yang terdapat dalam mall.
"Ini kayaknya bagus, deh! Lagi diskon juga!" Karen mengambil salah satu barang yang terdapat potongan harga hingga 50%.
Darren menarik barang diskon yang baru saja diambil Karen, kemudian mengembalikannya dalam keranjang. "Kamu ambil barang ini buat apa? Apa cuma karena diskon? Kurangi budaya komsumtif berlebihan! Jangan sampai kita lupa diri telah membelanjakan barang-barang yang tidak diperlukan hanya karena sebuah diskon!"
"Iya, iya, ampun, deh, pakar ekonomi." Karen mengerucutkan bibirnya sambil mendorong troli.
Karen lalu sibuk memilih daging ayam segar. Rencananya, ia akan membuat ayam goreng tepung ala KFC. Ia menuju rak bumbu masak untuk bahan sesuai resep yang dilihatnya di akun masakan.
"Kenapa gak beli langsung tepung serba guna aja? Biar masaknya gak terlalu ribet," kata Darren ketika Karen sibuk memilih bumbu.
"Pak Dosen, semua yang kuambil ini resep bumbu rahasia dari KFC, jadi gak usah bawel, deh!"
Karen dan Darren keluar dari supermarket setelah selesai membeli kebutuhan pokok rumah tangga. Saat hendak menaiki eskalator, Karen tak sengaja melihat Farel—pacar Nadya—tengah jalan bersama dengan gadis lain. Pria itu bahkan merangkul mesra gadis di sampingnya. Karen mengambil ponselnya lalu buru-buru memotret Farel dari jarak jauh.
"Ngapain kamu ambil foto orang tanpa izin? Itu pelanggaran privasi, loh!" tegur Darren melihat tindakan istrinya.
"Sstt ... ini tuh pacar Nadya yang sempat aku ceritain. Ini sebagai bukti kalau lagi jalan bareng sama cewek lain. Nadya harus tahu!" ucap Karen menggebu-gebu.
Setibanya di rumah, Karen bergegas memasang celemek dan bersiap untuk memasak dengan penuh semangat. Ia meletakkan ponselnya di atas kitchen set sambil kembali memutar video memasak yang telah diulanginya lebih dari sepuluh kali.
Darren berdiri di belakang istrinya, sambil menyandarkan dagu ke pundak perempuan itu.
"Mau dibantuin, gak?"
"Enggak!"
"Yakin gak mau dibantu?"
"Gak mau! Pokoknya kamu diam aja. Makan siang kali ini adalah hasil masakan chef Karen," ucap Karen sambil menepuk dadanya dengan percaya diri.
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu. Semangat, ya!"
Darren mulai mengemas barang-barang, karena Minggu depan mereka akan pindah ke rumah baru yang dihadiahkan oleh kakek dan Oma. Karen tengah sibuk berkecimpung dengan bumbu-bumbu. Dapur yang selalu rapi itu, tiba-tiba seperti diterjang tsunami. Tepung terigu dan bumbu masak lainnya berhamburan di mana-mana. Belum lagi, tiap saat harus mendengar suara bergelagar dari panci, teflon, dan peralatan dapur lainnya yang jatuh ke lantai.
Karen mulai menggoreng ayam yang telah dimarinasi dan dilumuri tepung. Tiba-tiba ia teringat dengan foto Farel bersama perempuan lain. Ia pun mengambil ponselnya, kemudian mengirim foto tersebut pada Nadya.
Tak lama kemudian, Nadya merespon foto kiriman Karen. Ia mengatakan telah putus dengan pria itu dan tak mau mencari tahu apa pun tentangnya. Kaget dengan yang dikatakan Nadya, Karen pun langsung meneleponnya.
"Serius kamu putusin Farel?" tanya Karen lewat saluran telepon.
"Iya, kan, kamu sendiri yang nyaranin."
"Gila! Kamu keren banget bisa lepas dari lelaki model gitu!"
"Pokoknya jangan sampai kamu kayak aku, deh. By the way, tuh si Feril kan suka sama kamu. Lebih Be aware aja, deh! Untung aja dulu kamu nolak dia, soalnya kakaknya aja kayak gitu. Aku juga udah tendang mereka dari grup WA kita." Nadya tiba-tiba menyinggung tentang Feril, kakak kelas mereka yang selalu mengejar Karen.
Karen terus mengobrol dengan Nadya sampai lupa jika dia tengah menggoreng ayam. Hingga tiba-tiba terdengar suara teriakan Darren dari dalam kamar.
Seketika, Karen langsung menoleh ke kompor. "Oh, Gosh! Ayamku!" teriaknya panik.
Lima menit kemudian, Karen dan Darren menatap tragis ayam tepung ala KFC yang telah tersaji di atas meja.
"Ini sih bukan ayam goreng Kentucky, tapi ayam goreng Zimbabwe. Makanya kalau lagi masak, jangan ditinggal bergosip!" ucap Darren sambil menggeleng-geleng kepala.
Kali ini Karen tak melakukan pembelaan apa pun. Ia hanya tertunduk sedih, karena untuk kesekian kalinya hasil masakannya gagal total. Melihat ekspresi istrinya yang seperti itu, membuat Darren langsung merangkulnya.
"Udah, kita go-food aja, yuk," bujuknya sambil mengelus kepala istrinya.
Di waktu yang sama, bel apartemen mereka berbunyi. Darren segera membuka pintu. Rupanya yang datang adalah mami Valen.
"Happy birthday! Maaf, mami telat ngucapinnya!" seru mami Valen dengan gaya heboh seperti biasa.
__ADS_1
Mami Valen menerobos masuk sambil menenteng barang bawaannya. Ia menghampiri Karen yang tengah berdiri lesu di depan meja makan.
"Karen Sayang, kamu lagi ngapain?" Mata mami Valen mendadak tertuju pada ayam gosong yang tersaji di atas meja. "Loh, kalian beli ayam goreng di mana? Kok ayamnya buruk rupa kayak habis kena azab gitu?" tanya mami Valen sambil menatap miris ke arah ayam buatan Karen.
Ucapan mami Valen yang tanpa disaring itu sontak membuat Karen kesal. "Mami ngapain ke sini?"
"Oh, iya, mami hampir lupa. Nih, mami datang bawain hadiah ulang tahun buat suami kamu." Mami Valen membuka salah satu bag paper lalu menunjukkan baju tidur couple. "Ini pajamas import Korea. Berhubung kalian udah nikah, jadi hadiahnya mami beliin sepasang biar selalu kompak. Lucu, kan?"
"Ih, lucu banget, Mami!" ucap Karen yang senang dengan hadiah pemberian ibunya.
Darren hanya bisa menunjukkan raut masam. Pasalnya pajamas yang dihadiahkan untuk mereka itu memiliki motif Micky Mouse. Untuk pasangan muda mungkin cocok, tapi tidak dengannya yang telah berusia matang.
Mami Valen menoleh ke arah Darren. "Gimana Darren? Kamu suka, kan? Duh, mami jadi bayangin kalian tidur sambil pakai ini, pasti gemesin banget!"
Darren tersenyum paksa sambil mengangguk. "Makasih hadiahnya, Mi," ucapnya yang kemudian meneguk air mineral karena tenggorokannya mendadak kering melihat baju tidur couple pemberian mertuanya.
"Masih ada lagi! Ini titipan dari papi Karen untuk kamu." Mami Valen menunjukkan bag paper lainnya, "ini obat kuat dan tahan lama dari Kanada. Biar hubungan ranjang kalian semakin harmonis," ucap mami Valen sambil menutup mulutnya karena terkikik.
Hadiah yang diberikan ayah mertuanya itu, sukses membuat Darren menyemburkan air yang tengah diminumnya hingga terbatuk-batuk.
Mami Valen buru-buru berkata, "Don't worry! Karen enggak pernah cerita apa pun tentang rahasia ranjang kalian. Ini cuma inisiatif papi, soalnya usia kamu kan lumayan jauh dari Karen. Takutnya gampang lemes dan gak bisa imbangi tenaga Karen. Ini sih pengalaman mami sama papi. Karena jarak usia kalian, hampir sama dengan jarak usia kami."
Lagi-lagi, mami Valen terkikik dengan omongannya yang ceplas-ceplos. Sementara Darren hanya bisa termegap-megap dengan mata yang membulat tajam menerima hadiah-hadiah absurd dari mertuanya.
"Oh, iya, dengar-dengar kalian mau pindah rumah, ya? Itu bagus! Sewa apartemen per bulan, kan, mahal!" ujar mami Valen.
"Mami tahu dari mana, sih? Terus tahu dari mana juga kalau Darren kemarin berulang tahun?" tanya Karen penasaran karena seingatnya ia tak menceritakan apa pun pada maminya.
"Eh, kamu lupa, ya, kalau tetangga kalian itu teman gosipnya mami!"
Mata Karen terbelalak seketika. "Oh, jadi Tante di samping apartemen itu yang laporin ke Mami? Pantas aja sering kepo-in aktivitas harian aku. Kirain karena dia peduli, gak tahunya karena jadi mata-matanya mami!"
__ADS_1
"Belum tahu, ya, kalau di jaman sekarang mata dan mulut tetangga itu lebih update dan canggih dari CCTV buatan Jepang!" ucap mami Valen sambil terkekeh.